Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 79


__ADS_3

Fatih sudah menyiapkan makan malam romantis di sebuah restoran mewah yang sudah jauh-jauh hari ia reservasi.untuk merayakan hari ulang tahun Raysa. Dan juga masalah kalung, tentu saja Fatih sudah  memberikannya langsung kepada Raysa untuk dipakainya saat makan malam perayaan ulang tahun Raysa.


Ceklek


Fatih menatap penampilan Raysa yang terlihat sangat cantik sekali. Gaun hitam yang membalut tubuh rampingnya dengan bagian lengan berbentuk sabrina. Bahkan leher jenjang Raysa di hiasi oleh kalung mutiara pemberian Fatih sebagai kado ulang tahunnya.


Ya, kalung itu seharusnya menjadi hadiah untuk Raysa di hari ulang tahunnya, namun berhubung kejutannya sudah keburu ketahuan oleh Raysa, jadi Fatih pun memutar otaknya untuk memberikan hadiah pertama di hari ulang tahun Raysa di saat status mereka sebagai sepasang kekasih.


“Abang, kok liatinnya gitu? Jelek ya?” Tanya Raysa dengan melihat kembali kearah gaun yang ia kenakan.


“Kamu cantik banget.”


Wajah Raysa langsung merona merah karena malu.


“Sudah siap? Kita berangkat sekarng? Aku takut khilaf kalo lama-lama di sini.” ujar Fatih saat Raysa membukakan pintu apartemennya.


“Sudah, tunggu sebentar ya, aku ambil tas dulu.”


“Iya.”


Fatih menunggu Raysa di depan apartemennya. Fatih merasa jantungnya semakin berdetak cepat karena melihat penampilan Raysa yang terlihat sangat cantik dengan gaun yang mereka beli beberapa hari lalu.


“Yuk ...” Raysa langsung merangkul lengan Fatih.


“Kamu cantik banget, Layca.”


“Abang juga tampan.”


Fatih dan Raysa pun sama-sama tersenyum.


Hari ini, demi hari spesial pujaan hatinya, Fatih mengikat rambutnya dengan rapi serta memakai jas lengkap tanpa dasi. Lihatlah, Fatih benar-benar terlihat sangat tampan. Raysa saja sampai tak bisa mengalihkan keperhatiannya dari Fatih. Bahkan jantung Raysa berdetak dengan begitu cepatnya.


Meja yang sudah di hiasi dengan sebuket mawar merah dan juga coklat-coklat yang di bentuk menyerupai kue ulang tahun. Terdapat lilin indah ynag menghiasi meja tersebut.


Fatih menarik kursi untuk Raysa duduki, Setelah memastikan posisi duduk Raysa yang aman. Fatih pun berpindah ke kursi yang da di seberang Raysa.


“Kamu suka?” Tanya Fatih saat melihat Raysa mengambil buket buka mawar dan menghirupnya.


Raysa memang menyukai segala jenis bunga mawar.


“Hmm, Abnag selalu tau apa yang aku suka.”


“Ya, karena aku ini belahan jiwa kamu.”


Raysa menganggukkan kepalanya dengan antusias. Fatih yang melihat nya pun terkekeh geli karena Raysa terlihat sangat menggemaskan.


Tak berapa lama pelayan datang dengan membawakan pesanan yang sebelumnya sudah Fatih pesankan. Fatih memesan menu tenderloin steak with black papper sauce dan rib eye steak with mushroom gravy sauce. Dengan di temani teh rosella yang di campur dengan es dan juga coklat panas untuk Fatih. Serta tak lupa air mineral.


Dan di tutup dengan dessert trifle chocolate greentea cake yang lezat dan nikmat.


“Abang tau aja kalo Ica lagi pingin trifle chocolate greentea?”


“Kan udah pernah abang bilang. Kalo abang itu orang yang paling mengenal kamu, lebih dari siapapun. Bahkan abang lebih satu tingkat dari Daddy kamu.”


Raysa menganggukkan kepalanya menandakan jika ia setuju dengan apa yang Fatih katakan. Fatih mengambil Tenderlion steak with black papper sauce milik Raysa dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil agar pujaan hatinya itu bisa menikmati hidangan nya dengan mudah dan nikmat.


“Makasih Abang.” Raysa menerima piring yang Fatih berikan kepadanya.


“Enak?” Tanya Fatih saat melihat Raysa menyuapkan sepotong daging kedalam mulutnya.


“Hmm, enak banget. Lembut, empuk, gurih, nyampur dah jadi satu.”


“Syukur deh kalo kamu suka.”


Fatih pun mulai memotong daging miliknya.


“Itu apa?” tanya Raysa yang penasaran dengan menu milik Fatih.


“Ini namanya rib eye steak with mushroom gravy sauce.”


“Selalu milih yang ada jamurnya ya.”


Fatih tersneyum, ternyata Raysa nya juga memperhatikan hal kecil pada dirinya sendiri.


“Kenapa liatnya gitu? Pasti mikir kalo aku gak tau jika abang suka menu makanan yang ada jamur nya kan?”


“Gak kok, aku lagi mikir kamu cantik banget malam ini.”

__ADS_1


 “Ohh, jadi Cuma malam ini aja gitu?” rajuk Raysa, yang sebenarnya hanya berpura-pura merajuk.


“Cantiknya beda kalo malam ini.” Ujar Fatih sambil menggenggam tangan Raysa. “Dan malam pertama kita nanti, aku yakin jika kamu pasti sangat cantik dengan keringat yang membasahi wajah kamu saat berada di bawah kungkungan ku.” Batin Fatih.


Ya kali Fatih ngomong gitu sama Raysa, bisa bonyok dia jadi Fatih steak ntar. Hi.. hi .. hi ..


Melihat Raysa tersenyum manis, Fatih pun melepaskan genggaman tangannya agar Raysa bisa kembali menikmati hidangan yang tersedia.


Raysa sesekali mencuri padangan kearah Fatih, ingatan tentang kebersamaan mereka pun kembali berputar.


“Hikks ....”


“Loh, Ica kok nangis? Kenapa?”Tanya Daddy Bara


“Tadi ada es krim yang lewat, tapi pas Ica panggil, abang es nya gak mau berenti.”


“Nih ...”


Raysa mendongakkan kepalanya saat melihat sebuah tangan memegang es yang di sodorkan ke arahnya.


“Fatih, sama siapa ke sini?”tanya Daddy Bara.


“Sama Mami dan Papi.”


“Tuh, abang Fatih bawa eskrim untuk Ica. Bilang apa ke abang Fatih?”


 “Makasih abang.” Raysa mengambil es krim yang ada di tangan Fatih.


“Kamu tau Mas, saat Fatih lihat Ica lari-lari ngejar abang es dan gak berhenti, Fatih minta aku buat putar mobil


hanya untuk membeli es untuk Ica.”


“Benarkah? Waah, Fatih selalu menjadi pahlawan ya untuk Ica, Daddy kalah di buatnya.”


“Iya dong, karena Fatih di lahirkan untuk menjadi pelindung Layca.” Ucapnya dengan bangga.


Raysa tersenyum mengingat sekeping kenangan yang hinggap di kepalanya.


“Kok senyum-senyum?” Tanya Fatih yang meliaht raysa tersenyum sendiri.


“Abang masih ingat saat kita kecil dulu gak?”


“Abang selalu bilang, kalo abang di lahirkan untuk menjadi pelindung Layca.”


Fatih tersenyum. “ Kamu masih ingat?”


“Hmm, aku masih ingat. Aku juga ingat saat Rayyan lahir, Abang yang membuat aku berhenti menangis.”


“Waah, ingatan kamu bagus banget. Harus aku kasih hadiah.”


 “Oh ya, apa hadiahnya?”


“Selesain dulu makannya.”


Raysa pun menganggukkan kepalanya dengan antusias. Fatih tersenyum di saat Raysa memakan makananya dengan penuh semangat. Setidaknya Raysa tak menikmati hidangan tersebut dengan malu-malu. Ini lah yang fatih inginkan, Raysa menjadi dirinya sendiri.


Setelah makanan utama habis, Raysa dan Fatih pun menikmati dessert yang mereka pesankan sambil menemani obrolan ringan mereka.


“Oh ya, jadi ini gak ada kue ulang tahun ya?”


Fatih terkekeh. Kamu mau kue ulang tahun?”


“Ya dong. Kan biasanya gitu. Habis makan, terus bakal datang kue ulang tahunnya.


“Oh, maafin aku ya, aku lupa untuk memsankan kue ulang tahunnya. Kamu tau kan, aku bolak balik Bandung dan Jakarta.”


“Ya udah deh, gak papa. Trus, kado aku yang abang janjiin mana?”


“Tutup dulu mata kamu.”


Raysa menurut dan menutup matanya. “Jangan ngintip ya.”


“Iya ...”


 Dalam fikiran Raysa, pasti saat ini dirinya akan mendapatkan kejutan romantis seperti di film-film. Akan ada pelayan yang mendorong troli dengan membawakan kue ulang tahun dan juga hadiah yang sangat indah pastinya. Raysa tak sabar untuk membuka matanya, tapi ia harus menahannya agar rasanya semakin membuatnya terkejut dan terpukau.


Raysa merasakan jka tanganya di sentuh oleh Fatih. Ia membuka matanya di saat Fatih menyuruh membuka matanya.

__ADS_1


“Raysa Prayoga Bahari. Di hari yang spesial ini, aku ingin mengungkapkan perasaan ku yang selama ini aku rasakan. Aku mencintai kamu, sangat.”


“Aku tau, dan aku juga mencintai kamu.” Jawab Raysa dengan senyum yang mengembang.


“Layca, aku mungkin bukan seorang puitis yang pintar merangkai kata, tapi aku hanya serorang arsitek yang pintar membangun sebuah rumah untuk mu. Rumah yang akan menjadi rumah kita berdua, dimana akan menjadi bukti cinta kita, dan juga tangisan dari anak-anak kita nanti.”


Raysa semakin mengembangkan senyumnya, bayangan tentang sketsa rumah yang Fatih perlihatkan kepadanya beberapa hari lalu membuat dirinya sudah berani mengkhayalkan tentang hari-hari indah yang akan mereka bangun.


“Layca, mau kah kamu menikah dengan ku? Menjadi istri ku dan ibu dari anak-anaku?”


Raysa menganggukkan kepalanya denagan cepat dan bersemangat.


“Mau, aku mau. Mau banget malahan.” Jawab Raysa yang mana membuat Fatih terkekeh.


Fatih membuka sebuah kotak bludru berwarna navi dan memeprlihatkan cincin permata yang indah yang beberapa hari lalu mereka pesan untuk menjadi pengganti cincin tunangan mereka saat ini.


“Cincin ini?”


“Iya, cincinnya udah siap. Sini aku pakein.”


Raysa membiarkan Fatih melepaskan cincin pertunangan mereka yang Farhan berikan, kemudian menggantikanya dengan cincin yang baru. Raysa pun melakukan hal yang sama kepada Fatih. Melepaskan cincin pertunangan yang pertama dan di gantingan dengan yang baru.


“Cantik bangeet, sangat cocok di tangan kamu.”


Fatih mengecup jari jemari Raysa, kemudian menangkup wajahnya dan mencium keningnya.


“Pingin cium ini, tapi gak enak di lihat orang.” Kekeh Fatih sambil menyentuh bibir Raysa yang mana membuat Raysa memutar bola matanya. Fatih kembali duduk di bangkunya dan kembali menikmati dessert yang masih tersisa.


“Cuma gitu aja?” tanya Raysa yang mana seolah sedikit kecewa dengan apa yang Fatih lakukan.


“Huum, kan tadi aku udah bilang kalo lupa pesan kue ulang tahun.” Jawab Fatih santai  sambil mengemut sendok yang masih menyisakan coklat di sana.


Raysa tiba-tiba saja merasa kesal. Makan malamnya memang romantis, tapi perayaan ulang tahunnya sama sekali tidak romantis. Raysa ikut melanjutkan memakan dessert nya kembali dengan perasaan kesal.


Suasana romantis yang Raysa rasakan tadi tiba-tiba berubah menjadi biasa aja. Bukannya karena tak bersyukur dengan apa yang sudah Fatih berikan atau berharap sebuah kejutan yang super mewahnya. Namun setidaknya ada gitu lagu romantis yang Fatih nyanyikan atau musik yang di sediakan oleh pihak restoran untuk mereka


berdansa.


Fatih menahan senyumnya saat melihat wajah Raysa yang cemberut. Namun ia sengaja membiarkan Raysa seperti itu dan pura-pura tidak memperhatikannya.


Sudah hampir 10 menit mereka menikmati Dessert yang tersedia di sana tanpa pembahasan yang berarti. Seriap Fatih mengajak Raysa untuk berbicara, pasti Raysa akan menanggapinya dengan sebuah gumaman. Fatih tau jika Raysa mulai semakin kesal dengannya, karena Fatih mengajaknya berbicara membahas tentang model cantik


yang akan menjadi brand ambasador kosmetik yang sebentar lagi akan rilis.


“Pulang yuk,” ajak Raysa yang mulai bosan dengan suasana yang seharusnya romantis dan spesial tersebut.


 “Oke, aku juga lelah banget hari ini rasanya.”


Fatih sengaja membuat Raysa semakin kesal.


“Aku bayar dulu ya.”


Baru saja Fatih berdiri, tiba-tiba seluruh lampu mati.


Kreeek ....


Terdengar suara kursi yang bergeser seperti di tarik.


“Abang, kamu di mana?”


Tak ada suara yang menyahut, Raysa mulai berdebar-debar.


Bugh ... Akh ....


Prang .....


“Abang ...” Pekik Raysa dalam kegelapan.


 


**


Hai .. hai ... Aku mau minta tolong dong.


Mampir ke Novel ku yang baru netas ya ..


Judulnya : Twins A and Miss Ceriwis.

__ADS_1


Jangan lupa di Favoritkan dan like nya ya ...


Salam dari abang Fatih dan Layca


__ADS_2