Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA FV MR. F - 24


__ADS_3

Seperti pagi biasanya, Fatih sarapan bersama Raysa. Namun tidak ada percakapan yang seperti biasanya. Sejak tadi malam, mereka lebih banyak memilih diam, Terutama Fatih.


"Ini hadiahnya, aku titip ya untuk Kak Veer."


"Oke ..."


Fatih meraih paperbag yang berisi dasi tersebut. Pastinya sudah di bungkus dengan kertas kado.


Fatih dan Raysa berjalan beriringan, namun mereka seolah orang asing, Karena Fatih yang lebih memilih diam.


Entahlah, Fatih merasa dia hanya ingin diam. Fatih juga gak tau kenapa dirinya lebih memilih diam.


"Fatih."


Raysa memanggil Fatih saat Fatih melewatinya setelah mengantarkan Raysa ke mobilnya tanpa sepatah kata.


Fatih berbalik dengan satu tangannya yang masuk kedalam kantong.


"Kamu marah dengan ku?" Tanya Raysa yang tak biasa di diamkan oleh Fatih.


"Tidak, kenapa aku harus marah?"


"Entahlah."


Tak ada jawaban dari Fatih, ia hanya tersenyum dan kemudian membalikkan tubuhnya lagi.


"Fatih." Panggil Raysa lagi.


"Ya?" Fatih berbalik.


Raysa berjalan kearah Fatih, dan berhenti tepat di depan Fatih. Raysa menatap mata Fatih yang sedari tadi tak berkedip menatapnya. Raysa melihat luka di dalam sana, entah kenapa Raysa merasa bersalah dan juga merasa sakit di hati nya.


"Hati-hati di jalan, jangan ngebut. Dan ..." Raysa mengambil sesuatu di dalam tas nya.


Iya mengambil tangan Fatih, dan meletakkan beberapa permen di telapak tangan Fatih. Raysa tersenyum.


"Jangan lupa kasih kabar kalo sudah sampai. Salam buat Mami Mili dan Papi Gilang, salam juga buat semuanya Yang ada di sana."


"Baiklah, akan aku sampaikan." Fatih menoleh kepad jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Pergilah, nanti kamu terlambat ikut apel."


"Hmm, Sekali lagi. Kamu hati-hati ya di jalan. Jangan lupa kasih kabar."


"Iya ..."


Raysa mengedipkan matanya sekali.


Satu detik ..


Dua detik ..


Tiga detik ...


Fatih tak mengacak rambutnya seperti biasa. Kenapa?


"Ca, kenapa diam?" Tanya Fatih.


" Hah? Oh gak papa." Raysa menggelengkan kepalanya. Kemudian ia membalikan badannya dengan perasaan yang Raysa sendiri gak tau kenapa.


Raysa menghela napasnya saat ingin masuk kedalam mobil, Fatih sudah tak ada di sana. Raysa juga tak tau mobil yang mana Fatih gunakan. Entah lah, Raysa merasa Fatih sangat aneh.


Apa Fatih tersenggung dengan ucapannya semalam? tapi kenapa? bukannya Fatih tau sendiri jika dirinya menyukai Farhan? Lalu kenapa Fatih harus marah?


"Ca, apa yang kamu fikirkan?" Ucap Raysa kepada dirinya sendiri.


Raysa pun mulai menghidupkan mesin mobil, dan melakukannya dengan kecepatan sedang.


Fatih menatap kepergian Raysa dengan tatapan kosongnya.


"Apa kamu tidak bisa merasakannya, Ca?" monolog Fatih dan menghela napasnya.


Fatih menghidupkan mesinnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Fatih hanya ingin menikmati pemandangan di perjalanan dengan santai.


*


Mami Mili memeluk sang putra yang baru saja tiba. Kehadiran Fatih membuat si kembar Sofia Stevani bersorak riang.


"Abaaaang ..." Teriak mereka berdua dan langsung berhambur kepelukan Fatih.


"Rindu Abang .." Ujar Steva manja.


"Benarkah? Kalo rindu kenapa kamu jarang sekali menghubungi Abang?"


Steva terkekeh, Ia berdalih terlalu sibuk dengan desaign - desaign bajunya.


"Hmm, jadi apa kalian tidak ada yang ingin mengikuti jejak Mami?"


Steva dan Sofi langsung menggelengkan kepalanya.


"Ayo lah, Bantu Abang mengurus perusahaan Mami ..." Rayu Fatih.


"Sofi mau, tapi Abang harus izinin Sofi untuk kuliah di London."


Fatih membolakan matanya. Ia tak percaya dengan ancaman adiknya itu.


"Ayo lah kak ..."


"Steva, Sofi ..." Tegur Mami Mili.


Steva, Sofi, dan Fatih pun menoleh kearah Mami Mili.


"Biar Abang istirahat dulu ya .. Abang pasti capek."


Sofi mengerucutkan bibirnya. Kemudian ia menarik tangan sang Abang untuk menuju kamarnya.


"Sofi ada beliin Abang aroma terapi. Abang berendam sekarang ya ... Biar rileks badannya. Pasti Abang sekarang lelah kan?"


"Hmm, pasti ada maunya ini .." Fatih mencuil hidung Sofi.


"Stev juga udah buatin Abang cake. Abang cobain yaa, pasti enak. Kak Quin yang ajarin."


"Okeey, nanti Abang coba. Sekarang, kalian luar kamar dulu, karena Abang mau mandi."

__ADS_1


"Siap .."


"Siap .." Jawab Steva dan Sofi berbarengan.


Fatih pun meletakkan dompet dan kunci mobilnya di atas meja riasnya. Fatih menatap wajahnya sesaat, kemudian ia tersenyum miring kemudian menghela napasnya.


Entah apa yang Fatih fikirkan, hanya dia lah yang tau.


Fatih melepaa bajunya dan celananya sehingga menyisakan boxernya. Fatih melihat di rak sabunnya itu, terdapat cairan aroma terapi yang di katakan oleh Sofi. Bahkan ada lilinnya juga.


Fatih pun berencana untuk berendam, mungkin saja fikirannya juga bisa ikut rileks. Fatih menghidupkan keran dan membiarkan air hangat memenuhi bathup nya. kemudian ia meneteskan beberapa tetes aroma terapi yang berbau menengkan. Fatih tersenyum, ternyata adiknya tau apa yang Fatih suka.


Fatih menatap lilin Yang ada di sana, mungkin tidak ada salahnya jika menghidupkan lilin aroma terapi. Karena saat ini Fatih benar-benar butuh suasana yang menyenangkan fikirannya, tubuhnya, dan juga hati nya.


*


Di tempat lain, Raysa terus-terusan menatap ponselnya. Seharusnya Fatih sudah sampai dari sejam yang lalu, tapi Fatih belum juga memberikanya kabar. Raysa merasa khawatir, hingga akhir nya Raysa memilih untuk menghubungi Mami Mili.


Terdengar nada sambung di sana, sehingga suara lembut Mami Mili pun mengatakan salam.


"Walaikumsalam, Mi. Maaf kalo Ica mengganggu."


" ...."


"Eem, itu Mi. Apa Fatih udah sampai?"


"...."


"Ooh, begitu. Ya udah Mi. Ica cuma mau tau kabar Fatih aja."


"....."


"Hah? oh, gak kok Mi, gak kenapa-napa. Ica fikir Fatih belum sampai, jadi takut menggangu konsentrasinya Jiak sedang mengemudi."


"....."


"Iya Mi, makasih banyak. Assalamualaikum"


Setelah mendengar jawaban salam dari Mami Mili, Raysa pun bernapas lega, setidaknya Fatih sudah sampai dengan selamat. Tapi kenapa dia tak memberi kabar? Ah, mungkin Mami Mili benar, Fatih kecapean dan sedang tidur di kamarnya. Lagi pula tadi pagi Fatih tak bersemangat seperti biasanya. Bisa aja Fatih sedang tidak enak badan.


"Raysa, mau ikut makan bakso nanti?" Tanya teman seprofesi Raysa yang bernama Riri.


"Boleh,"


"Ya udah, nanti pas jam pulang siap-siap terus ya ..."


Raysa mengacungkan jempolnya tanda setuju. Raysa melirik keponselnya saat ada sebuah pesan masuk di sana. Raysa meraih lis lwnya, senyumnya terukir tipis, sebuah pesan dari Farhan yang sedang menanyakan kabar dirinya. Raysa pun membalas pesan tersebut, setelah mengirim pesan kepada Farhan, Raysa membuka kotak pesannya dengan Fatih. Haruskah Raysa mengirim pesan dan menanyakannya?


Setelah berfikir lama, akhirnya Raysa memberanikan diri mengirimkan pesan kepada Fatih


Me : Kenapa blm kash kabar? Apa sudah sampai?


send.


Hanya centang satu, Raysa menghela napasnya. Mungkin ponsel Fatih saat ini sedang tidak ada batre.


Raysa menyimpan kembali ponselnya, tatapan nya kosong menatap kearah komputer yang menyala, entah apa yang Raysa fikirkan.


*


"Wow, lihatlah ... Siapa ini?" Goda Angg kepada Fatih.


Fatih terkekeh melihat wajah Anggel yang menggodanya.


"Aku tidak tertarik dengan mu."


"Yaah, padahal aku sangat tertarik dengan mu." Ujar Anggel dengan lesu dan kecewa karena telah di telah Fatih.


Fatih terkekeh, kemudian mata mereka beralih kepada MC Yang sedang berdiri di atas podium.


"Mari kita sambut, Safeer Arkana Moza. Selaku CEO perusahan M.Empire." Suara MC memecah suasana hening, dan di sambut dengan gemuruh tepukan tangan.


Sudah banyak pengusaha-pengusaha lain yang penasaran dengan wajah Veer. Selama ini mereka hanya mendengar jika Veer lebih ramah dari sang Papa.


Para tamu undangan yang berasal dari pengusaha kaya pun membawa putri mereka untuk mengambil kesempatan. Berharap jika Veer bisa menyukai putri mereka.


"Tampan banget.."


Dengan Jas Putih, beserta rambut klimisnya, Veer terlihat sangat bersinar. Para gadis sudah merasa seperti cacing kepanasan saat melihat ketampanan Veer, dan tubuh Veer yang sangat atletis.


"Kamu tak ingin seperti Veer? Aku rasa jika kamu di dandani seperti itu, kamu akan menjadi pusat sorotan para gadis-gadis yang menatap lapar Veer." Ujar Angel.


"Aku tidak tertarik."


"Sombong banget, padahal kamu kan sebelas dua belas dengan Lana."


"Tapi aku bukan Lana." Fatih mengedipkan matanya sebelah.


"Sama aja, sama-sama resek. Sama-sama suka sama satu cewek dari kecil."


"Oh yaa, kamu yakin Lana menyukai satu? bukan dua?"


Anggel menaikkan alisnya sebelah, seolah bertanya dengan tatapan matanya. Namun Fatih hanya tertawa.


"Aku gak akan kasih tau kamu siapa cewek itu. Yang jelas kamu sangat mengenalnya dengan Baik. SANGAT BAIK." ujar Fatih sambil menekan kalimat terakhirnya.


Suara Veer pun terdengar sedang memberikan pidato singkatnya, kemudian di sambut dengan tepuk tangan yang meriah, Lalu terdengar suara Papa Arka yang juga memberikan kata selamat untuk Veer. Sehingga Mama Kesya dipersilahkan naik keatas panggung.


"Udah saatnya berfoto, kita naik?"


"Yuuk lah ..."


Fatih dan Anggel pun berjalan menuju podium, dan otomatis mereka melewati Quin.


"Quin, gak ikut foto?" tanya Anggel.


" Gak ah, males."


" Ya udah, aku kesana yaa.."


" Hmmm.."

__ADS_1


Terlihat Lana berlari terburu-buru memasuki ruangan dan menuju kearah gadis cantik yang baru saja membuka topengnya dan berakting menjadi orang lain. Quin benar-benar hebat.


Mesti bareng Lana?" Tanya Mama Kesya yang masih di dengar oleh Fatih dan Anggel.


Quin hanya tersenyum. " Ntar orang curiga kalo Quin naik panggung sendirian tanpa Lana."


" Dasar kamu ini."


Quin mengedipkan matanya kepada anggelina yang terus memandang kearah mereka.


" Kalo cinta ungakpin terus.." bisik Quin yang masih di dengar oleh Fatih.


Fatih melirik, kemudian ia tersenyum. Tak menyangka jika salah satu cinta Lana terbalaskan. Ia berharap, jika suatu saat cintanya juga terbalaskan.


" Apaan sih Quin." Anggel sudah membuang wajahnya kearah lain.


Quin suka sekali menggodanya. Dan hanya Quin yang tau, jika Anggel selama ini menyukai Lana, sedangkan Lana memiliki seorang kekasih di luar negri. namun sekarang tak hanya Quin, Fatih sudah mengetahuinya, dan Fatih akan merahasiakan ini demi menjaga perasaan Anggel.


*


Acara syukuran Veer di lanjutkan di rumah, karena Mama Kesya tidak ingin wartawan terus mengambil kesempatan untuk mengambil gambar seluruh keluarganya. Salah satunya agar tidak terjadinya kebocoran atas identitas Quin.


" Cantik-cantik makannya banyak" Celetuk Lana.


" Bodo' " Ujar Quin.


Lana mengambil kue yang ada di piring Anggel. Membuat jantung Anggel semakin bekerja keras karena Lana sempat melemparkan senyumannya.


" Lo contoh Anggel kek, makan anggun gitu."


Quin membenarkan posisi duduknya, " Kalo Lo suka Anggel, bilang aja, gak usah modus."


" Uhuuk...uhukk....uhuk..." Anggel pun terbatuk-batuk mendengar perkataan Quin.


Lana dengan sigap memberikan air mineral kepada Anggel. " Terima kasih."


" Kayak sama siapa aja Lo. lagian ucapan Quin gak usah di denger. Jomblo akut dia mah."


Quin siap ingin menjambak Lana, namun Veer datang dan meraih tangan Quin. " Udaah, nanti Lana kesakitan kamu lagi yang nangis."


Quin langsung memeluk tubuh Veer, saat Veer mendudukkan dirinya di sebelah Quin.


"Fatih mana? Kok belum nyampe yaa?"


" Gak tau, nyasar kali tu anak."


Mereka pun berbincang-bincang seputar pekerjaan mereka. Quin hanya diam, karena memang dia tidak memiliki pekerjaan tetap seperti yang lain. Quin hanya membantu sang Mama di toko kue.


Di dalam mobil, Fatih menatap ponselnya yang berkedap-kedip menampilkan nama Raysa. Fatih ragu, apa iya harus menjawab atau mengabaikan.


Fatih ingat, setelah membalas pesan Raysa, Fatih tak membalas lagi pesan - pesan yang di kirimkan Raysa. Fatih merasa butuh waktu untuk menata hati nya lagi. Menata hati yang berkali-kali hancur, dan dengan kurang ajarnya hati nya ini masih tetap mengharapkan Raysa membalas perasaannya.


Padahal kedua adiknya sudah mengancam Fatih, jika terus-terusan Abang nya mengejar sesuatu yang tak pasti, maka mereka akan tetap dengan pendirian mereka berdua, yaitu kuliah di luar negri.


Setelah menimbang-nimbang, Fatih mengangkat panggilan tersebut agar Raysa tak merasa curiga dengan perubahan dirinya.


"Kenapa baru di angkat?" Sambar Raysa saat melihat wajah Fatih di layar ponselnya.


"Kamu pakai Jas? tau gitu aku beliin kamu dasi."


Fatih tersenyum miring.


"Kamu tampan jika seperti itu."


"Benarkah? "


"Hmm ... kamu gak percaya sama aku?"


"Entah lah .."


"Kok entahlah?


"Ca, Apa jika kau berpenampilan seperti ini, kamu akan menyukai ku?"


"Abang, bisa gak bahasannya gak lari kemana-mana?" Ujar Raysa yang sudah tak menatap kearah layar lagi.


"Aku gak lari kok, kamu aja yang lari."


Raysa terdiam, Tak ada pembahasan sampai Fatih menunjukan papaerbag yang ia beri untuk Veer.


"Oh ya, aku sudah berada di halaman rumah Papa Arka. Mereka sudah menunggu kubdi dalam. Aku kan berikan ini kepada Veer "


"Hmm, jadi kamu ingin menutup panggilan?"


"Kamu masih mau mengobrol dengan ku?"


"Tidak. Ya sudah kalo begitu. aku tutup dulu."


"Hmm"


"Assalamualaikum,"


"Walaikumsalam."


Fatih menatap layar ponselnya yang kembali hitam. Ia menghela napasnya panjang. Fatih tak memakai dasi, namun serasa ada sesuatu yang mencekik di lehernya. Apa Lana juga merasakan hal seperti ini?


Mungkin Lana merasakan hal yang lebih dari ini, karena Lana telah berkali-kali melamar Quin dan ditolak berkali-kali juga. Haruskah Fatih mencoba melamar Raysa? Tapi itu terdengar seakan memaksa Raysa. Fatih tak ingin terlalu memaksa Raysa. Fatih ingin Raysa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Sebelum janur kuning melengkung, maka siapapun masih bisa merebut hati nya Raysa. Ya, Fatih tidak akan mudah kalah dengan keadaan.


Toh kita gak pernah tau siapanjodoh kita. Mana tau jodoh Fatih ternyata Quin. Ha .. ha... ha.. bisa di tempeleng sama Lana kalo gini ceritanya.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...

__ADS_1


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2