Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 94 " Menghadap kembali"


__ADS_3

Sasa membantu Mami Shella memasak untuk menu buka puasa. Sebenarnya sedari tadi Sasa sudah merasa pusing. Tubuhnya mendadak lemas, Sasa mendudukkan dirinya.


" Sa, kamu kenapa? pucat banget?"


" Gak pa-pa Mi."


Bagaimana tidak lemas, tenaga Sasa terkuras habis semalaman, dan dia juga tidak sahur. Di tambah lagi Sasa sedang berpuasa.


Tubuh Sasa bergetar karena lemas.


" Sa, kamu gak papa? kamu sampai menggigil gini?" Mami Shella memegang kening Sasa, sangat dingin.


" Kamu puasa? batalin aja yaa?"


" Gak Mi, nanggung dua jam lagi." ujar Sasa lemas dan bergetar.


" Ya udah, kamu istirahat yaa.." Mami Shella membopong tubuh Sasa masuk kedalam kamarnya.


setelah memastikan Sasa tidur dengan aman dan nyaman, mami Shella kuat dari kamar.


"Dasar si Bara, gak kira-kira lahap si Sasa. Pasti dia hajar sampai pagi. Persis banget kayak Daddy nya dulu." Gerutu Mami Shella, tepat saat Daddy Roy berada di belakang Mami Shella.


" Kenapa Daddy dulu?"


Mami Shella terlonjak kaget dan membalikkan tubuhnya.


" Ngagetin aja ih, masuk bukannya kasih salam."


" Assalamualaikum sayang." Daddy Roy mendaratkan kecupan di kening Mami Shella.


" Walaikumsalam."


" Daddy kenapa?"


" Apanya?"


" Tadi Mami bilang persis Daddy dulu."


" Ooh, itu anak laki-laki Daddy, semalam dia baru buka segel. Dan Sekarang Sasa Malah menggigil karena kelelahan."


" Sasa sakit?"


" Sepertinya, Mami udah suruh dia buka puasa, tapi dia bilang nanggung, dua jam lagi. Jadi Mami suruh istirahat aja."


" Buat jamu Mi untuk Sasa."


" Aduuh, pinginnya sih gitu. Cuma takut gak keburu. Mami lagi masak buat buka puasa nanti."


" Ya udah, Daddy bantuin deh."


" Gitu dong. Tao, Daddy ganti baju dulu yaa.."


" Baiklah yang mulia ratu."


Setelah mengganti baju, Daddy Roy membantu Mami Shella memasak. Sedangkan Mami Shella membuat jamu untuk Sasa. Tak berapa lama Bara pun pulang.


" Waah, romantis banget sih." Goda Bara.


" Waah, yang baru belah duren, istrinya sampai sakit gitu." Goda Daddy Roy.


Bluuss..

__ADS_1


Wajah Bara langsung memerah. Gugup, pastinya.. Jika Leo atau yang lainnya menggoda, Bara akan santai, ini Daddy nyanyang menggoda, mana bisa Bara terlihat santai.


" Sasa sakit?" ujar Bara gugup.


" Iya, sepertinya kelelahan. Kamu kira-kirandong Bara kalo mau mesum. yaa jangn di hajar sampai pagi." Ujar Mami Shella.


" Sasa bilang gitu?" Bara menggaruk kepalanya.


" Sasa gak bilang, cuma Mami nebak aja."


" Iyaa Mi, lagian Bara udah suruh Sasa untuk gak puasa, karena dia tidak sahur tadi pagi."


" APA? GAK SAHUR?" pekik Mami Shella.


" Kelewatan kamu ya Bara. Bisa-bisanya istri kamu sampai gak sahut. "


" Bara gak tega banguninnya Mi." Bara sudah memasang kuda-kuda karena Mami Shella memukulnya secara tidak berperasaan.


" Dasar kamu ini, bulan puasa bukannya dintahan napsu, malah keenakan kamu yaa. Kalo Sasa sakit gimana ? " kesal Mami Shella.


" Iya Mi, Bara akan memperhatikan kesehatan Sasa."


" Sudah sana, ganti baju kamu, terus bantu Mami cucu piring."


" Iya Mi."


Bara masuk kedalam kamarnya, melihat sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya. Di belainya rambut Sasa, serta pipi mulus Sasa.


" Maaf ya mungil, gara-gara aku kamu sampai lemas gini." Bara mendaratkan ciumannya di kening Sasa. Sasa hanya bergerak sedikit, namun dia masih tertidur dengan lelap.


Bara mengerjakan tugas yang di berikan Mami Shella, yaitu mencuci piring. Setelah semuanya Beres, Bara membangunkan Sasa, karena sebentar lagi masuk waktu berbuka.


Sasa mengerjapkan matanya, dan terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukan waktu berbuka.


" Gak pa-pa Mungil. Ya udah, kamu mandi yaa. Terus kita ke meja makan."


Sasa meringis sambil memegang kepalanya yang pusing, Sasa merasa tubuhnya masih lemas, padahal dia sudah beristrirahat. Bara membantu Sasa ke kamar mandi, dan membantu Sasa membersihkan tubuhnya.


" Mas keluar aja, aku bisa sendiri kok." Wajah Sasa sudah memerah.


" Gak usah Malu, lagian Mas udah lihat semuanya kok."


" iih, udah sana.. aku malu tau.."


Bara terkekeh melihat wajah Sasa memerah dan bibirnya yang manyun. Gemas, tapi... tahan...tahan...


" Ya udah, mandinya jangan lama-lama yaa.. Pintunya gak usah di kunci. Aku di luar jika kamu perlu sesuatu."


" Iya Beruang madu ku."


Sasa sudah terlihat segar walaupun masih terlihat pucat dan lemas. Berjalan saja rasanya kaki Sasa bergetar. Untungnya Bara selalu berada di sebelahnya, hingga Sasa tidak perlu terjatuh dan cedera.


Bara menggendong Sasa menuju meja makan. Padahal Sasa sudah memberontak untuk minta turun, namun Bara bersikeras untuk menggendongnya.


" Gimana? Udah enakan?" Tanya Mami Shella setelah Sasa didudukan oleh Bara.


" Alhamdulillah, udah mendingan Mi." Sasa menunduk Malu karena perbuatan sang suami yang menggendongnya dari kamar hingga sampai ke meja makan.


Waktu berbuka pun tiba, Sasa meminum jamu yang dibuatkan oleh Mami Shella. Setelah makan dan emminum jamu, Sasa merasa tubuhnya sedikit lebih baik. Sasa sangat bersyukur karena memiliki mertua yang sangat baik. Sasa tidak diperbolehkan Bara untuk ikut sholat tarawih kemesjid, Bara menyuruh Sasa untuk tetap istirahat di rumah. Sasa pun menurut. Sasa melaksanakan sholat tarawih sendiri di rumah.


Sasa merasa gugup saat masuk kedalam ruangan komandan. Takut jika sang komandan semakin tidak menyukai dirinya.

__ADS_1


" Baiklah, sepertinya saya tidak perlu bertanya apapun. Saya cuma mau minta maaf kepada kamu, Nona Marisa. Waktu itu sikap saya kurang ramah kepada kamu."


" Iya pak, Gak pa-pa."


" Jadi, kalian sudah menikah sirih?"


" Siap, Iya Komandan."


" Benar-benar gak sabaran kamu yaa Bara."


" Siap, Saya tidak mau kehilangan dia lagi Komandan."


Komandan tersenyum melihat betapa besar rasa cinta yang di tunjukkan oleh Bara untuk Sasa, dari cara Bara memandang wajah Sasa. Begitupun dengan Sasa.


Urusan menghadap selesai, kebetulan sekali di kantor ada acara ibu bhayangkari. Bara di suruh ke sana untuk memperkenalkan Sasa kepada ibu-ibu bhayangkari lainnya.


" Kamu nikahi anak di bawah umur Bara?" Tanya istri komandan.


" Siap, tidak buk. Dia sudah dewasa."


" Masa sih? Kok kecil banget gini badannya. Wajahnya imut lagi. Berapa umurnya?" Tanya Istri komandan lembut sambil membelai bahu Sasa.


" 24 tahun buk."


" 24 tahun?" Seru ibu-ibu bhayangkari.


" wajahnya tidak mencerminkan umurnya yaa. awalnya saya kira masih SMP, terus tebak-tebak umur kira2 masih 17an lah paling kenak. Rupanya 24 tahun. Imut sekali sih.. Pintar banget kamu cari istri ya Bara."


" Siap, Makasih buk."


Sasa sudah tersenyum malu karena di puji, jika dirinya terlihat seperti anak-anak. Pantas saja Beruang Madunya selalu memanggilnya mungil.


" Namanya siapa?'


" Marisa Buk, panggil saja Sasa "


" Kamu pintar nyanyi kan? selain nyanyi, apa lagi? kamu bisa masak?"


" Insya Allah bisa buk."


" Kalo begitu kamu tinggal di sini yaa. kebetulan kita mau ada acara buka bareng dengan para pejabat tinggi di kepolisian." istri komandan beralih melihat Bara. " Kamu pulang aja, nanti sore jemput lagi Sasa, terus kalian bersiap dan ikut bergabung buka puasa bersama."


" Siap, buk."


Bara menggaruk kepalanya, hari ini sebenarnya dia mengambil izin karena menghadap atasan untuk urusan nikahnya, namun mungilnya malah di tahan oleh istri komandan. Bara harus sendiri deh di rumah. Tapi gak apa-apa juga sih, dari pada Bara khilaf karena berdua seharian dengan Sasa, bisa batal puasanya.


Acara berbuka dengan para petinggi pejabat polisi pun terlaksana dengan baik. Pujian terus terlontar untuk Sasa, karena masakan yang di masak oleh Sasa terasa sangat lezat. Bara tersenyum lebar saat sang istri mendapatkan pujian yang luar biasa. Bahkan Sasa sampai dipesankan Tas bermerk oleh salah satu istri petinggi pejabat polisi.


Seoengaruh itukah masakan Sasa? Hingga para istri petinggi polisi sangat menyukai Sasa. bahkan mereka terlihat berlomba-lomba memberikan barang mewah kepada Sasa. Walaupun Sasa sudah menolaknya, namun mereka tetap ingin memberikannya.


Dalam 3 hari ini, hadiah yang diberikan oleh para istri petinggi pejabat polisi terus berdatangan. Dari Tas bermerk, jam, baju, hingga sepatu dan perhiasan juga di berikan khusus untuk Sasa.


" Mas, apa aku pantas dapat semua ini?" Sasa menatap semua hadiah yang disusunnya di atas meja.


" Tentu. Karena kamu salah satu wanita berharga di hidup aku." Bara memeluk Sasa dari belakang.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..

__ADS_1


Salam SaBar... (Sasa & Bara )


__ADS_2