Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F 14


__ADS_3

Bunda Sasa tersenyum kala melihat Fatih makan dengan lahap. Dengan mulut penuh nya pun Fatih berujar jika masakan Bunda Sasa benar-benar nikmat. Raysa memutar bola matanya malas di saat melihat Fatih yang cara makannya sangat tidak sopan. Sudah seperti orang kelaparan saja yang belum pernah makan hingga seminggu.


"Tapi masakan Tante memang benar-benar enak." Farhan pun ikut memuji masakan Bunda Sasa. Bahkam Farhan tak segan untuk meminta tambah.


Daddy Bara menatap kedua pria yang berbeda karakter tersebut. Lihatlah, Fatih makan sudah seperti anak kecil. Sedangkan Farhan memakan makanannya dengan sopan dan cool.


Raysa tak henti-hentinya memandang Farhan, dan sekali-kali melirik kearah Fatih, ketika pria itu bergumam nikmat di setiap kunyahannya.


"Makasih Tante, atas makan malamnya. Enak banget ..."


"Iya, Sama-sama."


"Bilang aja minta sering-sering di undang makan." Seru Fatih sambil melihat cicak-cicak di dinding.


"Fatih!!!" Tegur Bunda Sasa.


Fatih hanya menunjukkan giginya tanpa senyum, kemudian ia kembali menikmati pemandangan cicak yang sedang bergosip entah apa. Mungkin sedang membicarakan nasibnya yang tak jelas. Mengejar sesuatu yang sudah pasti tak akan sanggup di raih.


Raysa mengantarkan Farhan hingga ke lobi, sedangkan Fatih harus kembali ke apartemen nya, dan mengambil sesuatu untuk di bawanya pergi bertemu seseorang.


"Terima kasih kak Farhan." Ujar Raysa dengan tersenyum.


"Sama-sama, seharusnya aku yang bilang makasih."


Supir Farhan pun tiba, setelah mengucapkan beberapa kata perpisahan dengan Raysa, Farhan pun memasuki mobilnya.


"Hati-hati pak mengemudinya," Ujar Raysa kepada sang supir.


"Siap Non."


Raysa melambaikan tangannya ketika mobil Farhan berlalu meninggalkannya. Raysa berbalik, namun ia melihat Fatih yang baru saja keluar dari lift, sepertinya ia terburu.


"Farhan sudah pergi?" Tanya Fatih saat sudah berada di depan Raysa.


"Hmm ..." Raysa sebenarnya penasaran, ingin bertanya Fatih mau ke mana, namun ia urungkan.


Tin ... tin ...


Terdengar suara klakson mobil yang sepertinya memanggil Fatih. Raysa dan Fatih pun menoleh, terlihat Fatih melambaikan tangannya kepada si pengemudi yang ternyata seorang perempuan.


'Tunggu, Fatih pergi dengan seorang perempuan? Siapa? Tunggu ... tunggu ..itu perempuan kok gak asing ya? kayak pernah lihat, tapi di mana?' batin Raysa yang masih memandangi perempuan tersebut.


"Aku pergi yaa, jangan tidur terlalu malam." Fatih mengacak rambut Raysa yang pendek.


"Hah, pingin cium tapi belum halal, nanti deh kalo udah halal." Fatih mengedipkan matanya sebelah kepada Raysa.


"Iih, pede banget deh."


Fatih kembali mengacak rambut Raysa, dan kali ini Fatih benar-benar meninggalkan Raysa setelah mengacak rambutnya. Raysa memandang Fatih hingga ia masuk kedalam mobil tersebut, kemudian Raysa membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan rasa kesal di hatinya.


"Buaya banget ..." geram Raysa dengan rasa tak suka kepada si perempuan itu.


*


"Itu yang namanya Raysa?" Tanya Tissa kepada Fatih.


Ya, perempuan yang di lihat oleh Raysa adalah Tissa.


"Iya .." Fatih menjawabnya dengan tersenyum.


"Cantik, pantes aja cinta mati." Tissa terkekeh melihat wajah malu-malu Fatih.


"Ihh, jijik gue lihat wajah Lo gitu, kayak ABG mesum tau gak ..."


Fatih dan Tissa pun tertawa lepas.

__ADS_1


"Kita ke cafe biasa aja yaa, Laper gue."


"Serah Lo, bangunin gue kalo udah sampai.'


"Siap Boss ..."


Fatih menutup matanya, dengan posisi sandaran kursi yang rendah dan tangan berlipat di dada.


Tissa menoleh kepada Fatih kemudian ia menggelengkan kepalanya.


*


"Jadi Lo mau buat galery seperti ini?" Fatih menunjuk majalah yang di berikan oleh Tissa.


"Hmm ... kira-kira habis berapa duit yaa?"


"Kalo gini sih banyak banget, mungkin hampir satu M."


"Gila, banyak banget. Diskon nape?"


"Lo minta diskon sama Abang mebelnya, jangan sama gue."


Tissa mengerucutkan bibirnya, Tissa tau, kayu yang di pakai untuk mendekor galery lukisnya bukanlah kayu biasa. Melainkan kayu bagus dan berkualitas, sehingga harganya pun mencapai selangit.


"Gue punya usul, Lo jangan bikin kayak gini. Lagi pula ini kan galery pertama Lo."


"Terus?"


"Lo buat yang sederhana dan berkesan. Terlihat dari luar biasa-biasa aja namun berkelas saat udah berada di dalamnya."


Fatih meraih ponselnya dan mencari foto galery lukisan yang sederhana tapi berkelas.


"Nih lihat." Fatih menunjukkan ponselnya.


"Lumayan,"Komentar Tissa.


"Jangan Lo bagusin galerynya, tapi lukisan Lo kebanting dengan bagusnya galery Lo."


"Maksud Lo lukisan-lukisan gue jelek gitu?"


"Gue gak bilang gitu, tapi menurut gue, sebagus apapun lukisan Lo, kalo interiornya lebih menarik, maka fokus pengunjung Lo adalah interiornya. Bukan lukisan Lo lagi."


Tissa terlihat menggaruk dagunya, dan mengangguk setuju setelah berfikir beberapa saat.


"Bener juga sih Lo, tumben pinter?"


"Emang gue pintar. Lo aja yang blo'on."


"Iya juga sih, tapi sayangnya Lo pinter tapi jomblo karatan."


"Kayak Lo gak jomblo aja."


"Eits, gue belum nemu yang cocok aja."


"Gaya Lo ngomong. Ngaca nih ngaca." Fatih menunjuk ke gelas kopi hitamnya untuk kepada Tissa untuk berkaca.


"Gelap blo'on."


Fatih menggeleng dan kembali membolak balikkan majalah interior galeri lukisan yang di berikan Tissa tadi.


*


"Fatih belum datang?" Tanya Bunda Sasa yang sudah menyiapkan sarapan pagi.


"Masih tidur mungkin." Celetuk Raysa dengan kesal.

__ADS_1


"Fatih bukan tipe orang yang suka tidur di pagi hari."


Tak berapa lama terdengar suara bel berbunyi. Daddy Bara melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


"Siapa Mas?" Tanya Bunda Sasa dari Dapur.


"Calon Mantu."


Raysa langsung berbalik dengan senyuman malu-malunya, namun senyuman itu luntur saat melihat tampang kucel dan rambut ikal kusut milim Fatih.


"Assalamualaikum Bunda ..." Sapa Fatih dengan senyum melebar.


"Walaikumsalam, kamu gak tidur?"


"Emang calon mertua idaman, perhatian banget sama calon mantunya."


"Iih, najis banget dengernya." Gerutu Raysa dengan bibir mencibir.


"Yakin banget jadi mantu Bunda?" Tanya Bunda Sasa dengan nada menggoda.


"Yang penting Bunda dan Daddy udah kasih terus, sisanya tinggal Abang Fatih untuk menaklukkan hati Layca, sang pujaan hati." Ujar Fatih sambil memegang dada nya dan menatap Raysa.


Raysa membuat gerakan seolah dirinya ingin muntah mendengar gombalan Fatih.


Fatih duduk di samping Raysa dan meletakkan ponselnya diatas meja, tepatnya di antara dirinya dan Raysa.


Cling ...


Sebuah pesan masuk dan menampilkan nama Tissa di notif pesan. Raysa menoleh dan tanpa sengaja membaca pesan tersebut.


Tissa : Jemput ya, jangan telat.


'Oh, jadi namanya Tissa?' Batin Raysa yang mimik wajahnya kembali kesal.


Fatih meraih ponselnya dan membalas pesan tersebut. Raysa yang entah kenapa merasa penasaran pun melirik dan melihat apa yang di balas oleh Fatih untuk perempuan yang bernama Tissa tersebut.


Me : Ok.


'Ok? Hanya Ok? Cih.' gerutu Raysa dalam hati.


"Kamu ikut antar Raysa, Tih?" Tanya Daddy Bara.


"Enggak Dad, Fatih harus ketemu klien pagi ini."


'Cih, klien apaan? Mau pacaran iyaa ... klise banget alasannya, dasar buaya.' Batin Raysa, dan tanpa sadar Raysa menusuk-nusuk nasi gorengnya dengan garpu.


Bunda Sasa yang melihat tingkah Raysa pun merasa heran.


"Kenapa? Nasi gorengnya gak enak?"


"Hah? enggak kok. Enak ... Enak sepertj biasanya." Jawab Raysa dengan senyuman yang di paksakan.


Bunda Sasa tau, ada yang tak beres dengan anak gadis satu-satunya itu. Bunda Sasa tidak akan bertanya sekarang, tapi nanti, nanti di saat yang tepat.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...

__ADS_1


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2