
Sasa terlihat tenang dan berusaha tak ikut terpancing emosi, dan ikut panik seperti Bara. Mami Shella sudah mengontrol rasa panik, Daddy Roy yang menenangkan Mami.
Mami Shella sebenarnya memiliki tiga orang anak, Dua putra dan satu putri. Namun karena Mami Shella terlalu banyak mengeluarkan air ketuban, bayi yang ada dalam kandungan pun sampai keracunan dan tak dapat di selamatkan. Itu lah yang membuat Mami Shella sangat takut jika hal itu kembali terjadi kepada cucunya.
Melihat Sasa yang terlihat tenang, Mami Shella pun berusaha untuk tetap tenang dan tak membuat Sasa semakin ketakutan.
Sasa terus mengatur napasnya, setiap merasakan kontraksi, Sasa mengatur napasnya secara perlahan. Bahkan Bara juga ikut mengatur napas, entah karena ia refleks atau karena mengajarkan Sasa.
Fadil menepikan mobilnya tepat di depan Tim dokter yang sudah bersiaga di depan pintu, di belakang mobil mereka, ada Anggun, Leo, dan Vina yang juga ikut ke rumah sakit.
Dengan gerakan terlatih Anggun langsung mengambil alih Sasa, untum berada di bawah pengawasan mereka. Sasa pun di bawa keruang tindakan. Anggun memeriksa jalan keluar bayi. Sebelumnya Anggun sudah menyuruh untuk memeriksa detak jantung dan tekanan darah sang bayi.
" Sudah bukaan Lima, sebentar lagi ini Mbak. Pokonya, kalo terasa mau BAB, jangan ngedan ya. Tunggu inttuksi dari Aku."
Sasa hanya bisa mengangguk dan meringis. Bara yang selalu setau menemani Sasa pun memegang tangan Sasa dengan erat.
" Mash.. Sa-kit.."
" Iya sayang, kamu yang kuat yaa.."
" Sa-kit Mashh__"
" Iyaa, Mas tau.. Kamu yang kuat yaa.. Mas di sini kok.."
Sasa menutup matanya, dan mengumpulkan tenaganya untuk berbicara.
" Mas, tangan aku sakit.."Geram Sasa dalam satu tarikan napas, karena Bara terlalu kuat meremas tangan Sasa.
Refleks Bara melepaskan tangannya, " Maaf sayang.. aku gak sengaja.." Ujar Bara dengan rasa bersalah.
Anggun sudah tersenyum melihat pasangan yang ada di depannya, siapa yang akan menyangka jika Bara adalah seorang Perwira polisi dengan pangkat yang lumayan tinggi, akan tetapi terlalu panik dan tak bisa mengontrol rasa takutnya.
Lihat saja, saat seorang perawat ingin memasangkan jarum infus di pergelangan Sasa, Bara yang malah pucat dan ketakutan, bahkan Bara yang berteriak histeris saat jarum itu masuk kedalam kulit pergelangan Sasa.
" Mas, jangan malu-maluin gitu deh.." Anggun merasa lucu.
" Sakit itu An.." Ujar bara dengan lemas.
Sasa hanya bisa menggeleng dan mengatur napasnya. Tak ingin memperdulikan suaminya Yang sudah terlihat pucat dan lemas.
" Lah, jadi Mas Bara waktu itu gimana saat di infus?."
" Pingsan dia", jawab mami Shella yang baru saja masuk."
Anggun ingin tertawa, namun melihat mata Bara yang melotot membuatnya mengurungkan untuk mengeluarkan suaranya. Namun tetap saja, jika di ingat-ingat, seorang pria berbadan tinggi besar, memiliki otot bisep dan perut kotak-kotak, seorang perwira polisi lagi, masa iya takut sama jarum. Anggun pun tertawa karena tak sanggup menahan tawanya.
" Senang banget kamu An.".
" Lucu Mas.. Ha..ha.."
Bara hanya bisa merengut dan memandang wajah sang istri yang mulai terlihat pucat.
Tak berapa lama Leo masuk dan memberikan paper bag kepada Anggun. Anggun pun beranjak ke kamar mandi dengan membawa paper bag yang berisi pakaian nya. Tak mungkin kan Anggun menggunakan gaun muslim nya untuk memberikan tindakan kepada Sasa.
" Akh..." Sasa kembali meringis, kebetulan masih ada Leo dalam ruangan.
" Mau apa Lo?" Tanya Bara saat melihat Leo ingin menyentuh Sasa.
__ADS_1
" Mau bantu cek lah.."
" Kagak ada, sana Lo.. Jangan berani-berani liat punya istri Gue."
Leo hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. " gue udah ambil sumpah kalo Bar."
" Lo bukan dokter Kandungan, Lo dokter sarap. Sana lo.. " Kesal Bara yang tak ingin mungilnya di lihat oleh pria lain.
Emm, btw, kalian tau kan maksud Bara. Tak ingin pria lain 'melihat milik' mungilnya.
" Awas kalo berani dekat-dekat." Ancam Bara yang mana sambil berjalan kearah toilet.
" Mau ngapain Lo? " Tanya Leo.
" Mau panggil anggun."
"Dia lagi ganti baju, lagian di sini udah ada suster."
Bara seolah tuli, dan tetap menggedor pintu kamar mandi yang di dalamnya ada anggun.
" An, cepat, Sasa udah kesakitan lagi tuh.." Teriak Bara sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
" Sabar, reseltinhnya macet ini.." Teriak anggun. dari dalam kamar mandi.
" Mau gue bantuin? Buka pintunya..'
" Jangan macam-macam Lo Bar, " Teriak Leo yang langsung melangkahkan kakinya lebar dan cepat mendekat kearah Bara.
Sasa yang melihat perdebatan itu hanya geleng kepala sambil merasa sakit, belum lagi Mami Shella yang ikut-ikutan meneriaki Bara dan Leo.
" Ya ampun, kalian ini. Orang lagi sakit malah teriak-teriak, keluar sana. bising tau. "
Anggun membuka pintu dan langsung menatap nyalang kepada Bara dan Leo. Tangan Anggun dengan cepag mencubit pinggang Leo dan Bara, kapan lagi kan bisa cubit Bara.
" Bisa tenang gak sih? Kamu, suami ku, keluar sana."
Sebelum keluar, Leo sempag-sempatnya mencium pipi anggun dan berlari keluar. Bara sudah gemas rasanya ingin meremas Leo.
Anggun memeriksa kembali jalan keluarnya, sudah bukaan 6, dan Anggun mulai mempersiapkan alatnya.
" Akkh,, huufff....huuff.. huuff..."
Anggun tersenyum melihat Sasa yang mampu menenangkan dirinya sendiri. Jarang sekali ada wanita yang melahirkan seperti ini, biasanya jika sudah merasa sakit, mereka akan berteriak dan meracau, tak jarang membuang bidan dan dokter kesal. Tapi ini yang cerewet malah suaminya, ingin menuruh keluar, tak enak rasanya. karena pasti sang suami ingin melihat proses melahirkan sang istri.
" Aakhh.. Mass.. Sakit.. Aaakjhhh..." Sasa menarik baju Bara hingga Bara tertunduk dan tercekik.
" Mungil, aku gak bisa napas.." ujar Bara dengan suara yang tertahan.
Sasa melepaskan cengkaran tangannya, dan berpindah meremas pinggang Bara. Bara hanya bisa menahan rasa sakit.
" Tante, perlengkapan Bayi nya ada di bawa?" Tanya Anggun..
" Ada di mobil." Jawab Bara.
Mami Shella pun langsung keluar dan meminta tolong kepada Fadil untuk mengambilkan tas Yang ada di dalam mobil.
Saat pertama kali Sasa meraskan kontraksi, Bara memang tak menurunkan lagi tas-tas tersebut. Karena hanya untuk berjaga-jaga saja.
__ADS_1
" Mbak, ikuti arahan aku yaa.."
Sasa mengangguk sambil mengatur napasnya.
" Mas, duduk di belakang Mbak nya, nahan punggunhnya yaa.."
Bara mengikuti perintah Anggun. Anggun mulai membuka kaki Sasa dengan lebar. Anggun melarang siapapun masuk kembali, karena proses persalinannya akan segera di mulai.
" Tarik napas Mbak, yang panjang.. kemudian dorong.."
" Aaaannkkkmmpp....... huff..huff...huff..."
" Iyaa, gitu Mbak, ngedannya jangan ditahan di leher suaranya yaa.. keluarin aja. Ayok lagi mBak, hitungan ketiga.. satu..duaa.. tigaa.."
Tak hanya Sasa yang mengedan, Bara pun ikut menarik napas dan mengedan. Dengan menahan rasa sakit, yang mana Sasa mencengkram tangannya dnegan kuat, hingga kuku yang pendek menancap di tangan Bara.
Perjuangan seorang wanita menjadi seorang ibu, dengan rela mengandung selama 9 bulan, awal yang membuat makan tak nyaman, muntah-muntah hingga berat badan turun drastis, kemudian dengan perut yang membesar, merasakan posisi tidur yang serba salah, sakit pinggang, dan terbangun dibtengah malam hanya untuk membuang air kecil. Begitulah perjuangannya, namun itu semua belum berakhir, karena masih ada malam-malam yang akan mengganggu tidur nyenyak mereka.
Tak hanya melahirkan normal, melahirkan Caesar pun juga sebuah perjuangan. Yang mana mereka harus merasakan efek berkepanjangan dari rasa sakit di pinggang, dan juga bekas jahitan di bagian perut mereka yang akan selalu membekas. Smeua itu adalah proses perjuangan untuk menjadi seorang ibu.
Jika kalian bertanya, apa seorang wanita yang belum di karuniai seorang anak, tidak memiliki proses untuk menjadi seorang ibu?.
Tentu mereka akan tetap menjadi seorang ibu, dengan kasih sayang mereka yang tulus, maka di dalam hati dan diri mereka, telah terbentu jiwa seorang ibu.
Suara tangis bayi pun terdengar, setelah jeritan Bara saat melihat Anggun menggunakan gunting dan menggunting kulit bagian 'itu' untuk melebarkan jalan keluar sang Bayi berteriak dan mengatakan jangan lakukan itu, Namun gerakan Anggun yang cepat membuat Bara hanya bisa meringis dan meneteskan air matanya. Hingga air mata itu semakin deras mengalir di saat seorang bayi mungil keluar dengan di susul suara tangisnya yang sangat kuat dan melengking..
* Hai-hai... berhubung pendapatan aku di NT masih rendah, jadi aku kasih Give away nya sesuai dengan pendapatan aku yaa..
Aku bakal bagi pulsa untuk 3 orang pemenang yang bisa menebak pertanyaan.
pemenang pertama: pulsa 20rb
pemenang kedua dan ketiga : pulsa 10rb
Syaratnya:
Add IG aku " Rira Syaqila"
kemudian ikut quisnya di sana yaa..
yukk buruan..
Tiga penjawab tercepat yang menjadi pemenang yaa..
Besok pagi, bisa langsung pantengin status q di IG, insya Allah pukul 8 aku udah post apa pertanyaannya..
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA...
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....