Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 13 " Nyaman"


__ADS_3

Bara mengerjapkan matanya, dia melihat kesekelilingnya, ini bukan kamarnya. Bara duduk dan mengingat di mana dia sekarang. Bara tersenyum saat telah mendapati ingatannya, dia berada di kamar Sasa, tapi di mana mungilnya itu?


Bara turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan mungilnya, tetapi tidak terlihat seperti ada tanda-tanda jika mungilnya berada di kamar. Bara keluar dari kamar, dan ternyata mungilnya berada di ruang TV. Tertidur dengan posisi meringkuk dengan selimut yang sudah tersingkap. Bara tersenyum dan mendekat kearah mungilnya.


Di pandanginya wajah mungilnya, kemudian dia melirik kearah jam tangannya, masih pukul 3 lewat 48 menit. Bara menyusupkan tangannya ke tengkuk Sasa, dan tangan satunya di lekukan lututnya, perlahan di angkatnya Sasa dan di bawanya ke kamar. Bara menurunkan Sasa, di rapikannya rambut yang menutupi wajahnya.


'Mungil, apa aku sudah jatuh cinta dengan kamu?' Batin Bara.


Bara bangkit, namun gerakannya terhenti karena Sasa menarik bajunya. "Ayah, ibu, jangan tinggalin Sa" Ngigau Sasa.


Bara ingin melepaskan tangan Sasa dari bajunya, namun genggaman itu semakin kuat, dan terlihat keringat dingin muncul dari pori-pori kening Sasa. Bara perlahan merebahkan diri di sebelah Sasa, yang benar saja jika Bara harus menahan tubuhnya dengan menunduk lama, bisa encok itu pinggang. Saat Bara merebahkan dirinya tepat di sebelah Sasa, Sasa langsung menyusupkan wajahnya di dada Bara, dan memeluk pinggang Bara. Terdengar dari mulutnya, masih memanggil Ayah dan ibu , agar tidak meninggalkannya. Bara membalas pelukan Sasa, dan Sasa semakin menyusupkan wajahnya kedada Bara, mencari tempat ternyaman di sana. Perlahan, Bara pun kembali terlelap sambil memeluk Mungilnya.


Sasa merasa susah untuk bergerak dan merasa tertimpa. ' Apa ini? Kenapa susah sekali bergerak? Apa saat ini aku sedang di timpa genderuwo?' Batin Sasa.


Perlahan Sasa membuka matanya, sambil merapalkan doa yang di bisanya. Sasa melihat sesuatu yang bergerak secara teratur didepan matanya, Sasa menaikkan pandangannya dan mendapati jakun seorang pria. Sasa sudah mengerjapkan matanya berkali-kali, hingga bulu matanya mengenai dagu Bara. Sasa memfokuskan kembali matanya, melihat apa yang saat ini sedang dia lihat bukanlah mimpi. Pria ini??. Sasa masih saja terus mengedip-ngedipkan matanya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Seingatnya dia tertidur di sofa, lalu kenapa dia bisa berada di kamar?


" Apa kau akan terus mengedipkan mata mu?" Ujar suara bariton yang terdengar serak dan seksi. Apa? Seksi? oh tidak.


Bara menundukkan wajahnya, dan Sasa baru bisa melihat wajah Bara dengan jelas.


" Kamu??"


Bara tersenyum, namun tiba-tiba saja dia sudah tersungkur dan jatuh kebawah tempat tidur. Sasa menendangnya, yaa Sasa baru saja menendangnya.


" Aawwww"


" Dasar brengsek" Maki Sasa.


Sasa mengambil bantal guling dan memukul Bara dengan membabi buta.


" Tunggu, aku bisa jelasin" Ujar Bara menahan bantal guling yang dipukulkan kearahnya.


Sasa tidak habis akal, dia menjatuhkan Bara hingga terbaring, Sasa menduduki tubuh Bara dan memukulnya, namun tangan Bara cepat menahan kedua tangan Sasa. Sasa memberontak dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Bara. Bara membalikkan Posisi mereka, dan saat ini Sasa berada di bawah Kungkungan Bara.


Bara menyeringai, sedangkan napas Sasa sudah memburu karena menahan emosi, di tambah posisi mereka yang Awkwk..


" Dengerin saya dulu" Ujar Bara dengan menatap Mata Sasa., Mata mereka bertemu, dan seolah-olah mata Bara berbicara untuk menenangkan Sasa. Tak berapa lama Napas Sasa mulai sedikit teratur dan tidak terburu-buru seperti tadi.

__ADS_1


Perlahan Bara melepaskan tangannya, dan dengan sekali gerakan mengangkat tubuh Sasa, hingga Sasa refleks melingkarkan kaki nya ke pinggang Bara dan tangannya mengalungi leher Bara. Sasa membuang wajahnya saat mendapati wajah Bara dan Wajahnya sangat dekat, bahkan Sasa bisa merasakan hembusan napas Bara.


Perlahan Bara menurunkan Sasa di tepi tempat tidur. Dan Bara pun duduk di sebelah Sasa. Bara menceritakan kronologi kejadian tadi malam. Sasa mengernyitkan keningnya, kemudian Sasa membuang wajahnya kearah lain. Sasa mengutuk dirinya yang menarik baju Bara, dan di tambah lagi memeluk Bara serta mengigau saat tidur.


" Apa yang kamu fikirkan, hingga membuat kamu gelisah seperti tadi malam?" Tanya Bara.


" Tidak ada"


Bara meraih dagu Sasa dan membawa wajah Sasa menatapnya. " Aku akan selalu ada untuk kamu, jika kamu butuhkan"


Sasa menatap kedalam mata Bara, mencari kebenaran. Lalu Sasa berdecak dan tersenyum miring. Hanya dia yang tau apa yang difikirkan nya saat ini.


" Kamu bisa pulang selepas solat subuh" Ujar Sasa dan kemudian bangkit menuju kamar mandi. Meninggalkan Bara yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Bara keluar kamar Sasa, dan mengikuti apa yang di perintahkan oleh Sasa.


Sasa keluar dari dalam kamar, dan tidak mendapati Bara lagi. Sasa menunaikan Solat subuh, dan selepas itu Sasa kembali merebahkan dirinya. Sasa mengambil foto ayah dan ibunya, di usapnya foto tersebut, air mata Sasa kembali terjatuh, dan Sasa pun terlelap dalam mimpinya.


Dering alarm di ponsel, membangunkan Sasa. Sasa melihat jam sudah menunjukkan pukul 7, Sasa merenggangkan ototnya, kemudian menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sasa mematuk dirinya di cermin, dengan tampilan sederhana dan casualnya, serta hanya menggunakan bedak tabur yang bermerk Marect, kemudian menggunakan lip mate berwarna nude lembut. Cukup sederhana, dan jauh dari kata glamour.


Sasa keluar dari kamarnya dan berjalan kearah dapur. Sasa membelalakkan matanya, saat melihat sudah ada nasi goreng di atas mejanya, tapi kenapa ada dua piring? Apa si Bara api sialan itu belum pulang?.


Sasa berbalik dan melihat Bara keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar. Bara tersenyum manis kearah Sasa. Sedangkan Sasa? Gak usah di bilang lagi ya betapa kesalnya dia pagi ini.


Sasa membuat teh hangat untuk dirinya dan Bara. Yaa, walaupun Sasa tidak menyukai Bara, tapi setidaknya mengucapkan terima kasih karena sudah membuatkan dirinya sarapan bukanlah hal yang salah.


Sasa langsung mendudukkan dirinya dan memulai makannya.


" Kamu gak tungguin aku?" Ujar Bara melangkah menuju meja makan dan menarik kursi yang berada di hadapan Sasa.


" Kenapa belum pulang?"


Tidak ada jawaban dari Bara, dia hanya ikut menikmati nasi goreng buatannya. Sasa pun harus menelan rasa dongkolnya terhadap Bara api sialan yang berada di depannya ini.


Setelah sarapan, Sasa langsung meletakkan piring kotor di wastafel dan mencuci nya. Semua gerak gerik Sasa tidak lepas dari pandangan Bara.


Sasa meraih tas ransel favorit nya. Kemudian Sasa menoleh kepada Bara yang masih fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


" Kamu gak keluar?"


Bara menoleh kearah Sasa, Bara tersenyum dan di simpannya ponsel yang di pegang nya tadi kedalam saku celananya.


Tidak ada yang membuka suara, Sasa masih fokus menatap angka lift yang sedang bergerak turun. Sedangkan Bara, matanya masih fokus menatap punggung Sasa, tapi fikirannya entah kemana.


Ting..


Sasa keluar dari lift, dengan Bara yang mengikutinya dari belakang.


" Pagi Mbak Sasa" Tegur satpam.


" Pagi pak" Sasa pun menyahutnya ramah.


Bara mencibir, kenapa mungilnya tidak seramah itu dengannya, padahal mereka sudah tidur bareng, ya dalam artian yang memang benar-benar tidur. Tapi tetap saja kan, mereka tidur bareng, di tempat tidur yang sama, dan berpelukan. Mengingat itu Bara jadi tersenyum-senyum sendiri.


"Mau kemana kamu?" Tanya Bara sambil menahan lengan Sasa.


" Ya mau kerja lah" Sasa menepis tangan Bara, dan melanjutkan langkahnya. Namun Bara kembali menahan lengan Sasa.


" Apaan sih" kesal sasa.


" Aku antar, sekalian jalan."


" Gak mau, ntar jadi gosip. Ogah"


" Kok jadi gosip?"


Sasa memutar bola matanya malas dan memilih untuk tidak memperdulikan Bara.


" Sa" Bara kembali menahan lengan Sasa.


" Ya Ampun, masih pagi ini loh, jangan buat kesal Napa sih. Udah, Lo pulang aja sana. Pokonya gue gak mau bareng sama Lo. Titik" Sasa melepaskan lengan Bara, dan kemudian berlari sebelum Bara kembali mencekal lengannya.


Bara hanya menghela napas kasar.


*** Readers... Budayakan siap membaca jangan lupa tancapkan Jempolnya ya.. kasih Like biar aku nya semakin semangat...

__ADS_1


Salam SaBar ( Sasa Bara )


__ADS_2