
Bunda Sasa membuka pintu kamar yang selama ini di isi oleh kehadiran anak gadisnya. Bunda Sasa melangkahkan kaki nya memasuki kamar tidur Raysa. Dengan langkah yang pelan, Bunda Sasa memperhartikan seluruh isi kamar yang sebentar lagi akan sedikit mengalami perompakan. Terutama lemari, yang mana di dalamnya hanya terisi baju-baju Raysa, sebentar lagi akan bertambah dengan baju-baju Fatih di dalamnya.
Dengan perlahan Bunda Sasa mengeluarkan satu persatu baju yang ada di dalam lemari. Membelai baju tersebut seolah membelai sang putri.
“Ini baju yang sering banget Ica pakai,” gumamnya dan memeluk baju tersebut.
Air mata Bunda Sasa pun jatuh membasahi pipi nya. Bunda Sasa mengangkat baju tersebut dan menghirup aroma Raysa yang menempel di baju. Setelah mengeluarkan semua baju yang ada di dalam lemari dan memasukkannya ke dalam koper, Bunda Sasa pun beralih ke meja rias yang Raysa miliki. Meja itu juga akan di ganti dengan meja rias yang baru, pastinya lebih besar untuk meletakkan perlengkapan Fatih dan Raysa.
Bunda Sasa melihat sebuah album foto yang ada di dalam laci meja rias milik Raysa. Bunda Sasa yang penasaran pun akhirnya membuka tiap lembaran foto tersebut. Bunda Sasa tersenyum di saat melihat foto-foto Raysa masih duduk di bangku SMP.
Ya, Raysa menyimpan sendiri foto-foto kenangannya yang duduk di bangku SMP. Bunda Sasa mengelus setiap foto yang menampilkan wajah Raysa. Bunda Sasa mengelus foto-foto itu seolah sedang mengelus wajah sang putri.
“Hmm, Gak nyangka banget kalo kamu udah besar, nak.”
Bunda Sasa menghapus air matanya dengan perlahan. Bunda Sasa tersenyum dalam tangisnya sambil melihat foto-foto Raysa bersama teman-temannya. Bunda Sasa memperhatikan setiap foto yang ada di dalamnya.
“Loh, ini kan?”
Bunda Sasa bergegas keluar kamar dan mengambil album foto lainnya yang ada di bawa laci televisi. Bunda Sasa kembali ke dalam kamar Raysa dan melihat album foto yang baru saja di ambilnya dari laci meja televisi.
“Dasar anak nakal, gak suka dengan Fatih tapi nyuri foto-foto Fatih.”
Bunda Sasa tertawa kecil melihat lembaran foto yang hilang di dalam album foto keluarga, dan foto itu adalah foto Raysa dan Fatih, di mana Fatih sedang membujuk Raysa di saat menangis karena memiliki adik seorang laki-laki lagi. Foto itu sudah lam sekali hilang, mungkin saat Raysa duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Bunda Sasa kembali melihat foto yang hilang dari album keluarga. Di mana foto saat Raysa ulang tahun dan Fatih memberikan kado kepadanya. Lagi-lagi foto itu sudah lama hilang dari album keluarga.
Entah berapa banyak lembar foto yang hilang dari album kelaurga, dan ternyata pencurinya adalah Raysa.
“Hmm, Bunda senang kamu akhirnya dengan Fatih. Bunda dari dulu udah bisa nebak, jika kamu itu sukanya sama Fatih. Dari dulu itu kamu sering banget merhatiin Fatih dari jauh, apalagi kalo tau Fatih sakit, kamu langsung merengek minta jenguk Fatih.” Bunda Sasa kembali terkikik sambil mengelus foto-foto tersebut.
Bunda Sasa menghela napasnya pelan, bersyukur karena akhirnya Raysa menemukan cintanya yang sebenarnya. Tiba-tiba saja Bunda Sasa teringat akan sesuatu hal, Raysa meminta di tugaskan ke Bandung dengan alasan ingin menikuti jejak sang Daddy. Padahal farhan tak bertugas di sana, hanya Fatih yang sering bolak balik ke Bandung. Mungkinkah??
“Dasar anak nakal, tak cinta tapi ingin selalu dekat-dekat dengan Fatih.”
Bunda kembali melihat semua kenangan foto-foto di saat Raysa menggunakan seragam biru hingga seragam abu-abu. Bunda Sasa beralih ke album keluarga, dimana terdapat foto-foto Raysa masih kecil di sana. Dari Raysa baru baru lahir, hingga Raysa Dewasa. Ya Bunda Sasa memang sengaja membuat satu album khusus untuk setiap
anak-anaknya.
Bunda Sasa melihat sebuah foto yang menampilkan dirinya dan Raysa kecil, mungkin berkisaran umur satu tahun setengah. Ingatan Bunda Sasa kembali pada kejadian saat itu. Di mana Bunda Sasa membawa Raysa dalam gendongan kanggurunya dengan menggunakan motor menuju Sabar Express. Sepulang dari sana, Bunda Sasa di
marahi oleh Oma Shella karena membawa Raysa seperti itu. Sungguh sangat berbahaya. Bunda Sasa menangis sesenggukan karena baru kali ini di marahi oleh Oma Shella dengan sangat keras. Selama ini Bunda Sasa memang sering membawa Raysa naik motor dengan menggunakan gendongan kanguru, akan tetapi itu hanya ke
taman komplek saja, tidak jauh. Namun Sabar Exprees itu jaraknya lumayan jauh dari rumah Oma Shella. Menempuh tiga puluh menit perjalanan raya dengan polusi, asap, abu, dan juga terik matahari. Wajar saja Oma Shella marah dan mengkhawatirkan keselamatan sang cucu.
Bunda Sasa menangis hingga mogok makan, Oma Shella pun enggan meminta maaf karena terlalu kesal dengan perlakuan Bunda Sasa. Ternyata bukan kali itu saja terjadi, sudah beberapa kali di saat Oma Shella sedang ada acara ibu-ibu PKK dikantor Opa Roy. Sepulangnya Daddy Bara dari kantor, Daddy Bara mendengar kabar
jika Bunda Sasa membawa Raysa ke Sabar Express naik motor dengan menggunakan gendongan kangguru pun langsung mendatangi Bunda Sasa di dalam kamar. Daddy Bara terlihat menahan emosinya, namun juga tak tega saat melihat Bunda Sasa masih sesenggukan dengan tangisnya. Daddy Bara melirik ekarah jam tangannya,
__ADS_1
bisa di katakan sudah dua jam Bunda Sasa menangis sejak di marahi oleh Oma Shella.
Bunda Sasa pun menatap Daddy Bara dengan sendu dan rasa bersalah yang dalam. Terlihat Daddy Bara menghela napasnya dalam dan berjalan mendekati Bunda Sasa. Tak ada kata-kata, Daddy Bara langsung merengkuh tubuh mungil sang istri hingga tangis Bunda Sasa pun kembali pecah.
Tak ada di dunia ini yang ingin mencelakai anaknya, saat itu Bunda Sasa memang benar-benar haru sdatang ke sabar Express untuk memberikan tanda tangan atas kerja sama dari perusahaan online yang menggunakan jasa mereka. Bunda Sasa juga tak asal-asalan saja membawa Raysa, Bunda Sasa mengikat Raysa dengan kain
hingga tubuhnya menempel di tubuh Bunda Sasa. Bunda Sasa tutupi kepalanya dengan hijab dan di tutupi lagi dengan jaket agar tak terkena panas sinar matahari. Namun, yang namanya kekhawatiran seorang nenek, berbeda dengan kekhawatiran seorang ibu.
Katanya, Nenek lebih menyayangi cucu nya dari pada anaknya. Benarkah? Hi .. hi .. hi .. menurut pengalaman author, mama ku lebih sayang dengan cucu-cucu nya dari pada aku. Aku makan pake minyak
dan garam tak apa, asal cucunya makan pake ikan. Ada yang samaan gak yaa, tunjuk tangannya ... hehe, jadi curhat.
Oke, kita lanjut lagi.
Jadi, setelah Bunda Sasa puas menangis di dalam pelukan daddy Bara sehingga membuat Daddy Bara tak tega untuk menegur Bunda Sasa pun, akhirnya Bunda Sasa tertidur dan tak ikut makan malam. Dan, apa kalian tau, mogok makannya hingga siangnya. Sebenarnya bukan mogok makan karena kesal dengan Oma Shella, melainkan karena takut di marahi lagi oleh Oma Shella. Maklum, wajah Oma Shella lagi mode galak. Hingga akhirnya Bunda Sasa makan karena di marahi lagi oleh Oma Shella. Kata Oma Shella, ‘ngembek boleh, tapi perut harus di isi. Ingta, Ica masih nyusu. Cepat, keluar makan, pergi makan sana, Ica biar Mami yang jaga.”
Bunda Sasa pun kembali nangis, tapi kali ini Bunda Sasa langsung mengejar Oma Shella dan memeluknya. Bunda Sasa meminta maaf karena udah membuat Oma Shella marah dan khawatir, Oma Shella pun ikut menangis dan memukul bok*ng Bunda Sasa layak nya anak yang masih kecil. Yaa, begitu lah orang tua. Walaupun anaknya sudah besar dan menikah, namun di mata mereka anak-anaknya tetaplah anak-anak.
Bunda Sasa menghapus air matanya. Semua kenangan manis itu kembali terlintas dalam benaknya bagaikan puzlle yang tersusun rapi. Dalam hati Bunda Sasa, jika saja itu terjadi pada Raysa yang memmbawa anaknya dengan menggunakan motor ke jalan raya, maka Bunda Sasa juga akan mengkhawatrikan cucunya.
Pintu kamar pun terbuka, menampilkan Oma Shella yang penasaran melihat pintu kamar Raysa terbuka sedikit. Oma Shella pun masuk kedalam kamar dan mendapati Bunda Sasa menangis.
“Loh, kok nangis, kenapa?”
“Ini Mi, lihat Ica sewaktu kecil. Gak nyangka aja sebentar lagi Ica akan menyandang gelar seorang istri.” Bunda Sasa menghapus air matanya. “Hmm, perasaan baru kemarin deh dia lulus sekolah, gak nyangka ya sebentar lagi akan menikah. Cepat banget rasanya waktu berjalan.”
“Eh, Sa baru aja ingat kejadian itu, Mi.” Bunda Sasa terkikik bersama dengan Oma Shella.
*
Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda, Mami Mili memasuki kamar Fatih untuk membereskan semua barang yang ada di sana. Walk in closet yag baru saja di tambah dengan lemari untuk Raysa pun sudah tersusun rapi baju-baju Raysa yang sudah Mami Mili belikan. Begitu pun dengan meja riasnya sudah di isi dengan
perlengkapan Raysa dan Fatih. Tak banyak yang di ubah oleh Mami Mili. Pesan Fatih hanya satu, jangan menyentuh foto yang ada di atas ranjang tempat tidur.
Kalian masih ingat Foto apa?
Yupss, Foto Fatih yang sedang menennagkan Raysa di saat Raysa menangis karena memiliki adik laki-laki, bukan perempuan. Foto yang paling di sukai oleh Fatih, karena di sana Raysa terlihat tersenyum dengan tulus kepada nya.
Mami Mili mengusap air matanya, anak laki-lakinya telah dewasa dan dirinya akan semakin tua. Mami Mili tak menyangka jika impian Fatih menjadi kenyataan. Impian Fatih yang juga menjadi harapannya. Karena hanya bersama Raysa, Fatih bisa menjadi dirinya sendiri. Dan sepertinya ada satu hal yang harus Mami Mili
ikhlaskan, yaitu dapurnya yang pasti suatu saat akan di pakai oleh Raysa untuk memasak jengko. Makanan kesukaan Papi Gilang dan Fatih.
Mami Mili pun menghela napasnya pelan. Sudah menjadi nasibnya untuk menderita di saat tak bisa tidur karena tak mendapatkan pelukan dari Papi Gilang. Salah sendiri, ngusir papi Gilang dari kamar kalo sampai makan jengkol.
*
Persiapan pernikahan Raysa tinggal dua hari lagi. Raysa sudah kembali dari Bandung dan saat ini sedang menjalani ritual siraman. Daddy Bara menangis saat akan memandikan Raysa, tangis seorang Ayah yang sebentar lagi akan melepaskan putri kesayangannya itu. Daddy Bara memeluk Oma Shella dan menangis sesenggukan. Ini
__ADS_1
baru acara siraman, tapi Daddy Bara sudah merasa sesedih itu. Raysa pun ikut terisak karena melihat Daddy Bara menangis seperti itu. Bunda Sasa mengusap air mata sang putri dengan sayang.
“Daddy dan Bunda sangat menyayangi Ica.” Bunda Sasa daratkan ciuman di kening sang putri satu-satunya itu.
Setelah acara siraman, di lanjutkan dengan acara pembacaan Doa, Daddy Bara kembali menangis di saat mendengar ceramah pengajain tersebut.
“Jika tangan sang ayah dan calon mempelai pria telah berjabat tangan, di sambung dengan pembacaan Ijab dan Qabul serta di sambung dengan kata Sah, maka detik itu juga benang merah itu terputus. Beban sang ayah atas putrinya telah berpindah kepada suami. Surga sang anak yang di abwah telapak kaki sang ibu, menjadi di bawah
kaki sang suami. Maka, untuk ananda Raysa, tetap berbaktilah kepada kedua orang tua mu. Bagaimana pun, mereka lah yang telah mendidik dan membesarkan mu penuh cinta. Minta maaflah kepada mereka, selagi surga mu masih di bawah telapak kaki ibu mu.”
Raysa menangis senggugukan, dengan segera Raysa berlari kearah Daddy Bara dan Bunda Sasa yang memang duduk bersebelahan. Raysa bersujud di atas pangkuan sang Daddy dan Bunda, memohon ampun atas segala dosa-dosa yang telah ia perbuat semasa hidupnya. Seluruh orang yang ada di ruangan itu pun ikut terharu dan menangis melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Mereka tahu, bagaimana sayang nya Daddy Bara kepada sang putri. Bagaimana Daddy Bara memanjakan sang putri semasa hidupnya, walaupun dengan didikan militernya, namun kelembutan tetap selalu ada di dalam diri Daddy Bara.
*
Kayla yang masih hamil terpaksa mengikuti titah dari sang ratu Quin. Ya elah, Quin sama Anggel mah enak, mereka brojolnya Cuma beda minggu aja. Apalagi saat ini mereka udah habis masa nifasnya, jadi di ajak berendam di kolam mah asik-asik aja. Lah Kayla? Lagi hamil tua ini. Takutnya brojol di kolam jacuzzi lagi.
“Gimana rasanya mau nikah, Ca?” tanya Quin.
“Senenglah Mbak pastinya. Tapi deg-degkan juga.”
“Hmm, pastu deg-degkan saat mau anu-anu kan?” tebak Anggel.
Seketika wajah Raysa langsung memrah, di mana langsung di sambut tawa oleh Quin, Kayla, Desi, Nafi, dan Anggel.
“Eh, bumil. Ketawanya jangan kuat-kuat, brojol di sini udah berendam air ketuban kita, bukan lagi air susu.”celetuk Nafi, yang mana Kayla langsung merengut sambil memanyunkan bibirnya.
“Mbak, emangnya sakit ya saat pertama kali.”
“Pertama kali apa nih?” Goda Quin.
“Emm, itu lah Mbak, pertama kali di tembusin.”
“Duuh, kasih tau gak yaa, tapi masih ada anak kecil di sini, gimana dong?”
“Mbak, aku udah gede, bentar lagi juga nyusul kok, tapi itu kalo di lamar cepat sama si Jo.”
Sontak saja semua tertawa mendengar kekesalan Desi yang mana Jo masih sibuk dengan pendidikannya dari pada membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih seriuus..
Pada nungguin yaa ... he .. hee .. hee. ..
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.
Jangan lupa like and komen.
Salam Sayang dari FATIH n RAYSA.
__ADS_1
Salam Rindu dari FARHAN n TISSA