
Bara terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga lupa mengembalikan Tas Sasa. Dari pagi Bara terus sibuk dengan kasus Puput, karena menurut anak buah Bara, yang memata-matai Puput bukan kalangan dari preman. Pesan dari Lia pun belum ada satu pun yang di balasnya.
Di toko kue, Fadil sudah merepet dengan Sasa karena tidak bisa di hubungi.
" Sok artis banget sih Lo"
" Apaan sih, datang-datang merepet. Kayak emak-emak kurang uang belanja aja Lo"
" Gue hubungi Lo dari kemarin gak bisa-bisa. Ponsel lo nggak aktif, kemana aja sih Lo?"
" Hp gue? oh.. masih di kantor polisi"
" Kok bisa?
Sasa menatap Fadil, kemudian dia menceritakan kronologi kejadian saat dia hampir di jambret.
" Lo gak pa-pa kan?" Tanya Fadil yang menarik tangannya.
" Aaww, sakit tau"
" sorry - sorry, Lo gak pa-pa kan?"
" Gue gak pa-pa, luka juga udah kering karena di kasih salep"
" Bagus deh, makanya Lo tu lain kali hati-hati."
" Gue udah hati-hati kali"
" Ya tetap aja, kalo pulang malam mending naik taksi online atau apa gitu. Lagian gaji Lo kan besar, pelit amat sih"
Sasa langsung mencibirkan bibirnya mendengar repetan Fadil.
" Mau apa Lo cari gue?"
" Gue ada rapat ke hari ini sekalian tinjau lapangan, Lo ada perlu sesuatu untuk di beli?"
" Oh, ada sih. "
" Ya udah, Lo bilang aja berapa, nanti gue transfer"
" Jangan transfr, kasih kontan aja. Dompet gue juga masih di kantor polisi"
" Ya ela, Lo ambil gih sana. Atau mau gue temenin?"
" Gak usah, nanti gue minta tolong Bela aja buat ambilin tas gue."
" Ya udah, Lo perlu duit berapa?"
Sasa meninggalkan Fadil, dan mengecek persediaan barang yang kosong. Sasa kembali dan memberitu kepada Fadil berapa uang yanb di butuhkan. Setelah memberikan uang kelapa Sasa, Fadil meinggalkan Sasa karena Puput sudah menelponnya dan memberitahukan jadwalnya hari ini.
Seperti hari-hari biasa, toko kue tidak pernah absen dari para polisi yang datang untuk menikmati cake di sana, dan bahkan ada juga yang beberapa menggoda Sasa. Sasa harus tahan banting dengan para polisi yang sok kegantengan itu.
" Mbak gak pa-pa kan?" Tanya Lena yang memperhatikan wajah Sasa sudah pucat.
" Hmm, kayaknya gue istirahat bentar deh, Lo jaga kasir sebentar ya"
Sasa menuju ruang peristirahatan, Sasa membuat teh hangat untuk dirinya, dan menyesapnya.
" Ya ampun, lama-lama gini bisa drop gue" gumamnya.
Setelah merasa enakan, Sasa kembali membantu Lena dan yang lainnya. Hari ini tidak ada penampakan Bara yang biasanya selalu menggangu ketenangan Sasa. Sasa bersyukur, tapi kali ini Sasa berharap Bara datang dengan membawa tasnya. Semua identitas, domoet, dan posnelnya berada di dalam tasnya.
Di rumah Daddy Roy, Kiki sedang berebut nasi goreng teri dengan Bara. Hari ini hari Minggu, kebetulan Bara tidak pergi kekantor.
" Bara, kamu sudah tambah hingga 2 kali, biar Kiki yang menghabiskan." Tegur Mami Shella.
" Tapi Mi, Kiki juga sudah menghabiskan 2 piring"
" Aduh Bara, kamu ngalah dong sama Kiki."
Bara dan Kiki saling memberi tatapan tajam, kemudian mereka langsung menyendokkan nasi tersebut dan berlomba menghabiskannya. Suasana meja makan kembali ramai dengan perdebatan Bara dan Kiki.
" Yeey, Mas Bara menang"
"Ih, Mas Bara curang"
__ADS_1
" Yee, siapa suruh mulutnya kecil. Weekk"
Mami Shella hanya mampu menggelengkan kepalanya. Kedua putra nya ini sungguh benar-benar menggemaskan. Eh, boleh kah Mami Shella menganggap Kiki anaknya? Ah, terserah Mami Shella dong. Kesya aja di monopoli oleh Mami Shella, bagaimana Kiki Tidak. Ha.ha..ha..
Rumah yang sempat sepi sejak Vina dan Kesya menikah, terisi oleh kehadiran Kiki. Kemudian tak lama Bara yang kembali pulang kerumah, dan syukur Alhamdulillah Bara juga sudha di pindah tugaskan di sini. Jadi Mami Shella tidak perlu berjauhan lagi kepada sang Putra
"Bara, ada yang mencari kamu di depan" Panggil Daddy Roy.
Bara melangkahkan kakinya menuju teras. Bara melihat Andi, anak buahnya yang sedang memegang tas seorang wanita. Yang di duganya adalah milik Sasa.
" Maaf Pak, ini tas Nona Sasa "
Bara baru teringat jika Tas Sasa masih berada di kantor polisi dan belum dia serahkan kepada Sasa. Sebenarnya Bisa saja Andi yang memberikan tas itu langsung kepada Sasa, namun Bara meminta Andi untuk mengantarkan tas itu ke rumah.
" Ah ya, terima kasih"
Kemudian Andi pun meninggalkan rumah Bara.
" Siapa Bar?" Tanya Mami Shella.
" Oh itu, Andi anak buah Bara."
" Tas siapa itu?
" Oh, Sasa"
" Sasa? Sasa yang kerja di toko kue Kesya?"
Bara menganggukkan kepalanya, "kenapa Bisa sama kamu?"
" Emm, crita panjang"
Bara pun menceritakan tentang kejadian saat Sasa di jambret, dan masuk rumah sakit.
" Ya ampun Sasa, trus Sasa gak kenapa-bapa kan Bar"
" Gak pa-pa Mi, cuma dapat 4 jahitan aja di lengan kirinya."
" Salam buat Sasa dari Mami ya. Dia itu anaknya baik dan penurut. Mami suka sekali lihat dia."
" Ya sudah, hati-hati nanti ya."
" Mas Bara mau ke toko kue ya, aku nitip black fores potong ya"
" Siaapp "
Bara yang sudah melajukan mobilnya menuju toko kue yang juga menyatu dengan Cafe cake pun entah kenapa tersenyum saat menatap tas Sasa yang berada di bangku penumpang. Bara jadi teringat saat dia mengantarkan Sasa pulang. Sasa ngotot akan pulang sendiri, tapi kondisinya yang ternyata lemas membuat dirinya tak mampu berdiri lama. Padahal yang terkena goresan pisau adalah lengannya. Tapi kenapa kepalanya yang pusing?. Saat Sasa masih belum sadarkan diri, Sasa sempat mengigau dan mengatakan 'jangan tembak', Dan dokter sempat memberikan obat penenang kepada Sasa. Dan saat dia tertidur dalam mobil pun, Sasa juga mengigau ' Jangan tembak', membuat Bara menatap wajahnya yang penuh keringat dingin. Bara ingat kata dokter, jika kemungkinan Sasa memiliki Trauma dari suara tembakan yang sempat dia dengar saat Salah satu temannya melumpuhkan penjambret yang akan kabur tersebut. Entah apa alasannya hingga dia memiliki trauma tersebut. Akan tetapi Dokter yang menangani Sasa mengatakan, agar tidak membahas tentang suara tembakan tersebut.
Bara melihat gadis mungil dari pintu kaca, sedang tersenyum ramah kepada para pelanggan. Wajahnya sudah kembali ceria, dan tidak pucat lagi. Senyum itu, Bara berharap agar suatu hari nanti senyum itu juga akan di berikan Sasa untuk nya. Dan Bara berjanji agar senyum itu tidak akan pernah luntur lagi dari bibir mungilnya yang menggoda.
' Hei Bara, sadarkan dirimu. Ingat, kamu sudah punya tunangan'. Bara menghela napas kasar. Di bukanya pintu, Melangkah dengan mantap dan tersenyum manis kepada mungil nya.
Mungilnya?
Sasa yang tadinya tersenyum ramah kepada pelanggan, tiba-tiba senyum itu luntur seketika, dan berubah menjadi jutek karena sudah ada Bara di hadapannya.
" Mau pesan apa?" Tanya Sasa jutek.
" Mau balikin ini" Bara menunjukkan Tas nya.
Sasa menatap Tas ransel hitam yang berada di tangan Bara. Sasa meraih tas tersebut, namun Bara menarik dengan cepat tas nya hingga Sasa hanya menggapai angin. Sasa menatap Bara tajam.
" Ada yang mau Saya omongin"
Sasa menaikkan alisnya sebelah, seolah-olah bertanya tentang apa.
" Soal Puput" Ujar Bara kembali.
Sasa mengernyitkan keningnya, kemudian dia menganggukkan kepalanya. " Duduk di sana aja."
" Ketempat lain, karena Saya merasa di sini gak aman"
" Hufftt, Maaf, Saya masih jam kerja saat ini"
" Jam berapa kamu selesai?"
__ADS_1
" Sore"
" Saya gak bisa menunggu lama"
" Ya udah, duduk di situ aja kalo mau ngomong"
Bara mendengus kesal. " Oke, kita bicara di situ"
Sasa menganggukkan kepalanya, Sasa keluar dari meja kasir, dan saat Sasa berjalan menuju meja cafe, Bara langsung mencengkram tangannya dan menarik Sasa. Sasa tidak mau kalah, Sasa mencoba melepaskan diri, namun Bara yang ternyata juga bisa bela diri mengunci gerakan Sasa, Memeluk tubuh Sasa sehingga Sasa yang badannya kecil, tenggelam dalam rengkuhan Bara. Dan dengan sedikit dorongan Bara membawa Sasa keluar dari toko kue dan memasukkannya ke dalam mobil. Lena dan yang lainnya hanya mampu menatap kepergian Sasa yang Dimata mereka terlihat sangat romantis. Aaaahhhhh..
" Dasar Polisi gi**aaa" Teriak Sasa,
Bara tersenyum miring mendapati Sasa yang kesal. Sasa sedari tadi mencari cantelan untuk membuka kunci agar dia bisa langsung melompat dari mobil Bara. sayangnya mobil Bara termasuk mobil canggih, yang tidak bisa sembarangan di buka.
" Sial" Umpat Sasa.
" Cewek manis itu mulutnya jangan pedas-pedas, mending keluarin kata-kata yang manis aja"
Sasa menatap tajam kearah Bara. jika membunuh tidak dosa, mungkin saat ini juga Bara sudah di mutilasinya. 'Hah, untung sudah tobat' Batin Sasa.
Bara menghentikan mobilnya di kantor polisi di daerah tempat kejadian Puput bermula di kejar. Sasa yang sadar akan di mana Bara membawanya langsung mengeraskan rahangnya dan menahan amarahnya.
" Untuk apa Anda bawa saya ke sini?" Ujar Sasa yang sudah dengan wajah memerah karena amarah.
Bara menaikkan alisnya sebelah, " Kita akan bahas di dalam"
Bara membuka kunci mobil, dan ini kesempatan Sasa untuk lari, namun Bara dengan cepat mengejar Sasa, dan menariknya untuk masuk.
" Lepasin"
" Jangan melawan, saya perlu kamu."
" Saya gak mau masuk kesana, lepasin" Berontak Sasa.
Bara langsung saja menggendong Sasa di bahunya. Sasa masih saja terus memberontak sambil memukul-mukul punggung Bara. Mata hanya meringis karena ternyata pukulan Sasa terasa sakit di punggungnya, hingga Bara menurunkan Sasa di kursi di ruangan salah satu temannya.
"Lepasin brengsek "
" Sasa"
Sasa dan Bara langsung mengalihkan pandangan kearah sumber suara. Sasa membelalakkan matanya, pria yang berada di depan pintu itu adalah pria yang hampir melecehkannya.
Potongan-potongan kilas kejadian saat dia hampir di lecehkan pun terlintas di fikiran Sasa. Potongan kejadian saat ayahnya tertembak, serta saat ibunya di seret kedalam jeruji besi. Bahkan saat ibunya keluar dari penjara setelah menjadi mayat, semua kilasan ingatan itu terbayang oleh Sasa seakan menjadi sebuah potongan film yang sedang tayang. Sasa memejamkan matanya untuk mengenyahkan semua potongan kejadian yang seakan sedang menayangkan tontonan ulang.
Sasa dulu di tangka dengan tuduhan Seperti biasa, saat itu Sasa sedang menangkap pencopet, naasnya Sasa yang di tuduh mencopet. Untungnya Sasa sudah mengenal Fadil, hingga Fadil yang membebaskannya. Saat menunggu Fadil yang ternyata sedang dinas keluar kota, Sasa hampir saja di lecehkan, dengan kondisi Sasa yang terborgol, membuat Sasa susah untuk bergerak. Cacian, makian, dan hinaan terlontar untuk Sasa.
Bara melihat ada kemarahan terpancar dari mata Sasa.
" Ngapain Lo di sini" Bentak Sasa. Setau Sasa pria itu tidak bertugas di kantor yang saat ini Dirinya dan Bara Datangi.
Pria itu hanya tersenyum miring dan mendekati Sasa. Pria itu berfikir jika Sasa di tangkap oleh Bara, maka pria itu berniat untuk memberikan pelajaran kepada Sasa, karena pernah menendang aset berharganya hingga harus dirawat di rumah sakit.
Pria itu ingin mencengkram wajah Sasa, namun dengan gerakan cepat, Sasa memelintir tangan pria itu, Sasa bangkit dari duduk nya, dan membuat pria itu berlutut dengan tangan yang terplintir ke belakang punggungnya.
" Sasa" Panggil Bara dan langsung melepaskan juniornya dari cengkraman Bara.
Sasa langsung di bawa ke belakang tubuh Bara. Bara memanggil Andi dan menyuruh membawa Tio yang terlihat kesakitan karena ulah Sasa. Tio adalah pria yang di plintir oleh Sasa tadi.
"Lepasin Gue" Teriak Sasa saat Bara merangkul Bahunya.
" Dengerin Saya dulu"
Tiba-tiba saja Sasa sudah berteriak histeris dan langsung di rengkuh oleh Bara kedalam pelukannya, tak berapa lama ponsel Bara berdering dan menampilkan nama Fadil di sana.
" Halo Dil"
" Bar, Sasa Sama Lo? anak buah gue bilang__" Perkataan Fadil terhenti karena mendengar teriakan histeris Sasa.
" Aaaakkhh, gue gak salah, lepasin gue, Dasar brengsek" Teriak Sasa yang sudah memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
" Bar, di mana Lo? Sasa kenapa?"
Bara sudah tidak pemperdulikan ponselnya, fokus Bara terletak kepada Sasa yang masih memberontak di dalam pelukannya dan berteriak histeris.
*Readers... Budayakan siap membaca jangan lupa tancapkan Jempolnya ya.. kasih Like biar aku nya semakin semangat...
__ADS_1
Salam SaBar ( Sasa Bara )