
Bara dan Sasa telah selesai menikmati makan siang mereka yang sedikit terlambat. Bara membayar makanan mereka, sedangkan Sasa memilih menunggu di luar, karena ada beberapa pengunjung yang sedang menghisap rokok mereka.
Sasa melihat ada seorang wanita yang tengah menangis tersedu-sedu di dekat parkiran. Wanita itu terduduk di lantai dengan menyenderkan tubuhnya di pot bunga besar yang terbuat dari semen.
Sasa yang merasa iba pun menghampiri ibu tersebut.
" Ibu gak papa?" Tanya Sasa lembut.
Ibu itu menengadahkan wajahnya, dan menatap wajah Sasa. Terlihat wajah terkejut dari wanita paruh baya tersebut, namun dengan cepat dia tersenyum.
" Sa..saya tidak apa-apa." ujar nya dengan memaksakan senyum.
" Lalu kenapa ibu menangis?"
Sasa berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan ibu tersebut. Sasa juga membelai bahu ibu itu dengan lembut. Air mata ibu itu semakin deras keluar, membuat Sasa sedikit panik.
" sa-saya rindu anak saya.. hiks.."
Sasa masih setia mendengarkan.
" Jika pernikahan anak saya tidak pernah batal, mungkin saat ini anak saya juga sedang mengandung cucu saya.. hikss.. "
Sasa mengelus punggung ibu tersebut.
" Karena kesalahannya, ia harus menanggung banyak penderitaan."
Ibu itu menghapus air matanya, dan menatap Sasa dengan sendu.
" Bo-bolehkah saya mengelus perut kamu? Saya ingin merasakan bagaimana mengelus perut putri saya, dan merasakan gerakan dari cucu saya.." ibu itu tersedu-sedu, kembali menangis, ia tertunduk dan kemudian menatap kembali Sasa.
" Bolehkah saya menganggap kamu anak saya? dan membelai perut kamu, seolah sedang membelai cucu saya?"
Sasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ibu itu tersenyum lebar, tak menyangka jika Sasa mengizinkannya. Ternyata apa yang di katakan oleh banyak orang tentang istri Bara ini adalah benar. Sasa sangat baik dan memiliki hati mulia.
Ibu itu sudah mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Sasa, namun suara Bara menghentikan pergerakannya.
" Mungil, sayang ."
__ADS_1
Kedua wanita berbeda generasi itu pun menoleh. Saat Bara menyadari siapa wanita yang sedang bersama mungilnya, Bara dengan langkah besarnya mendekati dua wanita itu dan menjauhkan Sasa dari wanita paruh baya tersebut. Bara tak ingin hal buruk terjadi kepada istri tercintanya dan calon anak mereka.
" Mass.."
" Maaf Tante, apa yang sedang Tante lakukan kepada istri saya?" Tanya Bara dengan tatapan mengintimidasi.
Ibu itu berdiri dengan berpegangan pada pot bunga besar tersebut, menatap Bara dengan sayu dan tersenyum tipis.
" Tante hanya ingin mengelus perutnya, Tante hanya ingin merasakan gerakan cucu Tante, apakah boleh?" pintanya pada Bara dengan tatapan sendu.
" Maaf, tapi saya takut Tante berbuat jahat kepada istri dan calon anak saya."
" Mas.." tegur Sasa.
Sasa sebenarnya penasaran, siapa wanita paruh baya di hadapannya, dan apa hubungannya dengan suaminya itu. Walaupun terbesit di fikirannya, bahwa apakah wanita paruh baya itu adalah ibu dari Lia? mantan tunangan Bara.
" Tante tau, kamu pasti benci dengan Tante. Maafin Tante. Tante doakan semoga kamu bahagia, dan di karuniai banyak anak yang lucu dan imut."
Ibu itu menghapus air matanya, dan tersnwyum kepada Sasa.
" Kamu wanita yang baik. Kamu memang pantas untuk Bara, dari pada putri saya. Saya doakan kalian selalu bahagia."
" Maafin Tante, maafin semua kesalahan Tante dan..." Ia menjeda ucapannya, menghirup napas panjang dan membuangnya pelan. " Dan Lia."
Sasa sedikit terkejut, ternyata tebakannya benar. Jika wanita paruh baya itu adalah ibu dari Lia, mantan tunangannya Bara.
" Saya sudah lama memaafkan Lia, dan juga keluarganya. Bahkan, istri saya mencabut semua tuntutan yang saya berikan kepada Lia, karena istri saya telah memaafkan kesalahan Lia yang sangat keterlaluan itu."
" Iyaa, berkat istri kamu, Lia bisa berobat keluar negri. Saya hanya harap ia bisa menerima semua yang telah terjadi. Tante janji, bahwa Lia tidak akan pernah menganggu kehidupan kalian lagi. Selamanya."
" Terima kasih."
Setelah Bara mengucapkan itu, wanita yang ternyata ibu Lia itu pun pergi meninggalkan Bara dan Sasa. Bara sempat mengernyit saat wanita itu menyetop taksi yang sedang berlalu. Tak biasanya wanita itu menggunakan transportasi umum, karena kemana pun ia pergi, pasti selalu dalam pengawalan dan juga mobil serta supir pribadi.
Bara memang tidak pernah mencari tau bagaimana keadaan keluarga Lia, semenjak kejadian yang membuat seluruh keluarga ya malu. Bagi Bara, itu bukan lagi urusannya, dan saat itu juga Bara tengah fokus mencari di mana keberadaan Sasa, dan juga fokus kepada pekerjaannya.
Sasa dapat merasakan jantung Bara yang berdegup kencang. Sasa tahu, jika saat ini Bara tengah takut jika wanita yang baru saja di ketahuinya adalah ibu dari Lia itu berbuat jahat kepada dirinya dan juga calon anak mereka.
__ADS_1
"Mas." tegur Sasa lembut sambil mengelus dada Bara.
Bara menoleh dan tersenyum lembut kepada Sasa.
" Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan kamu, dan juga calon anak kita." Ujar Bara sambil mengelus perut Sasa dengan lembut.
" Kita pulang? atau mau ke apartemen?" Ujar Sasa dengan menggoda.
" Kamu mau kita ke apartemen?"
Sasa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum malu. Semenjak kehamilannya, Bara memang jarang menyentuhnya, dan itu juga membuat Sasa berfikiran macam-macam, di tambah lagi dengan berita yang sembay di bacanya.
Ini adalah pertama kalinya Sasa mengajak Bara untuk melakukannya, biasanya Sasa hanya memeluk Bara, dan sang suami langsung menyentuh Sasa dengan gairah yang memuncak.
Bara dengan semangat melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bara rasanya sudha tak tahan ingin menyentuh sang istri, ingatkan Bara untuk melakukannya dengan cara perlahan agar tidak menyakiti sang bayi dan juga sang istri.
Bara terus menggenggam tangan Sasa, dan mengecupnya. Sesampainya di baseman apartemen, Bara langsung memarkirkan mobil dan langsung mencium bibir Sasa. Sasa yang terkejut dengan perlakuan Bara, dengan cepat langsung mengimbangi ciuman Bara hingga napas keduanya berburu dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
" Mas, kita lanjutkan di dalam? biar enak." ujar Sasa dengan wajah memerah.
" Tentu.."
Bara dengan cepat turun dari mobil, kemudian membukakan pintu untum sang istri dan merangkulnya. Sapaan yang di berikan oelh satpam yang tengah berjaga pun hanya di balas senyuman tipis di bibir Bara. Bara tak fokus kepada yang lain, saat ini fikiran Bara hanya fokus kepada betapa nikmatnya sang istri, dan juga mengunjungi calon anak mereka dengan perlahan.
* maaf lama aq up nya, tak sesuai dengan janji yang mana bulan ini aku fokus up tiap hari. Terkadang kita manusia hanya bisa merencanakan, namun Allah lah yang menentukan. Aku juga udah kasih tau alasan knp aku gak nulis di note.author pada novel "keajaiban cinta Kesya."
Jadi sekali lagi mohon maaf yaa..
dunia nyata ku masih sangat membutuhkan ku saat ini. tapi aku usahain buat bs nulis.
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA...
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....