Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 115


__ADS_3

Raysa membuka matanya, hal yang pertama kali ia lihat adalah sang Bunda dan Mami yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya.


"Bun, Mi," lirih Raysa yang mana mengambil atensi Oma Shella.


"Ica udah bangun?" ujar Oma Shella sambil menghampiri sang cucu.


"Ica kenapa?"


"Kamu pingsan, Sayang."


Mendengar obrolan Oma Shella dan Raysa pun, Bunda Sasa dan Mami Mili terbangun dari tidur.


"Sayang," seru keduanya sambil tersenyum lebar.


"Ica kenapa?" tanya Raysa lagi dengan menatap bingung kearah sang Bunda dan Mami Mili yang sedang memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ica mau minum? atau Kamu lapar?" tanya BUnda Sasa tanpa menjawab pertanyaan Raysa.


"Ica haus,"


Bunda Sasa pun meraih gelas yang ada diatas nakas. Raysa meneguk semua air yang ada didalam gelas tersebut.


"Bun, Mi, Oma, Ica kenapa?" tanya Raysa lagi.


"Kamu pingsan," ujar Bunda Sasa dengan tersenyum lebar.


Raysa mengerutkan keningnya, kenapa jika dirinya pingsan, sang Bunda, Mami, dan Oma Shella malah tersenyum? Bukannya seharusnya sedih ya?


"Kok Bunda, Mami, dan Oma seneng banget Ica pingsan?" rajuk Raysa.


"Ya gimana gak senang? Karena sebentar lagi Bunda bakal jadi Nenek," seru Bunda Sasa.


Raysa mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud dari perkataan sang Bunda. Bukannya saat ini Bunda Sasa memang sudah menjadi nenek ya?


"Maksudnya gimana?" tanya Raysa bingung.


"Maksudnya, di dalam sini ada calon cucu Mami," ujar Mami Mili sambil mengelus perut rata Raysa.


Raysa mencerna apa yang dikatakan oleh Mami Mili. Raysa pun refleks menyentuh perutnya.


"Maksud Mami? Ica hamil?" tanya Raysa ragu dengan suara yang bergetar setelah mencerna apa yang dikatakan oleh Mami Mili.


"Iya sayang, Ica hamil." ujar Bunda Sasa dan Mami Mili hampir berbarengan.


"Ica hamil? dan itu artinya sebentar lagi Ica bakal jadi ibu gitu?" tanya Raysa dengan suara yang bergetar dan menahan bulir bening yang siap untuk mengalir.


"Iya sayang, sbentar lagi ICa bakal jadi Ibu,"


"Hiks .. Ica hamil? Hiks ... Alhamdulillah ya Allah," puji syukur Raysa kepada yang maha kuasa.

__ADS_1


*


Fatih berlari menuju kamar saat mendengar kabar jika Raysa telah sadar. Sebenarnya Fatih tetap berdiri tak jauh dari ruang rias pengantin, dimana Raysa berada didalam sana.


"Layca, Sayangku, cintaku, manis manja mengkek ku," seru Fatih sambil berlari dan memeluk Raysa.


"Bang, Aku tercekik," seru Raysa sambil memukul bahu Fatih berkali-kali karena Fatih terlalu memeluknya.


Fatih langsung merelai pelukannya dan melihat kondisi keadaan Raysa dan meminta maaf berkali-kali.


"Maaf, sayang maaf. maafin Aku," seru Fatih sambil menangkup pipi Raysa.


"Iya, Aku maafin kok,"


Fatih langsung mencium bibir Raysa tanpa melihat situasi dan kondisi.


"Fatiihh ... lihat-lihat dong kalo mau mesum," pekik Mama Keysa yang mana saat ini ada anaknya veer dan Nafi bersama dengan mereka yang hampir saja ikut menyaksikan adegan tersebut.


Fatih terkekeh saat Bunda Sasa memukul punggungnya dengan gemas.


*


"Bang, Aku bisa jalan sendiri loh," Ujar Raysa saat Fatih ingin memindahkan Raysa kedalam kamar mereka dengan cara menggendongnya.


"Aku gak mau kamu kelelahan,"


"Gak lelah kok, cuma jalan dikit aja, Malu tau dilihatin orang. Kayak kita aja yang pengantin baru," ujar raysa dengan mengerucutkan bibirnya.


Raysa memutar bola matanya malas, sepertinya berdebat dengan Fatih bukanlah hal yang bagus saat ini.


Fatih meletakkan raysa dengan perlahan diatas tempat tidur.


"Kamu mau apa?" tanya Fatih saat melihat raysa ingin turun dari tempat tidur.


"Mau pipis, udah kebelet nih, minggir dong,"


Bukannya menyingkir, Fatih malah mengikis jarak dan dengan sekali gerakan Raysa kembali kedalam gendongannya.


"Abang, turunin, Aku bisa sendiri,' seru Raysa dengan kesal.


"Aku gak mau terjadi apa-apa sama Kamu," uajr Fatih dan membawa Raysa menuju kamar mandi.


Fatih juga membantu Raysa membuka celananya, yang mana sempat terjadi perdebatan diantara mereka.


"Abang, Aku bisa sendiri," seru Raysa saat fatih mencoba menarik turun celananya.


"Aku bantu, lagian aku udah pernah melihat bahkan mencicipinya," ujar Fatih yang mana membuat wajah Raysa memerah.


Akhirnya Raysa pun membuang air kecil dengan perasaan malu bercampur kesal, yang mana Fatih memang benar-benar dengan setia menemaninya didalam kamar mandi. Bahkan Fatih juga memandangi semua gerak gerik Raysa.

__ADS_1


Setelah selesai, Fatih membantu Raysa untuk berbersih dan juga mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


"Aku bisa sendiri loh, Bang," kesal Raysa.


"Aku hanya membantu saja kok, Aku takut jika Kmau membutuhkan bantuankku," ujar Fatih memberikan alasan yang menurut Raysa tak masuk akal.


"Iya, tapi Kamu buat aku udah seperti sakit parah tau," gerutu Raysa.


"Aku hanya tak ingin Kamu kelelahan. Baiklah, sekarang kita bersihin wajah Kamu ya,"


Raysa pun hanya bisa pasrah dan menghela napasnya pelan. Raysa membiarkan Fatih membersihkan wajahnya yang masih terdapat make up.


Setelah selesai, Fatih kembali menggendong Raysa dan meletakkan Raysa dengan sangat hati-hati diatas tempat tidur. Fatih membenarkan rambut Raysa yang sedikit berantakan, kemudain ia mengecup kening Raysa.


Fatih pun kemudian menunduk kearah perut Raysa dan mengelus perut yang masih rata itu.


"Selamat tidur anak Papi, sehat selalu ya." ujar Fatih berbicara didepan perut Raysa sambil mengelusnya. Tak lupa Fatih membacakan surah Al-Fatihah dan meniupkannya diperut Raysa.


Seketika, Raysa merasakan hatinya menghangat, bahkan rasa kesal didalam danaya pun dalam sekejap menguap entah kemana. Mata Raysa pun terasa berkabut mendapatkan perhatian yang begitu lebay namun terasa sangat menyentuh.


"Makasih ya, udah sabar hadapi Aku selama ini, dan udah mau perjuangin aku selama ini, hiks AKu---"


Fatih langsung merengkuh tubuh Raysa, ia kecup pucuk kepala Raysa dengan sayang.


"Aku yang harusnya makasih sama Kamu, karena telah membalas cinta AKu, dan bersedia menghabiskan sisa umur hidup Kamu bersama Aku. Dan terima kasih, karena telah bersedia mengandung anak dari Aku."


"Anak Kamu, anak Aku. Kita buatnya bersama, Kamu ingat kan?" ujar Raysa yang mana membuat Fatih ingin menguncungi calon anaknya.


Namun, Fatih menahan hasrat itu agar tak membuat Raysa kelelahan. Fatih tak ingin membuat Raysa dan calon anak mereka lelah menghadapi hasratnya.


*


"Raysa, selamat ya. Aku ikut bahagia dengernya," ujar Tissa kepada Raysa saat mereka sedang sarapan bersama.


"Makasih, kak. Aku harap kakak cepat menyusul ya,"


Tissa tersenyum tipis. "Insya Allah,"


"Kakak jangan patah semangat sebelum berjuang. Semangat kak, jaman udah canggih, banyak dokter-dokter hebat yang akan menolong kakak," uajr Raysa sambil melirik kearah Mami Anggun, yang telah mengambil spesialis bayi tabung. Anggel yang juga berposfesi sebagai dokter kadnunga, dan banyak lagi dokter hebat yang akan membantu Tissa untuk memiliki keturunan. Dan itu, sudah dibicarakana secara kekeluargaan.


*maaf ya gak up kemarin, maag ku kumat, gk sanggp mikir.


**


Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.


Jangan lupa like and komen.


Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA

__ADS_1


salam rindu Tissa dan Farhan


__ADS_2