Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 20 " Jarum pentul"


__ADS_3

Sasa benar-benar kesal dan tidak tau harus berkata apa lagi. Si Bara api sialan ini memang benar-benar keras kepala. Lihat saja, Si Bara api ini bukannya pulang setelah di usir oleh Sasa, ini dia malah rebahan di sofa Sasa sambil memainkan ponselnya.


Tak berapa lama bel rumah Sasa berbunyi, Sasa melangkah kearah pintu dan membukanya.


" Maaf Mbak, pesanannya"


" Saya gak mesan apa-apa"


" Tapi ini atas nama bapak Bara"


Sasa menghela napasnya kasar. " Bentar ya Mas"


Sasa berdiri di hadapan Bara, dan menatao Bara tajam. " Ekhem"


Bara mendongak dan menatap wajah Sasa sambil tersenyum manis.


" Pesanan Lo dah nyampe"


Bara langsung bangkit dan menuju pintu apartemen. Tak berapa lama Bara kembali dengan menenteng 2 bungkus makanan.


" Makan yuk" Ajak Bara dan melangkah ke meja makan.


" Pesan apa?"


" Nasi goreng Bistik"


" Yukk makan"


" Gue kenyang, Baru makan bakso dengan Ica dan Bela."


Sasa melihat Bara membuka bungkusannya, dan dalam detik itu juga aroma nasi goreng Bistik langsung masuk dan menguasai indera penciuman Sasa. Perut Sasa tiba-tiba saja sudah merasa lapar.


Sasa meraih bungkusan yang memang di tujukan untuknya. Sasa mengambil sendok dan membuka bungkusan tersebut. Wanginya langsung membuat perut keroncongan. Sasa menyendokkan nasi goreng tersebut, dan menikmati setiap rasa nikmat Yang ada.


" Enak"


" Katanya kenyang"


" Aromanya buat Laper"


Mereka makan dengan diam dan menikmati setiap kunyahan dalam mulutnya. Bara makan sambil melihat ke arah Sasa yang sama sekali tidak melihatnya.


Sasa menuangkan air minum ke gelas Bara, saat melihat air yang berada di gelas Bara sudah tinggal sedikit lagi.


" Terima kasih"


" Hmm"


Mereka berdua diam dan saling pandang. Sasa membuang pandangannya saat merasa canggung dengan kondisi mereka saat ini.


" Ekheem, udah kenyang kan? Sekarang kamu pulang. Udah malam, dan gak baik anak gadi menerima tamu malam-malam" Ujar Sasa.

__ADS_1


" Oh ya, jadi waktu itu kenapa kamu sembunyikan aku di kamar?"


Sasa rasanya ingin mengutuk Bara menjadi air. Bisakah dia tidak menyulut emosi sekali aja?. Sasa bangkit dan meninggalkan Bara yang sedang tersenyum menatapnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Sasa keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Sasa terkejut karena masih mendapati Bara duduk di sofa sambil mengurut bahunya.


" Lo belum pulang?" Tanya nya dan melewati Bara menuju dapur.


" Gak tau nih, badan aku kok rasanya seperti berangin ya?" Bara terus mengurut bahunya.


" Lo dari kapan belum makan nasi?" Tanya Sasa ketus.


" Dari siang, gue kepikiran kamu terus. Jadi gak berselera makan dech"


" Perut kosong tapi kamu malah memilih makan nasi goreng?. Kebangetan Lo" Kesal Sasa.


Bara bingung, kenapa Sasa marah?. Tak berapa lama Sasa kembali dengan membawa satu kotak berwarna biru. Sasa membuka kota tersebut, dan isinya adalah perlengkapan jahit, Sasa mengambil satu jarum pentul dan mengoleskan alcohol di jarumnya.


" Mau ngapain kamu?" Tanya Bara takut-takut.


" Aku pernah liat di film Korea, jika kekenyangan dan punya masalah dengan pencernaan, jari telunjuk nya harus di cucuk dan mengeluatkan darah"


Bara langsung melipat tangannya di dada. Sasa menatap tajam kearah Bara. Bara semakin menguatkan lipatan tangannya saat melihat Sasa mendekat.


" Ap-Apa?" tanya Bara gugup.


" Lo gak takut jarum kan?" Sasa memicingkan matanya menatap Bara.


" Hah, cuma jarum aja kok" Ujar Bara sambil menelan ludahnya.


Saat terus berusaha untuk menahan tangan Bara dan menusukkan jarum tersebut. Sasa duduk membelakangi tubuh Bara, dengan tangan kanan Bara yang sudah melingkar di pinggang Sasa, dengan Sasa menahan tangannya dengan lengannya agar tidak terlepas.


Cut.


"Aaaww.." Pekik Bara.


Sasa masih menekan darah Bara agar keluar. Sasa belum menyadari posisi mereka saat ini. Yang mana seperti terlihat Bara memeluk Sasa dari belakang.


Sasa menolehkan kepalanya melihat Bara. "Sakit?" Goda Sasa.


Bara masih menatap Sasa, Sasa seakan tersadar dengan posisi mereka yang sanagn intim. Sasa bergegas bangkit, namun Bara menarik pinggang Sasa dan membuat punggung Sasa menempel dengan dada Bara. Bara benar-benar memeluk Sasa dari belakang. Bara menyandarkan kepalanya di bahu Sasa.


" Biar seperti ini dulu" Lirih Bara


Entah apa yang membuat Sasa tetap diam dan membiarkan posisi mereka yang terlihat intim dan romantis. Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya ada seruan napas, dan detak jantung yang terdengar begitu cepat.


" Apa kamu merasakannya?" Tanya Bara tiba-tiba.


Sasa tidak menjawab atau pun menoleh.


" Jantung ini berdetak begitu cepat saat bersama kamu." Bisik Bara.

__ADS_1


Sasa memejamkan matanya Sasa merasakan Bara mengecup bahunya. Sasa membuka matanya dan langsung berdiri dari duduknya.


" Sudah malam, sebaiknya Lo pulang"


Terlihat Bara menghela napasnya kasar. " Kamu benar, sebaiknya aku pulang"


Bara berdiri dan meraih jaketnya. Bara berhenti tepat di depan Sasa, mata mereka sesaat bertemu sebelum Sasa memandang kearah lain. Bara tersenyum dan kemudian berlalu.


Braak..


Terdengar suara pintu yang tertutup. Sasa terduduk lemas, dan seakan baru bisa bernapas dengan lega.


" Dasar gila" Kesal Sasa.


Bara terus tersenyum saat mengingat posisi mereka, yang mana Bara memeluk Sasa dari belakang. Bukankah semua perempuan suka dengan posisi tersebut?. Bara dapatnmencium aroma Sasa yang memang dari awal sudah memabukkan dirinya.


" Aakrrhhh" Geram Bara sambil tersenyum saat mengemudi.


Mami Shella menatap wajah anak laki-lakinya itu. Tidak lepas dari senyuman sedari masuk tadi.


" Kamu kenapa?" Tanya Mami Shella.


Bara sempat kaget saat melihat Mami Shella sudah berada di belakangnya. Mami Shella tiba-tiba mengendus tubuh Bara.


" Apaan sih Mi"


" Kamu habis ketemuan sama siapa sih?" Tanya Mami Shella sambil masih mengendus-ngendus tubuh Bara.


" Apaan sih Mi, udah kayak kucing gitu ngendus-ngendus Bara" Bara menghindar dari Mami Shella.


Mami Shella melototkan matanya kepada Bara. Bara langsung terdiam mendapat pelototan dari Mami Shella.


" Kamu habis ketemu siapa?"


" Temen"


" Cewek atau cowok?"


" Ce iya cowok iya." Bara tidak bohong, dia memang bertemu dengan teman cewek, dan cowok seharian ini. Tapi Bara tidak bilang bertemu Sasa malam ini, Karena maminya tidak bertanya kan terakhir dia bertemu siapa.


" Aneh banget, kenapa wanginya seperti habis ketemu cewek sih?" Gumam Mami Shella.


"Mi, Bara mandi dulu ya. Udah gerah"


" Hmmm, kamu udah makan belum?"


" Udah Mi" Teriak Bara sebelum masuk kamarnya.


Di dalam kamar, Bara kembali tersenyum mengingat kejadian saat di apartemen Sasa, Mungilnya.


**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2