
Sasa dan Bara sedang mempersiapkan kepulangan mereka ke kampung Kelahiran Sasa. Di mana anak dari Bukde dan Pakde akan melangsungkan pernikahan.
Sasa dan Bara sebelumnya sudah mengirimkan 5 karung beras, 2 karung kentang, 10 papan telor, 5 kg cabai, 1 karung bawang merah, dan 5 kg bawang putih. Untuk membantu Pakde dan Bukde saat melakukan hajatan.
" Sa, kalian jadi berangkat besok?" Tanya Daddy Roy.
" Iya Dad, kemungkinan berangkatnya Siang. Karena Mas Bara harus buat laporan yang harus selesai besok." Daddy mendatangi Sasa yang tengah membereskan meja makan makan. Selepas makan malam mereka.
" Ooh, kalo siang, Daddy ikut ya. Mami juga bilangnya mau ikut."
" Boleh dong Dad, Sa seneng banget malah kalo Daddy dan Mami ikut."
" Oke lah, Daddy packing-packing dulu."
" Iyaa Dad.."
Vina datang bersama Zain yang rewel.
" Duuh, anak bunda kenapa?"
" Gak tau nih, kayaknya tau deh mau di tinggal lagi."
" Zain mau ikut Bunda gak?"
" Kut..kut..kut.."
Sasa terkekeh, kemudian melirik kearah Vina.
" Gak mbak gak.. Jangan minta izin.." Seolah tau apa yang ingin Sasa sampaikan, Vina langsung menolak.
" Ayoo lah.. Cuma 2 hari kok... Boleh Yaa.."
" Iihh, nyebelin deh.. Ntar kalo dia nangis gimana?"
" Yang ada kalo Sasa yang pergi Zeinnya nangis." Sambung Mami Shella. " Udah, kasih ikut aja ya Zeinnya.?"
" Hiks.. kompak banget sih menantu dan mertua ini." Rajuk Vina yang pura-pura nangis.
Mami Shella dan Sasa tertawa, tidak hanya mereka, Zein pun tertawa melihat Maminya merajuk.
.
.
" Sudah semua?" Tanya Bara kepada Sasa yang memeriksa kembali barang bawaan mereka.
" Iya Mas, udah semua. " Sasa melirik kearah Vina yang tengah merengut.
Bagaimana tidak, hasil dari rayuan Mami Shella dan Sasa, yang berakhir bersama Vano pun akhirnya mendapatkan keputusan jika Zein ikut bersama Sasa.
" Bener-bener deh.." Kesal Vina.
" Cuma bentaran doang. Dari pada kamu kesusahan saat Sasa pergi." jelas Mami Shella.
" Iya..iyaa.."
Sasa pun berpamitan kepada Lucas, Anggel, dan Kayla. Saat Sasa masuk kedalam mobil, ketiga tangis bayi tersebut langsung meledak, seakan sedang melakukan konser yang memekakkan telinga.
" Waduuuh, baru masuk mobil udah nangis.." Ujar Anggun yang mulai panik. Mana Leo gak di rumah.
" Yaa gitu deh An, aura Sasa itu kuat banget."
" Iya Mi. Memang ada ikatan batin seperti itu ya.."
" Iyaa... Cinta Sasa itu tulus... Jarang loh ada orang kayak gitu, hah.. Semoga Sasa cepat di beri momongan yaa.." Uajr Tante Rosa.
" Amiinn.." Jawab Anggun dan Tante Mega.
.
.
Pesta pernikahan pun terselenggara dengan meriah. Zein juga tidak rewel, bahkan Zein menikmati kebersamaannya bersama Sasa dan Bara.
Zein ikut tertawa saat melihat Opa nya dangdutan bersama kang keyboard. Mami Shella sampai geleng-geleng kepala lihatnya.
" Sa, nanti dong?" Pinta Bukde.
" Nyanyi apa Bukde?"
" Terserah kamu.. Nyanyi ya.."
" Iya..iya.."
Sasa pun berbicara dengan kang keyboard, dan menyebutkan lagu yang ingin di nyanyikannya.
Terdengar suara musik, Bara yang memangku Zein pun memandang Sasa yang berada di atas panggung.
Seraut wajah tampan
Sangat mempesona
(mimpi ku mimpi mimpi manis)
Dibalik pintu hati
Tersimpan rinduku
(mimpi ku mimpi mimpi manis)
Matamu bak panah asmara
Bibirmu bak telaga madu
Aduhai ..
Stop kau mencuri hatiku hatiku
Stop kau mencuri hatiku
(mimpi ku mimpi mimpi manis)
Stop kau mencuri hatiku.. hatiku
Stop kau mencuri hati ku.
( mimpiku mimpi mimpi manis..)
(mimpi ku mimpi mimpi manis)
*Bara yang tidak tahan melihat Sasa nyanyi seakan menggodanya pun, memberikan Zein kepada Mami Shella, dan naik keatas panggung. Sekalian, Bara mau menunjukkan kepada pria-pria yang sedari tadi menatap kearah Sasa, bahwa Sasa miliknya.
Tutur bahasamu
Yang penuh kata kata manja
Bisik bisik cinta menyentuh hatiku
__ADS_1
Tak mungkin dapat kulupakan
Didalam dunia
Hanyalah engkau yang kucinta
Engkaulah jiwaku
Engkaulah nafasku
Menjadi pendamping hidupku
Bak serumpun sumpah janji berdua
Bak sekata kita saling setia
Bak serumpun sumpah janji berdua
bak sekata kita saling setia
Stop kau mencuri hatiku hatiku
Stop kau mencuri hatiku
( mimpi ku mimpi mimpi manis)
Stop kau mencuri hatiku hatiku
stop kau mencuri hatiku
Tutur bahasamu
Yang penuh kata kata manja
Bisik bisik cinta menyentuh hatiku
Tak mungkin dapat kulupakan
Didalam dunia
Hanyalah engkau yang kucinta
Engkaulah jiwaku
Engkaulah nafasku
Menjadi pendamping hidupku
Bak serumpun sumpah janji berdua
Bak sekata kita saling setia
Bak serumpun sumpah janji berdua
bak sekata kita saling setia
Stop kau mencuri hatiku hatiku
Stop kau mencuri hatiku
( mimpi ku mimpi mimpi manis)
Stop kau mencuri hatiku hatiku
stop kau mencuri hatiku
( mimpi ku mimpi mimpi manis)
Selama Sasa bernyanyi, Bara tak sedetikpun melepas pandangannya, bahkan pegangan tangan Bara di pinggang Sasa pun tidak di lepaskan. Hingga yang melihatnya iri dan kecewa.
Sasa menyelesaikan lagunya, dan diakhiri dengan kecupan di kening dari Bara. Sorakan pun terdengar, Sasa memukul dada bidang Bara, dan menutup kedua wajahnya karena malu. Bukan Bara namanya kalo tidak memberikan kehebohan.
" Aduuh, nak Bara ini makin lengket aja dengan nak Sasa." Ujar Bukde.
" Iya bukde, Bara gak bisa jauh dari Sasa. Bukan Bara Bara aja, bahkan Bara udah ada saingannya, tuh.." Bara menunjuk Zein yang meminta di gendong kembali dengan Sasa.
" Iyaa, Bukde doakan semoga kalian cepat dapat momongan ya.."
Di kampung, Ada juga saudara bukde yang tengah hamil.
" Sa, ayo injak jempol kakak, biar nular. Bilang gini, semoga nular gitu.."
" Masa sih?"
" Iyaa, kata orang-orang tua dulu sih gitu.."
Sasa pun menginjak jempol kaki ibu hamil tersebut. Tidak hanya itu, bahkan Sasa di suruh menyimpan popok bayi di bawah kasurnya. Ada lagi, Sasa di suruh makan hasil lepehan dari bayi.
Ada-ada saja memang masukan dari orang-orang. Tapi Sasa bersyukur, itu tandanya banyak orang yang sayang dan peduli dengan Sasa.
" Zein udah tidur?" Tanya Bara yang baru memasuki kamar mereka.
Berhubung rumah Sasa dulu sudah di rehab, dan nantinya Sasa menyuruh anak bukde yang baru saja menikah untuk menempatinya. Jadi, Sasa, Bara , mami Shella, Daddy Roy, dan Zein pun tinggal di rumah peninggalan nenek Sasa.
" Udah Mas. Alhamdulillah Zeinnya gak rewel. Padahal aku takut banget dia rewel, secara berpisah dari Mami nya."
" Kayaknya chemistry Zein sama kamu deh, bukan sama Vina."
" Tapi tetap aja Mas, Darah itu lebih kental dari air."
" Tapi kasih sayang itu tidak mengenal datang dari darah siapa."
" Iyaa sih.."
" Mungil, kamu tau gak.. saat kamu nyanyi tadi, kamu bangunin si Tiger tau."
" Iih, dasar mesum."
" Ayoo lah mungil, satu ronde dan gak pake lama "
" Ya mana bisa lama mas, ada Zein. Ntar bangun dia."
" Makanya, ayo laah.. Cepetan. Biar cepet bobok Tigernya."
" Iya kali cepet bobok, kayak yang kamu puas aja sekali "
" Hari puas mungil, ayooo "
Bara langsung saja menarik tubuh Sasa agak menjauh dari Zein, dan mulai menjelajah tangannya ke mana-mana.
.
.
" Waah, yang pengantin Baru siapa, yang rasain jadi pengantin baru siapa." Goda Daddy Roy saat melihat Bara subuh-subuh sudah keramas
Berhubung kamar mandinya tidak di dalam kamar, jadi yaa ketahuan deh jika Bara keramas.
__ADS_1
" Hehe.. Di mana ada kesempatan, pasti mencari kesempitan Dad."
" Gaya mu.. Persis Daddy muda dulu.."
Anak dan ayah pun tertawa, sehingga membuat Mami Shella yang sempat mendengar percakapan mereka pun menggelengkan kepala.
Setelah sarapan, Sasa, Bara, Zein, Daddy Roy, dan Mami Shella menyempatkan diri berziarah ke kuburan kedua orang tua Sasa dan juga nenek.
" Jadi ini kita langsung pulang?" Tanya Mami Shella.
" Gak Mi, kita siang ini di undang makan di rumahnya suami Misni."
Misni adalah anak bukde yang baru sjaa menikah.
" OOO, iya..iya.." Mami Shella terlihat sangat bersemangat, karena Mami Shella suka melihat orang-orang di kampung memegang teguh adat istiadatnya.
Tak terasa, acara jamuan keluarga mempelai wanita pun sampai sore. Mereka benar-benar menahan kepulangan Sasa dan Bara yang sudah di jadwalkan pukul 3.
" Habis magrib aja berangkatnya yaa.. Nanggung ini waktunya, sejam lagi udah masuk magrib." Ujar daddy Roy.
" Iyaa Dad.. "
" Ntar kalo lelah, kita berhenti di SPBU aja.. Istirahat, sambil ngopi-ngopi."
" Iya.." Bara hanya mengikuti apa yang di ucapan oleh Daddy Roy. Toh dijalan mereka bisa gantian bawa mobilnya.
" Sudah di masukin semua barangnya Mas?" Tanya Sasa yang melihat Bara tengah menyusun tas dan koper kedalam Mobil.
" Udah sayang ku.."
" Ya udah, kita pamit yuuk sama bukde dan Pakde. Mami dan Daddy sudah duluan ke sana."
" Yukk lah.."
Setelah berpamitan, mereka pun pulang dengan membawa oleh-oleh yang di berikan oleh besannya bukde.
berhubung mereka pulangnya di hari Minggu malam Senin, jadi jalanan lumayan padat karena banyaknya kendaraan yang kembali dari liburan mereka.
" Bakal pagi ini nyampenya.." ujar Daddy Roy.
" Iyaa, gak kefikiran bakal macet gini yaa.."
Setelah menempuh 2 jam lamanya dalam macet, akhirnya Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan Sedang. Namun saat di jalanan yang lumayan sepi, Ada 3 motor yang menggeber-geber mobil mereka dan menghadangnya.
Mami Shella yang tadinya tertidur, terbangun dan langsung ketakutan.
" Ada apa ini Bar?"
" Mami tenang yaa. Mami gendong Zein deh. " Sasa sudah membungkus Zein dengan selimutnya, dan mengikat Zein dalam gendongan Mami Shella menggunakan kain panjang yang memang sengaja Sasa bawa.
" Cepat turun.." Ujar brandalan yang membawa kayu tersebut.
" Mas, mereka sepertinya bawa pisau. Ada 6 orang, mungkin bisa lebih. "
" Iyaa, " Bara langsung mengecek pistolnya, dan mengaktifkannya. Bara menyimpan pistol tersebut di balik jaketnya.
" Daddy siap?" Tanya Bara.
" Siapa apaan sih.." Tanya Mami Shella yang sudah gemetar dan memeluk Zein dengan kuat
Braakk..
" Cepat keluar.."
Gedoran pun kembali terdengar.
Dengan memberi kode kepada Sasa danDaddu Roy, Bara pun keluar bersama Daddy Roy.
" Semuanya keluar." Bentak brandalan tersebut.
Sasa memeluk Mami shella yang ketakutan, Sasa juga sudah merasa berdebar, karena takut terjadi apa-apa dengan Mami Shella, Zein, Daddy Roy, dan Bara. Sasa tidak peduli dengan nyawa saat ini.
" Serahkan semua uang kalian."
Bara mengeluarkan dompetnya, dan memberikan apa yang mereka mau.
" Jam tangan.."
Bara pun melepaskan jam tangannya. Bara sudah melirik kearah Sasa yang mulai tersulut emosi karena melihat mereka merampas kalung Mami Shella dengan kasar. Bara sudah siaga, begitu pun Daddy Roy.
Mami Shella menangis sambil menahan perih sakit dilehernya saat kalungnya di rampas. Sedih juga karena itu hadiah dari anak-anaknya saat Mami Shella berulang tahun.
" Dasar nenek tua cengeng."
"Aa..."
Sasa menahan tangan berandalan yang ingin menampar Mami Shella. Mata Sasa sudah memerah dan rahangnya sudah mengeras.
" Mami masuk kedalam mobil dan kunci."
Sasa membuka pintu dan menyuruh Mami Shella masuk dengan cepat.
" Kurang ajar.." Teriak berandalan sambil berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Sasa, namun usahanya sia-sia.
Kraaakk...
" Aaaaa..."
Terdengar suara tulang patah.
Sasa langsung mematahkan tangan berandalan yang sudah merampas kalung Mami Shella dan ingin menamparnya.
Daddy Roy sampai melotot tak percaya, jika Sasa dengan mudah mematahkan tangan berandalan tersebut. Perkelahian pun dimulai.
Mami Shella meraih ponsel Bara, saat Bara memberikan kode kepada Mami Shella untuk menghubungi polisi. Untungnya pintu mobil sudah dikunci, dan kaca mobil Bara tahan akan lemparan Batu.
" aaah.." Daddy Roy meringis saat tangannya terbeset pisau.
Sasa menggeram dan menghantap kepala berandalan yang sedang di hajatnya tersebut ke mobil Bara.
Sasa berjalan kearah motor si brandalan dan menarik rantai motornya. Mengajar mereka dengan membabi buta. Membuat Mami Shella dan Daddy Roy tercengang. Tidak dengan Bara yang sudah jantungan dengan aksi snag istri yang berbahaya. Melawan berandalan yang membawa parang dengan menggunakan rantai motor.
Pertempuran Yang sengit pun berakhir, dengan Sasa dan Daddy Roy terkena besitan pisau. Bara yang memenag menggunakan jaket kulit, hanya jaketnya saja yang robek, dan untungnya tidak mengenai kulitnya.
"Mungill.." Bara berlari kearah Sasa saat setelah mengikat 6 berandalan tersebut dengan Borgol dan dasi yang sempat di selipkan ya didalam kantong. Tak berapa lama polisi pun sampai.
" Mungill..." teriak Bara yang langsung meraih tubuh Sasa yang terjatuh lemas.
Sasa benar-benar mengeluarkan seluruh tenaganya.
IG. Rira Syaqila.
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Salam SaBar... (Sasa & Bara )
__ADS_1