
Pagi ini toko kue Kesya kedatangan sahabat Mami Shella. Toko pun terlihat heboh dengan tawa canda para ibu-ibu tersebut.
" Rame bingit dah, " seru Lena kepada Beti.
" Hooh.. eh, Mbak Sasa kok lama banget ya. Gemetaran gue layanin ibu-ibu sosialita."
" Gue juga"
Di jalan raya, Sasa tengah menggerutu kesal karena terjebak Rajiah polisi. Untungnya Sasa tidak sedang mengendarai motornya, Sasa sedang naik ojek.
" Maaf Mbak, SIM saya ketinggalan" Ujar sang ojek yang sudah menepikan motor nya. " Kalo kita mutar ke jalan tikus aja gimana mbak?" Tawar sang ojek.
" Gak pa-pa bang, udah Deket juga. Saya turun di sini aja" Sasa memberikan uang kepada tukang ojek.
" Makasih ya Mbak, semoga murah rezeki selalu"
" Amiin, makasih ya bang"
Sasa melangkahkan kaki nya di trotoar. " Huuf, rame banget sih polisinya. Bisa pingsan di jalan gue" Gerutu Sasa.
Sasa melihat ada penjual kacamata di pinggir jalan, Sasa pun menghampirinya.
" Pak, yang ini brapa?"
" 65rb neng"
Sasa mencoba kacamata hitam, merasa cocok, Sasa membelinya. " Ini pak"
" Makasih Neng"
Sasa berjalan kembali di trotoar dengan menggunakan kacamata. Untungnya saat ini matahari sangat terik, jadi Sasa tidak akan terlihat konyol menggunakan kacamata berwarna hitam gelap sambil berjalan kaki.
Saat Sasa ingin menyebrang, Sasa melihat seorang nenek-nenek yang ingin menyebrang tapi ragu-ragu, Sasa membuka kacamatanya dan menghampiri nenek itu.
" Nenek mau nyebrang?"
" Iya nak, "
" Ayo, saya bantu"
Di balik kaca toko, Mami Shella tanpa sengaja memperhatikan Sasa yang tengah menggandeng tangan nenek dan membantunya menyebrang, tersungging senyum di bibir mami Shella.
" Kenapa kamu senyum-senyum Shel?" Tanya Linda, teman Mami Shella.
" Lihat gadis itu" Mami Shella menunjuk ke arah Sasa dan seorang nenek.
" Bara sedang dekat dengan dia, lihat cara dia memegang tangan nenek itu, tidak ada rasa jijik atau gimana gitu, padahal nenek itu kan terlihat, ya begitu lah. Tapi dia dengan sayang menggandeng tangan nenek itu. Beda banget kan dengan Lia"
" Kayaknya aku kenal deh dengan dia, tapi di mana yaa?" Gumam Linda.
" Kamu kenal?'
" Bentar, aku ingat-ingat dulu"
Setelah membantu nenek menyebrang, Sasa pun memperhatikan sang nenek yang tengah memandanb toko kue.
" Nenek mau beli kue?"
" Eh, iya Nak, tapi duit nenek cuma segini, kira- kira berapa ya harga kue di situ? Nenek pingin membelikan kue untuk cucu nenek, hari ini dia sedang berulang tahun"
" Ayo kita liat kue nya. Mungkin ada yang buat nenek tertarik"
" Tapi saya gembel gini, ntar takutnya di usir lagi, seperti yang sudah-sudah. Gimana kalo Anak tolong belikan kue nya, ini.. ini uangnya" Nenek itu menyodorkan beberapa uang pecahan dua ribu dan lima ribu.
Sasa tersenyum dan menolak uang tersebut. "Gak akan ada yang usir, ayo saya temeni" Sasa merangkul tubuh nenek tersebut dan membawanya masuk kedalam toko.
Terlihat nenek tersebut memandang Sasa dengan tatapan memuja.
" Nenek mau kue yang mana? Itu semua kue ulang tahun" Sasa menunjuk etalase yang berisikan kue ulang tahun.
" Saya bingung, uang saya cuma segini, mana cukup untuk beli kue itu. saya beli yang kecil aja"
Sasa tersenyum, " Nenek tau, hari ini saya juga sedang berulang tahun, jadi saya ingin membagi kue ulang tahun saya dengan cucu nenek, gimana? "
" Nak cantik hari ini sedang berulang tahun?" Tanya nenek antusias.
Sasa menganggukkan kepalanya. " Iya, jadi saya ingin membeli kue ulang tahun itu, dan saya ingin merayakannya dengan cucu nenek, nenek mau kan?"
" Tapi, uang saya gak cukup untuk beli__"
" Udah, uang nya nenek simpan. Kue nya saya yang belikan, sekalian saya rayain ulang tahun bersama cucu nenek"
__ADS_1
" Bener begitu?"
" Iya "
" Kalo begitu terserah nak cantik aja"
" Eem, nenek mau kue yang mana?"
" Yang mana aja, terserah nak cantik"
" Umur cucu nenek berapa tahun?"
" Delapan tahun"
Sasa menggigit bibirnya, dia jadi teringat akan dirinya dulu, di mana saat umur yang sama, Sasa sangat ingin memakan kue ulang tahun, tapi sang nenek tidak bisa membelikannya kue. Akhirnya nenek membeli donat dan meletakkan lilin di atasnya, untuk Sasa tiup.
" Len, kasih yang kuda poni ya, sekalian jus jeruknya bungkusin 5."
" Iya Mbak" Lena langsung mengerjakan apa yang ditugaskan oleh Sasa. Sasa pun masuk kedalam dan mengambikan air putih untuk sang nenek.
" Nek, si minum dulu"
" Makasih Nak cantik"
Sasa tersenyum. Semua gerak gerik Sasa di pandang takjub oleh Mami Shella, Kesya, dan teman-teman mami Shella.
" Mbak, udah" Panggil Lena.
Sasa mendekati Lena, dan membayar tagihannya.
" Mbak beneran ulang tahun hari ini, selamat ya Mbak, semoga panjang umur dan sehat selalu "
Sasa hanya tersenyum menanggapi ucapan selamat dari Lena.
" Ayo nek" Sasa kembali menggandeng lengan sang nenek, sambil membawa satu kotak kue ulang tahun dan 5 minuman segar.
Tanpa sengaja memperhatikan sendal yang nenek itu pakai.
" Nek, sendalnya tukaran sama aku ya"
" Eh, jangan nak, nanti kaki kamu luka dan kepanasan"
" Gak pa-pa, nanti aku bisa ganti lagi di toko"
" Bukan, saya kerja di situ"
" Ooh, semoga kamu selalu dilindungi Allah ya nak."
" Amiin"
Sasa berjongkok dan memakaikan sendal yang dipakainya kepada sang nenek. Dan Sasa menggunakan sendal swalow yang sudah lobang di bagian tumitnya, dan terasa sangat tidak nyaman lah pokonya, tapi Sasa tetap menampilkan senyumnya.
" Yuri, nenek bawain kue ulang tahun untuk kamu. Kakak cantik ini yang membelikannya. Kakak cantik juga ulang tahun loh hari ini, sama kayak Yuri"
Sasa ingin meneteskan air matanya, Yuri duduk di atas kursi roda yang sudah terlihat tua.
" Makasih kakak cantik"
" Sama-sama sayang, Kamu nama nya siapa?"
" Yuri"
" Yuri, sekarang kamu buka ya kue nya ya"
Yuri pun dengan antusian membuka kotak yang sudah berada di pangkuannya.
" Wah, cantik banget kue nya. Makasih banyak kakak."
" Sama-sama sayang. Ya udah, kamu tiup lilinnya ya, terus di cobain kue nya"
" Kita tiupnya barengan ya kak, kakak cantik kan juga ulang tahun hari ini, iya kan nek? tadi nenek bilang begitu"
" Iya cu"
" Ya udah, kita tiup bareng ya"
Sasa berpura-pura menghembuskan napasnya, dan ikut meniup lilin yang berada di atas kue ualbg tahun.
" Ayo potong kue nya"
Sasa membantu Yuri memotong kue ya.
__ADS_1
" Ini untuk nenek" Yuri memberikan potongan pertama kepada sang nenek, " Terima kasih banyak untuk nenek, karena nenek sudah mau menjaga Yuri, semoga nenek sehat selalu"
" Amiinn"
" Ini untuk kakak cantik, semoga kakak selalu di lindungi oleh Allah, sehat selalu, dan murah rezekinya"
" Amiin. Makasih sayang"
Sasa menikmati kue yang di berikan oleh Yuri tadi. " Nek, maaf kalo saya lancang, kaki Yuri kenapa?"
" Dulu, Yuri dan ayahnya sedang bermain-main, kemudian ada mobil yang ugal-ugalan dja menabrak mereka, Ayah Yuri meninggal di tempat, sedangkan Yuri harus kehilangan kedua kakinya"
" Innalilahi, kemudian, ibu nya Yuri?"
" Ibu nya Yuri merasa jika Yuri hanya beban untuknya, dan dia meninggalkan Yuri dan pergi entah ke mana. Maka dari itu Yuri hidup bersama saya"
" Nenek yang sabar ya"
" Insya Allah Nak, Allah tidak akan meninggalkan umatnya jika kita percaya dia selalu ada untuk kita"
" Nenek jualan buah sirsak?"
" Iya nak "
" Berapa satu?"
" Nak cantik mau? Ambil aja,"
" Jangan nek, berapa satu?"
" Ambil aja nak"
Sasa menghela napasnya, dan kemudian tersenyum. Sasa ingat jika di kantongnya ada yang 500rb.
" Saya ambil semua ya nek" Sasa memasukkan 6 buah sirsak kedalam plastik. " Ini untuk nenek"
" Jangan nak, nenek iklas kok ngasihnya."
" Kalo satu saya gak akan bayar, tapi saya ambil semua loh. Ambil ya duitnya."
" Tapi ini kebanyakan"
" Gak pa-pa, udah nenek ambil aja yaa"
" Makasih banyak nak cantik"
" Sama-sama nek, ya udah saya kembali bekerja lagi ya"
" Makasih kakak cantik"
" Sama-sama sayang, kamu jangan tinggal solat nya ya, selalu doain nenek untuk murah rezeki dan sehat selalu"
" Amiin, iya kakak cantik. Oh ya, aku boleh minta sesuatu gak?"
" Yurii" Tegur sang nenek.
" Kamu mau minta apa?"
" Aku mau di peluk sama kakak cantik, boleh?"
Sasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sasa merentangkan kedua tangannya dan memeluk Yuri.
Di seberang jalan, Mami Shella sampai meneteskan air matanya melihat pemandangan itu. " Ya ampun, mulia banget sih hati tu anak"
Walaupun tidak mendengar apa yang mereka katakan, tapi Mami Shella yakin, jika Sasa sedang membuat hati seorang anak kecil yang duduk di kursi roda itu tersenyum bahagia, dan Mami Shella juga melihat Sasa membeli buah dan memberikan uang kepada yang terlihat tidak sedikit, karena sang nenek sempat menghitung uang tersebut.
" Aku ingat, dia itu namanya Marisa. dia itu relawan di panti jompo yang pernah aku bilang ke kamu"
" Panti jompo yang di pinggir kali itu? yang butuh dana rehab maksud kamu?"
" Iya "
Mami Shella merasa hatinya menghangat saat mendengar betapa mulianya Sasa. Bahkan senyum Kesya juga ikut mengembang saat mendengar jika Sasa menjadi relawan di panti jompo.
' Kamu sangat pantas untuk Bara' Batin Mami Shella.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untun cerita ini..
salam SaBar ( Sasa Bara)