
Sudah seminggu ini Bara hanya menyentuh Sasa 3 kali, Dalam artian mencumbui Sasa.Sasa hanya merasa heran dengan suami nya yang super mesum itu. Semenjak kehamilannya, Sasa merasa jika Bara sangat jarang menyentuhnya, tak seperti saat sebelum Sasa Hamil.
" Mas.." Sasa meletakkan teh hangat yang di beri irisan jahe di dalamnya di atas meja. Bara tengah memeriksa laporan keuangan dari usahanya.
Bara menoleh dan tersenyum. " Makasih sayang."
Bara kembali fokus kepada laptop yang ada di hadapannya. Sasa merasa terabaikan, hingga akhirnya Sasa memilih untuk berbaring.
Bara kembali menoleh kepada sang istri, ingin rasanya Bara memeluk Sasa dan mencumbu nya. Namun laporan keuangan yang terdapat selisih dari pengeluaran pun membuat Bara harus menahan hasratnya. Laporan ini harus selesai malam ini juga, agar besok Bara bisa merapatkan perihal selisih keuangan kepada karyawannya.
Bukan nominal yang kecil sehingga Bara harus turun tangan, bahkan Bara bisa membeli satu toko lagi dengan selisih uang tersebut. Hal ini terjadi semenjak Sasa tidak lagi memegang laporan keuangan. Sudah 7 bulan, semenjak kehamilan Sasa, Bara melarang Sasa untuk bekerja, karena tak ingin membuat Sasa kelelahan. Sejak saat itu lah laporan keuangan di ambil alih oleh salah satu karyawan mereka yang juga lulusan Akutansi.
Bara sengaja tak memberi tahu Sasa, karena tak ingin membuat sang istri kefikiran.
Sasa sudah memanyunkan bibirnya, karena melihat Bara tak memperhatikannya. Sasa menginginkan Bara, tapi ia malu untuk memintanya duluan. Biasanya, jika Sasa sedang ingin, Maka cukup memeluk Bara saja, Bara sudah langsung mencumbuinya, tapi semenjak kehamilan Sasa, Bara mulai tak seganas dulu.
Sasa cebikkan bibirnya, kemudian dia berbaring dan menutup matanya, agar rasa kesalnya kepada Bara menghilang.
Bara meminum teh buatan Sasa, Bara tersenyum kala mendapati irisan jahe di dalamnya. Jahe itu bertujuan agar tubuh Bara tetap terasa hangat.
Bara menoleh kembali kepada Sasa, dan melihat jika Sasa sudah tertidur lelap. Bara melanjutkan kembali pekerjaannya.
.
.
Sasa terbangun dan melihat Bara tertidur di sofa dengan laptop yang masih menyala. Sasa bangkit dan berniat membangunkan Bara.
" Mas, pindah ke tempat tidur yukk." Sasa mengelus pipi Bara dengan lembut.
Bara menggeliat dan membuka matanya. Bara tersenyum kala mendapati wajah sang istri tercinta. Sasa membereskan berkas Yang ada di meja.
" Biar aku aja mungil. Kamu kok terbangun?" Bara mengambil alih kertas-kertas Yang ada di tangan Sasa. Bara tak ingin Sasa membaca laporan tersebut.
" Aku mau pipis Mas."
" Udah?"
" Belum, liat kamu tertidur di sofa, buat aku gak tega. Jadi aku berencana bangunin kamu dulu."
" Ya udah, bentar yaa.."
Dengan gerakan cepat Bara mematikan lapotopnya, kemudian menarik pinggang Sasa dan Menuntunnya untuk menuju ke kamar mandi.
Bara menunggu Sasa di depan pintu kamar mandi, sampai Sasa selesai membuang hajat nya.
Bara kembali menuntun Sasa untuk kembali tidur. Kali ini Bara juga ikut tidur, sambil memeluk Sasa dari belakang. Sasa tersenyum, dan kembali masuk kealam mimpi dengan perasaan yang lebih baik.
.
.
" Buat Apa Sa?" Tanya Mami Shella yang melihat Sasa sedang menyiapkan bekal makanan.
__ADS_1
" Pingin ke kantornya Mas Bara Mi. Buat kejutan."
" Ooh, pergi naik apa?"
" Naik taksi online aja Mi."
" Ya udah, nanti hati-hati ya. Maaf, Mami gak bisa nemenin, udah Janji sama Rosa buat ke toko Kesya.
" Iya Mi. Nanti sepulang dari kantor Mas Bara, aku nyusul Mami deh."
" Kalo gitu Mami duluan Ya.."
" Iya Mi.. Hati-hati yaa.."
" Iya, kamu juga ya.. hati-hati, kasih kabar kalo udah berangkat."
" Iya Mi."
Sasa mengantar Mami Shella hingga ke depan pintu, kemudian Sasa mengunci pintu rumahnya. Hanya untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang masuk saat dirinya tengah bersiap.
Sasa tersenyum melihat pantulan dirinya di depan cermin, namun detik selanjutnya Sasa kembali teringat dengan sebuah tulisan berita yang mengatakan jika ada seorang suami yang selingkuh di saat istrinya tengah mengandung buah cinta mereka. Alasan dari si suami adalah karena tidak enak bercinta dengan istri yang dalam kondisi mengandung. itu lah alasan ke apa Sasa beberapa hari ini uring-uring saat Bara tak menyentuh dirinya. Tapi Sasa tak berani u tuk bertanya, jiwa premannya seakan tenggelam semenjak dirinya hamil.
" Semoga gak semua pria seperti itu. Mas Bara gak mungkin juga selingkuh dari aku, secara dia cinta banget sama aku." Monolog Sasa di depan cermin.
Sasa kembali merapikan tampilannya kemudian melangkah keluar kamar. Bekal makan siang yang sudah Sasa siapkan tadi pun tak lupa Sasa ambil, untuk di bawa ke kantor sang suami tercinta. Sebelumnya Sasa sudah menanyakan di mana keberadaan sang suami, hanya pesan seperti biasanya Sasa kirimkan. Menanyakan kabar dan keberadaan. Jadi Bara tak akan curiga dengan kedatangannya, Sasa juga sudah bilang kepada Mami Shella, untuk tidak memberitahu Bara tentang kedatangannya.
Sasa memesan taksi online untuk menuju kantor Bara, dengan perasaan berdebar Sasa terus memperhatikan ponselnya, menunggu balasan pesan yang tadi dikirimnya, namun sudah 15 menit tidak ada balasan dari Bara.
" Mungkin lagi sibuk kali ya.." Sasa menyimpan kembali ponselnya.
" Makasih Buk." Ujar supir Taksi.
" Sama-sama."
Sasa turun tersenyum saat melihat kantor Bara, dengan hati berbunga dan jantung berdebar Sasa melangkahkan kakinya.
Praang...
Bekal makanan yang di bawa oleh Sasa pun terjatuh saat melihat pemandangan di hadapannya. Bara tengah dipeluk oleh seorang wanita cantik dan seksi.
" Mungil, ini gak seperti yang kamu fikirkan." Teriak Bara saat melihat Sasa berlari keluar kantor Bara.
Bara menghembaskan tubuh wanita seksi itu, dan mengejar Sasa.
" Lepas Mas.. Hiks..."
Sasa memberontak saat Bara berhasil menangkapnya dan memeluk tubuh Sasa.
" Mungil, aku gak kenal sama dia, sumpah.."
" Bohong.. aku lihat sendiri Mas, kamu pelukan sama dia, dan dia cium kamu.."
" Mungill, sumpah aku gak kenal. Wanita itu tiba-tiba saja datang dan langsung memeluk ku dan juga berusaha untuk mencium ku."
__ADS_1
" Hikkss.. Dasar buaya.." Pekik Sasa yang masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Bara.
" Sayang, siapa wanita ini.." Wanita seksi tadi menghampiri Bara dan Sasa.
Sasa menatap benci kepada Bara.
" Dia istri ku, Kamu yang siapa?"
" ternyata benar, kamu selingkuh di belakang aku hingga menghamili wanita ini?" Pekik wanita seksi itu.
Sasa membolakan matanya saat mendengar jawaban dari wanita seksi itu.
" Apa kurangnya aku Mas? Hikkkss.."
Bara rasanya ingin mendorong wanita seksi itu, tapi Bara tak ingin menyakiti Mungilnya.
" Lepas, saya gak kenal kamu."
" Tega kamu Mas, tega..Kamu, dasar pelac*r"
Wanita seksi itu ingin meraih rambut Sasa. Untungnya Bara sigap dan membiarkan lengannya tercakar oleh kuku wanita seksi itu.
Andi yang baru saja membeli nasi bungkus langsung berlari ke arah Bara saat melihat atasannya itu sedang di pukul dengan seorang wanita seksi sambil memeluk Sasa, istrinya.
" Hei, kamu.. dia bukan suami mu.." Pekik Andi..
Wanita seksi itu langsung menghentikan pukulannya, dan menatap Andi tajam.
" Kalian sekongkol... Kalian bajingaan.." Pekik Wanita itu.
Andi meraih tangan Wanita seksi yang ingin kembali memukul Bara, dan memborgol tangan wanita itu. Bara sebenarnya tak tega, namun itu lebih baik dari pada wanita itu menyakiti Sasa, mungilnya.
" Lepas Mas.." Lirih Sasa yang sudah senggugukan.
" Mungil, kamu dengarkan apa yang di katakan Andi?"
" Bisa aja kalian sekongkol." Geram Sasa.
" Sumpah mungil, aku gak kenal dia."
Andi sudha membawa wanita itu masuk kedalam sel. Itu lebih baik dari pada wanita itu mengamuk. Andi meraih gagang telpon Yanga da di atas meja, dan menghubungi seseorang.
Andi menggelengkan kepalanya saat melihat atasannya itu sedang merayu istrinya.
" Kasian banget sih Lo Pak." Andi tersenyum penuh arti.
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA...
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....