
" Mungil..." Bara mencium tangan Sasa yang tengah terbaring lemah di atas brankar.
" Bara.."
" Dad, Mi.."
" Sabar Yaa, Sasa hanya kelelahan saja, sebentar lagi Sasa pasti sadar."
" Iyaa Dad, Oh yaa.. Daddy gimana tangannya?"
" Gak papa, cuma 7 jahitan aja.."
" Bara, makan dulu yaa.."
" Zein gimana Mi?"
" Zein gak papa"
Setelah polisi datang, Bara langsung membawa Sasa kerumah sakit terdekat.
" Bar, dari tadi Vano menghubungi terus, gimana?"
" Bilang aja ada kecelakaan di jalan, jadi macet. Dan kita menginap di hotel. "
" Ya sudah kalo gitu." Mami Shella pun terpaksa berbohong agar tidak membuat Vina khawatir.
.
.
" Gimana Mas? Udah sampai mana Mereka?"
" katanya ada kecelakaan di jalan, jadi mereka terjebak macet. Sekarang mereka sedang menginap di hotel."
" Huuff, syukurlah. Aku takut kenapa-napa di jalan dengan mereka. Perasaan aku gak enak dari tadi Mas. Tapi sekarang aku udah lega. Udah dapat kabar dari mereka."
Vano hanya mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya Vano juga berfikiran sama dengan Vina, memiliki perasaan yang tidak enak sedari tadi, namun Vano tidak ingin mengungkapkannya, takut jika Vina semakin panik.
.
.
Sasa menggerakkan tangannya, kemudian membuka matanya perlahan. Aroma obat-obatan khas rumah sakit langsung menusuk ke hidung Sasa.
Sasa melihat kesekeliling, pertama kali yang dilihatnya adalah Zein yang tidur di atas sofa, dengan Mami Shella yang duduk di lantai dengan beralaskan karpet plastik yang tipis.
" Mi..." Panggil Sasa lirih, namun Mami Shella tidak mendengarnya.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan menampilkan Bara dengan wajah yang basah. Mungkin Bara baru mengambil air wudhu atau membasuk wajahnya.
" Mungill.." Bara langsung berlari kearah brankar .
" Mas.."
" Mungil, kamu sudah sadar? Aku sangat khawatir.. Hikss.." Bara menangis dan memeluk tubuh Sasa yang masih terbaring.
" Maaf mas, aku gak bisa ngontro emosi aku. Aku gak sanggup lihat Mami di sakiti.." Sasa pun menitikan air matanya.
" Aku takut mungil, aku benar-benar takut.. Hikss.." Bara mempererat pelukannya.
" Massh.. aku sesak.. jangan kuat-kuat." Sasa memukul pelan lengan Bara.
" Maaf mungil.." Bara merenggangkan pelukannya.
Sasa menangkup wajah Bara yang berderai air mata. Di hapusnya air mata Bara yang mengalir, Bara pun mengecup tangan Sasa yang berada di pipinya. Sasa mencium kedua mata Bara, dan menempelkan dahi mereka.
" Beruang maduku yang cengeng.."
" Mungil ku, cinta ku. Marisa." Bara mengecup bibir Sasa, tanpa memperdulikan masih ada Mami di sana. Yaa, walaupun Mami tengah tertidur.
Sasa melepaskan pagutan bibir mereka.
" Ada Mami Mas, kalo Mami bangun gimana?"
Bara menyengir kuda.
Kriiuukk...
Sontak mereka berdua tertawa.
" Kamu lapar?"
Sasa menganggukkan kepalanya.
" Tadi Daddy bilang mau cari makanan, kok belum balik yaa?, bentar aku coba cari Daddy yaa.."
" Iya Mas.."
Baru saja Bara ingin membuka pintu, namun Daddy Roy sudah berada di depan pintu dan ingin menekan daun pintu.
" Baru juga Bara mau nyusul Daddy.."
" Sasa sudah sadar?"
" Sudah Dad, Alhamdulillah."
__ADS_1
" Sudah panggil perawat?"
Bara menepuk jidatnya. Kenapa Bara sampai bisa melupakan hal itu?, Sakin senangnya Bara sampai tidak ingat memanggil dokter.
" Ya sudah, kalo gitu Daddy panggil Dokter dan perawat. Kamu jaga Sasa yaa.. Nih.." Daddy Roy memberikan bungkusan makanan kepada Bara.
" Makasih Yaa Dad."
Bara pun meraih bungkusan plastik tersebut, dan mengambil satu bungkusan yang ada di dalam plastik.
" Daddy beli apa Mas?"
" Gak tau, kayaknya nasi goreng. Kamu mau?"
" Boleh.."
Bara pun meletakkan satu bungkus nasi goreng di atas piring plastik yang tadi sempat Bara beli, beserta karpet plastik yang membuat Alas Mami duduk.
Bara baru saja ingin menyuapkan Sasa, namun Dokter, perawat, dan Daddy Roy pun masuk, sehingga membuat Mami Shella yang tertidur jadi terbangun.
" Maaf ya, jadi terganggu tidurnya." Bisik Daddy Roy. Mami Shella hanya mengusap punggung tangan Daddy Roy berada di atas bahunya.
Dokter memeriksa kondisi keadaan Sasa.
" Tidak ada Masalah serius" Dokter menjeda ucapannya, "apa sebelumnya Nyonya Marisa sedang ada fikiran?"
Sasa memandang wajah Bara, dan tersenyum lembut kepada Sasa seraya menganggukkan kepalanya pelan.
" Eem, itu... Seb-sebenarnya saya lagi progam hamil Dok." Sasa melirik kearah Mami Shella.
Dokter tersenyum. " Seharunya kalo lagi progam, Jangan terlalu keras mengeluarkan tenaga nya." Dokter tersenyim lembut. " Tapi gak masalah, Nyonya hanya kelelahan saja, saya harap untuk sebulan ini jangan terlalu lelah, dan mengangkat yang berat-berat dulu yaa.. Banyak makan buah-buahan segar. Untuk tiga hari ini, saya sarankan meminum jus Nenas, untuk membersihkan aliran darah Yang ada di dalam tubuh. Lalu mulai kembali lagi program hamilnya."
" Iyaa Dok, terima kasih."
" Sama-sama."
Dokter memang mengetahui alasan Sasa kenapa bisa sampai pingsan, dan polisi juga sempat ikut kerumah sakit, meminta laporan dari Bara. Di situ, Dokter sempat mendengar dan tercengang saat Bara mengatakan Jika Sasa mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan para berandalan tersebut.
Dokter menyarankan meminum jus Nenas, karena Jus nanas kaya akan tembaga, dan juga vitamin B6 dan C. Nutrisi ini memiliki peran penting untuk kesehatan tulang, kekebalan, menyembuhkan luka, memproduksi energi, dan juga untuk sintesis jaringan.
Berhubung Sasa terlalu besar mengeluarkan tenaganya saat bertarung, membuat Sasa kehilangan energi dan keseimbangan tubuhnya.
Kriiuukk...
Perut Sasa kembali berbunyi, sehinggaembuay Daddy Roy dan Mami Shella tertawa.
" Ya sudah, suapin dulu Sasa nya Bar, biar cacingnya gak demo lagi.."
" Iya Mi.."
" Mi, Zein pindahi ke sini Aja. Sayang Zein kalo tidur di situ."
" Iyaa, " Mami Shella pun memindahkan Zein ke samping Sasa.
" Mami istirahat aja lagi." Titah Bara. ", Mami tidur di sofa, Biar Bara dan Daddy tidur di bawah."
" Iyaa, Nanti kalo ngantuk Mami tidur. Mami mau cari udara segar dulu di luar. Yukk Dad, temeni Mami."
" Kata sandinya?"
" Sayang ku, cintaku.. Temeni Mami yukk, jalan-jalan di taman.." Rayu Mami Shella.
" Yuukk lah.." Daddy pun meraih tangan Mami Shella dan menggenggamnya.
" Romantis banget." Puji Sasa.
" Semoga kita bisa seperti mereka ya sayang."
" Iya Mas.. Eh, Mas mau ngapain?"
Sasa terkesiap saat Bara naik ke atas brankar, dan merebahkan dirinya sambil memeluk Sasa dari belakang, di mana Sasa yang tengah memeluk Zein.
" Mas..."
" Sebentar saja, "
Sasa membiarkan Bara menyusupkan tangannya di bawah lehernya, menjadikan lengannya sebagai bantal kepala dirinya. Tangan Bara yang satu lagi, dibiarkan memeluk tubuhnya dan juga Zein, seolah mengikat Sasa dan Zein kedalam pelukannya. Kata sebentar yang Bara lontarkan, nyatanya membawa Bara dan Sasa terlelap kealam mimpi.
Daddy Roy dan Mami Shella yang baru saja masuk kedalam ruangan inap Sasa, tersenyum melihat pemandangan Yang ada di hadapan mereka.
Mami Shella mengeluarkan ponselnya, dan mengabadikan momen berharga tersebut.
" Andai mereka sudah memiliki bayi, pasti anak-anak mereka sangat menggemaskan ya Dad."
" Iyaa, kita doakan saja yaa.."
" Pokoknya, kalo Sasa hamil, Mami mau potong kambing saat tujuh bulanannya."
" Amiin, Insya Allah, semoga Allah mengabulkan keinginan Mami."
Daddy Roy mengelus bahu Mami Shella yang tengah meneteskan air matanya.
" Ya sudah, kita tidur yukk.. Daddy lelah."
" Iyaa, yukk lah.."
__ADS_1
Daddy pun membiarkan Mami Shella tidur di sofa, karena sofanya hanya mampu menampung satu orang. Dan Daddy merebahkan dirinya di atas karpet plastik yang sudah di lapisi oleh selimut tebal. Tadi saat keluar mencari angin, Mami Shella membelikan beberapa selimut.
Bara terbangun saat merasakan haus. Bara tersenyum saat mendapatkan dirinya tertidur sambil memeluk Sasa dan Zein. Dengan perlahan Bara mengeluarkan tangannya dari leher Sasa. Bara mengecup pucuk kepala Sasa.
" Kamu udah bangun Bar?" Suara Daddy Roy mengejutkan Bara.
" Astaghfirullah, Bikin kaget aja Daddy." Bara mengelus dadanya.
" Udah mau masuk subuh, kita ke mesjid yukk.. sekalian cari makanan buat sarapan."
" Iyaa Dad."
Sasa mengerjapkan matanya saat mendengar Zein menangis. Mungkin Zein haus.
" Udah, Biar Mami aja. Tangan kamu kan masih di infus." Mami Shella yang juga terbangun langsung melarang Sasa turun dari brankar.
" Alhamdulillah, Zein gak rewel ya Mi. Padahal kan tengah malah Zein terbangun."
" Iyaa, mungkin terlalu nyaman tidurnya karena di peluk kamu sama Bara."
Bluuss...
seketika wajah Sasa memerah.
" Lihat deh, kalian memang serasi banget." Mami Shella menunjukkan foto saat Bara tidur sambil memeluk Sasa dan Zein.
" Ya Allah Mi, Malu banget deh kepergok sama Mami dan Daddy."
" Udah Halal juga kok. lagian belum halal aja si Bara udah cium kamu di depan Daddy dan Mami."
Wajah Sasa kembali memerah saat Mami Shella mengingatkan dirinya, saat Bara mencium dirinya di depan semua orang. Di saat pertemuan mereka kembali.
Dokter memeriksa keadaan Sasa, tidak ada Masalah serius. Sasa pun sudah di perbolehkan pulang, dengan syarat Sasa harus banyak beristirahat selama sebulan penuh.
Kepulangan Bara, Sasa, Mami Shella, Daddy Roy, dan Zein pun langsung di sambut oleh Vina.
" Mbak Sasa sama Daddy kenapa?" Tanya Vina yang melihat lengan Daddy Roy di balut kasa, begitupun dengan lengan Sasa.
" Gak papa, cuma lima kecil."
" Leher Mami kenapa? Kalung Mami mana?"
Vina yang langsung memperhatikan keadaan satu persatu Anggota keluarganya pun langsung mendapatkan keganjalan.
" Kamu tenang yaa, kita bicara di dalam." Ujar Daddy Roy..
Vina menangis dan gemeteran saat mendengar cerita Daddy Roy dan Mami Shella. Vina langsung memeluk Sasa dan mengecek keadaan tubuh Sasa.
" Mbak Sa, ya Allah.. Hiks.. untung Mbak gak kenapa-napa.. Hikss.." Vina memeluk tubuh Sasa lagi.
" Udah, jangan nangis gitu ah, Ntar Di kiriain sama tetangga ada apa-apa lagi.."
Vina menghapus air matanya. Vina meraih Zein dan mengecup seluruh wajah Zein. Melepaskan rindunya kepada putra pertamanya.
Vina mengadakan syukuran atas keselamatan keluarganya. Vina membagikan makanan kepada anak-anak yatim dan yang kurang mampu di daerah rumah nya.
" Makasih ya Mbak."
" Sama-sama Mbak Sa, Mbak Sa kan keluarga aku juga." Vina memeluk Sasa lagi.
Tidak ada hal yang paling melegakan, selain keselamatan keluarga. Untuk itu lah, Vina memberikan sedikit rezekinya, atas rasa syukur untuk keselamatan keluarga tercintanya.
" Sa, ingat. Jangan capek-capek." Tegur Mami Shella saat melihat Sasa mulai menyibukkan dirinya dengan memungut piring dan gelas kotor di ruang tamu. Karena baru saja ada acara pembacaan doa.
" Iya Mi... cuma angkat sedikit aja kok."
" Tetap gak boleh sayang." Bara mengambil alih apa yang di pegang Sasa.
" Duduk cantik aja deh.. Sini.." Mami Shella menarik tangan Sasa dan menyuruhnya duduk di dekat dirinya.
Tak terasa sudah sebulan kejadian yang snagat membuat Mami Shella trauma. Sasa pun memulai kembali program kehamilannya.
" Mas, aku gendutan yaa?"
" Masa sih? perasaan biasa aja deh."
" Pipi aku sedikit chubby Mas."
" Mungkin karena efek obat penyubur kali, eh. atau jangan-jangan kamu hamil?"
Sasa menunjukkan pembalut yang ada di tangannya. " Maaf yaa.." ujar Sasa sendu.
" Gak papa, bisa coba lagi.." Bara mengedipkan matanya sebelah.
Sudah 2 hari Sasa merasa aneh dengan menstruasinya.
" Kok cuma flek-flek aja yaa? atau karena aku kecapean? atau karena fikiran?, kemarin kan dokternya bilang gitu.. Hah, kemarin-kemarin juga pernah gini. Ntar juga deras lagi.. Hmm, iyaa, mungkin karena akunya terlalu banyak fikiran nih.. kan ngaruh juga..." gumam Sasa.
IG. Rira Syaqila.
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Salam SaBar... (Sasa & Bara )
__ADS_1