
Lia sudah merencanakan semuanya dengan sempurna, tinggal tunggu tanggal mainnya saja. Sekali tepuk, kalian semua akan hancur.
" Mungil, Maaf ya, aku gak bisa jemput kamu.. Ada kasus yang harus di selidiki di TKP."
" Iya sayang, gak masalah kok. Nanti aku pulang bareng Bella aja."
" Kamu hati-hati ya, jangan lupa kasih kabar."
" Iya Beruang Madu ku."
Sepulang kerja, Sasa memang di antar oleh Bela. Tapi berhubung Sasa kepingin makan Mie tiaw, Sasa pun minta di turunkan di depan apartemennya.
" Makasih ya Bel"
" Sama-sama Mbak, Aku pulang ya."
" Iya, hati-hati"
Setelah kepergian Bela, tiba-tiba saja ada ornag yang langsung membukam Sasa dengan sapu tangan, pandangan Sasa pun perlahan mengabur, dan mata Sasa tertutup. Sasa tidak mengingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Sasa mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berat dan pusing. Sasa mencoba bangun, tetapi dia merasa ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.
Sasa membelalakan matanya saat melihat seorang pria bertelanjang dada sedang tertidur sambil memeluk dirinya. Tunggu, Sasa merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
" AAAAAAAAAAAAA" teriak Sasa histeris.
Pria yang tertidur di sebelahnya langsung terbangun, dan juga ikut berteriak saat melihat Sasa.
Sasa langsung beringsur mundur sambil menutup tubuh telanjangnya dengan selimut.
" Siapa kamu?" Teriak Sasa.
Pria itu memijit kepalanya yang juga terasa pusing. Setelah merasa pusingnya mereda, pria itu menatap Sasa.
" Kamu siapa? Kenapa sampai bisa berada di kamar saya?" Tanya pria itu dengan nada yang menahan amarahnya.
" Apa yang terjadi, kenapa aku bisa sampai bisa di sini. Kamu... apa yang telah kami perbuat? Hiikkss..." Teriak Sasa.
" Seharusnya aku yang berkata seperti itu."
Sasa sudah menangis sesenggukan. Ini Pasti mimpi, yaa, ini mimpi. Ayo Sa, bangun..
Plaakk..
Sasa menampar pipinya kuat. Sakit, itu yang disarankannya.
" Tidak... ini pasti mimpi.. ini mimpi.."
Sasa kembali menampar wajahnya, pria itu mencoba menghentikan Sasa dengan cara memegang kedua tangan Sasa. Dan saat yang bertepatan, pintu terbuka dan menampilkan wartawan yang menerobos masuk di sana.
Ya Allah, Cobaan apa ini?.
Berita tentang perselingkuhan pengusaha muda bersama gadis yang bekerja di toko kue milik istri dari pengusaha ternama pun langsung menjadi berita topik utama.
__ADS_1
" Gak. gak mungkin, itu bukan Sasa. Bukan Sasa. BARAAA..." teriak Mami Shella.
Bara yang baru saja memakai bajunya, langsung berlari saat mendengar namanya di panggil dengan nada yang histeris.
" Mami.."
Bara sudah mendapati Mami Shella tengah menangis sambil memukul dada nya di dalam pelukan Daddy Roy.
Telinga Bara langsung menangkap nama mungilnya di sebut di dalam berita. Bara menoleh kearah TV, dan yang pertama kali Bara lihat adalah mungilnya berada di atas ranjang bersama seorang pengusaha muda yang baru saja menikah. Mata Bara membola, Tangannya di kepal kuat, aura Bara langsung terlihat menyeramkan. Bara langsung masuk kedalam kamarnya, meraih jaket dan kunci mobilnya.
" Bara, kamu mau kemana?" Teriak Daddy Roy saat melihat Bara pergi tanpa pamit.
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tempat pertama yang Bara tuju adalah apartemen Sasa.
Tudingan perselingkuhan, beserta pesta narkoba dan minuman pun di tuduhkan kepada Sasa dan pengusaha muda yang bernama Nando, Yang baru satu bulan lalu.
Nando menatap tajam kearah wanita yang menangani kasus dirinya dan Sasa.
" Selamat siang Tuan Nando, dan Nona Marisa." Ujar wanita itu.
" Aku tau ini ulah kamu, dasar ular" Desis Nando.
Ya, wanita itu adalah Lia. Dialah yang menangani kasus Sasa dan Nando saat ini. Inilah tujuan Sasa, menghancurkan Karis Nando, dengan berselingkuh dengan Bara. Lia sengaja menyeret Sasa, agar Bara bisa kembali kepada. Sasa muak sama Nando yang selama ini ternyata hanya memanfaatkan dirinya.
" Maaf, apa kita saling mengenal?" Ujar Lia dengan senyum iblis nya.
Bara membuka pintu apartemen Sasa, namun Sasa tidak berada di sana. Bara mencari keseluruh ruangan sambil memanggil nama Sasa, tapi hasilnya nihil, Sasa tidak berada di apartemen nya.
" Di mana kamu mungil" Geram Bara dengan menahan emosi nya.
Sasa dan Nando ditahan di kantor polisi, Hasil tes darah mereka positif Sabu. Dunia Sasa seakan runtuh, ingatannya di masa kecilnya kembali terulang. Selama di kantor polisi, Sasa menutup matanya, bahkan dia menunduk. Tak ujung Sasa juga mendapatkan tamparan karena merasa tidak menghargai polisi. Sasa bisa apa? Dia hanya bisa menahan rasa mualnya, kemudian pingsan.
Sasa di larikan kerumah sakit, dengan penjagaan yang ketat. Seorang saksi mengatakan bahwa Sasa adalah Gembong narkoba. Sakit rasanya, seakan memang sudha takdir keturunan Sasa di fitnah atas nama narkoba. Bahkan kisah masa lalu kedua orang tua Sasa pun juga terkuak. Benar-benar dunia Sasa runtuh.
Tidak ada satu orang pun yang di berikan izin untuk menjenguk Sasa, termasuk pengacara yang dikirimkan oleh Fadil dan Arka. Bukan satu, tapi tiga pengacara.
Nenek Sasa yang mendengar berita tentang Sasa, langsung dilarikan kerumah sakit karena terkena serangan jantung. Kenapa nasib dari keluarga anaknya begitu malang. Ayahnya yang di tuduh komplotan narkoba, ibunya yang di penjara, dan keluar dari penjara tanoa nyawa. Dan sekarang, nasib buruk itu jatuh kepada Sasa.
" Apa-apaan ini, kenapa kami tidak beh bertemu Sasa?"
" Maaf, ini sudah perintah."
Bara datang masih dengan menggunakan baju seragamnya.
" Saya ingin mihat Sasa " Ujar Bara dingin.
" Tapi Pak."
" Ini perintah"
" Siap Pak"
Pintu kamar Sasa terbuka, yang pertama Bara lihat adalah Sasa dengan menggunakan baju tersangka, dengan sebelah tangan yang di borgol di sisi brankar. Sasa meringkuk memeluk lututnya dengan satu tangan nyanyang bebas. Sasa menangis, Bara tau itu.
__ADS_1
" Sa."
Sasa mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Suara yang sangat di rindukannya beberapa hari ini.
" Mas.. Aku gak salah Mas.. Ini semua fitnah.. Hiikss.."
Sasa rasanya ingin berlari kearah Bara, dan memeluk tubuh tegapnya. Namun bayangan saat dirinya berada di atas ranjang bersama seorang pria dengan keadaan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, membuat Sasa merasa jijik dengan tubuhnya, dan merasa tidak pantas untuk Bara. Ah, mungkin ini yang puput rasakan saat itu, saat Ando menculiknya.
" Sa " Lidah Bara kelu, seakan beku dan semua kata yang tadi ingin diucapkannya, menguap entah kemana. Bayangan Sasa di atas ranjang bersama Nando terlintas di benak Bara. Bara menutup matanya, satu tetes air jatuh dari sudut matanya.
Hati Sasa sakit melihat itu. Bara nya, Beruang Madu nya, tersakiti karena ulahnya.
Tak berapa lama Fadil dan dua pengacara masuk kedalam ruangan. Yang pertama Ki Fadil lihat adalah, tatapan kesedihan di mata Sasa, yang di tujukan kepada Bara. Sedangkan Bara menahan emosi dan amarahnya, lihat saja, buku-buku jarinya sudah memutih karena kuatnya dia mengepalkan tangannya.
" Bar, sebaiknya kita keluar. Biar pengacara yang mengurus segalanya."
Fadil menarik paksa Bara untuk keluar. Memberikan waktu kepada kedua pengacaranya. Bahkan Arka berencana untuk menambah lagi pengacaranya.
Arka, Bara, dan Fadil berada di ruangan kerja seorang dokter. Arka meminjam sebentar ruangan itu, dan itu juga atas bantuan Leo. Rumah sakit Bhayangkara ini bukan di atas kekuasaan Arka, jadi mereka harus tetap mengikuti prosedur.
" Dokter Leo meminta saya untuk memeriksa keseluruhan tubuh pasien, dan saya menemukan satu bekas luka suntikan di lengan kanannya. "
" Maksudnya Dok? Calon istri saya itu benar-benar menggunakan sabu?"
" Hasil pemeriksaan memang menunjukan jika pasien positif, dan itu memberatkan pasien. Apalagi ada saksi yang mengatakan jika pasien adalah Gembong nya."
" Saksi? Kenapa aku bisa tidak tau?" Gumam Bara.
"Tapi kami akan memerika kembali setelah seminggu dari sekarang. Jika memang pasien sering menggunakan obat-obatan terlarang, maka hasilnya akan tetap sama, tapi jika ini semua jebakan, maka hasilnya akan negatif."
" Lakukan yang terbaik Dok."
" Tentu, tapi ini semua harus di rahasiakan. Karena entah kenapa saya curiga dengan orang dalam."
" Maksud dokter"
" Satu polisi laki-laki mendatangi pasien, dan menbuat pasien kembali menjerit histeris. Saya curiga, jika dia ikut andil di sini."
" Apa dokter mengenalnya?"
" Saya kurang jelas melihat wajahnya. Tapi kita bisa memeriksa CCTV."
" Baik lah. Terima kasih atas kerja sama ha Dok."
Bara, Arka, dan Fadil berjalan gontai keluar dari ruangan dokter Putra. Kecil sekali harapan untuk mengungkapkan jika Sasa tidak bersalah.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
__ADS_1
salam SaBar ( Sasa Bara)