
Kini Leonard dan Soraya sudah berada di ruang tamu. Mereka duduk berhadapan dengan pengacara tersebut.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu kalian." Pengacara itu memulai pembicaraan
"Pake nanya lagi. Ya, jelaslah kau sudah mengganggu waktu istirahatku bersama istri kesayanganku!" barin Leonard.
"Ach. Tidak apa-apa, tuan. Saya dan adik perempuan saya tidak merasa terganggu akan kedatangan tuan kemari. Sebenarnya ada masalah apa tuan datang kemari?"
"Saya ingin bertemu dengan Nyonya Pingkan dan tuan muda Mirza. Dimana mereka? Kenapa sudah dua bulan ini saya tidak pernah bertemu dengan mereka? Apa yang terjadi?" ucap dan tanya pengacara itu.
^^^
Pengacara itu adalah Pandy Alertmand. Pengacara kepercayaan keluarga Robert. Bukan hanya sebagai pengacara saja, Pandy juga bekerja sebagai pengawal dan juga pelindung untuk seluruh anggota keluarga Robert. Bahkan Pandy menyuruh beberapa orang-orangnya untuk selalu mengawasi dan memata-matai suami kedua Pingkan Robert yaitu Leonard dan juga wanita yang mengaku adiknya.
"Jadi tuan ingin bertemu dengan istri dan putraku, ya?" tanya Leonard.
"Iya. Dimana mereka? Suruh mereka keluar. Ada yang ingin saya sampaikan pada mereka berdua." Pandy menjawab pertanyaan dari Leonard.
"Maafkan saya, tuan. Istri dan putraku Mirza sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang berlibur keluar negeri. Awalnya saya tidak mengizinkan mereka pergi. Tapi Mirza merengek ingin pergi kesana. Akhirnya saya pun mengizinkannya," jawab Leonard.
"Kenapa anda tidak ikut bersama mereka??" tanya Pandy.
"Saya ingin ikut bersama mereka, namun Mirza hanya ingin pergi berdua saja dengan ibunya. Lalu saya bisa apa?" jawab Leonard.
"Hm, baiklah! Kapan mereka kembali?" tanya Pandy.
"Mampus," batin Leonard.
Leonard terdiam. Dirinya bingung harus menjawab apa.
"Kak Pingkan dan Mirza akan kembali minggu depan," jawab Soraya tiba-tiba.
Leonard menatap kearah Soraya. "Ach, sial! Kenapa Soraya menjawabnya minggu depan?" batin Leonard.
Pandy yang melihat wajah Leonard saat menatap wajah Soraya tersenyum licik. Sebenarnya Pandy sudah tahu apa yang terjadi pada Pingkan dan Mirza. Pandy tahu dari orang-orang yang memata-matai Leonard selama ini. Hanya saja Pandy berpura-pura tidak mengetahuinya. Pandy ingin mengikuti semua permainan dari mantan suami Pingkan.
"Ada apa? Kenapa anda menatap adik perempuan anda seperti itu? Apa ada yang kalian sembunyikan dari saya?" tanya Pandy.
"Ach, tidak tuan. Saya hanya terkejut saja atas jawaban adik saya yang mengatakan bahwa istri dan putra saya akan pulang minggu depan," jawab Leonard.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Apa anda tidak senang mereka kembali?" tanya Pandy lagi.
"Bukan begitu, tuan. Masalahnya saya suaminya, namun mereka tidak memberitahu kepulangan mereka pada saya. Sementara kepada adik perempuan saya, mereka justru memberitahunya." Leonard memberikan jawaban yang tak terduga dengan jantung yang gugup.
"Licik. Benar-benar licik. Dia pandai sekali mencari alasan. Bahkan semua alasan-alasannya itu masuk akal. Jika orang lain, mungkin orang itu langsung percaya." Pandy berucap di dalam hatinya.
"Baiklah, begini! Maksud kedatangan saya adalah untuk membicarakan masalah surat wasiat yang kedua. Saat itu tuan besar Alman Madhavi membuat dua surat wasiat. Surat wasiat pertama berisi bahwa seluruh kekayaan keluarga Madhavi jatuh ke tangan kedua putrinya yaitu Sanny Madhavi dan Dinda Madhavi. Setelah mereka menikah dan memiliki keturunan, secara otomatis warisan itu akan jatuh kepada anak-anak mereka."
Deg...
Leonard dan Soraya terkejut ketika mendengar perkataan dari Pandy yang menyebutkan surat wasiat kedua.
"Dikarenakan mereka sudah menikah dan sudah memiliki masing-masing satu anak perempuan yaitu Pingkan Robert dan Kayana Robert. Maka seluruh kekayaan keluarga Madhavi jatuh kepada Nyonya Pingkan Robert dan Kayana Robert. Isi surat wasiat kedua adalah setelah Nyonya Pingkan dan Nyonya Kayana menikah, maka warisannya akan berpindah kepada anak-anak mereka. Jadi dengan kata lain rumah mewah ini dan dua Perusahaan besar milik keluarga Madhavi diwariskan kepada putra-putra dari Nyonya Pingkan dan Nyonya Kayana." Pandy menjelaskan secara panjang lebar kepada Leonard dan Soraya.
"Jadi saya akan kembali kesini minggu depan untuk membicarakan masalah ini pada Nyonya Pingkan dan juga tuan muda Mirza. Saya harap, saya bisa bertemu dengan mereka berdua. Bagaimana pun kekayaan keluarga Madhavi bukan hanya milik Nyonya Pingkan saja. Disini juga ada haknya Nyonya Kayana dan putra-putranya," ucap Pandy.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Pandy.
Pandy langsung pergi meninggalkan kediaman Keluarga Madhavi.
Setelah kepergian Pandy. Leonard seketika marah besar.
PRAANGG..
"Brengsek! Sialan! Aku pikir, aku sudah berhasil menguasai semua kekayaan keluarga Madhavi. Ternyata belum. Aku benar-benar tidak percaya atas apa yang aku dengar bahwa seluruh kekayaan keluarga Madhavi bukan milik wanita sialan sepenuhnya saja, melainkan adik sepupunya juga memiliki hak yang sama di rumah ini."
"Aarrgghh! Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal? Dan kenapa Pingkan tidak memberitahuku masalah ini? Dan bahkan Pingkan pasrah dan tidak menaruh curiga apapun saat aku menyuruhnya menandatangani berkas-berkas itu!" teriak Leonard.
"Sayang. Kau tenang dulu. Kita pikirkan rencana baru untuk bisa menguasai semua kekayaan keluarga Madhavi," ucap Soraya.
"Tapi bagaimana caranya? Otakku saat ini sedang tidak bekerja," jawab Leonard.
"Satu-satunya cara, kita harus cari tahu dimana keberadaan Kayana dan juga putra-putranya itu. Setelah itu, kita singkirkan mereka satu persatu. Jika rencana kita berhasil. Barulah kita mengurus Pingkan dan Mirza."
Leonard menatap wajah istrinya, kemudian dirinya tersenyum.
"Eemm. Ide yang sangat brilian. Baiklah," jawab Leonard.
"Rencana pertama, kita turuti kemauan pengacara itu. Kita cari dimana Pingkan dan putranya itu tinggal. Setelah itu, kita bawa mereka kembali pulang ke rumah untuk kita pertemukan dengan pengacara itu sembari kita tetap menjalankan rencana kedua yaitu mencari keberadaan Kayana dan putra-putranya," ucap Soraya.
__ADS_1
"Baiklah." Leonard menyetujui rencana istrinya.
***
KEDIAMAN UTAMA KELUARGA WILSON
Saat ini Darel berada di kamarnya bersama dengan Dylan.
"Darel."
"Hm."
"Aish. Lihat kakak dong."
"Apaan sih. Kalau kakak mau ngomong, ngomong aja napa. Lagian tinggal ngomong doang ribet amat."
"Hah." Dylan hanya bisa menghela nafas akan ucapan dari adik sepupunya itu.
Dylan sedang tiduran di tempat tidur Darel. Sementara Darel sibuk dengan laptopnya. Apalagi kalau bukan bermain Game yang biasa dimainkannya.
"Darel."
"Iya."
"Boleh nanya?"
"Nanya aja. Emangnya ada yang ngelarang."
"Kamu ngapain tadi ke gudang?"
"Mai nyari sesuatu."
"Memangnya kamu mau nyari apa sih?"
"Kepo."
"Ayolah, Rel! Masa sama kakak main rahasia-rahasiaan sih. Kakak janji gak bakal ngasih tahu kakak-kakak yang lain."
"Rahasia."
__ADS_1
"Pasti apa yang kamu nyari ada hubungannya dengan Bibi Pingkan dan adiknya yang bernama Kayana kan?"
DEG..