
Sasa sibuk memilih belanjaan bulanannya. Dari bumbu dapur, dan perlengkapan pribadi bulanannya.
" Eh, Lo sana dulu deh"
" Kenapa?"
" Udah sana" Sasa mendorong tubuh Bara menjauh dari stainless yang berisikan pembalut wanita. Sasa dengan cepat mendorong keranjang belanjaan dan mengambil 1 buah pembalut yang berukuran besar dan berisi lebih banyak.
" Emangnya ini dan ini apa bedanya? Kenapa ini lebih Murah? kan produknya sama"
Sasa memalingkan wajahnya, dan sudah mendapati Bara di sebelahnya. Ya ampun ni orang, udah ngagetin, bikin Sasa mati kutu karena malu. Eh, seharusnya Bara dong yang malu, ini kan produk pribadinya wanita, ngapain juga di sini.
" Ngapain sih Lo ikutin gue ke sini. Udah sana" Sasa mendorong cepat keranjangnya, Bara mengikuti dari belakang.
" Kan aku tanya, Bedanya apa? Trus tadi aku sempat baca, ada yang untuk makan juga. lebih panjang, dan gak gampang bocor. Emangnya sering bocor gitu yaa"
" Apaan sih" Sasa semakin mempercepat langkahnya, namun Bara yang notebane nya memiliki kaki jengjang, jelas bisa menyeimbangi langkah Sasa yang terbilang tergesa-gesa.
" Jawab dulu dong, trus bedanya yang ada sayap dengan yang gaka da sayap apa?"
Sasa menghentikan langkahnya, hingga Bara juga ikut menghentikan langkahnya, mereka sudah menjadi bahan perhatian karena memang suara Bara yang terbilang cukup jelas untuk di dengra oleh orang sekitar yang berada di dekatnya.
" Mau tau banget sih urusan pribadi cewek?" Kesal Sasa.
" Kan aku cuma tanya, ada yang salah?"
Sasa benar-benar kesal, bahkan sebagian ibu-ibu sudah tersenyum penuh arti kearah mereka.
" Udah neng, kasih tau aja perbedaan yang ada sayap sama yanv enggak, biar suaminya gak penasaran banget." Ujar seorang ibu-ibu yang sedari tadi mendengar ocehan Bara.
Jangan di tanya lagi bagaimana wajah Sasa. Sudah memerah seperti kepiting rebus. Sasa hanya bisa tersenyum kikuk dan kembali melangkahkan kakinya. Sepertinya cukup kali ini dia mengizinkan Bara untuk ikut dengan nya. Walaupun kedepannya Sasa tidak yakin akan bisa melarang Bara untuk ikut dengannya atau tidak.
" Semuanya 538 ribu Mbak" Ujar kasir.
Sasa ingin mengeluarkan uangnya, namun Bara menahannya.
" Ini Mbak" Bara memberikan kartu kredit berwarna emas kepada kasir.
" Eh, gak usah, gue bisa bayar sendiri." Ujar Sasa menahan tangan Bara.
" Mungil, biar aku yang bayar ya. Lagian di situ kan juga ada barang belanjaan aku"
" Cuma sikat gigi doang, udah biar gue yang bayar"
Terjadi lah perdebatan antara memperebutkan siapa yang membayar belanjaannya. Hingga antrian pun mulai memanjang dan sebuah suara mengintruksi mereka.
" Aduh, mau bayar aja pake acara berdebat duku. Udah neng, biar calon suaminya aja yang bayar. itung-itung belajar ngeluarin biaya bulanan untuk calon istrinya. Kalo suami saya mah, boro-boro mau nemenin belanja, pas bagian bayarnya malah kabur." Terdengar suara tawa receh dari beberapa ibu-ibu yang juga ikut mengantri.
" Iya Mbak, calon suaminya ini udah ganteng, baik lagi. Udah Mbak, lakik kayak gini mah jangan di tolak, susah nyari nya."
" Tuh, denger mungil" Bisik Bara.
" Duh, ya ampun, masih sempat aja bisik-bisik, bikin jiwa jomblo gue yang udah belumutan ini meronta-ronta. Beruntung banget sih kamu Mbak. Pacarnya itu udah tampan, mapan, pengertian, kayaknya cinta banget sama mbaknya, beruntung banget deh Mbak bisa di cintai seperti itu."
" Sebenarnya saya yang beruntung bisa mencintai dia buk, dia wanita yang paling langka dan paling cantik sedunia menurut saya"
__ADS_1
Sasa sudah meototkan matanya, di kiranya Sasa komodo apa, langka.
Sasa kembali menyodorkan 6 kembar uabg seratus ribu. Namun Bara menarik kembali uang itu dan memberikan kartunya kepada kasir. Sasa ingin menolak kembali, namun bisikan dari Bara menyuruh melihat antrian dan ibu-ibu yang sedang memperhatikan mereka, membuat Sasa mengurungkan niatnya dan membiarkan Bara membayar semua belanjaannya.
Sasa mengambil kantong belanjaan, namun belum sempat Sasa mengangkatnya, Bara sudah mengambil alih kantong tersebut.
" Ya ampun, pengertian banget sih. Tuhan, sisakan pria seperti itu untuk anakku" Teriak ibu-ibu yang berada di belakang antrian mereka tadi.
Wajah Sasa sudah memerah, karena menahan malu menjadi bahan perhatian dari ibu-ibu yang ada di supermarket ini. Memang jika di awal bulan seperti ini, maka akan ramai dengan ibu-ibu yang berbelanja di pagi hari, karena ada diskon yang di tawarkan oleh pemilik pusat belanjaan.
" Langsung pulang?" Tanya Bara.
" Ke pasar dulu ya, mau beli sayur dan ikan"/. Eh, nanti gue pulangnya naik taksi aja, takutnya mobil Lo bauk ikan lagi"
" Nyantai aja mungil, kan bisa di bersihi"
" Jangan jadiin alasan mobil Lo bauk gara-gara gue, dan nyuruh gue yang bersihi ya, males tau"
" Ya gak lah mungil, buat apa ada doorsmeer, kalo nyuruh kamu yang bersihi"
" Serah Lo deh"
" Kita ke KUA yuk, gak usah ke pasar "
" Enak aja, kepasar"
" Tadi bilangnya terserah aku"
" Apaan sih"
Sesampainya di pasar, tukang parkir langsung menyapa Sasa dengan ramah.
" Wah, Sasa. Udah lama banget ya gak ke sini. "
" Iya pak, gimana kabarnya semua? Aman kan?"
" Aman Sa, berkat Sasa juga ini Mah"
" Iya udah, aku kedalam dulu ya, mau belanja"
" Oke deh. Hati-hati ya"
Bara hanya memperhatikan interaksi antara Sasa dan tukang parkir tersebut. Sepanjang perjalanan, Bara memperhatikan bahwa beberapa kuli barang, menyapa Sasa dengan ramah dan terlihat pancaran kebahagiaan. Sasa pun terlihat sangat akrab kepada mereka.
" Buk, Cabe, tomat, bawang merah, bawang putih, bawang Bombay, cabe rawit, bayam, kangkung, kol, brokoli, bunga kol, wortel,...." Pokonya masih banyak lagi sayur mayur yang Sasa sebutkan. " Kayak biasa ya buk"
" Iya Sa. Eh, ini pacar kamu ya?"
" Bukan buk, cuma temen doang"
" Ah, masak sih cuma temen doang mau di ajakin belanja ke pasar? Dari penampilannya aja terlihat anak orang kayak"
" Biar belajar susah dia nya buk" Sasa tersenyum manis sambil melirik kearah Bara. Bara tanpa sadar menyunggingkan senyuman di bibirnya.
" Udah, ambil aja Sa" ujar penjual, saat Sasa mengeluarkan uangnya.
__ADS_1
" Mau Sasa bayar, atau Sasa belanja di tempat lain?"
" Ya udah kalo gitu, ibu terima ya" Penjual pun mengambil uang yang Sasa berikan. " Makasih banyak ya Sa, semoga murah rezeki "
" Doain buk, berjodoh dengan saya" Tambah Bara.
" Apaan sih Lo" Sasa menyikut perut Bara.
" Iya, saya doakan semoga berjodoh, dan selalu langgeng dunia dan akhirat"
" Amiinnn" Ujar semua penjual yang mana membuat Bara terkejut dan tersenyum lebar, serta berterima kasih kepada semua para pedagang.
Sasa mencibir dan meninggalkan Bara yang sibuk berterima kasih dan memohon di doakan untuk di lancarkan hubungannya dengan Sasa.
" Mungil, tungguin Napa"
" Ngapain sih, minta doain yang gak akan mungkin terjadi? "
" Ya makanya aku minta doain, semoga yang gak mungkin terjadi, akan menjadi jadi"
Sasa hanya menghela napasnya kasar dan memutar bola matanya. Sasa membeli ikan dan ayam, kemudian Sasa membayar semuanya, namun Bara menahan tangan Sasa.
" Kenapa lagi sih?"
" Berapa pak semuanya?"
Penjual itu mengerutkan keningnya.
" Belanjaan Sasa, berapa semua nya?" Tanya ulang Bara.
Penjual itu tertawa, " Beneran tanya berapa?"
Bara menganggukkan kepalanya.
" 5 ribu aja"
Bara melototkan matanya, ikan dan ayam sebanyak itu hanya di hargai 5 ribu?. Padahal ikan dan ayam yang di beli Sasa tadi masih segar-segar. Sasa menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian dia kembali menyodorkan uang kepada si penjual, Namun Bara kembali menahan tangan Sasa. Bara melihat ada 2 lembar uang seratus ribu. Akhirnya Bara mengambil nilai uang yang sama dalam dompetnya dan memberikan kepada si penjual. Penjual itu tidak langsung mengambil uang yang di sodorkan oleh Bara, dia melihat ke arah Sasa.
" Kenapa pak? Kok gak di ambil?"
Sasa memandang ke arah Bara, dan Bara menbalas pandangan Sasa. " Lo iklhas kan?"
" Iya, Aku iklhas mungil"
" Ya udah pak, ambil aja"
Setelah mendengar titah Sasa, penjual itu pun mengambil uang yang di sodorkan Bara. Bara tersenyum karena Sasa tidak menolaknya untuk membayar belanjaannya. Mereka sudah selesai belanja, dan saat ini mereka menuju parkiran mobil.
Sasa berhenti di salah satu penjual pecah belah, Sasa membeli satu buah baskom. Bara hanya memperhatikan saja. Bara sebenarnya ingin membayar, namun karena kedua tangannya sudah penuh belanjaan yang tadi sempat dia ambil dari tangan Sasa, Akhirnya Bara hanya melihatnya saja. Lagi-lagi Sasa memberikan uang lebih dari harga barang yang di belinya. Dan sipenjual pun terlihat sangat ramah dan akrab dengan Sasa. Sebenarnya siapa mungil nya ini? Bukannya dia dulunya oreman pasar?, namun kenapa semua penjual di sini sangat ramah dengannya?. Apa ada yang tidak Bara ketahui?.
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untun cerita ini..
__ADS_1
salam SaBar ( Sasa Bara)