Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 49


__ADS_3

Lana: Brengsek. Calon binik gue ke dua itu, awas Lo macam-macam, Layca Lo gue jadiin yang ke tiga.


Ancam nya di sebuah pesan singkat itu.


Me : Coba aja, dan gue pastikan Lo bakal mendapatkan undangan pernikahan Gue dan Anggel secepatnya.


Send


Fatih memegang perutnya yang sakit karena menahan tawa. Bisa di pastinya jika saat ini Lana sedang mengumpati dirinya.


Anggel menatap kesal kepada Fatih yang terkikik mengeluarkan suara.


"Maaf, jika anda tak bisa diam, silahkan keluar." Ujar Anggel menatap Fatih dengan tajam.


Fatih meringis dan menelan ludahnya kasar, ia tersenyum dan meminta maaf. Fatih menyimpan ponselnya dan kembali fokus menatap Anggel. Anggel melanjutkan kembali kelasnya yang terganggu oleh Fatih.


*


"Bawhahahah ....." Quin tertawa terbahak-bahak melihat Anggel memarahi Fatih.


"Gemes banget tau gak, Nyebeliin..." Kesal Anggel sambil memukul tubuh Fatih.


"Aduh ... aduh .. ampun buk Dokter.. Ampun.." Ujar Fatih sambil melindungi wajah nya agar tak terkena pukulan dari Anggel.


Namun, Tiba-tiba pintu kaca tersebut terbuka dan menampilkan Lana dengan raut wajah tak senang. Anggel sampai terkejut karena kehadiran Lana dan terjatuh di atas pangkuan Fatih.


Lana membelalakkan matanya dan menarik tangan Anggel agar menjauh dari pangkuan Fatih. Fatih pun mengulum senyum nya.


"Kamu gak papa kan?" Tanya Lana kepada Anggel. Anggel pun menganggukkan kepalanya sebagai pengganti jawabannya bahwa dirinya baik-baik saja.


"Sok perhatian kamu, bilang aja cemburu kalo Fatih mesra-mesra dengan Anggel." Celetuk Quin.


"Siapa yang cemburu." Ujar Lana sambil mendudukkan dirinya di samping Quin, Tanpa memperhatikan wajah cemberut Anggel.


Fatih yang melihat itu pun merasa kesal kepada Lana. Ia pun merasa iba dengan perasaan Anggel kepada Lana yang bslisa di katakan sebelas dua belas dengan dirinya.


"Lo ngapain di sini?" Tanya Fatih menatap Lana.


"Kenapa? gak boleh?"


"Tanya aja, biasa aja dong jawabnya." Fatih berdiri dan mengambil kunci mobilnya.


"Yuuk," Fatih menggenggam tangan Anggel. Membuat si empu nya terkejut dan hanya mampu mengedipkan matanya.


Fatih tau, saat ini pasti Anggel sedang merasa cemburu, dan Fatih tau bagaimana rasanya.


"Mau ke mana?" Tanya Lana, Quin yang juga ingin bertanya mengurungkan niatnya. Ia memperhatikan wajah Lana yang menatap ke arah tangan Fatih dan Anggel dengan tatapan gak suka.


"Ada deh, rahasia gue dan Anggel. Quin, gue pamit ya." Ujar Fatih dan menarik tangan Anggel dengan lembut.


"Hati-hati di jalan." Quin pun mengantar Fatih dan Anggel sampai keluar toko kue miliknya.

__ADS_1


"Kamu mau pesan kue atau masih mau menatap kepergian mereka?" Suara Quin menyentak Lana dari lamunannya.


"Kasih aku cake kayak biasa deh."


"Oke, tapi aku gak temenin yaa. Aku mau masak."


"Aku di rooftop ya."


"Hmm.." Quin pun berlalu, kemudian ia mengatakan kepada Lala untuk menyiapkan cake seperti bisa untuk Lana dan mengantarkannya ke rooftop.


*


"Kita mau ke mana?" Tanya Anggel yang bingung, karena Fatih masih tak melepaskan kenggaman tangannya.


"Ke mall, bareng Steva."


Fatih meraih ponselnya dan membuat panggilan kepada Steva. Terdengar nada sambung di sana, sehingga sang empu menjawabnya.


"Abang tunggu di mobil ya, sekarang."


Fatih pun menyimpan ponselnya saat Steva menjawab ucapanyannya.


"Fatih, aku bawa mobil sendiri."


Fatih kembali mengeluarkan ponselnya, ia membuat panggilan kepada salah satu pengawal dan menyuruh membawa mobil Anggel pulang.


"Sudah."


Anggel menghela napasnya, hari ini sebenarnya ia hanya ingin berbaring di rumah sambil menonton drakor. Menghilangkan penat pekerjaan nya yang membuat kepalanya pusing.


"Aku tau, kamu saat ini sedang merasakan sakit. Di sini." Ujar Fatih sambil menunjuk dada nya.


"Aku pingin menyerah dan melupakan perasaan aku kepada Lana. Tapi sungguh, aku tak bisa melupakannya. Semakin aku ingin menghilangkan perasaan ini, semakin aku mengharapkan dirinya."


"Aku tau, karena aku merasakan hal yang sama." Fatih menoleh kepada Anggel.


"An, psikiater yang bagus menurut Lo siapa?"


Anggel langsung menoleh kearah Fatih dan mengerutkan dahi nya.


"Aku ingin melupakan Layca. Mungkin dengan berkonsultasi dengan psikolog, aku bisa menghilangkan rasa cinta atau obsesi ku kepada Layca. Jadi, saat Layca memilih pasangan hidupnya, maka hati ku masih terlindungi dan tak akan hancur lagi."


"Kamu yakin?"


"Ya .."


"Hmm, Dokter Faisal. Beliau adalah psikiater hebat."


"Oke, aku akan membuat janji dengan nya besok."


"Fat," Lirih Anggel.

__ADS_1


"Ya?"


"Aku ingin melupakan Lana, Tolong daftarkan aku juga."


*


Steva sangat senang karena ia bisa berjalan-jalan dengan sang Abang dan juga Kak Anggel. Dan itu membuat Steva teringat akan Raysa yang dulunya sering menemani dirinya dan Sofi berjalan-jalan di mall bersama Fatih.


"Abang, makan di sana yuk." Steva mengajak Fatih untuk duduk di restoran yang menyajikan menu makanan yang di masak sendiri. Di mana lagi ngetren nya saat ini.


"Yuk lah."


Anggel hanya menurut dan menikmati kebersamaan mereka. Setidaknya Anggel bisa melupakan rasa sakit hati nya saat melihat Lana yang duduk di sebelah Quin tadi. Bagaimana Lana memandang Quin dan juga bahasa tubuhnya.


Anggel tetiba menatap kearah Fatih yang masih menatap kearah menu, bersama Steva yang sepertinya sedang membahas menu apa yang ingin mereka pesan.


'Apa kamu merasakan sakit seperti ini Fat? Atau lebih sakit dari ini. Aku tau, kamu sengaja membawa aku pergi dari sana, agar aku tak terlalu lama merasakan sakit ini. Kamu hebat Fat, sanggup menahan nya selama ini. Aku doain, semoga kamu menemukan pujaan hati kamu dan kamu bahagia bersamanya.' Batin Anggel dengan tulus.


*


Raysa menatap kosong kearah televisi. Ia merasa Bosan, berkali-kali Raysa melihat kearah ponselnya. Namun orang yang di harapkan nya tidak juga memberikan kabar kepadanya.


"Apa aku kirim pesan aja ya duluan?" seru nya pada diri sendiri.


Raysa meraih ponselnya, kemudian ia membuka percakapan pesan pendek dengan Fatih.


'Apa kabar?'


Raysa kembali menghapus pesan itu, ia menggelengkan kepalanya untuk tidak mengirim pesan yang terlihat sangat kaku.


'Kapan pulang?' Raysa menatap isi penanya, kemudian ia menggelengkan kepalanya dan menghapusnya kembali.


'Fatih, kok gak kasih kabar?'


lagi, Raysa menghapus pesan tersebut. Raysa menghela napasnya, ia bingung ingin mengirim pesan apa untuk Fatih.


'Fatih, aku rindu.'


Raysa memandangi isi pesan tersebut dan kembali menghapusnya. Namun, saat Raysa ingin menghapus, pesan tersebut tak sebagai terkirim kepada Fatih, dan membuat Raysa membelalakkan matanya.


"Mampus gue..."


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2