
Raysa tak mengindahkan ucapan Fatih. Baginya, keselamatan keluarga nya nomor satu. Untuk apa dia belajar beladiri sedari kecil jika ia tak bisa melindungi keluarganya. Buat apa ia jadi polisi jika tak bisa menegakkan keadilan untuk keluarganya.
Desi juga sudah memberikan laporan kepada Komandan Raysa. Maka dari itu selama masalah keluarga Raysa belum selesai, Raysa di tugaskan di Jakarta dengan Misi pemberantasan Mafia.
Raysa sengaja pulang siang, agar tak ketahuan dengan Fatih jika dirinya berangkat ke Jakarta.
"Harus cepat-cepar nih, bahaya kalo ketahuan."
Raysa tak pernah tau, jika Fatih sudah membenamkan pelacak di ponselnya.
"Dasar cewek bandel." Geram Fatih dan bergegas menyusul Raysa yang menuju apartemen nya
Raysa terkejut saat seseorang menarik lengannya dan membuat tubuhnya menghadap ke orang tersebut."
"Fat-fatih ...." Lirih nya.
"Aku tau kamu akan melakukan ini."
"Fat, mereka butuh aku."
"Mereka sudah berada dalam pengawasan ketat Arash dan Abash. Juga tunangan mu Farhan."
"Fatih, Quin dan Anggel saudara aku. Mereka butuh Aku." Pekik Raysa.
"Mereka keluarga aku." Ujar Fatih tajam.
Seketika Raysa takut dengan aura Fatih saat ini. Tak pernah Fatih seperti ini sebelumnya. Fatih yang di kenalnya adalah Fatih yang sabar, penyanyang, dan nyebelin. Memang, Fatih akan berubah menjadi mengerikan jika Seseorang menyentuh orang-orang kesayangannya.
Air mata Raysa pun menggenang dinoemupuk matanya.
"Aku gak peduli kamu setuju atau tidak atas kepergian aku. Hidup ku adalah keputusan ku, bukan urusan mu."
"Layca." Bentak Fatih.
"Fatih, aku benci kamu, aku benci kamu." Pekik Raysa sambil terisak.
Fatih menarik tubuh Raysa dan memeluknya. Tangis Raysa pun pecah di dalam pelukan Fatih.
"Hikks, aku mohon, biarkan aku bergabung dalam misi ini."
"Aku gak bisa Layca, aku gak bisa biarin kamu terluka."
"Aku gak kan terluka, aku janji." ujar Raysa dengan Isak tangisnya.
"Apa aku bisa memegang janji mu?"
Raysa menganggukkan kepalanya, namun pelukannya semakin mengerat di pinggang Fatih.
"Baiklah, ingat, jangan pernah terluka. Atau aku gak bisa maafin diri aku sendiri."
Raysa kembali menganggukkan kepalanya. Fatih merasakan pelukan Raysa semakin mengerat di tubuhnya.
"Layca, apa kamu mau seharian berdiri sambil meluk aku?" Ujar Fatih setelah beberapa menit merasakan jika Raysa tak ingin melepaskan pelukannya.
Raysa pun terpaks melepaskan pelukannya, wajahnya memerah karena malu. Ia pun berlari memasuki gedung apartemen dengan sedikit berlari.
Fatih terkekeh dan sengaja membiarkan Raysa berada jauh dari dirinya.
*
Fatih mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Tak ada waktu untuk bersantai di jalan saat ini.
setelah menempuh lebih 2 jam perjalanan, Raysa dan Fatih pun berada di bagian belakang rumah sakit. Seperti apa yang di perintahkan oleh Desi.
"Ca." Sapa Desi menghampiri Raysa dan Fatih dengan bersembunyi-sembunyi.
"Gila Lo Des." Marah Fatih kepada Desi.
Raysa sudah mengatakan semua rencana Desi kepada Fatih sebelum mereka berangkat. Desi sudah menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuan Papa Arka dan Daddy Bara. Tak ada yang mengetahuinya, karena Desi memiliki partner yang luar biasa.
"Aku gak punya cara lain lagi Bang, ini yang terbaik. Filling ku mengatakan hal ini. Makanya aku minta Mbak Nafi dan Mbak Anggel berada di kamar yang sama. Selain Ica, gak ada yang bisa aku percaya."
"Tapi ini sangat berbahaya. Lo bilang kan kalo kalo mereka membawa senjata tajam?"
"Ini satu-satu nya cara untuk menangkap mereka."
"Aku gak setuju."
"Fat, kamu harus percaya sama aku dan Desi." Raysa meraih lengan Fatih agar menghadap kearahnya.
Fatih menoleh kearah Raysa, ia meremas rambutnya sendiri dan menggeram. Tatapan Raysa mengatakan jika dirinya tak akan mundur dari rencana yang Desi rancang.
"Aku gak habis fikir dengan kalian berdua." desis nya
"Abang doain kami, semoga rencana aku berhasil."
"Pasti aku doain, karena aku gak mau kalian terluka."
Desi tersenyum, begitupun dengan Raysa.
"Jadi, Abang ikut dalam rencana?" Tanya Desi.
"Kamu fikir aku akan membiarkan kalian terluka? Tidak akan pernah." Ujar Fatih dengan nada kesal.
Seorang pria yang terbilang cukup manis datang dengan berjalan sangat gagah.
"Apa kita mulai sekarang?"
"Tentu." Ujar Desi kepada pria yang bernama Jordan, yang biasa di sapa dengan Jo.
Jo adalah anak pertama dari Om Jodi dan Aunty Ara. Jo tersenyum kepada Raysa, sehingga dirinya mendapatkan tempelengan dari Fatih.
"Senyum aja gak boleh." Ujar Jo sambil mengelus rambutnya.
"Kesal gue." Ujar Fatih dengan tak ramah.
Raysa dan Desi sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian pasien rumah sakit. Mereka juga memakai wig yang sudah disiapkan oleh Desi. Rambut Desi dan Raysa yang pendek pasti akan membuat penyamaran mereka ketahuan. Maka dari itu Desi menyiapkan wig berambut panjang. Mereka masuk kedalam fentilasi udara yang berada di plafon rumah sakit.
"Kebanyakan nonton film barat Lo Des " Gerutu Fatih saat dirinya sedang merangkak menyusuri ruang sempit tersebut.
__ADS_1
"Gak ada salahnya kali bang, yang penting dapat ilmunya." bisik Desi.
Desi mengikuti alur yang berada di dalam peta rumah sakit. Hingga mereka menemukan celah bercahaya itu. Dengan kepintarannya yang tak lupa membawa obeng, dia membuka baut-baut tersebut dengan cepat. sehingga terbuka lah pintu keluar mereka.
Desi merekatkan cangkang ke dalam lubang fentilasi yang terbuat dari aluminium tersebut untuk menahan bobot tubuh mereka untuk turun dengan menggunakan tali.
Desi orang yang pertama turun, kemudian Raysa, Fatih, dan terakhir Jo. Jo memutuskan tali tersebut dengan sekali hentakan tarikan. Pintu terbuka dan menampilkan Lana yang terkejut dengan kehadiran 4 manusia di dalam kamar mandi.
"Ngapain kalian di sini?" Tanya nya tak suka.
Desi langsung menyuruh Lana diam, dan dengan di ikuti Desi dan Raysa yang keluar dari kamar mandi, Fatih dan Jo pun setia berada di belakang mereka.
"Ada Apa?" Tanya Veer yang juga terkejut dengan kehadiran Desi dan Raysa yang sudah memakai pakaian rumah sakit.
"Kami akan menggantikan Non Nafi dan Mbak Anggel berbaring di sana." Ujar Desi.
"Untuk?"
"Desi memilki firasat buruk untuk malam ini, setidaknya kita harus bergerak cepat." tambah Raysa.
"Lalu, mereka mau di pindahkan bagaimana?" Tanya Lana.
"Untuk malam ini bersembunyi dulu di kamar mandi." Saran Desi.
"Waah, ngaco Lo Des."
Desi tersenyum. Veer yang mengerti arti senyuman itu pun mengangguk setuju. Desi tidak akan melakukan pekerjaan tanpa rencana yang matang. Sekarang Veer tau, kenapa alasan Desi meminta Nafi dan Anggel berada di ruangan yang sama.
Veer membangunkan Nafi dengan sayang, namun alarm bahaya di jam tangan Jo berbunyi.
"Gak ada waktu Bos, gendong saja."
Nafi yang baru terbangun terkejut dan merasa ketakutan dengan kehadiran Desi, Raysa, Fatih, dan juga Jo. Nafi pun meremas tangan Veer.
"Tenanglah, mereka adik-adik ku."
Nafi menganggukkan kepalanya, ia harus percaya kepada Veer. Veer menggendong Nafi dan membawa nya menuju kamar mandi. Desi langsung berbaring di tempat tidur.
"Kamu bisa berdiri kan?" Tanya Veer, Nafi pun mengangguk.
Veer turunkan Nafi dan membuka kemejanya. Veer berikan kemejanya kepada Jo, dan Jo segera memakainya. Fatih dan Lana sudah duluan berganti pakaian.
Lana langsung menggendong Anggel yang tertidur.
"Ada apa?" Tanya Anggel yang terkejut saat sudah berada di dalam gendongan Lana. Lana menyuruh Anggel diam dan melirik kearah Raysa.
"Tenang Mbak, jangan panik."
"Ica?" Lirih Anggel.
Raysa langsung berbaring di atas brankar sedangkan Fatih duduk di sisi kiri Raysa.
Veer, Lana, Anggel, dan Nafi sudah masuk kedalam kamar mandi. Veer mencari pintu rahasia yang di siapkan oleh Desi. Namun, gerakannya tertahan saat mendengar suara pintu kamar inap Nafi dan Anggel terbuka dengan perlahan.
Di dalam kamar, Fatih sudah merengut kesal tentang ide gila Desi. Raysa yang berbaring menghadap kiri pun hanya mampu memandang wajah Fatih yang mulutnya berkomat Kamit. Rasa takut Raysa hilang entah kemana, karena Fatih ada bersamanya.
Begitupun dengan Fatih dan Jo yang merebahkan kepalanya di atas brankar. seolah-olah mereka sedang tertidur. Fatih tak ingin memandang wajah Raysa, karena ia benar-benar kesal. Ia tak ingin Raysa nya terluka. Sepertinya rahasia Fatih yang lebih hebat dari Raysa pun harus di ungkapnya.
Ingat, selama ini Fatih selalu terlihat kalah saat berlatih bela diri dengan Raysa. Sebenarnya bukan Fatih benar-benar kalah. Fatih hanya tak ingin menyakiti Raysa dengan pukulannya.
Derap langkah pelan terdengar oleh mereka semua. Jo yang memiliki insting tinggi bisa menebak berapa pasang kaki yang masuk ke dalam kamar. Jo memberi kode ke pada Desi dengan menggerakkan jari nya yang menggenggam tangan Desi.
Ada 5 orang yang masuk, Desi tak habis fikir, sebenarnya Riki ini siapa?
Saat derap langkah tersebut semakin dekat kearah desi, Jo, Fatih, dan juga Raysa. Mereka sudah memasang ancang-ancang untung menyerang balik.
"Now" Teriak Desi.
mereka semua bangkit dan mulai melumpuhkan mangsa mereka. Raysa sempat melirik kearah Fatih yang melawan dua orang sekaligus. Raysa tak percaya dengan apa yang di lihatnya, Fatih nya tak seperti Fatih yang biasa nya dia kenal.
Karena memperhatikan Fatih, Raysa lengah dan menjadi sasaran empuk.
"Ica awas ..." Teriak Desi.
Sreeet ..
"Akkh ..."
Jo langsung memukul bagian leher dari 2 orang yang berada di dekatnya. Pria itu jatuh pingsan. Dua pria lainnya telah takluk dengan Desi dan Fatih. Namun mereka harus kehilangan satu dari mereka.
Darah terus mengalir di lengan kekar itu.
"Fatih ..." lirik Raysa dan dengan ceoat membuka kemeja yang Fatih kenakan.
Raysa merobek sebagian kemeja itu dan mengikat lengat Fatih untuk menghentikan pendarahannya.
Tak berapa lama Farhan dan Om Jodi pun datang. Raysa menarik kursi roda yang ada di dalam kamar, dan menyuruh Fatih duduk di sana.
"Aku masih bisa jalan " Ujar Fatih.
"Duduk." Pekik Raysa dengan air matabyang berderai deras.
Farhan yang melihat itu hanya bisa terdiam dan memandang kepergian Raysa dan Fatih. Yang mana Raysa mendorong kursi roda itu sambil berlari.
*
Lucas langsung menangani Fatih saat mengetahui jika ada yang terluka pada misi tak di ketahui itu.
"Luc, pelan-pelan nyuntiknya, takut gue." Ujar Fatih.
"Dasar lebay, sana jarum suntik aja takut Lo."
Setelah menjahit lengan Fatih yang tergores pisau, Raysa masuk kedalam ruang tindakan tersebut dan memeluk Fatih dengan erat sambil menangis.
"Heei, tenanglah. Aku tak apa." Ujar Fatih sambil mengelus punggung raysa.
"Dasar bodoh, hiks ... seharusnya aku yang terluka." Ujar Raysa dengan sesenggukan.
"Bukankah aku sudah katakan? jika aku tak akan membiarkan kamu terluka sedikit pun."
__ADS_1
Di sudut sana, Farhan menatap Fatih dan Raysa sambil mengeraskan rahangnya.
"Tenang Bro, sebaiknya Lo biarin mereka berdua dulu. Raysa hanya merasa bersalah karena Fatih terluka karenanya." Ujar Lucas dan mengajak Farhan pergi dari sana.
*
Raysa terus merengut dan mencebikkan bibirnya karena Fatih malah membuatnya kesal. Air mata Raysa pun sedari tadi seakan tak ingin berhenti.
Terdengar suara tirai di buka dan menampilkan Veer dan Nafi.
"Hai kakak ipar." Ujar Fatih kepada Nafi dengan tersenyum hangat.
"Ba-bagaiman keadaan kamu?" Tanya Nafi gugup.
"Aku baik kakak ipar, seperti yang kamu lihat." Ujar Fatih masih dengan tersenyum lebar, seakan tak terjadi apapun dengan dirinya.
"Kakak, sok muda banget sih. Kak Nafi, dia ini udah tua, cuma sok muda-mudain diri aja." kesal Raisa.
"Mereka akan menjadi kakak ipar ku setelah aku menikah dengan mu." Ujar Fatih kembali menggoda Raysa.
"Aku gak akan pernah menikah dengan kamu."
"Hah, cinta ku di tolak lagi. Bagaimana ini kakak ipar." Ujar Fatih mencari pembelaan dengan wajah sendu.
Nafi terlihat gugup, namun ia merasa hangat berada dalam lingkaran Veer. Banyak orang baik di sana, yang berbeda karakter dan juga lucu.
"Aku kesini mau ucapin terima kasih. Ah ya, perkenalkan nama aku Nafi, kalo kalian?" tanya Nafi sambil melihat kearah Fatih dan Raysa bergantian.
Raysa dan Fatih saling memandang, mereka belum mengetahui keadaan Nafi saat ini yang kehilangan sebagian memori nya.
Veer pun menjelaskan siapa Fatih dan Raysa. Dan tak berapa lama seorang wanita berlari dan langsung memeluk Fatih.
"Sayang ... hiks ..."
Raysa merasa bersalah, karena dirinya lah Fatih terluka. Nafi masih memperhatikan semuanya, hingga terdengar bisikan dari Veer.
"Itu Mami Mili, adik Papa Arka, dan pria itu suami nya, Papi Gilang, sahabat Mama Kesya."
Papi Gilang berjalan mendekati Raysa.
"Maaf, semua salah Ica."
Papi Gilang langsung menarik Raysa kedalam pelukannya. "Bukan salah Ica, jangan menangis."
Raysa luapkan tangisnya dalam pelukan Papi Gilang. Tak berapa lama Daddy Bara dan Bunda Sasa pun tiba. Rasa khawatir Bunda Sasa kepada sang putri pun luntur. putrinya baik-baik saja, namun anak laki-laki nya terluka.
Bunda Sasa mendekat kearah Fatih.
"Sayang ..." Panggil bunda Sasa dengan mata berkaca-kaca.
"Bunda ..."
Mami Mili melepaskan pelukannya dari Fatih. Bunda Sasa langsung memeluk Fatih dan menangis.
"Itu Bunda Sasa, ibu nya Raysa, dan itu Daddy Bara, ayahnya Raysa. Daddy Bara itu adalah Abang dari Mama Kesya." Bisik Veer menjelaskan siapa wanita dan pria yang baru saja datang.
Nafi menoleh, sehingga membuat jarak bibirnya dan bibir Veer sangat dekat. Mata Veer dan Nafi bertemu, mereka saling memandang.
"Hei, jangan ciuman di sini." Ujar Fatih kesal.
Bunda Sasa merelai pelukannya, dan ikut tertawa di saat melihat Nafi dan Veer salah tingkah.
*
Semua keluarga sudah berkumpul saat ini, termasuk Veer dan Lana. Anggel dan Nafi saat ini di jaga oleh Bunda Sasa dan Mama Kesya. Bahkan Ibra, dan Zaki juga berada di sana.
"Jadi kamu yang sengaja mengurangi pengawal tadi? untuk memancing mereka?" Tanya Papa Arka kepada Desi.
"Iya Tuan, Maafkan saya. saya terpaksa melakukannya. Karena jika saya meminta izin, maka Tuan tidak akan memberikannya."
"Tentu saja, karena ini juga membahayakan nyawa kamu."
"Sekali lagi maafkan saya."
Duda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya itu. Jika sudah menyangkut misi menyelamatkan, maka dia rela membahayakan dirinya sendiri. Tidak hanya menyusun rencana di Plan A, bahkan Desi sudah menyiapkan Plan B. Di tambah lagi sekutu nya adalah Jo.
Papa Arka menghela napasnya. Papa Arka mendekat kepada Raysa dan Desi. Mereka sudah berdiri dengan sikap istirahat di tempat mereka. Tentu saja dengan postur tubuh yang tegap dan tatapan lurus tanpa mengenal takut.
Papa Arka memegang bahu Desi, "Kamu ini juga anak Papa, jangan bikin papa takut karena kehilangan salah satu anak Papa."
Ini adalah kata-kata yang tak bisa Desi dengar. Papa Arka selalu menganggapnya sebagai anak. Tak hanya dirinya, seluruh anak dari Duda dan Jodi pun juga di anggap sebagai anak oleh Papa Arka.
Desi menahan bulir bening itu agar tak jatuh. Hingga papa Arka memeluk nya, dan runtuhlah pertahanan Desi. Air mata itu mengalir mulus di pipinya.
"Dasar nakal." Ujar Papa Arka kepada Raysa. Papa Arka memeluk putri nya itu juga.
Setelah Papa Arka sekarang Raysa, Desi, Jo, dan Fatih menelan ludahnya. Kalo ini Daddy Bara yang berdiri dihadapan mereka. Daddy Bara menatap satu-satu anak didiknya itu.
"Raysa, Jo, Desi, push up 100 kali. Kamu Fatih, lakukan sikap sit up 50 kali."
Raysa, Desi, Jo, sudah mengambil sikap untuk melaksanakan hukuman mereka. Begitu pun dengan Fatih. Berhubung hanya lengannya yang terluka, maka tidak akan masalah jika Fatih hanya melakukan Sit up.
"Mulai." Ujar Daddy Bara.
Raysa, Desi, dan Jo serentak menurunkan tubuhnya, beserta dengan Fatih yang menaikkan tubuhnya, dengan berbarengan mereka menghitung dari satu.
Note:
nah, yang penasaran kenapa bisa ada perang2 gini. ini aku ambil di part KCK2-sultan khilaf. karena di sini peran Fatih dan Raysa lebih di perlihatkan.
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1