
Bara membuka matanya perlahan, Mami Shella dan Daddy Roy bernapas lega. Begitupun dengan Arka, Bram, Leo, dan Gilang.
Bara langsung mengingat jika dirinya tertembak, dan jeritan tangis Sasa masih menggema di telinganya.
" Mi, Sasa??"
" Kamu tenang yaa, dia sudah ditangani"
" Sasa punya trauma Mi, Dia..."
" Iya, Mami tau. Tadi Leo sudah menjelaskan. Sasa tadi sempat sadar, namun dia berteriak histeris, jadi Sasa di berikan obat penenang." Jelas Mami Shella.
Bara menghela napasnya pelan.
" Kamu tau, Sasa sangat mengkhawatirkan kamu. Dia menahan rasa takutnya hingga mendapatkan kabar jika kamu sudah melewati masa kritis."
" Benarkah Mi?"
" Hmm, dia menangis, dan bilang gak ingin kehilangan kamu"
Bara tersenyum mendengar penuturan sang Mami.
" Mi, Bara boleh minta tolong?"
Mami Shella mengernyitkan keningnya mendengar permintaan Bara. Namun kemudian Mami Shella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Dasar anak nakal"
Sasa sudah siuman, dia sudah tidak mengamuk seperti tadi lagi.
" Sa, Kamu gak papa?" Tanya Mili yang menemani Sasa sedari tadi.
" Iya Mbak, saya gak papa"
" Syukurlah"
Sasa menatap Mili dan Gilang bergantian.
" Kenapa?" Tanya Mili yang merasa di perhatikan oleh Sasa dan seperti ada yang ingin Sasa tanyakan.
" Eemm, itu.. Bara??"
" Mas Bara masih belum sadar" Jawab Gilang cepat.
Sasa melirik kerlarah jam tangannya, sudah 6 jam operasi Bara selesai, Tapi kenapa Bara masih belum sadarkan diri?.
" Apa yang terjadi? Kenapa dia belum sadar?" Tanya Sasa khawatir.
" Kamu tenang yaa, Bara sudah melewati masa kritisnya, tapi dia hanya belum sadar."
" Boleh saya menemuinya?"
" Tentu"
Gilang meminta kursi roda kepada perawat.
" Saya masih sanggup jalan"
" Kamu masih belum kuat, lebih baik naik kekursi roda ini, biar tidak lelah saat berjalan"
Sasa pun terpaksa duduk di kursi roda, jika Sasa menolak, maka Gilang tidak akan membawanya ke kamar inap Bara.
Gilang sudah memberikan kabar jika Sasa sedang menuju kamar inap Bara, hingga Bara bisa berakting berpura-pura belum sadarkan diri.
Pintu terbuka dan menampilkan Sasa yang tengah duduk di kursi roda dengan Gilang yang mendorongnya beserta Mili berada di sampingnya.
Mami Shella tersenyum, begitupun dengan Daddy Roy. Vina masih di kamar Kesya, menemani Kesya. Padahal dia sangat ingin melihat drama yang di rancang oleh abangnya itu.
" Mi, Bara?" Sasa tidak sanggup menahan Isak tangisnya, Tangis Sasa pun pecah saat Mami Shella memeluk nya.
__ADS_1
" Sebaiknya kita keluar, memberikan waktu untu Sasa dan Bara" Ujar Daddy Roy, yang di angguki oleh semuanya.
Sasa berjalan mendekati brankar Bara. Di tatapnya wajah pucat Bara yang masih setia menutup Mata nya.
" Hikksss.." Sasa meraih tangan Bara, di genggamnya tangan Bara dan diciuminya.
" Maafin aku, Aku mohon, bangunlah. Hiksss"
Sasa kembali menciumi punggung tangan Bara.
" Kamu gak mau tau perasaan aku ke kamu? hiikkss.... Aku sayang sama kamu. Kamu bangun ya. Aku bakal jawab 'Iya' atas pertanyaan mu. Hiikkss.. " Sasa menangis sesenggukan sambil mengungkapkan perasaannya.
Bara rasanya tidak tahan lagi, dia sudah ingin membuka matanya dan memeluk tubuh mungil pujaan hati nya. Namun tangan Sasa yang terasa dingin menyentuh pipi Bara, Bara pun menahan keinginannya untuk membuka mata. Ingin tau, apa yang akan di lakukan oleh mungilnya.
" Kamu pucat banget, kamu pasti belum makan. Kamu bangun ya.. Hiikss.. nanti aku suapin kamu kayak waktu itu. Kamu masih ingat kan? Waktu tangan kamu sakit, kamu sangat manja. Beruang madu ku. " Sasa tertawa di sela tangisnya.
" Bara, banguun..hiikkss.." Ujar sasa sedikit terisak kembali, karena Bara belum juga membuka matanya. Sasa menundukkan wajahnya, menumpahkan tangisannya. Bara membuka matanya, melihat mungilnya itu terisak menahan tangisnya. Bara ingin menyentuh kepala Sasa, namun gerakannya terhenti dan kembali menutup matanya saat Sasa mendongakkan kepalanya.
" Aku tau, kamu pasti lelah. Kamu tidur nya jangan lama-lama yaa.. Aku di sini bakal nungguin kamu." Sasa membelai pipi Bara. Sasa melihat kearah pintu, Masih tertutup rapat.
Sasa menundukkan kepalanya, dengan sedikit menjinjitkan kakinya, Sasa mencium kening Bara, tersungging senyum tipis di bibir Bara. Sasa mencium kembali kedua mata Bara, hidung, dan pipi. Sasa kembali menolehkan keraha pintu, masih tertutup rapat, perlahan Sasa menundukkan kembali kepalanya dan mengecup Bibir Bara. Dengan cepat Bara menahan kepala Sasa saat merasa Sasa ingin melepaskan ciumannya. Bara mencium Sasa denagn lembut, mencec*p dan melum*at bibir Sasa bergantian, atas dan bawah. Sasa terkesiap, dia belum siap akan serangan Bara. Sasa memukul pelan bahu Bara untuk melepaskan ciumannya.
Bara menyatukan kening mereka, dan meraup udara sebanyak-banyaknya.
" Aku juga mencintai mu Sa" Ujar Bara sambil menghapus jejak Saliva di bibir Sasa.
" Dasar pembohong. Hiksss..." Sasa memukul dada Bara kuat.
" Aww.." Sasa langsung terkesiap dan meraba dada Bara.
" Sakit? Apa itu sangat menyakitkan? Maafkan aku. Maaf..Hiikss" cicit Sasa.
Bara tersenyum dan menggeleng. Bara mendudukkan tubuhnya, denagn di bantu oleh Sasa. Di raihnya tubuh Sasa dan dipelukknya.
" Jangan nangis lagi, aku tidak apa-apa."
" Beneran kamu gak apa-apa?"
" Ck, aku bertanya, apa kamu baik-baik aja? " Kesal Sasa karena Bara tidak menjawab pertanyaannya.
Masih dalam mode memeluk Sasa, Bara mendaratkan ciumannya di kening Sasa, tepat saat pintu terbuka.
" Bara belum muhrim" Teriak Mami Shella, sontak Bara melepaskan pelukannya dan Sasa langsung denagn cepat memundurkan tubuhnya.
" Mami.." Lirih keduanya.
Mami Shella kembali masuk kedalam kamar Bara karena ingin melihat apa akting sang anak sudah berakhir atau belum, karena Mr. Yamatama datang untuk berkunjung dan sekalian membicarakan sesuatu hal kepada Bara.
" Bisakah semuanya di selesaikan secara kekeluargaan?"
" Kami memang berjanji tidak membawa kasus penculikan Puput ke kantor polisi, tapi bagai mana dengan Bara?, Dia terluka, dan itu tidak ada dalam perjanjian kita. " Ujar Arka tenang namun terdengar dingin dan menyeramkan.
" Saya mengerti. Tapi, bisakah masalah ini tidak di publikasikan?"
" Tentu, yang penting Ando harus di hukum" Tambah Daddy Roy.
Mr. Yamatama menghela napas, Semua karena kesalahannya, yang terlalu memanjakan Ando, beserta Tante Ana, anak nya.
" Baiklah, saya terima semua keputusan kalian" Ujar Tn. Yamatama.
Percakapan bersama Arka, Bara, Papi Farel, dan Daddy Roy pun berakhir dengan Ando di hukum sesuai pasal yang berlaku. Mereka tidak membahas tentang penculikan Puput dan Fadil, akan tetapi kasus penembakan Bara lah yang di naikkan kepersidangan.
Sepeninggalan Tn. Yamatama, Mami Shella menyuruh semua orang keluar dari kamar, kecuali Sasa. " Ingat, jangan macem-macem, halalin dulu Sasa nya" Ancam Mami Shella sebelum meninggalkan Bara dan Sasa.
Bara menyuruh Sasa mendekat, di raihnya tangan Sasa, dan dingenggamnya. Wajah Sasa sudah menunduk karena menahan malu. Bisa Sasa rasakan jika saat ini wajahnya sudah memanas, dan bisa di pastikan jika wajahnya sudah memerah merona.
" Jadi, kamu sudah menerima cinta ku?" Ujar Bara sambil mengedipkan matanya sebelah.
" Aku kan udah bilang tadi" Lirih Sasa yang terdengar seperti berbisik.
__ADS_1
" Aku ingin mendengarnya lagi"
" Apa?"
" Ungakapan cinta kamu"
" ooh ..., eemm.. Aku sayang kamu" Ujar Sasa berbisik di ujung kalimatnya,
" Lihat aku bilangnya." Bara meraih wajah Sasa, dan menangkupnya, untuk menatap wajahnya. " Aku menunggu"
Sasa menatap mata Bara lekat. " Aku.. Aku mencintai mu "
" Aku juga mencintai mu. Sangat mencintai mu" Bara menarik tengkuk Sasa dan mencium bibir nya.
Sasa memukul lengan Bara untuk menghentikan ciumannya.
" Nanti Mami lihat lagi, mau di tarok di mana muka ku" Ujar Sasa dengan wajah merona.
"Gak pa-pa, biar cepat di nikahi"
" Dasar mesumm."
Di kamar lain, Kesya sedang menatap kesal kearah Arka, Daddy Roy, Mami Shella, dan Papi Farel. Karena menyembunyikan kondisi Bara.
" Maafin Mas sayang, Mas yang melarang semuanya untuk tidak bilang ke kamu kondisi Bara"
" Nyebelin banget, emangnya Key siapa? Apa key bukan anak Mami dan Daddy? Hingga menyembunyikan kondisi Mas Bara? Hiikkss.."
Mami Shella langsung berlari dan memeluk Kesya. " Jangan bilang begitu sayang, Kamu anak Mami. Maafin Mami, mami hanya tidak ingin kamu khawatir dan terjadi apa-apa dengan calon cucu mami. Maafin Mami. Hikss"
Mami Shella menangis sambil memeluk Kesya. Daddy Roy pun ikut memeluk Kesya.
" Maafin Mami dan Daddy Key" Ujar Daddy serak karena juga ikut menangis.
" Hiikkks, Key mau liat Mas Bara. Hikss"
Arka menyuruh suster membawakan kursi roda untuk Kesya, kemudian Arka menggendong Kesya dan mendudukkan nya di kursi roda.
" Aku masih bisa jalan Mas" Ujar Kesya masih dengan nada kesal.
" Mas cuma gak mau kamu lelah"
Arka mendorong pelan kuris roda yang di naiki Kesya menuju ruang inap Bara. Sesampainya di depan pintu, Mami Shella menekan handle pintu dan mendorongnya. Pemandangan pertama yang di lihat oleh Mami Shella adalah, Sasa yang sedang membukakan kulit jeruk untuk Bara. Mami Shella tersenyum.
" Mas, Hiikks".
Kesya langsung turun dari kursi roda dan berlari memeluk Bara. Bara menatap Arka tajam, karena sudah memberi tahukan keadaan dirinya.
" Dia curiga dengan kita semua, karena Lo gak jengukin dia. Jadi Kesya ngikutin kita tadi, saat Mr. Yamatama jenguk Lo. Kesya nguping di luar" Jelas Arka sebelum mendengar pertanyaan Bara.
Bara menghela napasnya. " Maafin Mas ya, Mas yang larang mereka buat kasih tau keadaan Mas"
" Nyebelin"
" Aww" Bara meringis saat Kesya mencubit pinggangnya.
" Sakit Key"
" Biarin."
Kesya melihat kearah Sasa. " Kamu juga, nyebelin banget, awas aja kalo kamu masih brani nolak cintanya Mas Bara." Ancam Kesya kepada Sasa.
Sasa menelan ludahnya kasar, kenapa satu keluarga ini pada mojokin dia sih. Ah, dia rasanya sangat menyesal karena sudah menangisi Bara di hadapan semuanya.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
salam SaBar ( Sasa Bara)