
Raysa membuka pintu apartemennya saat mendengar suara bel berbunyi. Siapa lagi orangnya kalo bukan Fatih.
"Pagi My lovely." Ujar Fatih dengan senyum kembangnya.
"Pagi Abang ..." Balas Raysa dengan senyum tak kalah kembang.
Fatih terkejut saat mendengar Raysa memanggilnya Abang. Seingatnya Raysa memanggilnya Abang terakhir kali saat mereka SD. Dan setelah itu Raysa tak memanggilnya dengan sebutan Abang. Karena Fatih gak suka di panggil namanya saja oleh Raysa. Itu lah salah satu alasan kenapa Raysa tak memanggil Fatih dengan embel-embel Abang. Karena Raysa ingin membuat Fatih kesal, seperti hal nya Fatih yang selalu membuat Raysa kesal dengan nya.
"Tumben panggil 'Abang'?" Tanya Fatih dengan kening mengkerut.
Pasalnya Fatih sudah terbiasa dengan Raysa memanggilnya tanpa embel-embel. Rasa nya sangat aneh dan menggelitik di hati saat Raysa memanggilnya dengan sebutan 'Abang'.
"Lagi pingin aja ..." Jawab Raysa cuek.
Padahal Raysa berusaha mencoba membangun benteng di hatinya, seperti yang Bunda Sasa katakan. 'Jika tak bisa mencintai, maka hargai dia sebagai saudara'.
Raysa melanjutkan memasakknya di saat tak ada lagi sahutan dari Fatih.
"Masih ada perlengkapan di kulkas?" Tanya Fatih saat melihat menu yang di masak Raysa adalah telor ceplok.
"Masih, cuma lagi pingin telor ceplok aja."
Fatih melihat Raysa menuangkan satu lagi telor ceplok keatas meja. Fatih tersenyum. Bolehkah ia menduga jika Raysa tau apa yang ia suka? Telor ceplok dengan kuningnya aja yang di aduk di atas kuali atau teflon, dan dingirwng kering.
Senyum Fatih semakin mengembang saat Raysa benar-benar menyajikan telor tersebut kepiringnya.
"Emangnya kalo masak telor, tanda nya persediaan di kulkas habis ya?"
"Gak juga sih. Kapan kamu beli nya?"
"Tadi pagi, Pas lari pagi."
Fatih menganggukkan kepalanya. Mereka pun makan dengan di selingi beberapa pertanyaan dari Fatih.
"Jadi kapan kamu berangkat ke Jakarta?"
"Mungkin lusa. Kamu gak papa kan sendiri?" Tanya Fatih yang khawatir dengan Raysa.
"Ya gak lah, Insya Allah aku bisa jaga diri aku sendiri kok."
Fatih menganggukkan kepalanya. " Tapi tetap aja aku khawatir, Lagian kalo ada aku kan kamu lebih aman."
"Idiih, gak salah? Yang ada aku yang lindungi kamu."
Raysa terkekeh begitu pun dengan Fatih. Satu lagi rahasia yang Raysa tak tau tentang Fatih. Dan sampai kapan pun Fatih tak ingin mengatakannya kepada Raysa, kecuali di saat yang genting.
"Salam buat Quin ya .."
"Gak bisa izin sehari aja gitu?"
"Mau nya sih, tapi aku baru masuk kerja, gak enak aja lah."
"Iya juga sih. Setidaknya sebulan jangan ada libur dulu kalo gak ada hal penting banget."
"Iya ..."
Sarapan selesai dengan Fatih membantu Raysa membersihkan piring. Raysa melarang Fatih untuk mencuci piring, karena tak ingin baju Fatih basah dan kembali kotor.
"Aku ganti baju dulu ya.."
Fatih mengacungkan jempolnya sambil menatap ke layar ponselnya. Ada email yang harus diperiksanya pagi ini.
"Yuk .."
Fatih menoleh saat Raysa sudah di depannya. Raysa sangat menawan dengan seragam polisinya. Fatih berdiri dan mengikuti langkah Raysa dari belakang.
*
"Raysa sepertinya gak suka sama gue." Ujar Tissa saat dirinya makan siang di gelari miliknya bersama Fatih.
Ada yang harus mereka bahas tentang galeri yang akan Fatih desain.
"Perasaan Lo aja kali."
"Ya udah kalo lo gak percaya. Tapi gue rasa, dia kayaknya punya rasa deh sama Lo."
"Ha ..ha.. Lo mau bikin gue GeEr? Gak mempan. Iya, dia emang punya rasa sama gue, rasa benci. Dan itu salah gue sendiri, tapi mau gimana lagi? Gue gak bisa berhenti untuk menjahilinya. Karena itu satu-satunya buat gue untuk mendapatkan perhatian dia."
Tissa terdiam, ia pandangi Fatih dengan seksama. Ternyata yang blo'on tak hanya Raysa, Fatih juga. Raysa belum menyadari jika dirinya tak ingin kehilangan Fatih, dan Fatih? Hah, sudahlah, setidaknya Tissa sudah sampaikan apa yang ingin dia sampaikan.
"Jadi, siapa nama cowok itu?" Tanya Fatih kemudian.
"Rahasia, gue gak mau bilang sekarang. Nanti deh, kalo gue benar-benar jadian sama dia. Gue kenalin. Ini, dekat aja belum, apa lagi jadian. Malu gue, Lo kan hobi banget ledekin orang."
Fatih tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Tissa kesal dengannya.
"Pantes aja Raysa benci banget sama Lo, nyebelin banget emang."
Fatih semakin tertawa, ia benar-benar lucu melihat sahabatnya ini. Sekali nya jatuh cinta, eh sama orang yang belum di kenal. Gimana mau dekat, kenal aja kagak.
"Udah deh ketawanya, Gue sumo pake sepatu juga Lo entar."
Fatih menarik napasnya, menetralkan tawanya. Sahabatnya benar-benar menggemaskan.
"Lo jadi balik besok?"
"Jadi, Mami suruh gue balik. Kalo gak bakal ada yang marah sama gue."
"Sok top banget si Lo. Eh, gue penasaran sama sosok Quin, siapa sih dia?"
Fatih hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan Tissa. Tissa pun mencibir dan tak memaksa Fatih untuk menjawab. Toh, suatu saat nanti semua rasa penasarannya akan berakhir.
"Oh ya, gue titip oleh-oleh untu Mama ya."
"Kenapa gak kasih sendiri?"
"Lo tau kan tante-tante gue gimana. Males ah, Mama gue aja gak rempong, kok mereka yang rempong urusin hidup gue."
__ADS_1
"Itu namanya mereka peduli."
"Bukan peduli, tetapi terlalu pingin tau urusan pribadi orang. Ya kalo mau cucu, sana nikahi anaknya yang udah bangkitan. Ngapain nyuruh gue buat nikah, lagian kalau mau di banding-bandingi dengan anaknya yang pegawai negeri itu dengan harga satu lukisan gue, ya masih jauh harga satu lukisan gue lah."
"Sabar Mpok, makan dulu biar kenyang."
Tissa mencibir, masalah dirinya selalu dengan keluarga dari sang Mama. Padahal ia hanya anak tiri sang Mama, kenapa mereka yang repotnya. Apa karena dirinya anak tiri? makanya mereka ingin membuat kehidupannya benar-benar tersiksa seperti di film-film.
No say, Mama nya aja gak pernah memukul dirinya. Bahkan sangat baik, walaupun Mama memiliki anak kandung dari satu Ayah dengannya, namun tetap aja Mama nya menyayangi Tissa seperti anak kandung nya sendiri.
*
"Maaf ya nunggu lama." Ujar Raysa yang baru saja masuk kedalam mobil Fatih.
"Gak apa, lagian aku juga belum selesai cek email nya kok." Fatih masih fokus dengan Ipad-nya.
Entah kenapa mata Raysa seperti menangkap papaerbag besar di bangku penumpang bagian belakang. Raysa pun menoleh, dan benar saja, terdapat papaerbag yang besar di sana.
"Apa tuh?" Tanya Raysa penasaran
Fatih menoleh. "Oh, titipan dari Tissa untuk Mama dan Adiknya."
"Kamu kenal dengan keluarganya juga?"
"Tentu. Kenapa?"
"Gak papa." Raysa kembali dalam mode jutek.
Entah lah, Raysa sering sekali merasa kesal tanpa alasan dengan Fatih. Dan Raysa tak tau sejak kapan ini terjadi.
*
"Kamu gak capek? pulang kerja lanjut masak?" Tanya Fatih yang sudah membantu Raysa menyiapkan makan malam mereka.
"Ya gak lah, udah terbiasa juga dengan Bunda."
Fatih hari ini kebanyakan diam, entah apa yang dipikirkannya. Namun Raysa merasakan hal itu.
"Kamu lagi ada masalah di kantor?" Tanya Raysa tiba-tiba.
"Hah? Masalah? gak kok. kenapa?"
"Dari saat jemput aku tadi kamu diam aja."
Fatih menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. Hanya helaan napas yang terdengar, namun selanjutnya tak ada bahasan apapun yang keluar dari mulut Fatih.
Raysa tak ingin bertanya lagi, walaupun rasa penasaran menghantuinya. Namun Raysa mencoba berfikir positif, mungkin Fatih lagi banyak kerjaan dan tak mungkin berbagi dengan dirinya. Bisa di katakan itu seperti sebuah rahasia perusahaan mungkin. Begitu lah pemikiran Raysa sekiranya.
Fatih memandang punggung Raysa yang sibuk mengaduk-aduk masukannya. Fatih teringat akan kata Tissa tadi siang. Inilah penyebab Fatih diam sedari tadi, ia sedang berfikir, apa benar jika Raysa memiliki perasaan yang di simpan untuknya? jika benar, bolehkah Fatih semakin berharap atas perasaan itu? walaupun perasaan itu hanya sebesar biji kacang hijau, dan setinggi pohon toge.
Masakan Raysa telah siap, Raysa pun menghidangkan makananya. Raysa juga menuangkan nasi untuk Fatih. Entahlah, Raysa seakan mulai terbiasa dengan hal ini.
"Besok kamu bawa mobil aku aja. Aku bawa mobil yang lain." Ujar Fatih kepada Raysa.
Raysa menaikkan alisnya sebelah, ia tak tahu jika Fatih memiliki lebih dari satu mobil di sini. Tapi ya sudah lah, itu bukan urusannya bukan?
"Mungkin jam 8."
Raysa menganggukkan kepalanya. Kemudian ia teringat akan hadiah yang belum di belinya untuk Veer.
"Ah ya, Aku belum beli hadiah buat Kak Veer. temani aku yuk ke mall."
"Habis makan?"
"Iyaa, tadi siang sih mau pergi, tapi banyak banget laporan yang harus di ketik."
"Baiklah."
Raysa dan Fatih pun menyelesaikan makannya. Setelah selesai, Fatih menyuruh Raysa bersiap sedangkan Fatih yang membereskan meja makannya.
"Yuuk ..." Ajak Raysa saat dirinya sudah selesai, namun ia menggelengkan kepalanya saat melihat baju Fatih habis basah. Inilah alasan kenapa Raysa tak percaya Fatih di dapur.
"Airnya goda aku, Ampe basah gini aku nya di buat tuh air." Ujar Fatih samb terkekeh.
"Udah cepetan, ganti bajunya. Ntar masuk angin lagi."
"Kan ada kamu yang bakal kerokin."
"Iiih, ogaah .."
Fatih melenggang keluar dan menuju apartemennya untuk mengganti pakaian. Raysa melihat kedapur nya, kemudian ia tersenyum di saat dapurnya sudah bersih, namun tidak dengan perlengkapan pel nya. Fatih meletakkannya asal.
Raysa membenarkan posisi pel tersebut, DNA betapa terkejutnya Raysa saat mengetahui jika gagang pel nya sudah patah.
"Ya Allah Fatih, gimana cara dia megangnya sih." Raysa menghela napasnya, sepertinya ia harus membeli pel kembali.
Raysa keluar dari apartemen bertepatan dengan Fatih yang keluar dari apartemen nya. Raysa mencebikkan bibirnya saat lihat Fatih. Dan Fatih terkekeh karena tau pasti Raysa kesal dengannya karena telah mematahkan gagang pel nya.
"Heran aku, sehari berapa pensil kamu pakai." Tanya Raysa sambil berjalan menuju lift.
"Gak itung." Jawab Fatih sambil menyengir.
Raysa hanya menggelengkan kepalanya. Pintu lift terbuka, Raysa dan Fatih masuk kedalam. Saat lift berhenti di lantai 5, Raysa terpaksa mundur karena ramai orang yang masuk, sehingga lift menjadi penuh.
Fatih langsung mengurung Raysa di sudut ruangan, karena orang yang masuk kedalam lift sangat berdesakan.
Deg ..
Deg ..
Deg ..
Raysa menatap lurus kearah jakun Fatih yang naik turun, karena dia menelan ludahnya. Tiba-tiba saja ada orang yang mendorong tubuh Fatih, sehingga jarak antara Raysa dan Fatih terkikis.
"Kamu gak papa?" Tanya Fatih kepada Raysa.
"Hmm ..."
__ADS_1
Ting ...
Pintu lift pun terbuka, akhirnya Raysa bisa menghela napasnya lega.
"Gak pernah-pernahnya rame kayak tadi." Ujar Fatih sambil berjalan menuju mobil nya.
"Mungkin salah satu penghuni apartemen lagi Adain acara."
"Bisa jadi."
Fatih membuka kan pintu untuk Raysa, Raysa tersenyum dan masuk kedalamnya. Mata Raysa terus memandang Fatih dari dalam mobil, tangannya naik menyentuh dada nya.
"Kenapa?" tanya Fatih saat sudah di dalam mobil.
"Hah? oh, gak kok."
Raysa menurunkan kembali tangannya, kemudian ia alihkan pandangannya ke arah luar.
20 menit Fatih mengemudikan mobil, hingga akhirnya tiba mereka di salah satu Mall terbesar. Fatih dan Raysa turun bersamaan, dan mereka juga berjalan beriringan.
"Rencana nya kamu mau beli apa?"
"Beli apa ya? liat aja dulu deh."
Mereka pun berkeliling melihat-lihat apa yang cocok untuk Veer dan ingin di belinya. Hingga akhirnya Raysa melihat sebuah dasi yang cantik. Ia membayangkan Veer sedang menggunakannya.
"Fat, sini deh." Raysa menarik tangan Fatih.
Fatih hanya memandang tangannya yang di genggam oleh Fatih, dan Fatih hanya menurut saat Raysa menariknya.
Raysa mengambil satu buah dasi, dan mencocokkannga kepada Fatih.
"Kayaknya ini cocok untuk Kak Veer."
"Hmm, Veer cocok memakai apapun."
Raysa menoleh. "Kamu juga, cuma sayangnya penampilan kamu ini terlalu acak-acakan. Kayak pengangguran tau gak."
"Biarin aja, biar gak ada yang deket-deket. cukup kamu aja yang Deket-deket aku."
Raysa mencibir, namun ia.merasa ada sesuatu di hati nya yang menghangat.
Setelah mendapatkan apanyang ingin di beli, Fatih mengajak Raysa untuk memakan eskrim. Seperti biasa, Fatih memilih rasa jagung ketimbang rasa Vanila.
"Cobain deh." Ujar Raysa yang duduk di sebuah Fatih.
"Gak mau, ntar muntah."
"Dikiitt ajaa .."
"Layca ..." Fatih menatap Raysa dengan sedikit mengamcam.
Raysa terkekeh karena berhasil menggoda Fatih. Kemudian ia melihat seorang cewek yang dikenal nya berjalan dengan seorang pria.
"Eh, itu bukannya Tissa ya?" Raysa menunjuk dengan dagu nya.
Fatih mengikuti arah tunjuk Raysa, dan benar saja, ia melihat Tissa bersama seorang pria. Apa itu pria yang sudah membuat Tissa jatuh cinta? jika ia, maka Fatih berharap jika pria itu adalah pria baik-baik.
"Kamu gak samperin?" Tanya Raysa.
"Buat apa?"
"Kalian kan sahabat." Ujar Raysa sambil menekan kata 'sahabat.'
"Sahabat bukan berarti bisa ikut campur dengan urusan pribadi masing-masing."
Raysa menganggukkan kepalanya. Namun ia ingin membukti kan sesuatu.
"Apa itu pacarnya ya?"
"Tissa gak punya pacar, tapi gak menutup kemungkinan jika pria itu pacarnya."
"Dan gak menutup kemungkinan kalo kamu bisa suka dengan Tissa."
Fatih menatap Raysa dengan tatapan Yang sulit Raysa artikan.
"Jika tak menutup kemungkinan aku suka sama Tissa, itu tanda nya juga gaak menutup kemungkinan jika kamu bisa cinta ke aku."
Raysa mengedipkan matanya sekali. Namun ia menolak akan hal itu. Ia menolak untuk kemungkinan tersebut.
Raysa tertawa pelan. " Ya gak lah, gak mungkin aku bisa suka sama kamu. Kamu itu jauh dari yang aku harapkan."
"Pria seperti apa yang kamu harapkan?"
Raysa diam, ia tak bisa menjawab. Karena kenyataannya sebagian dari diri Fatih adalah pria yang ia harapkan. Namun Raysa enggan untuk mengatakannya. Dan ini akan menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.
"Layca ..."
"Yang seperti kak Farhan."
Mata Fatih dan Raysa masih saling menatap. Raysa duluan memutuskan tatapan mata tersebut, ia melanjutkan memakan eskrim nya yang sudah mulai mencair.
"Ah, es nya mulai mencair."
Fatih masih menatap kearah Raysa yang sudah kembali menikmati eksrimnya. Fatih sudah kehilangan selera nya untuk memakan eskrim.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....