Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 29 " Menjemput Masa depan"


__ADS_3

Daddy Roy menatap tajam ke arah putra satu-satunya itu. Bara yang di tatap hanya mampu menundukkan wajahnya. Daddy Roy memang tidak pernah memarahi anak-anaknya, jika pun anaknya berbuat salah, Daddy Roy selaku akan menasehati anaknya dengan tenang. Tapi kali ini, terlihat kilatan api kemarahan di mata Daddy Roy.


" Berapa umur kamu?" Tanya Daddy Roy dengan suara yang terdengar dingin.


" 30 Tahun" Jawab Bara makasih menundukkan kepalanya.


" Apa kamu tidak bisa menilai mana yang baik dan tidak?"


" Maaf Daddy."


" Daddy yakin, kami punya alasannya. Dan Daddy mau kamu memberitahukan apa alasan kamu masih bertahan dengan Lia selama ini"


Bara mengangkat wajahnya, menatap garis wajah sang ayah yang tak lagi muda, tapi masih terpancar ketegasan di sana. Dan perlahan akhirnya Bara menceritakan apa alasannya selama ini bertahan dengan Lia. Daddy Roy mendengarkannya tanpa memotong sedikitpun ucapan Bara.


" Bara, terkadang kita harus mengingkari janji yang telah kita buat, jika janji itu membuat diri kita sendiri di rugikan. Kamu tidak akan bahagia hidup dengan hanya kamu yang mencintainya saja, dan berbekal dengan janji. Untungnya kamu belum menikah, jadi semua ini akan lebih mudah." Daddy Roy berdiri, dan berjalan kearah Bara.


" Secepatnya kamu putuskan Lia" Daddy Roy menepuk bahu Bara sebelum meninggalkannya sendiri.


Bara sungguh galau, di satu sisi, Sasa sulit untuk di temui, bahkan di toko juga Sasa tidak terlihat, Sedangkan di apartemen, Sasa tidak pernah kembali.


"Mungil, di mana kamu?"


Cling...


Pesan masuk dari ponsel Bara, dan itu dari orang suruhan Bara untuk mencari keberadaan mungilnya. Bara tersenyum dan meraih kunci mobilnya.


" Mau kemana?" Tanya Daddy Roy. Mami Shella masih tidak ingin melihat sang putra.


" Jemput masa depan" Ujar Bara dan berjalan kearah Mami Shella, saat Bara ingin mengecup pipi Mami Shella, Mami malah menghindar dan menjauh. Bara hanya bisa tersenyum kecut.


Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sudah tidak sabar untuk menjemput masa depannya itu. Sesampainya Bara di Greenday cafe, Bara turun dengan menggunakan kaca mata hitamnya, dan berjalan penuh keyakinan menuju sang pujaan hati.


Kasir dan pelayan yang berada di sana sampai terpana melihat ketampanan dan kegagahan Bara.


" Cari siapa Mas?" Ujar seorang pelayan laki-laki yang gemulai.


" Sasa ingin menjemput calon istri saya, Marisa"


Semua orang yang berada di situ, sontak dagunya terjatuh dan membuka mulutnya. Apa mereka tidak salah dengar? Calon istri? Marisa?


" Mas yakin, Kalo Mas ini calon suaminya Sasa?" Tanya laki-laki kemayu itu dengan putus asa.


" Bisa saya bertemu dengan calon istri saya?"


Perempuan yang berada di kasir menunjuk kearah belakang, Bara tersenyum dan mengangguk. Bara melangkahkan kakinya dengan yakin untuk menjemput mungilnya itu.


Setelah Bara menjauh dari kumpulan para pelayan yang menatap Bara dengan lapar, laki-laki kemayu itu tiba-tiba saja terjatuh lemas dan pingsan.


Bara melihat mungilnya sedang menyiram tanam. Bara baru tau, ternyata mungilnya sangat suka dengan bunga. Perlahan Bara mendekati Sasa yang belum juga menyadari kehadirannya.

__ADS_1


Sasa yang sedang bersenandung sambil menyiram tanaman terkejut saat mendapati sepasang tangan yang melingkar di perutnya. Sasa ingin menjatuhkan orang yang berani-berani memeluknya. Namun pelukan itu semakin kuat dan detik selanjutnya kepala Bara sudah bersandar di bahu Sasa.


" Aku merindukan mu"


Sasa hanya membeku mendengar ucapan Bara.


" Apa kalian akan membuat usaha ku bangkrut karena karena sial akibat ulah kalian mesum di sini?"


Suara bariton Fadil membuat Bara dan Sasa terkejut dan melepaskan pelukannya, sedangkan Sasa tanpa sengaja menyemprotkan air yang masih menyala di selang kearah Fadil, karena terkejut, Sasa mengarahkannya ke arah lain, dan kali ini Bara sasarannya.


" Aaaaa" Pekik Sasa kembali terkejut.


Sasa mematikan air tersebut, kemudian menatap Fadil dan Bara bergantian dengan tatapan merasa bersalah.


" Kalian berdua, ikut gue"


Sasa menundukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya sambil mengekor di belakang Fadil. Bara yang melihat tingkah Sasa seperti itu merasa gemes, dah tidak tahan untuk tidak menciumnya.


" Mungil" Bisik Bara, dan Sasa menoleh.


Cup..


Sasa membelalakkan matanya saat Bara sempat-sempatnya mencium dirinya. Dasar Bara api sialan, lihat saja pasti Sasa akan memberikan pelajaran kepada Bara.


Fadil melipat kedua tangannya di dada,elihat Bara dan Sasa yang saat ini sudah duduk di hadapannya. Saat ini mereka berada di ruangan Fadil.


" Apa kalian pacaran?"


" Tidak"


Jawab Bara dan Sasa bersamaan.


" Ck, Apa kalian akan menikah?"


" Tidak"


" Iya"


" Wah, jawaban apa ini?" Fadil menurunkan tangannya dan mencondongkan tubuhnya kearah Bara dan Sasa.


" Bukan kah Dia calon suami Lo?" Tanya Fadil kepada Sasa.


Sasa dengan cepat menggelengkan kepalanya. " Bukan"


" Ck, Satu karyawan mengatakan jika Calon suami Lo, ingin menemui Lo, karena gue penasaran, makanya gue kebelakang dan lihat. Ternyata calon suami Lo Bara?"


" Bukan" Jawab Sasa cepat.


" Saat ini bukan, tapi nanti menjadi Akan" Jawab Bara.

__ADS_1


Sasa melirik tajam kearah Bara. seharusnya dia menyiram lebih banyak air kepada Bara.


" Lo ngapain di sini?" Tanya Fadil ke Sasa


" Gue?.. "


" Dia sedang bersembunyi dari calon suaminya" Jawab Bara.


" Apaan sih Lo," Kesal Sasa.


" Ooh, jadi kalian sedang berantam toh"l, dasar Lo Bar, masih aja punya tunangan, udah main calon Suami an dengan Sasa"


" Sembarangan Lo kalo ngomong. Dia bukan calon suami gue" Kesal Sasa.


" Terserah kalian berdua. Oh ya, gue dapat kabar, 2 hari lalu Tante Shella menyiram wajah Lia dengan air. Sebaiknya Lo temui Lia, sebelum dia nyebarin video itu di internet. Gue udah hapus video tersebut di internet, namun gue rasa Lia bukan perempuan yang gampang menyerah."


Bara terdiam, kemudian dia meraih ponselnya dan menghubungi Lia.


" Aku mau bicara"


"..."


"Sekarang, terserah kamu di mana"


"...."


" Baiklah, aku kesana sekarang"


Bara mematikan ponselnya. Kemudian Bara memegang tangan Sasa, membuat Sasa terkejut dan mau tak mau ikut berdiri. Fadil hanya menatap pasangan aneh itu.


" Makasih infonya, gue balik. Ayo"


" Lepasin gue" Sasa berusaha memberontak


Bara tidak ingin melukai pergelangan tangan mungilnya itu, Bara langsung saja membungkukkan badan nya dan meletakkan Sasa di bahunya, seakan Sasa itu adalah karung beras.


Sasa menggoyangkan kakinya dan memukul punggung Bara, Bara meringis sakit saat pukulan Sasa mendarat di punggungnya. Tidak bisa di pungkiri, tangan mungil itu memiliki kekuatan super.


Bara melewati karyawan yang langsung berkumpul saat melihat Bara dan Sasa keluar dari ruangan Fadil. Mereka menatap tak percaya jika Sasa adalah calon istri dari pria tampan nan gagah itu.


" Romantis banget sih, meleleh gue liatnya" Ujar pria kemayu dan tiba-tiba tubuhnya lemas seperti jeli.


" Lanjutkan pekerjaan kalian" Ujar Fadil, dan detik itu juga mereka langsung kocar kacir mencari kegiatan yang bisa di kerjain. Ada yang pura-pura ngepel, bahkan ada yang mengajak Bunga Janda Bolong yang sedang ngetren itu berbicara. Sungguh luar biasa.


" Buka gak pintunya? Gue mau turun" Ujar Sasa kesal. Bara mengunci pintu dengan otomatis, agar Sasa tidak bisa membukanya dan lari lagi.


Bara tidak mendengar gubrisan dan kekesalan Sasa, Bara semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang di padati kendaraan, menuju tempat bertemunya Dia dan Lia.


**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2