
[DI JALANAN]
Seorang pemuda tengah ditarik-tarik tangannya dan bahkan dipukul oleh beberapa orang. Diduga pemuda itu dituduh telah melecehkan seorang gadis. Padahal kejadian sebenarnya tidak seperti itu. Pemuda itu berulang kali mencoba untuk meloloskan diri dan usahanya yang terakhir, pemuda itu berhasil.
Setelah dirinya berhasil terlepas, Pemuda itu kemudian berlari. Dirinya berusaha menyelamatkan diri dari kemarahan para warga.
"Ach, sial. Kenapa jadi begini sih? baru saja tiba di Jerman malah disambut dengan dua kesialan. Pertama semua barang-barangku hilang dan kedua aku dituduh telah melecehkan seorang gadis. Lagian tuh gadis, kenapa tidak bicara yang sebenarnya sih? Kenapa dia hanya diam saja? Kalau begini caranya. Aku benar-benar bisa masuk penjara," gumam pemuda itu.
^^^
Disisi lain, Darel sedang berada di sebuah Cafe bersama seorang pemuda tampan.
"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Darel.
"Enak, kak!" jawab pemuda tersebut.
"Kenapa mencari makanan di tempat sampah? Bukankah itu kotor dan juga sudah tidak layak dimakan."
"Habis gimana lagi kak. Aku butuh makan. Kalau gak makan aku bisa mati kelaparan."
"Tapi nggak harus mencari makanan di tempat sampah. Kalau kamu sakit, bagaimana? Lalu kedua orang tua kamu dimana?"
"Aku hanya memiliki ibu. Dan sekarang Ibuku sedang sakit."
"Bagaimana dengan Ayahmu?"
"Ayah."
Seketika raut wajah pemuda itu berubah menjadi dingin. Matanya memerah menahan tangis. Darel yang melihat hal itu berpikir pasti telah terjadi sesuatu pada pemuda itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Darel lembut.
"Ayah mengusirku dan ibu dari rumah hanya demi selingkuhan itu."
DEG
Darel terkejut mendengar penuturan dari pemuda di hadapannya itu.
"Kata ibu rumah itu milik ibu, warisan dari Kakek. Bukan rumah saja. Tapi Perusahaan juga. Pria brengsek itu merebut semua milik ibu."
"Bahkan aku tanpa sengaja mendengar pria brengsek itu berbicara dengan wanita murahan itu."
"Apa yang telah kau dengar?"
"Pria brengsek itu bukan Ayah kandungku. Pria itu menikahi Ibuku hanya untuk menguasai semua warisan ibu. Wanita murahan itu ternyata adalah kekasihnya. Mereka sudah merencanakan semua ini."
"Kasihan sekali dia. Aku harus membantunya untuk merebut kembali haknya dan ibunya," batin Darel.
"Kalau aku boleh tahu. Siapa namamu?"
"Mirza, kak."
"Hanya Mirza. Tidak ada Marga gitu?"
"Ibu tidak pernah memberitahuku apa nama Marga dari Ayah kandungku. Ibu hanya memanggilku dengan nama Yeonjun."
"Sekarang habiskan makananmu. Setelah ini bawa aku untuk menemui Ibumu."
"Tapi......."
"Tidak usah takut padaku. Aku akan membantumu. Dan aku juga akan membantumu untuk merebut kembali hakmu dan ibumu."
Mirza menatap lekat pada kedua manik Darel. Dapat dilihat oleh Mirza, ada ketulusan terpancar disana.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Mirza..
Mirza kembali melanjutkan makannya. Di dalam hatinya, dirinya bersyukur telah dipertemukan dengan orang baik seperti pemuda di depannya itu.
"Maaf, kak. Kalau aku boleh tahu. Nama kakak siapa?"
"Darel. Darel Wilson."
"Nama kakak bagus sama seperti orangnya," ucap Mirza.
Darel seketika tersenyum mendengar perkataan dari Mirza. Tatapan matanya menatap sendu Mirza. Apalagi ketika mengetahui masalah yang dihadapi oleh Mirza.
Saat Darel sedang menatap Mirza. Tiba-tiba Darel menyadari sesuatu. Darel melirik jam tangan yang melingkar ditangan kirinya.
"Hah. Sudah pukul 11 siang. Mampus! Pasti saat ini kak Vano sudah berada di Markas untuk menjemputku," ucap Darel.
Mendengar ucapan Darel membuat Mirza terkejut. Lalu Mirza melihat kearah Darel.
"Ada apa, kak Darel?"
"Ach, kakak hampir lupa. Maafkan kakak, Mirza. Kakak sepertinya tidak bisa menemui ibumu sekarang. Lain kali saja ya. Ini kartu nama kakak. Jika butuh sesuatu langsung hubungi kakak," tutur Darel.
"Iya, kakak. Tidak apa-apa," jawab Mirza sembari mengambil kartu nama milik Darel dan memasukkan ke dalam saku celananya.
"Pelayan," panggil Darel.
Dan pelayan itu pun datang. "Ada apa, Tuan?"
"Berapa semuanya?"
"Semuanya 350.000, Tuan."
"Ini." Darel mengeluarkan beberapa uang.
"Ini uangnya berlebih, tuan."
"Baik, tuan."
Setelah itu pelayan tersebut pergi untuk melakukan pekerjaannya.
"Kalau begitu kakak pergi dulu ya. Kau hati-hati."
"Baik, kak Darel. Sekali lagi terima kasih, kak."
"Hm." Darel mengangguk.
Setelah itu, Darek pun langsung pergi meninggalkan Cafe tersebut dengan buru-buru.
***
Darel berlari dengan sangat kencangnya agar dirinya bisa segera sampai di Markasnya sebelum kakak pucat nya itu tiba.
Namun saat Darel tengah berlari. Disisi lain ada seorang pemuda yang juga sedang berlari. Pemuda itu berlari tepat kearahnya. Dengan kata lain, mereka berlari berlawanan arah. Lalu tanpa bisa menghindari satu sama lain, akhirnya terjadi kecelakaan kecil.
BRUUKK
BRUUKK
"Aaakkkhhhh.."
Baik Darel maupun pemuda tersebut terjatuh dengan tidak elitnya. Keduanya merasakan sakit di bagian pantat masing-masing.
"Yak! Kau ini bagaimana? Kau punya mata tidak?" omel Darek pada pemuda yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Kenapa kau menyalahkanku. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau itu punya mata tidak?" balas pemuda itu tak kalah sengit.
"Kau yang menabrakku duluan!" teriak Darel.
"Kau yang duluan," sembur pemuda itu tak terima.
"Kau."
"Kau siluman kelinci."
"Apa kau bilang?!" teriak Darel.
"Siluman kelinci." pemuda itu berucap lagi.
"Sialan. Aku ini manusia. Bukan siluman kelinci!" teriak Darel tak terima dirinya dikatakan siluman kelinci.
"Yayaya.. terserah. Yang jelas kau itu siluman kelinci. Manusia jadi-jadian," eek pemuda itu.
Darel melotot saat mendengar ejekan dari pemuda itu.
"Dasar manusia teraneh.. manusia teridiot.. hitam.. kedelai hitam.. sebangsa simpanse!" teriak Darel tak mau kalah.
"Yak! Apa yang kau katakan barusan? Kau ber......" Ucapan pemuda itu terpotong saat mendengar suara teriakan dari beberapa orang.
"Nah, itu dia!" teriak seorang pria dari kejauhan.
Pemuda tersebut terkejut saat mendengar suara teriakan seseorang. Pemuda itu melihat ke belakang. Matanya membelalak sempurna.
"Ya, Tuhan! Ternyata mereka masih saja mengejarku," ucap pemuda itu.
Darel dapat melihat beberapa orang yang berlari kearah pemuda itu dan juga dirinya.
"Hei, lihatlah. Pemuda itu bersama temannya!" teriak seorang ibu-ibu.
Darel yang mendengar teriakan ibu-ibu tersebut terkejut.
"Teman?" batin Darel.
Pemuda itu langsung berdiri dan memutuskan untuk kabur. Tapi baru berlari beberapa langkah, pemuda itu berhenti dan membalikkan badannya. Kemudian pemuda itu kembali dan langsung menarik tangan Darel.
"Yak! Apa yang kau lakukan, hitam sialan?!" teriak Darel ketika tangan tiba-tiba ditarik.
"Diam dan nurut saja, siluman kelinci idiot." Pemuda itu menjawab sembari terus berlari dengan menarik tangan Darel.
Darel yang ditarik hanya bisa mendengus kesal.
"Aish! Dia pikir aku ini anak kambing apa ditarik-tarik," batin Darel.
^^^
Beberapa orang yang mengejar pemuda tersebut saat ini berada di tempat Darel dan pemuda tersebut terjatuh. Mereka saat ini benar-benar kesal karena gagal menangkap pemuda itu.
"Ach, sial. Kemana pemuda itu perginya?"
"Saya yakin pemuda yang satunya itu pasti temannya."
"Anda benar. Pasti pemuda itu teman dari pemuda yang kita kejar itu."
"Lalu apa yang kita lakukan sekarang??"
"Kita kembali saja. Nanti kita cari lagi informasi mengenai masalah ini dan juga pemuda itu."
"Baiklah."
__ADS_1
"Ayo, kita kembali!"
Orang-orang itu pun kembali pulang ke rumah, lebih tepatnya ke rumah ketua RT. Mereka ingin bertemu dengan gadis tersebut.