
Raysa dan Desi memijit lengan mereka. Sudah lama rasanya mereka tak mendapatkan hukuman seperti ini. Biasanya Daddy Bara akan menghukum mereka hanya sampai 50 kali push up, tapi ini?
Raysa pandangi Fatih yang sedang mengobrol dengan Jo. Entah apa yang mereka obrolin, sehingga lamunannya buyar saat Quin dan Abi menghampiri.
"Gilaa, apa yang kalian lakukan? apa kalian sedang melakukan shuting film." Tanya nya kesal.
Raysa dan Desi hanya tersenyum menanggapi kemarahan Quin.
"Tau sendiri Quin, Mereka berdua khayalannya terlalu tinggi." Fatih mengadu.
Plak ...
"Aww, " Fatih meringis saat Quin memukul bahu nya.
"Sama aja, kamu juga. Nyebelin banget."
Fatih mengelus lengannya yang di pukul oleh Quin.
"Layca, atiit ...." Fatih mengadu kepada Raysa dengan manja.
"Bodo' ..." jawab Raysa dengan tak kalah kesal.
"Jo, Atiit ..." Ujar Fatih kepada Jo.
"Sini gue peluk." Jo menarik kepala Fatih dan meletakkan nya di ketiak.
"Brengsek Lo. Bisa berkurang kadar ganteng gue ntar."
"Kayak Raysa mau aja sama Lo."
"Ya kalau Layca gak mau, masih banyak tuh perawat- perawat yang liatin gue."
"Ya udah, pilih aja salah satu dari mereka." Ujar Raysa dengan jutek.
"Okey..."
Fatih berdiri dan menghampiri seorang perawat yang terlihat cantik. Fatih mengajak berkenalan , dan juga dapat di lihat oleh Quin, Abi, Jo, Desi, dan Raysa jika Fatih bertukar nomor ponsel dengannya. Fatih kembali dengan senyum mengembang.
"Nanti malam gue ajak Dinner. Tadi nya mau ajak makan siang, tapi dia lagi tugas." Ujar Fatih dengan bangga.
Raysa memutar bola matanya malas. Quin tersenyum melihat hal itu. Hah, sampai sekarang Raysa belum juga mau mengakui perasaannya kepada Fatih. Entahlah, Quin juga gak mau terlalu ikut campur dengan urusan mereka.
Raysa menguap, karena memang mereka belum tidur semalaman. Dan saat ini mereka baru saja akan sarapan pagi.
"Ngantuk banget, pesanannya masih lama gak ya?" Ujar Raysa sambil merebahkan kepalanya di atas meja.
"Bentar lagi juga nyampe."
"Huuuf, untungnya kejadian tadi malam berada di lantai 4. Jika tidak, bisa heboh seluruh rumah sakit." Ujar Quin sambil memandang aktifitas yang normal di rumah sakit.
"Tapi tetap aja, mereka was-was dengan pengawal yang berjaga di mana-mana. Apa lagi pengunjung yang datang di batasi." Tambah Desi.
"Demi kenyamanan para ratu-ratu Moza, jelas saja harus ada penjagaan ketat." Tambah Jo.
Tak berapa lama pesanan Mereka pun tiba. Termasuk dengan pesanan Quin dan Abi. Raysa, Jo, Desi, Fatih, dan Quin makan dengan cepat. Karena perut mereka sudah sangat lapar. Berbeda dengan Abi yang sudah kenyang melihat Quin makan dengan lahap.
"Kamu gak makan?" Tanya Quin di sela kunyahannya.
"Liat kamu aja udah kenyang."
"Ahh, serasa mual gue tiba-tiba." Ujar Fatih sambil memegang perutnya.
"Kamu lebih lebay lagi tau." Ujar Quin sambil memanyunkan bibirnya.
"Setidaknya mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri." Tambah Raysa.
"Nikah Yuk ..." Ajak Fatih.
"Iidih, pantang dengar kata nikah dah main ajak-ajak aja."
"Emang bisa? bukannya Raysa harus ngabdi 2 tahun dulu ya?"
"Ya gak bisa sih. Cuma ngajak aja, mana tau dia jawab Yuk." Ujar Fatih ngarep.
Setelah sarapan, mereka kembali ke lantai 4 rumah sakit. Di mana seluruh keluarga berada di sana. Raysa, Desi, Jo, dan Fatih butuh istirahat. Begitupun dengan Quin dan Abi.
Berhubung tak ada tempat tidur, jadi mereka harus tidur di sofa, untung saja sofa nya empuk.
Abi sedari tadi tak ingin melepaskan genggaman tangannya dari Quin.
"Jauhkan dikit duduknya, aku mau tidur." Ujar Quin sambil menyuruh Abi menggeser duduknya sedikit jauh dari Quin.
"Gak mau, aku mau gini aja."
Abi menarik tubuh Quin kedalam pelukannya. sehingga Quin pun bersandar di dada bidang Abi. Quin hanya menghela napas, namun ia juga merasa nyaman berada di sana. Tak butuh waktu lama untuk Quin terlelap. Biasanya Quin akan susah tidur jika berada di posisi tak nyaman. Namun lihatlah, baru 5 menit, Quin sudah mendengkur halus.
"Lelah banget kayak nya dia. Kita yang berantem, dia yang kelelahan." Desi terkekeh.
"Lelah menangisi pujaan hati yang tertembak" Tambah Fatih lagi sambil terkekeh.
"Berisik, sana tidur." Ujar Raysa yang sudah menutup matanya.
Fatih pun diam dan ikut menutup matanya. Begitupun dengan Desi yang ikut menyusul Raysa, Quin, dan Fatih.
*
Malam ini Fatih gagal dinner dengan salah satu perawat yang ada di rumah sakit, karena Daddy Bara mengumpulkan mereka semua untuk melakukan siaga 2.
Quin yang keras kepala memaksa Abi untuk ikut hadir di rapat keluarga tersebut. Disana sudah ada Papa Arka, Daddy Bara, opa Roy, Opa Bram, Om Leo, Lucas, Om Vano, opa Nazar, Papa Fadil, Papi Gilang, Lana, Zaki, Veer, Arash, Abash, om Duda, Om Jodi, Jo, Fatih, Bunda Sasa, Ibra, Desi, Raysa, Abi dan Quin.
Papa Arka mendesah saat melihat Quin ikut dalam rapat dadakan ini. Namun Papa Arka tau, jika Quin sama keras kepalanya dengan diri nya.
"Jadi, apa yang akan kita rencanakan?" Tanya Opa Roy.
Daddy Bara sebagai pemimpin rencana pun langsung menjelaskan apa yang harus di lakukan. Raysa, Desi, Jo, dan Fatih masih dalam satu kelompok. Daddy Bara memberikan tugas yang tidak terlalu berat, dan tidak terlalu sulit, namun mereka harus memiliki kecepatan yang tinggi agar rencana berjalan dengan lancar. Arash dan Ibra bertugas menjaga Mama Kesya, Nafi, Anggel, Tante Mega, dan Mama ayu, bersama Bunda Sasa yang akan mendampingi mereka.
Semua orang mendapatkan bagiannya, penyamaran juga akan segera di mainkan. Abi hanya bertugas menjaga Quin seorang. Karena Quin lah yang saat ini posisi paling berbahaya.
Semua anggota langsung mengambil posisi masing-masing, begitu pun dengan Abi dan Quin yang harus bisa keluar dari rumah sakit. Agar posisi Quin bisa aman berada di rumah keluarga Setyo.
__ADS_1
*
Raysa dan Desi sedang memikirkan sesuatu, kemudian mereka saling pandang dan seolah berbicara melalui matanya.
"Apa yang kamu fikirkan?" Tanya Raysa.
"Aku rasa fikiran kita sama."
Raysa dan Desi tersenyum. "Haruskah kita mengatakan kepada Daddy?" Tanya Raysa.
Ia tak ingin membuat keluarga nya merasa takut dan kecewa kepada nya.
"Aku rasa itu bukan ide buruk. Lagi pula, kita harus menyiapkan plan C."
"Kamu sudah menyiapkan plan B?" Tanya Raysa terkejut dan di angguki oleh Desi.
"Waah, luar biasa." ujar Raysa sambil bertepuk tangan.
Raysa dan Desi pun menemui Daddy Bara tanpa satu orang pun yang curiga dengan apa yang ingin di katakan oleh mereka berdua.
Daddy Bara menatap kedua putri nya itu dengan rasa tak percaya dan kekhawatiran yang mendalam.
"Kalian yakin?"
"Ya Dad, ini salah satu jalan terbaik."
"Bagaimana jika kalian gagal."
"Desi sudah menyiapkan plan B Dad, tinggal Daddy yang membantu Desi mencari plan C."
Daddy Bara menganggukkan kepalanya, Desi memang luar biasa jika menyangkut masalah misi penyelamatan. Ia selalu memikirkan segala rencana dengan plan A dan B, kemudian mencari kemungkinan jika segalanya gagal, dan harus berlari ke plan C. Begitu lah pemikiran Desi. Berbeda dengan Dedi yang lebih memiliki kepintaran dalam bidang pembelajaran.
"Hmm ... Baiklah, tapi kalian harus berjanji, jika kalian harus tetap baik-baim saja dan tidak terluka sama sekali."
"Tentu Dad." Jawab Desi dan Raysa bersamaan.
Daddy Bara menghela napasnya sekali lagi. Plan C yang di usulkan oleh Desi sangatlah membahayakan dirinya. Bisa jadi, nyawa taruhannya. Namun, ini bukan ide yang buruk, Daddy Bara yakin, Desi dan Raysa pasti bisa menjaga dirinya. Semoga saja.
Tanpa mereka ketahui, jika Jo dan Fatih mengetahui rencana mereka.
"Lo punya ide?" tanya Fatih
Jo tersenyum miring yang mana membuat Aftih memutar bola matanya malas.
"Sok misterius Lo." Ujar Fatih sambil menempeleng kepala Jo.
"Ya elah, Biar keren dikit gitu, kayak di film-film." Ujar Jo sambil mengikuti langkah Fatih.
*
Terjadinya penembakan pada Pengawal Abi dan Jamal, mantan pacar Quin pun membuat Bunda Sasa sempat lemas. Untungnya Daddy Bara dan Raysa saat itu berada di dekat Bunda Sasa, begitupun dengan Lucas yang langsung memeriksa keadaan tubuh Bunda Sasa.
"Mbak gak papa kan?"
"Gak papa, cuma shock aja dengar suara tembakan, Mbak takut kalian yang terluka."
"Syukur Alhamdulillah Mbak, kami baik-baik aja."
"Iya mbak, hah.." Mama Kesya menghela napas lelahnya.
*
Di sudut ruangan, seseorang yang sedang menyamar tersenyum miris. Keadaan penjagaan sudah kacau, semua orang sibuk dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ini kesempatan emas untuk dirinya. Di saat targetnya melemah, maka ini waktunya dia beraksi.
Pria itu menekan sesuatu yang berada di dalam telinga, benda kecil seperti earphone yang sudah tersambung dengan tim nya.
"Satu jam lagi, kita akan menyerang."
*
Di tempat lain, Abash mendapat sinyal asing yang masuk. Abash memanggil Farhan dan menyuruh mencari titik di mana posisi si pelaku berada.
"Gotcha." Seru nya.
Farhan dan Abash saling memandang dan tersenyum. Mereka ber tos dengan menggenggam kemenangan. Abash langsung menguhubungi Arash, untuk menggerakkan Tim bayangan. Serta Abash juga menghubungi FBi yang sudah Abi panggil minta bantuan. Tak lupa Abash memberi sinyal kepada Daddy Bara.
Daddy Bara Yang sudah mendapatkan sinyal tersebut pun, langsung mengkode seluruh anak buahnya untuk siaga 2.
Desi dan Raysa sudah saling pandang, mereka pun mulai bergerak menjalankan misi nya.
*
Seluruh anggota keluarga berkumpul di ruangan yang sama, agar pengawal lebih leluasa menjaga mereka semua.
"Abi, apa yang terjadi?" Tanya Quin dengan berbisik, saat seluruh keluarga, terutama wanita sudah berkumpul di dalam kamar.
"Tenanglah, semua akan aman." Ujar Abi menenangkan Quin.
Namun, hati Abi merasa tak enak. Abi pun meminta sebuah borgol kepada salah satu perwira polisi yang ikut berjaga.
"Abi, kenapa tangan ku di borgol?" Tanya Quin, namun Quin mengerutkan keningnya saat borgol yang satu lagi di kaitkan ke tangan Abi.
"Tenanglah, aku hanya mengikuti insting ku."
Sungguh, saat ini benar-benar begitu menegangkan. Rumah sakit Moza memiliki ruangan khusus untuk keluarga Moza dan juga seluruh karyawan Moza jika sedang sakit. Rumah sakit khusus keluarga Moza ataupun keluarga yang bekerja di perusahaan Moza ini memiliki 5 lantai, yang teratas tempat untuk turunnya helikopter. sedangkan lantai 1 adalah tempat untuk mengurus segala administrasi.
Sedangkan untuk pasien umum yang ingin berobat di rumah sakit keluarga Moza, maka mereka akan berada di gedung yang berbeda. Gedung yang memilki tinggi 15 tingkat itu, menampung pasien umum dalam kelas terendah sampai tertinggi, dengan pelayanan yang sama.
Tak sulit mengisolasi sebagian pasien yang berada di dalam gedung khusus tersebut. Bahkan, sebagian orang yang berlalu lalang di lantai dasar tersebut adalah tim bayangan.
Inilah saat nya, saat titik itu di temukan, Pria yang memberikan sinyal itu langsung di kepung. Bukannya Takut, pria itu bahkan tersenyum dan tertawa.
"Tak ku sangka kalian secerdik ini." Ujarnya sambil menunjukkan wajah aslinya.
"Riki ...."Gumam Papa Danu yang melihat pria tersebut dari ruangan Abash yang terdapat monitor yang menunjukkan cctv yang mengarah ke Riki saat ini.
"Kita lihat, apa kalian bisa menangkap ku?"
Riki menaikkan tangannya mengarah ke telinga, dan mengucap. "Plan B."
__ADS_1
Dalam waktu 5 menit, ruangan tersebut sudah penuh dengan asap, termasuk kamar yang terdapat seluruh anggota keluarga di sana.
Prang..
semua mata tertuju kepada jendela yang pecah, kemudian muncul lah asap yang membuat semua orang menutup hidungnya.
Abi langsung memeluk Quin dan menutup wajah Quin dengan jaket nya. Begitupun dengan Veer yang melindungi Nafi.
"Brengsek." Maki Abi saat ada orang yang menarik Quin.
Abi langsung menarik kembali Quin, untungnya tangan Quin sudah terborgol dengan tangan Abi, jadi tak sulit bagi Abi untuk menarik kembali Quin. Abi sempat melawan dan menendang orang yang ingin menculik Quin.
"Keluar semua" Teriak Daddy Bara.
Seluruh keluarga pun keluar dari kamar sambil menutup hidungnya.
"Mungil,"
"Mas."
Daddy Bara langsung melindungi Bunda Sasa di belakang tubuhnya.
"Anggel,... Anggel..." Teriak Tante Mega.
Lana langsung mengejar pria yang sudah menggendong Anggel di punggungnya. Daddy Bara langsung menoleh kearah Veer dan Nafi yang baik-baik saja. Tak menyangka, jika dugaan Desi tepat.
Riki tak lagi mengincar Nafi, melainkan Anggel yang masih Virgin. Desi sengaja membuat laporan jika Nafi tengah berbadan dua. Itu artinya Nafi sudah tak virgin lagi.
"Plan B." Ujar Daddy Bara dari Earphone nya yang tersambung ke seluruh anggotanya.
Namun, Desi memberikan Raysa kode Plan C, Yang mana akan membahayakan dirinya.
"Gak Des," Ujar Raysa mencoba menahan Desi, namun Desi terlalu lincah hingga dapat lepas dari Raysa.
" Berhenti di situ," Ujar Desi yang sudah menghalangi jalan pria yang membawa Anggel.
"Wah, lihat lah siapa Yang ada di hadapanku. Kau wanita pemberani yang membuat ku tertantang untuk memiliki mu." Ujar Riki dari belakang tubuh Desi.
Desi mencoba tenang, ia berbalik dengan perlahan. Dan Desi dapat menangkap mata Riki yang berbinar kearahnya.
"Tak ku sangka kau juga cantik."
"Lepaskan dia." Ujar Desi dengan berani, namun tak ada yang tahu jika di hati Desi saat ini sudah bergemuruh takut.
"Akan aku lepaskan, setelah kau memuaskan ku."
Om Duda dan Dedi sudah mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Cih, tak akan pernah."
"Baiklah."
Riki memberi kode untuk menurunkan Anggel, dan merobek baju Anggel. Pisau yang ada di tangan pria itu sudah menusuk kedalam baju Anggel, tinggal ia tarik dan terbukalah baju Anggel.
"Hentikan." Ujar Desi dengan jantung yang semakin bergemuruh.
"Lepaskan dia, dan aku akan turuti kemauan mu."
Riki tersenyum, tak menyangka semudah ini menaklukkan gadis singa seperti Desi.
"Baiklah, lakukan dua hal untuk ku. Yang pertama, suruh mereka semua membuang senjatanya."
Desi memandang kearah Daddy Bara, Daddy Bara menggeleng, namun dengan isyarat mata, Desi mencoba meyakinkan Daddy Bara.
"Mas, jangan." Lirih Bunda Sasa untuk tak mengikuti permintaan Desi.
"Kita harus percaya sama Desi." Ujar Daddy Bara dengan nada sedikit ragu.
Daddy Bara melirik kearah Om Duda, terlihat Om Duda memalingkan wajahnya, tak ingin melihat apa yang terjadi kepada putrinya.
Daddy Bara memerintahkan semua anggota nya menurunkan senajatanya. Membuat Riki tersenyum menang.
"Baiklah, yang kedua buka baju dan cium aku sekarang."
"Dasar psikopat" Maki Dedi dan membalikkan tubuhnya tak ingin melihat adegan menjijikkan itu. Saat ini mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena Anggel dan Desi masih dalam bahaya.
"Baiklah, tapi lepaskan dulu dia." Ujar Desi mencoba untuk tenang.
"Baiklah." Ujar Riki dan menyuruh melepaskan Anggel.
Lana langsung menarik Anggel kedalam pelukannya dan membawa Anggel menjauh dari Riki dan anak buahnya.
Dengan tangan sedikit bergetar, Desi membuka kancing kemejanya satu persatu hingga habis, dan melemparkan kemejanya begitu saja, hingga menampilkan tangtop hitam nya yang menampilkan belahan dada nya.
Riki tersenyum melihat bukit kembar itu menonjol sangat indah, di tambah kulit Desi yang putih dan muluus.
"Mendekatlah sayang, Puaskan aku di hadapan mereka semua."
Perlahan Desi berjalan mendekat, hingga terdengar seperti suara pisau melayang diudara.
"Tak akan ku biarkan kau menyentuh nya." ujar Jo sambil melemparkan pisau belati itu tepat mengenai lengan Riki.
Street...
"Akhh ..." Riki memegang lengannya yang tertancap pisau.
" Jo." Gumam Desi, dan langsung mengambil langkah penyelamatan diri.
Dan saat itu, terjadilah perkelahian yang hebat. Jo langsung menghajar mereka bersama Fatih.
Yaa, Jika Desi memiliki Plan C, maka Jo akan memiliki Plan D.
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....