
FLASBACK ON
"Rencana kita berjalan lancar sayang. Si tua bangka itu sudah mati. Putra kesayangannya si Arvind hilang dalam kecelakaan tersebut dan cucu kesayangannya koma di rumah sakit. Sebentar lagi apa yang kita ingin menjadi milik kita. Aku tidak sabaran mengusir mereka semua dari rumah ini. Aku sudah bosan dan merasa lelah harus bersandiwara terus menerus menjadi ibu yang baik untuk kedua anak-anak sialan itu Dirga dan Marcel dan menjadi istri yang baik untuk pria brengsek William Wilson." Agatha berucap dengan penuh semangat.
DEG!
Evan yang mendengar penuturan dari Agatha sungguh terkejut. "Apa? Ja-jadi Kak Dirga dan Kak Marcel bukan putra kandungnya Bibi Agatha? Dan.. dan Bibi Agatha menikah dengan Paman William bukan karena cinta, tapi hanya karena harta," ucap Evan pelan.
Tanpa pikir panjang lagi, Evan mengambil ponselnya dan merekam pembicaraan Agatha.
Flashback Off
"Aku merekam pembicaraan perempuan sialan itu ketika sedang berbicara dengan seseorang. Aku mendengar sangat jelas apa saja yang dibicarakan oleh perempuan itu, salah satunya mengenai kak Dirga dan Marcel," ucap Evan ketika mengingat kejadian dimana dirinya mendengar obrolan Agatha di telepon.
Mendengar cerita dan perkataan Evan membuat semua anggota keluarga marah.
"Videonya juga masih ada padaku. Ini lihatlah."
Evan memperlihatkan video saat dirinya memergoki Agatha sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Mereka semua pun melihat video tersebut. Mereka semua marah saat melihat video tersebut.
"Dasar perempuan murahan." itu Dirga dan Marcel.
"Lalu kau, Dirga?" tanya William.
"Saat itu aku tidak sengaja mengintip dan menguping di luar kamar Darel. Saat itu Darel sedang menangis sembari memegang foto Kakek dan Paman Arvind."
FLASBACK ON
Saat ini Dirga sedang melangkahkan kakinya menuju dapur yang ada di lantai bawah karena dirinya sedang haus. Tetapi langkahnya terhenti di depan kamar Darel. Dirga mendengar Darel yang sedang menangis. Dirga pun memberanikan diri mengintip kamar Darel.
Darel duduk di sofa sembari memegang bingkai foto sang Ayah dan sang Kakeknya. Posisi letak sofa membelakangi pintu kamarnya.
"Hiks..Papa.. Kakek. Aku merindukan kalian. Kenapa kalian pergi meninggalkanku?" isak Darel dan tangannya mengelus bingkai foto tersebut.
__ADS_1
"Kakek. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus membongkar semua rahasia ini kepada mereka semua, terutama pada Paman William, Kak Dirga dan Kak Marcel?"
"Apa? Rahasia? Aku? Papa? Marcel?" ucap Dirga pelan.
"Kakek. Aku tidak bisa berpura-pura bertengkar atau berpura-pura membenci Kak Dirga dan Kak Marcel. Bagaimana pun mereka adalah cucu kandungmu dan putra Kandung Paman William? Tapi kalau dengan Kak Rayyan, Kak Kevin, Kak Caleb, Kak Dzaky dan Kak Aldan aku masih bisa melawan mereka semua. Karena mereka bukan cucu kandungmu dan bukan putra Kandung Paman William."
"Apaa? Ja-jadi kelima adik-adikku itu bukan adik-adik kandungku. Hanya Marcel adik kandungku." Dirga benar-benar terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Darel.
FLASBACK OFF
"Kalau kalian sudah mengetahuinya. Kenapa kalian tidak memberitahu kami semua?" tanya Davian yang menatap kesal Dirga dan Evan.
"Kalau pun aku memberitahu kalian semua. Kita belum tentu bisa membuat perempuan itu untuk mengaku. Video itu belum cukup untuk membuktikan kebohongan dan kejahatannya selama ini," ucap Evan.
Evan menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Setelah itu, Evan kembali berbicara.
"Kaliankan tahu sendiri bagaimana akal bulus perempuan itu untuk mencari beribu alasan untuk terus mengelabui kita semua, terutama Paman William. Perempuan itu pasti akan berusaha untuk meyakinkan Paman William agar percaya padanya. Darel saja yang sudah banyak menyimpan bukti lebih memilih untuk diam. Aku yakin Darel sudah menyiapkankan semuanya. Dan saat semuanya sudah siap, Darel akan membongkar semuanya di depan kita."
"Tapi diluar semua rencana Darel. Perempuan itu dengan beraninya menyakiti Mama dan Bibi Salma. Dan pada akhirnya, BOOM itu pun meledak sebelum rencana Darel terlaksana. Darel pun dengan emosinya membongkar semuanya di depan kita." Evan berucap.
"Aku juga sama seperti Evan. Aku mengetahui semuanya karena tidak sengaja mendengar penuturan Darel saat sedang menangis di kamarnya. Aku juga tidak memiliki bukti apapun saat itu. Makanya aku hanya bisa diam." Dirga ikut berbicara.
"Hah!" Mereka semua melongo dan terkejut saat mendengar penuturan dari Alvaro yang mengatakan Dirga yang meminta maaf pada Darel.
"Apa itu benar?" tanya Daffa.
"Apa kau tidak berbohong, kuda? Seorang Dirga Wilson meminta maaf pada musuhnya," ucap dan tanya Vano seenaknya jidatnya.
Mendengat perkataan pedas dari Vano membuat Alvaro dan Dirga mendengus kesal.
"Aish. Dasar beruang kutub sialan," sahut Alvaro dan Dirga bersamaan.
"Heeiiii. Aku mendengar kalian berdua. Dan kau kuda," Vano menatap horor Alvaro.
"Apa?" Alvaro menatap balik Vano, kakak pucatnya itu. "Kakak mau marah dan Kakak tidak terima disebut beruang kutub. Menghina orang nomor satu. Giliran dihina tidak terima. Dasar egois," ucap Alvaro.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Alvaro menjauhkan dirinya dan duduk di samping ranjang adik bungsunya itu.
Vano yang mendengar penuturan dari Alvaro membelalakkan matanya. Dalam pikirannya 'sejak kapan adiknya itu berani padanya. Selama ini hanya sikelinci kesayangannya itu yang berani padanya'.
Sedangkan yang lainnya yang melihat ekspresi wajah Vano tersenyum. Tapi tidak dengan Evan dan Raffa. Mereka berdua tertawa nista.
"Hahahahaha."
"Kau lucu sekali, Kak Vano," sahut Evan dan Raffa.
"Kak Vano. Sekarang bertambah satu orang lagi yang berani padamu," tutur Raffa.
"Pertama Kak Daffa. Oke! Kak Daffa memang berani padamu karena Kak Daffa lebih tua darimu dan tidak akan pernah takut padamu. Kedua Darel. Dan sekarang Kak Alvaro." Evan berbicara sambil tersenyum manis menatap wajah kesal Kakaknya itu.
"Besok siapa lagi ya?" tanya Evan dan Raffa bersamaan.
Setelah mengatakan hal itu, Evan menduduki pantatnya di sofa tepat di samping ibunya dan Raffa.
"Jadi itu alasanmu. Saat itu kau tidak ikut campur atau tidak membela perempuan itu kala kita semua memojokkannya. Justru kau mengatakan di depan Paman William bahwa memang dia yang bersalah karena sudah melukai Darel?" tanya Davian.
"Hm," jawab Dirga. "Selama ini aku telah buta dan ikut memaki dan menghina adik bungsu kalian. Saat itu aku kedapatan telah korupsi di Perusahaan sehingga aku diturun menjadi OB. Darel juga membisikkan sesuatu padaku," ucap Dirga.
"Apa? Darel membisikkan apa padamu?" tanya Nevan.
"Darel mengatakan padaku bahwa aku dan adik-adikku bukan putra kandung Papa dan juga bukan cucu kandung Kakek. Aku benar-benar kaget saat itu. Makanya aku menurut dan pasrah saat Darel memindahkan posisiku di Perusahaan."
"Dan fakta baru yang aku dapatkan saat aku mendengar penuturan Darel di dalam kamarnya. Kalau aku dan Marcel bukan putra kandung dari perempuan itu. Dan kelima adik-adikku itu bukanlah adikku. Saat itu aku benar-benar bingung. Makanya aku hanya diam saja dan mengikuti permainan dari Darel. Aku yakin Darel sudah menyiapkan semuanya."
"Saat Darel mengatakan bahwa kau dan keenam adik-adikmu itu bukan putra kandung William. Saat itu Darel memang tidak tahu. Kakek kalian memang sengaja mengatakan hal itu pada Darel agar Darel bisa melawan kalian. Kalau Darel tahu Dirga dan Marcel adalah putra kandung William, maka Darel tidak akan bisa atau Darel tidak akan mau bermusuhan dengan saudaranya sendiri. Saat Paman, Darel dan Kakek kalian makan di luar, disitulah Kakek kalian menceritakan semuanya pada Paman. Darel sempat kecewa pada Kakek kalian. Apa yang disampaikan oleh Kakek kalian pada Paman beda dengan yang disampaikan pada Darel. Tapi setelah mendengar alasan dari Kakek kalian. Darel pun mengerti." Arvind menceritakan yang sebenarnya.
"Paman Arvind benar. Saat aku mendengar Darel menangis di kamarnya. Darel memang benar-benar takut saat itu. Darel tidak ingin berlama-lama bermusuhan denganku dan Marcel. Walau itu hanya berpura-pura saja. Dari situlah, aku mulai merubah semuanya. Aku yang memulai untuk memperbaiki hubunganku dengan Darel. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengurangi beban pikiran Darel selama ini. Dan HASILNYA! Aku berhasil." Dirga berbicara dengan senyuman mengembang di bibirnya.
GREP!
Davian memeluk Dirga. "Terima kasih, Dirga. Kau sudah membantu adik manisku."
__ADS_1
"Tak masalah Kak. Dia sudah menjadi adikku sekarang."
Mereka yang melihat dan mendengarnya tersenyum bahagia, terutama William. Dirinya saat ini benar-benar bahagia. Harapannya terkabul. Dirinya memiliki putra yang membuatnya bangga.