
Bara dan Sasa baru saja selesai dengan pegulatan mereka. Tak hanya sekali, Bara dan Sasa menghabiskan hingga 3 ronde. Bara benar- benar tak bisa menahan hasratnya, saat Sasa mengatakan tak masalah berhubungan badan saat hamil, asalkan pelan dan tak menyakiti Sasa dan calon anak mereka. Bara sebenarnya masih ragu, tapi alasan Sasa yang lain membuat Bara merasa bersalah. Sejak kehamilannya, Bara memang jarang menyentuh Sasa, dan itu membuat Sasa merasa jika dirinya tak menarik lagi, dan membuat Bara bosan terhadapnya. Sasa takut jika Bara jajan di luar, seperti berita dan cerita yang sering di dengarnya.
Suara ponsel Sasa membuat Bara terbangun, dan meraih bendah pipih itu. Tanpa melihat nama ID si pemanggil, Bara pun menggeser tombol hijau tersebut.
" Halo." Ucap Bara dengan suara seraknya.
" Astaghfirullah, Bara... Pasti habis ***-*** kan?"
Bara membuka matanya besar dan menatap nama ID si pemanggil, Tertera nama sang Mami di sana.
" Eemm, lepas kangen Mi.. Udah lama gak jenguk adek bayi.." Bara menggaruk kepalanya yang tak Gatal.
Sasa masih tertidur nyenyak dalam pelukan Bara.
"... "
Bara menundukkan pandangannya, dan tersenyum lembut.
" Iya Mi, Sasa sedang tidur. Sepertinya Sasa kelelahan." Bara membelai rambut lembut Sasa.
" ....."
Bara meringis dan juga tersenyum saat mendengar repetan sang Mami.
" Iya Mi. Para pelan-pelan kok. Bara juga gak mau Sasa merasa sakit dan tidak nyaman. Emm, oh ya Mi.. Apa benar ya, kalo lagi hamil besar, sebaiknya adik bayi sering di kunjungi?"
" Dasar otak mesum." Pekik Mami Shella, dan langsung mematikan panggilan secara sepihak.
Bara terkekeh mendengar penuturan sang Mami. Bara meletakkan ponsel milik Sasa di atas nakas, dan meraih ponselnya. Ada sebuah pesan dari Andi, dan juga panggilan tak terjawab dari komandannya. Bara bangkit secara perlahan agar tak mengganggu tidur Sasa. Bara kembali menghubungi sang komandan.
.
.
Sasa terbangun dan melihat tak ada lagi sang suami di sebelahnya. Sasa menahan selimut yang menutupi tubuhnya, perlahan turun dan mencari Bara. Sasa tersenyum kala melihat Bara tengah memasak tanpa menggunakan baju, Bara hanya menggunakan Boxer sebagai penutup Tiger nya.
Sasa perlahan berjalan dan memeluk Bara dari belakang. Walaupun terhalang oleh perutnya yang membuncit, tapi Sasa sangat suka memeluk tubuh telanjang sang suami.
" Wangi banget Mas, buat aku dan anak lapar tau gak?"
Bara tersenyum, " Aku tahu kalo kamu akan merasakan lapar. Maka dari itu aku buat omelet. Untungnya ada sosis di kulkas "
__ADS_1
" Kamu merawat apartemen ini dengan baik. "
Sasa melepaskan pelukannya, dan membiarkan Bara menyelesaikan pekerjaannya. Bara menghidangkan omelet yang sudah di taburi abon dan juga saos.
" Ayoo ." Bara merangkul tubuh Sasa dan membawanya ke ruang tv.
Bara menghidupkan film kartun kesukaan Sasa, walaupun sudah berkali-kali menontonnya, Sasa tak pernah bosan, dan Bara denagn setia menemaninya menonton hingga akhir. Bahkan Bara sampai hafal dialog nya dan juga gaya-gaya nya.
" Mas gak balik ke kantor lagi?" Tanya Sasa yang sedang menikmati film karun dan juga tengah menikmati omelet super jumbo buatan Bara.
" Tadi komandan telfon, katanya ntar malam mau ajak patroli. jadi, skrg aku bebas." Bara mengecup bahu telanjang Sasa.
Posisi Sasa yang menyandar ke tubuh Bara, memudahkan Bara untuk mengecup kulit telanjang Sasa.
" Jadi, ntar malam aku di tinggal?" Sasa memanyunkan bibirnya.
" Ntar aku bilang sama Mami, buat temani kamu tidur yaa.."
" Hmm, iyaa deh. Sekalian bilang sama Vina untuk izinin Zein tidur sama aku. Aku juga udah rindu dengan Zein dan Kayla. Ntar Mas yang minta izin yaa sama Om Nazar dan Tante Rosa."
Semenjak kehamilan Sasa semakin besar, Vina dan Tante Rosa melarang Sasa untuk membawa anak-anak mereka tidur bersamanya. Karena takut mengganggu tidur Sasa yang memang semakin besar kehamilan semakin tak nyaman.
" Kan ada Mami, ya mas.. boleh yaa.. "
Bara tak mampu menolak permintaan sang istri, apalagi saat ini Sasa merayu nya dengan wajah yang sangat imut dan menggoda.
Hah, jika saja tadi Bara tak mengambil jatah hingga 3 ronde, mungkin saat ini Bara kembali mendesah bersama mungilnya.
Ah, Bara memang benar-benar mesum.
" Oke, tapi kamu harus janji, jangan terlalu Leah bermain bersama mereka ya.."
" Siap pak.." ujar Sasa sambil memberi hormat.
Bara yang gemas langsung saja mencium bibir ranum Sasa yang masih terlihat merekah itu. Bara menelusupkan lidahnya dan menguasai seluruh dalam mulut Sasa. Sasa hanya menikmati permainan Bara, dan sesekali membalas permainan Bara.
Bara melepaskan ciumannya dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Dada Sasa dan Bara pun naik turun karena hasrat yang menggebu. Sasa tau, jika Bara tak akan melakukannya lagi, dan Sasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Bara. Walaupun Bara sangat mesum, namun Bara mampu menahan hasratnya yang besar itu.
.
.
__ADS_1
Sasa tidak merasa sepi malam ini walaupun Bara tak menemaninya tidur, ada Zein, Kayla, Naya, dan juga Anggel. Vina pun ikut tidur di rumah Mami Shella malam ini. Bara menepati janjinya untuk membujuk Vina dan Tante Rosa untuk mengizinkan anak-anak mereka untuk tidur bersama Sasa. Lagi pula Zein, Kayla dan Anggel juga sangat merindukan Sasa. Terlihat tawa bahagia mereka saat Bara membentangkan tempat tidur tambahan.
" Mereka lucu-lucu ya Mi, seperti boneka gitu wajahnya. Mudah-mudahan anak Sasa juga bisa memiliki wajah seperti Mas Bara."
" Kenapa hanya Bara?"
" Mas Bara tampan. Tampan banget malah. Gak kaya Sasa, biasa aja."
" Iih, kamu ini cantik loh, Imut lagi. Mami aja pinginnya anak kalian mirip kamu. Imut-imut gitu, jadi besarnya tetap imut kayak kamu." Mami Shella mencuil hidung Sasa.
" Siapa yang imut?" Vina yang baru saja keluar dari kamar mandi ikut nimbrung pembicaraan Mami Shella dan Sasa.
" Sasa, dia gak pede dengan wajah nya yang imut ini."
" Iih, Mbak Sa. Aku aja suka banget dengan wajah Mbak Sa, andai saja wajah ku seperti Mbak Sa, bahagia banget aku nya. Awet muda terus."
" Masa sih.."
" Iyaa, Kesya aja gemes banget sama Mbak. Saat pertama kali Fadil kenalin Mbak Sa, Kesya langsung berfikir jika Mbak Sa itu anak SMA yang gak lulus."
" Emang gak lulus kok."
" Eh, Mbak Sa maaf, maksud aku gak buat nyindir Mbak. Tapi wajah Mbak seperti anak SMA. Mbak jangan marah yaa.."
" Enggak kok. itu kan dulu aku gak tamat SMa, tapi sekarang aku udah ada sertifikat komputer, bahasa Inggris, dan juga akutansi." Sasa tersenyum lebar.
Sasa, Mami Shella, dan Vina pun tertawa, hingga Anggel, Menangis karena Zein memeluk Kayla, bukan dirinya.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA...
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1