
Tissa menyentuh perutnya, tanpa dia sadari, satu tetes air matanya mengalir dengan mulus membasahi pipinya. Pandangannya masih terfokus ada jalanan di luar sana. Melihat aku lalang kendaraan yang berselisih dengan kendaraan yang dia naiki.
Tissa terkesiap saat tangannya di genggam hangat oleh Farhan. Wanita itu pun menoleh ke arah sang suami yang tengah menyetir mobil.
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersama kamu," ujar Farhan dan mengecup punggung tangan Tissa.
Tidak mencoba menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, akan tetapi yang terjadi adalah wanita itu menangis terisak.
Farhan meminggirkan mobil yang dia kendarai dan langsung menarik tubuh Tissa ke dalam pelukannya.
"Sst, jangan menangis. Perjalanan kita masih panjang. Kita akan terus berusaha bersama sampai kapan pun. Jangan pernah menyerah," bisik Farhan kepada sang istri.
"Ba-bagaimana jika semua cara itu tak berhasil?" ujar Tissa di sela Isak tangisnya.
"Kamu harus percaya, tak ada usaha yang tak membuahkan hasil. Insya Allah, dengan terus berikhtiar, berdoa, dan berusaha, semuanya pasti bisa kita lewati. Percayalah!"
Tissa menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Farhan. Pria itu terus mengusap punggung sang istri, hingga wanita yang ada di dalam pelukannya itu merasa tenang.
"Udah tenang?" tanya Farhan saat Tissa merelai pelukannya.
Tissa menganggukkan kepalanya. Apapun akan dia lakukan demi bisa mendapatkan buah hati. Semangatnya untuk mendapatkan buah cinta dengan Farhan, semakin menggebu saat melihat Farhan menggendong baby twins.
*
"Kok melamun? Kenapa?"
Raysa menoleh ke arah Mami Anggun yang datang untuk melihat jahitan Raysa dan juga si baby twins.
"Mi, Ica boleh tanya gak?"
"Mau tanya apa?"
"Itu, kak Tissa."
Mami Anggun yang tengah menggendong Rayyan pun menoleh ke arah Raysa.
"Kamu tau kan? Etika kedokteran?"
__ADS_1
"Iya, tau Mi. Tapi, Ica penasaran! Berapa kemungkinan untuk Kak Tissa bisa hamil? Ica tadi sempat melihat Kak Tissa menghapus air matanya saat menggendong Rayhan. Maka dari itu, Ica ingin tahu perkembangan pengobatannya."
Mami Anggun menghela napasnya pelan, wanita paruh baya itu tersenyum lembut kepada sang putri. "Kita doakan saja yang terbaik ya. Semoga mereka mendapatkan keajaiban yang di berikan oleh Allah."
Hanya jawaban seperti itu yang Raysa dapatkan. Akan tetapi, Raysa sudah cukup paham apa arti dari perkataan Mami Anggun. Perjuangan Farhan dan Tissa untuk memiliki bayi tidaklah gampang. Banyak langkah dan jalan yang panjang harus mereka tempuh. Raysa berdoa, semoga saja Allah memberikan keajaiban kepada pasangan tersebut.
*
Fatih menelan ludahnya dengan kasar saat melihat baby Reyhan sedang menyusu. Bagaimana tidak, ASI Raysa saat ini sudah lancar dan mulai melimpah. Pengaruhnya juga kepada dada Raysa yang semakin membesar, yang mana membuat Fatih tergoda untuk mencicipinya.
Fatih berjalan mendekati sang istri, kemudian pria itu mentowel-towel pipi sang putra yang tengah menyusu.
"Duh, enak banget yaa? Kencang banget nyusunya." Fatih masih menowel-nowel pipi Reyhan.
"Abang Rey, gantain dong sama Papi. Papibjuga mau." ujar Fatih sambil menelan ludahnya dengan kasar.
Raysa membulatkan matanya saat mendengar ucapan vulgar dari sang suami. Baru saja Raysa ingin mencubit pinggang Fatih, eh udah keduluan sama Bunda Sasa yang menjewer telinga sang suami.
"Aww... sakit Bun, aww..." ringis Fatih.
"Mulutnya ya, di depan anak," kesal Bunda Sasa.
"Belajar di jaga tuh omongannya, ntar kebiasaan di depan anak ngomong begituan."
Fatih hanya mengusap telinganya yang terasa perih sambil mengerucutkan bibirnya. Raysa mengulum senyumnya melihat wajah sang suami yang tengah cemberut.
"Ini, air sari kacang hijaunya. Di minum ya," Bunda Sasa meletakkan segelas sari kacang hijau ke atas nakas. Sebelum berlalu meninggalkan kamar sang putri, Bunda Sasa pun menyempatkan diri untuk mencubit hidung Fatih dengan gemas.
Raysa masih mengulum bibirnya melihat tingkah sang suami yang sangat menggemaskan.
"Puas kamu, Layca?" ujar Fatih dengan nada merajuk.
"Heum, habisnya Abang suka ngebandot sih," ejek Raysa masih dengan mengulum bibirnya.
"Liat aja kalau kamu udah gak nifas lagi, aku bakal__" Fatih menggantung ucapannya dan menatap Raysa dengan tatapan laparnya.
"Dasar pria mesum dan jablay," gerutu Raysa yang mana membuat Fatih tertawa lepas, sehingga membuat baby Rayyan yang tengah tertidur pulas terkejut dan menangis, begitu pun dengan baby Reyhan yang tengah menyusu pun ikut terkejut.
__ADS_1
"Iih, Abang, suka banget sih gak kontrol keadaan," kesal Raysa dan memukul Fatih dengan guling bayi.
Fatih langsung membuatkan susu untuk Rayyan, agar bayi mungilnya itu kembali diam dan tidur dengan nyenyak.
"sst ... sstt ... maafin Papi, ya. sstt ..." Fatih masih berusaha menenangkan sang putra dengan menggendongnya dan memberikannya susu. Setelah mendapatkan susu, Rayyan pun kembali diam sambil menyedot kuat susu yang ada di dalam botol tersebut.
"Lain kali lihat-lihat kondisi dong," ujar Raysa pelan dengan tatapannya yang tajam.
Fatih hanya bisa menyengir dan meminta maaf kepada sang istri.
*
Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Banyak hal yang Raysa rasakan saat menjadi seorang mama muda. Selama ini Raysa hanya mendengar cerita dari Quin, Anggel, dan juga Kayla yang harus bergadang untuk menjaga bayi mereka.
Seperti malam ini, Raysa sudah sangat mengantuk, karena sudah seharian ini Reyhan dan Rayyan rewel. Mungkin karena rindu dengan sang Papi yang tengah pergi ke luar kota. Padahal Raysa sudah memakai kemeja Fatih, tapi tetap saja Rayyan rewel. Setidaknya Rayhan sudah lebih tenang dari pada Rayyan.
"Masih belum mau tidur?" tanya Bunda Sasa yang baru saja meletakkan Reyhan di atas tempat tidur.
Ya, Fatih dan Raysa memang sengaja tak ingin meletakkan bayi mereka tidur di dalam box, menurut mereka, tidur bersama akan mendatangkan chemistry tersendiri antara orang tua dan anak.
"Udah tutup mata, tapi pas Ica gerak, terbangun lagi," ujar Raysa dengan lesu.
Lihat saja, di bawah mata Raysa sudah terlihat cekungan hitam. Padahal baru sehari Fatih pergi.
"Ya udah, sini Bunda yang gendong, kamu tidur aja ya."
Raysa pun mengangguk dan memberikan Reyhan kepada sang bunda. Raysa membaringkan dirinya di dekat Rayyan yang sudah tertidur pulas, tak butuh waktu lama bagi Raysa untuk terlelap dalam tidurnya.
"Ica udah tidur?" tanya Daddy Bara yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Iya, lelah banget kayaknya. Reyhan rewel terus. Untung Rayyan gak terlalu rewel."
"Rindu papi-nya itu. Sini, Reyhan biar sama aku, kamu istirahat juga," ujar Daddy Bara dan mengambil alih sang cucu.
Bunda Sasa tersenyum saat melihat sang suami menggendong Reyhan. Ingatannya kembali saat di mana mereka baru memiliki Raysa. Daddy Bara sangat siaga, bahkan beliau tidak tidur semalaman demi sang istri agar bisa beristirahat dengan baik.
...Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa......
__ADS_1
...Jangan lupa, Follow Ig authornya juga ya.....
...Rira_Syaqila...