Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 11


__ADS_3

"Bandung?" Bunda Sasa kembali menarik napasnya panjang.


"Iya Bun."


"Tempat Daddy mengawal karir." Ujar Daddy dengan bangga.


"Kenapa Arash bisa kena tugas di Jakarta? Gak bisa minta tukaran aja gitu?" Tanya Bunda Sasa kepada Daddy Bara dan Raysa.


"Ya gak bisa dong Bun. Udah perintah dari atasan."


Lagi, Bunda Sasa menghela napasnya.


"Bunda kenapa sih? Bandung kan gak jauh Bun."


"Kamu baru pulang udah harus pergi lagi." Bunda Sasa mengerucutkan bibirnya, persis seperti anak ABG yang sedang merajuk kepada kekasihnya.


"Ih Bunda, namanya juga sudah tugas."


"Iya Bun, kalo Bunda mau, Daddy bisa ambil cuti, dan kita tinggal di sana beberapa hari. Temani Ica."


"Terus? Anak bontot Bunda gimana? tau sendiri Febri apa-apa harus di siapin."


"Bunda, Febri buka anak kecil lagi. Bunda kalo mau pergi, gak papa kok." Ujar Ferbi, si bungsu yang sangat manja.


"Kamu yakin? Bunda tinggal tidur di rumah Mama Kesya aja kamu nangis."


Febri menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Iya, kamu pergi aja sama Bara. Ntar Febri kan ada Mami" Ujar Oma Shella memberi solusi.


"Febri mau kan sama Oma?"


"Iya Oma."


Oma Shella mengelus rambut lebat Febri.


"Ya udah kalo gitu, Kamu kapan ambil cuti nya Mas?"


"Itu mah gampang." Daddy Bara mengedipkan matanya sebelah.


Daddy Bara sudah menghubungi Fatih yang memang sedang berada di Bandung, karena tengah mengurus anak perusahaan milik keluarga Moza.


"Nanti Ica tinggal di mana, Mas?"


" Tenang aja, Fatih sudah mengurus semuanya di sana."


"Fatih? Emangnya dia di Bandung?"


"Iya, Fatih kan sudah lulus dengan nilai terbaik." Jelas Bunda Sasa.


"Kamu gak mau ngasih ucapan selamat kepada Fatih?" goda Daddy Bara.


"Liat nanti deh." Terlihat jika Raysa masinkesal dengan Fatih. Padahal waktu sudah berlalu 4 tahun, namun bagi Raysa rasanya seperti baru kemarin.


"Farhan juga di Bandung kan?" Tanya Bunda Sasa.


"Iya, katanya sih Kak Farhan juga mau antar Ica, sekalian dia ke Bandung."


"Ya udah, ntar kamu kabari Farhan ya. Kalo besok kita berangkat pagi-pagi, jangan sampai terkena macet."


"Iya Bunda."


Seperti malam kemarin, Raysa selalu bertukar kabar dengan Farhan melalui telpon. Bahkan Farhan sering melakukan panggilan video kepada rayasa, dan mereka melakukan itu hingga Raysa tertidur, ataupun sebaliknya.


Daddy Bara sudah memasukkan semua koper Raysa dan juga koper milik nya. Tak berapa lama Farhan pun tiba.


"Assalamualaikum, om."


"Walaikumsalam, sama siapa ke sini?"


"Di antar supir."


"Oh ... Oh ya, kamu gak bawa barang?"


"Gak Om."


Daddy Bara menganggukan kepalanya. "Udah sarapan?"


"Udah Om" Bohong, jelas sekali Farhan berbohong, karena setelah mengatakan itu perut Farhan berbunyi.


" Masuk dulu, sarapan. Jangan lemas di jalan."


"Iya Om, he ... he ... Maaf udah berbohong."


"Its okey."


Farhan pun masuk kedalam rumah, dengan di susul Daddy Bara di belakangnya.


"Assalamualaikum, Tante, Oma, Opa, semuanya."

__ADS_1


"Walaikumsalam, eh Nak Farhan udah datang. Udah sarapan?"


"Ngakunya udah, tapi perutnya malah keroncongan." Daddy Bara muncul di balik punggung Farhan dan menjawab pertanyaan Sang istri.


Farhan hanya tersenyum kikuk dan mengusap tengkuknya yang tak gatal.


"Ya udah, ayo duduk, jangan malu-malu."


"Iya Tante."


Raysa turun dengan pakaian santainya. Raysa sangat cantik dengan rambut pendeknya, sangat cocok sekali dengan bentuk wajahnya. Sehingga membuat wajah Raysa menjadi semakin imut.


"Eh, Kak Farhan udah datang?"


"Iya, Ca."


Raysa menarik kursi di sebelah Farhan. Kemudian Raysa mulai menuangkan nasi goreng teri buatan Bunda Sasa.


"Kalo pake Pete lebih nikmat ini, Bun." Ujar Raysa dengan mulut penuh nya.


"Gak malu makan Pete di sebelah Farhan?" Goda Oma Shella.


Seolah tersadar jika Farhan berada dis sebelahnya, Raysa hanya tersenyum malu.


*


Daddy Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sambil menikmati pemandangan jalanan.


"Kamu mabuk?" Tanya Daddy Bara saat melihat Fatih menutup mulutnya.


Dengan gerakan tangan untuk meminta berhenti, Daddy Bara dengan cepat menghentikan mobilnya di pinggir. Secepat kilat Farhan membuka pintu mobil dan langsung mengeluarkan isi perutnya.


Daddy Bara sampai menatap jijik kepada Farhan.


Raysa memajukan dirinya dan menepuk-nepuk punggung Farhan.


"Udah enakan" Tanya Raysa.


Farhan pun mengangguk. Daddy Bara memberikan air mineral kepada Farhan.


"Terimakasih, Om."


"Kamu udah mendingan? Apa kita bisa melanjutkan perjalanannya lagi?"


"Em, boleh saya aja yang bawa, Om?"


"Kamu yakin?"


"Baiklah kalo begitu."


Daddy Bara dan Farhan pun bertukar posisi. Benar saja, Farhan tak kembali merasa mual jika dirinya yang mengendarai mobil.


"Kita istirahat dulu ya, Han." titah Daddy Bara.


"Iya, Om."


Farhan menghentikan mobil yang di kendarai di rest area yang ada di dalam jalan tol.


"Daddy mau kopi?" Tawar Raysa.


"Coklat hangat ada gak?"


"Ada,"


"Ya udah, Daddy Coklat hangat aja. Lagian bukan Daddy yang bawa mobil."


"Oke, Kak Farhan pesan apa? mau kopi?"


"Jangan, tadi baru keluar semua isi perutnya. Takut naik asam lambung kalo minum kopi."


"Oke, jadi mau apa? Teh hangat?"


"Boleh ..."


"Bunda?"


"Sama kayak Daddy."


"Makannya?"


"Ayam geprek enak tuh, sambalnya yang pedas ya ..." Ujar Daddy Bara.


"Oke, Bunda juga?"


"Iya .."


"Kak Farhan?"


"Boleh, tapi sambalnya jangan yang pedas ya."

__ADS_1


"Sipp deh."


setelah mencatat semua menu, Raysa memanggil pelayan dan memberikan kertas pesanan makanan mereka. Pelayan tersebut mengulang pesanan yang di tulis oleh Raysa.


"Kamu pesan donat lagi?"


"Iya, Bun. Lagi pingin aja."


Daddy Bara tersenyum, ia sudah duluan merasakan bagaimana menempuh pendidikan, dan setelah keluar maka mereka akan menjadi seperti orang yang tak pernah makan.


Raysa menatap dengan binar donat-donat bertopping coklat dan keju. Raysa pun mengambil satu donat bertoping keju yang lumer di atasnya. Raysa benar-benar menikmati rasa asin dan gurih dari keju dan donat tersebut.


"Daddy mau." Daddy Bara ikut mengambil topping coklat keju, memasukkan kedalam mulut dengan gigitan yang besar.


Farhan menatap Daddy Bara dan Raysa secara bergantian, kemudian ia tersenyum. Rasanya sangat hangat dan nyaman berada di dalam lingkungan keluarga Bahari ini.


"Jangan heran ya Han, tau sendiri Daddy dan Ica gimana."


"Iya, Tante. Farhan hanya menyukai pemandangan seperti ini."


"Makanya, bilang sama Papi kamu. Jangan terlalu sibuk bekerja."


"Tau sendiri Tan, Papi tu udah seperti kalong (Kalelawar), malam beliau terjaga, pagi kerja, siangnya tidur sampai malam, terus begadang lagi."


"Makanya kamu gak punya adik." Sambung Daddy Bara.


Farhan hanya tersenyum dan mengangguk setuju.


"Jadi, kalo kamu nikah? Apa kamu juga bakal seperti kalong?"


"Insya Allah gak Om,"


"Yakin kamu? Sekarang aja kamu bekerja seperti papi kamu itu."


Farhan menggaruk alisnya yang tak gatal. Terkadang Daddy Bara memberikan respon baik kepada Farhan, terkadang juga memberikan respon menolak. Farhan harus kuat dan berhasil menaklukkan hati Daddy Bara.


"Insya Allah enggak, Om. sudah setahun ini Farhan mengatur waktu agar hidup dengan teratur."


"Bagus itu. Bergadang terlalu sering juga tak baik untuk tubuh. Kesehatan juga harus di jaga, karena itu nomor satu. Di tambah lagi, sholatnya juga harus dijaga. Percuma kerja keras tapi gak berkah karena tak sholat."


Farhan mengangguk sambil tersenyum malu. Karena dirinya masih banyak bolong-bolong sholatnya.


"Iya Om, Saya akan ingat nasihat Om."


"Jangan ingat aja, tapi juga harus dinjalananin. Ini juga demi kamu."


"Iya Om, terima kasih banyak."


Kalo masalah sopan santun, Farhan memang nomor satu, namun kalo soal sholat, Fatih gak pernah tinggal. Pernah satu kali Fatih malas bangun untuk sholat subuh, Mami Mili langsung mengambil seember air dan menyiramnya, sehingga Fatih kelabakan. Begitu lah, Mami Mili akan mentoleransi jika Fatih malas sekolah, namun jika sudah tinggal solat, maka Mami Mili gak akan segan-segan menarik Fatih kedalam kolam renang, pasti nya dengan bantuan Papi Gilang ataupun Art.


Pelayan datang membawakan pesanan mereka, Raysa terlihat girang melihat merahnya sambal yang ada di atas ayam.


"Yang gak pedas mana Mbak?"


"Pedas semuanya, Mbak.".


"Kan saya tadi pesannya satu gak pedas,bawa balik aja, ganti sama sambal kecap." Kesal Raysa.


"Udah Ca, gak papa."


"Apa nya yang gak papa? Kalo Kak Farhan sakit perut di tengah jalan? gimana hayo??"


"Iya Han, biar di ganti aja. Kesehatan nomor satu."


"Iya Tante."


Pelayan tersebut pun mengamb kembali satu pesanan Raysa, dan membawa ayam yang tidak di lumuri sambal.


"Gini lebih baik." Ray sa meraih piring tersebut.


"Nih kak."


"Makasih Ca."


Raysa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka pun menikmati hidangan yang sudah tersedia.


Di tempat lain, Fatih sudah mempersiapkan segalanya untuk kehadiran Raysa, Rasanya tak sabar bertemu pujaan hati, ya walaupun di sana juga ada Farhan. Tapi itu bukan masalah. Toh Sudah ada contoh, Daddy Bara yang begitu mencintai mantan tunangannya, tiba-tiba jatuh hati dengan gadis mungil sederhana, yang saat ini telah bergelar sebagai Nyonya Bara.


"Layca pasti suka." Fatih menatap kamar yang sudah di dekor nya dengan indah.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2