
Yang belum kasih vote, yuukk buruan kasih... buktikan kalo kamu benar-benar sayang dengan novel ini.
****
"Antar gue ke hotel ya .." Pinta Fatih ke pada Tissa yang saat ini sudah duduk di bangku kemudi.
"Lo gak pulang?" Tanya Tissa bingung.
"kagak, lagi males,.."
Tanpa berkata lagi, Tissa melajukan mobil nya membelah jalanan.
"Lo mau ke hotel mana?" Tissa menolehkan kepalanya kearah Fatih.
"Yang deket-deket aja. Biar gampang sekretaris gue nyari nya."
Tissa mengangguk. "Jadi, sekretaris Lo Rara masih kerja?"
"Ya gak lah, dah gue suruh cuti dia seminggu lalu."
"Enak banget punya bos kaya Lo."
"Rara udah kerja lama sama gue. Kasihan, umurnya udah dua puluh delapan tahun, tapi masih jomblo aja karena sibuk."
"Gila, serius umur dianudah segitu?" Tissa menggelengkan kepalanya.
"Badan nya kecil tapi lincah banget. Gak sopan ya gue panggil dia dengan nama. Tapi mau gimana lagi, dia bawahan gue."
Tissa tertawa. "Gue kira dia seumuran Lo, atau lebih muda."
"Wajah nya gak mencerminkan dengan umur nya. Gue kira masih baru tamat kuliah tu anak pertama kali kerja."
"Lo gak terpincut gitu dulu sama dia?"
"Lo tau gue kan, hati gue kayak udah ketutup aja gitu untuk perempuan lain." Ujar Fatih sambil menatap kearah luar jendela.
"Mau gue kenalin dengan teman cewek gue? Lo tau kan kalo teman cewek gue bejibun."
"Nanti dulu deh, gue mau fokus ke kerjaan aja. lagian kerjaan gue banyak banget."
Tissa menganggukan kepalanya, kemudian perjalanan pun hening. Hanya suara musik yang di putar oleh Tissa saja yang terdengar.
Fatih menghela napasnya saat ianmendnwgar lagi nya Judika yang berjudul jikalau kau cinta. Tissa menoleh sekilas kearah Fatih saat mendengar helaan napas yang sama. Helaan napas yang sangat berat, dan entah kenapa Tissa seolah ikut merasakan sesak nya.
Bersahabat dengan Fatih selama beberapa tahun ini, membuat Tissa setidaknya sedikit banyak mengenal Fatih lebih dalam. Namun ya itu, memang tak ada cinta di antaranmeewka . Mereka cocok karena satu pemikiran, namun tak satu jalan kehidupan.
"Hotel Permata mau?" Tanya Tissa di saat mereka sudah mendekati salah satu hotel ternama.
"Boleh lah,"
Tissa pun menambah kecepatan mobilnya untuk segera sampai di hotel tersebut.
"Makasih ya,"
"Sama-sama, oh ya, besok Lo berangkat jam berapa ke Surabaya?"
"Tergantung jam berapa gue siapin berkas. Napa?"
"Kagak, tanya doang."
__ADS_1
"Oke lah, sekali lagi makasih."
"Sipp, kayak sama siapa aja Lo."
Fatih pun turun dari mobil Tissa. Setelah memastikan Fatih turun dengan aman dan tak ada barang yang tertinggal, Tissa pun melajukan kembali mobil nya meninggalkan Fatih yang masih memandang kearah kepergian diri nya.
Fatih masuk kedalam hotel dan mulai melakukan cek in. Mungkin Fatih akan membuat Romi kelimpungan pagi-pagi sekali.
Setelah sampai di dalam kamar, Fatih langsung meraih ponselnya, dan memberikan daftar belanjaan untuk Romi.
Me : Rom, besok pagi jam 7 kamu harus sudah ada di hotel permata, kamar 256. Jangan lupa, tolong belikan saya semp*ak, Boxer, deodoran, kemeja, kaos, celana jeans, kaos kaki. Besok pagi semuanya sudah harus ada."
Bisa di pastikan oleh Fatih, jika saat ini pasti Romi langsung ngacir untuk mencari semua kebutuhannya itu. Fatih menoleh ke arah pergelangan tangannya, Tak ada lagi jam yang melingkar di sana. Seperti nya Fatih besok harus membeli jam tangan baru. Fatih melihat jam yang ada di dalam ponselnya, Sudah menunjukkan pukul 10 lewat 24 menit.
"Masih ada lah yang buka toko jam segini. Lagian ini juga salah satu tes rahasia yang harus di jalani Romi. Mana tau dia bisa jadi pendamping Rara buat jadi asisten gue."
Fatih membuka semua bajunya dan membiarkannya terjatuh di lantai. Fatih memilih untuk berendam di dalam kamar mandi dengan air hangat. Seharian bekerja membuat tubu nya lengket, walaupun cuaca tak panas, Bahkan terbilang sangat dingin. Namun hati Fatih yang memanas membuat diri nya gerah seharian.
*
Raysa tertidur di sofa sambil memeluk lututnya. Entah berapa lama ia menangis, yang jelas Raysa tak ingat kapan juga diabteetidur. Mungkin Raysa tertidur saat dirinya kelelahan menangis.
Ponsel Raysa berdering, namun Raysa yang terlalu kelelahan menangis tak lagi mendengar suara ponselnya. Di sana nama Farhan dan Bunda Sasa bergantian muncul menghubungi Raysa.
Raysa terbangun saat mendengar suara Azan. Raysa merasa kepalanya pusing, beserta mata yang berat karena habis nangis semalaman. Raysa pun tak tau apa yang membuat diri nya menangis hingha seperti itu. Hati nya sakit, tapi Raysa tak tau kenapa hati nya bisa sesakit itu di saat diri nya tanpa sengaja menyakiti hati Fatih.
"Aakkhh .... kabur deh semua pandangan."
Raysa menekan matanya pelan, kemudian ia berjalan pelan kearah kulkas dan mengambil beberapa es batu kecil. Raysa memasukkan sendok kedalam es batu yang berada di dalam gelas.
Raysa pun ke kamar mandi untuk membuang Ari kecil dan menggosok gigi. Raysa kembali ke dapur dan mengambil sendok tersebut dan meletakkannya di mata.
"Ahh, dingin ...."
Setelah merasa enakan, Raysa pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Tak lupa Raysa mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Saat Raysa ingin membuat sarapan, bel apartemen Raysa berbunyi. Raysa menoleh kearah jam yang lengket di dinding seperti cicak.
Sudut bibir Raysa tersungging saat memikirkan siapa yang datang biasa nya di jam segini. Dengan langkah cepat Raysa membuka pintu.
senyum Raysa luntur di saat seorang pria yang tak asing berdiri di hadapannya.
"Maaf menganggu pagi Nona. Ini "
Pria tersebut memberikan sebuah kunci mobil kepada Raysa. Raysa memandang kunci mobil yang berada di tangan pria tersebut dan kembali ke wajah pria itu.
Terlihat wajah kebingungan Raysa, akhirnya pria itu mengenakkan diri nya.
"Ah, saya Romi. Sekretaris nya Bos Fatih."
Raysa seakan mengingat di mana bertemu dengan pria yang bernama Romi. Kenapa Raysa seperti ini? Biasa nya Raysa tak akan pernah lupa dengan wajah siapa pun. Ini, sudah dua kali ia melupakan wajah orang lain. Pertama Tissa, kedua Romi. Kalo di ingat-ingat, Raysa melupakan semua yang bersangkutan dengan Fatih.
"Untuk apa?" Tanya Raysa.
"Oh, Bos menyuruh saya mengantar kunci mobil ini untuk Nona Raysa."
Tak berapa lama ponsel Raysa berdering. Raysa pun tak memperdulikannya hingga ponsel Raysa berhenti berdering.
"Mana bos kamu?" Tanya Raysa kepada Romi.
__ADS_1
"Itu__" belum lagi Romi menjawab pertanyaan Raysa, Ponsel Romi pun berdering dengan nyaring.
Romi mengambil ponselnya yang berada di dalam saku jas nya. Tertera nama Bos nya di sana.
"Halo Bos."
Raysa langsung menoleh kearah Romi, ia tajam kan pendengarannya berharap bisa mendengar apa yang Fatih katakan kepada Romi.
Romi memberikan ponselnya kepada Raysa.
"Bos ingin berbicara."
Raysa menarik napasnya, kemudian di buang secara perlahan, barulah Raysa meraih ponsel yang berada di tangan Romi.
"Assalamualaikum ..."
"Walaikumsalam, Ca kamu bawa aja ya mobil aku. sayang mesin nya kalo gak di pantai."
"Kamu di mana?"
"Aku sudah di Bandara,"
"Apa aku boleh mengantar mu?"
"Tidak perlu, lagi pula sebentar jadwal keberangkatan ku."
"Baiklah, bisakah kamu kasih kabar jika sudah sampai?'
"Insya Allah, tapi jangan menunggu kabar dari ku. Karena aku sangat sibuk hari ini. Ini adalah proyek penting, jadi mungkin aku tidak akan memegang ponsel ku."
"Aku akan tetap menunggu kabar dari kamu."
"gimana baik nya sama kamu aja. Ya sudah, aku tutup dulu ya. Kamu jangan lupa sarapan. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Raysa mengembalikan ponselnya kepada Romi dan meraih kunci mobil Fatih.
"Kalau begitu saya permisi."
"Tunggu, apa benar Bang Fatih akan ke Surabaya?" Tanya Raysa meyakinkan firasatnya.
"Iya, saat ini Bos mungkin Sudah berada di bandara."
Raysa menghela napasnya. Romi kembali membungkukkan sedikit tubuhnya dan kemudian ia benar-benar berbalik menjauh dari apartemen Raysa.
Raysa menutup pintu, dan berjalan gontai kearah meja makan.
"Jangan menangis lagi ca,." ujarnya kepada diri sendiri.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....