Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Isak Tangis Darel


__ADS_3

Arvind seketika tersenyum bahagia ketika mendengar sapaan dari putra bungsunya setelah lima hari tidak mendengar sapaan tersebut.


Semua anggota keluarga Wilson sudah berdiri mendekati ranjang Darel. Mereka semua tersenyum bahagia melihat kedua mata bulat Darel telah terbuka.


"Pa-papa," lirih Darel.


Arvind mengusap lembut kepala putranya lalu mencium kening putranya itu.


"Ada apa, hum?"


"Mereka."


"Mereka? Siapa?"


Tes..


Seketika air mata Darel meluncur di sudut matanya. Saat ini di pikiran Darel adalah kelima sahabatnya yang ada di Amerika.


"Kakak Brian, kakak Azri, kakak Evano, kakak Damian, kakak Farrel!"


Darel menyebut satu persatu nama kelima sahabatnya itu dengan air mata masih terus mengalir dari sudut matanya.


"Apa kamu kangen mereka, hum?"


"Papa... Hiks... A-aku merindukan me-reka. Aku... Aku seperti mendengar suara mereka. Mereka seakan-akan ada disini."


"Papa. Jika nanti aku... Aku sudah sembuh dan... Dan sudah pulang ke rumah. I-zinkan aku pergi ke Amerika sama Kenzo dan Gavin. Papa bujukin kak Davian, kak Nevan, kak Ghali, kak Elvan, kak Andre dan kak Arga biar ka-kasih izin aku... Hiks."


Mendengar permintaan serta permohonan Darel. Ditambah lagi air matanya yang berhenti mengalir membuat hati Arvind sesak. Begitu juga dengan yang lainnya.


Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga seketika menangis mendengar ucapan demi ucapan dari adik kesayangannya itu.


"Kamu nggak akan pergi kemana-mana dan kakak nggak akan memberikan kamu izin untuk ke Amerika karena itu tidak ada gunanya!" seru Davian sembari mendekati ranjang adiknya.


Kini Davian sudah berdiri di samping kiri ranjang adiknya. Tangannya bermain-main di kepala adiknya. Dan tak lupa Davian memberikan ciuman di keningnya.


Darel melihat kearah kakak tertuanya dengan tatapan tak percaya. Bahkan Darel menatap wajah kakaknya tanpa ekspresi.


Setelah itu, Darel membuang wajahnya kearah lain yaitu kearah ayahnya.


"Hiks," isak Darel seketika.


Davian mengusap-usap lembut kepala adiknya itu. Hatinya sakit ketika mendengar isakan dari adiknya.


"Kakak jahat," ucap Darel.


Davian tersenyum ketika mendengar ucapan dari adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua gemas terhadap Darel.

__ADS_1


Davian mengusap lembut kepala adiknya sembari berkata, "Rel, lihat kakak!"


Berlahan Darel mengalihkan perhatiannya menatap kearah kakak tertuanya itu. Dapat dirinya lihat bahwa kakaknya itu tersenyum menatap dirinya.


"Oke, kakak terima kamu bilang kakak jahat! Kakak tidak pernah memahami perasaanmu dan tidak pernah mengabulkan keinginan kamu." Davian mengusap-usap kening putih adiknya dengan sayang.


"Jika seandainya saja kelima sahabat kamu itu masih di Amerika. Dan jika kelima sahabat kamu yang kamu rindukan itu tidak disini, maka kakak akan memberikan izin untuk kamu pergi ke Amerika."


Mendengar perkataan dari kakak tertuanya seketika Darel menatap lekat wajah kakaknya sembari berpikir perkataan kakaknya itu.


[Jika seandainya saja kelima sahabat kamu itu masih di Amerika. Dan jika kelima sahabat kamu yang kamu rindukan itu tidak disini, maka kakak akan memberikan izin untuk kamu pergi ke Amerika]


"Ka-kakak," ucap Darel dengan air matanya mengalir dari sudut matanya.


Davian tersenyum melihat wajah adiknya. Dirinya yakin bahwa adiknya itu sudah mengerti maksud dari perkataannya barusan.


"Coba kamu lihat kesana!" ucap Davian den menunjuk kearah depan.


Darel langsung melihat kearah tunjuk kakaknya. Tatapan matanya melihat semua anggota keluarganya tersenyum menatap dirinya.


"Kakak, itu Paman Sandy, Bibi Salma dan yang lainnya," sahut Darel.


Mereka semua tersenyum gemas ketika mendengar ucapan dari Darel. Menurut mereka semua bahwa wajah Darel sangat lucu dan menggemaskan seperti anak kecil berusia 4 tahun.


"Coba lihat lagi. Dan kali ini lihatnya pakai perasaan," ucap Davian menggoda adiknya.


Dan detik kemudian...


Sandy, Salma dan beberapa anggota keluarganya yang berdiri di depan menutupi tubuh Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel secara berlahan menyingkir.


Sejak Darel sadar. Apalagi ketika mendengar suara Darel. Semua anggota keluarga Wilson berdiri dan mendekati ranjang Darel. Sandy, Salma dan beberapa anggota keluarga Wilson sengaja menutup tubuh menghalangi kelima sahabatnya Darel agar Darel tidak bisa melihat keberadaan kelima sahabatnya itu.


Deg..


Darel seketika terkejut ketika melihat kelima sahabatnya yang sangat dia rindukan berdiri di hadapannya sembari tersenyum hangat.


"Pa-papa... Ka-kakak," lirih Darel yang tatapan matanya masih menatap wajah kelima sahabatnya itu.


"Iya, sayang! Mereka ada disini. Mereka kembali untuk kamu, Kenzo dan Gavin!"


Darel menyentuh masker oksigen, lalu kemudian tangannya melepaskan masker tersebut.


Arvind dan Davian yang melihat bahwa Darel hendak melepaskan masker oksigen ikut membantu. Mereka paham bahwa putranya/adiknya pasti sulit dan tidak leluasa berbicara jika setengah wajahnya masih tertutup masker oksigen.


"Hiks... Hiks... Hiks." Darel seketika terisak. Air matanya tak terbendung lagi kala melihat sosok lima sahabat yang begitu dia rindukan.


"Kak Brian, kak Azri... Hiks... kak Damian, kak Evano, kak Farrel... Hiks.."

__ADS_1


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel berlahan mendekati ranjang Darel. Sementara Arvind dan Davian mundur dan memberikan ruang untuk Darel dan para sahabatnya.


"Hei," sapa Brian pertama kali ketika melihat Darel telah sadar.


"Apa kabar?" tanya Azri.


"Berapa lama ya kita pergi ninggalin kamu," ucap Damian.


"Kamu kurus Rel," ucap Evano.


"Kamu pasti melewati hari-hari yang buruk selama tidak ada kami," ucap Farrel.


Baik Brian, Azri maupun Damian, Evano dan Farrel menangis ketika berbicara dengan Darel.


Darel melihat kearah Kenzo dan Gavin. Dirinya ingin memastikan bahwa yang berdiri di hadapannya ini adalah benar kelima sahabatnya.


"Zo, Vin... Hiks," ucap Darel terisak.


Kenzo dan Gavin secara bersamaan menganggukkan kepalanya. Mereka mengerti akan tatapan mata Darel. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Mereka kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel!" seru Kenzo dan Gavin.


Darel kembali menatap wajah kelima sahabatnya yang berdiri di sisi kanan ranjangnya.


"Ini kami Rel!"


"Kami sudah sembuh!"


"Kami pulang!"


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel berucap secara bersamaan disertai air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


Seketika isak tangis Darel pecah. Darel menangis kencang ketika melihat kelima sahabatnya telah kembali dan berdiri di hadapannya.


"Hiks... K-kak Brian... Kak Da-damian... Kak Evano... Hiks... Kak Farrel. Aku merindukan kalian. Aku merindukan kalian!"


Mendengar isakan yang begitu kencang dari Darel membuat semua anggota keluarga Wilson ikut menangis. Hati mereka sesak setiap mendengar isakan demi isakan yang keluar dari mulut Darel terutama Arvind, Adelina dan ke 12 putranya.


"Kami juga merindukan kamu Darel!" seru Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.


Mereka secara bergantian mengusap lembut kepala Darel serta memberikan ciuman di kening Darel. Mereka juga secara bergantian memeluk tubuh Darel secara pelan-pelan.


"Jangan pergi lagi."


"Tidak akan."

__ADS_1


Semuanya tersenyum bahagia ketika melihat kebahagiaan di manik coklat Darel ketika bertemu dan berkumpul kembali dengan semua sahabat-sahabatnya.


__ADS_2