Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Pertemuan Pingkan Dengan Keluarga Wilson


__ADS_3

KEDIAMAN UTAMA WILSON


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore dan semua anggota keluarga tengah berkumpul diruang tengah. Rayyan dan keempat adiknya juga berada disana. Mereka berencana untuk menginap selama seminggu di rumah keluarga Utama Wilson.


Mereka berbincang-bincang sembari membahas masalah pekerjaan, kuliah dan juga masalah-masalah lainnya.


"Rayyan, Paman dengar Perusahaan yang sekarang ini kamu kelola bersama Kevin memenangkan tender besar. Apa itu benar?" tanya Sandy.


Rayyan tersenyum. "Iya, Paman!"


"Jadi berita itu benar?" tanya William lagi dengan antusiasnya.


"Ya, Pa." Kini Kevin yang menjawabnya.


"Paman ikut senang mendengarnya," kata Sandy.


"Rayyan, Kevin. Selamat ya. Paman bangga pada kalian. Kalian berhasil menjadi seorang CEO!" ucap Arvind lembut.


"Terima kasih, Paman Arvind!" jawab Rayyan dan Kevin bersamaan.


"Jika kalian dalam masalah atau kesulitan mengurus Perusahaan. Bahkan jika ada orang yang ingin berbuat curang pada kalian. Kalian jangan sungkan untuk mengatakannya pada Paman dan juga pada kami semua," ucap Arvind.


"Baik, Paman!" jawab Rayyan dan Kevin.


Mereka semua tersenyum bangga melihat keberhasilan Rayyan dan Kevin dalam menjalani Perusahaan peninggalan Ayah mereka.


Arvind, Sandy dan William tersenyum bahagia melihat perubahan dalam diri Rayyan dan keempat adik-adiknya. Mereka merasa bersyukur akan perubahan kelima keponakannya itu, terutama William. William yang paling bahagia. Dirinya benar-benar bahagia melihat kelima putra-putranya yang sekarang, beda dari yang dulu.


Saat mereka tengah berbincang-bincang, Aldan selaku si bungsu Mathew menyadari sesuatu. Matanya melihat ke segala arah.


"Oh, iya! Dari tadi aku tidak melihat Dylan dan tidak mendengar suara teriakan dari Darel. Memang mereka kemana, Paman Arvind?!" tanya Aldan.


"Dylan dan Darel pergi ke rumah sakit," jawab Arvind.


"Ke rumah sakit?" seru Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan bersamaan.


"Iya!" jawab para kakak-kakak kandungnya Darel secara kompak.


"Memangnya siapa yang sakit, kak Davian?" tanya Dzaky.


"Ibunya Mirza. Mirza itu pemuda yang ditolong oleh Darel," jawab Davian.


"Oh, iya! Bibi baru ingat. Bukannya Dylan dan Darel perginya dari pukul 10 pagi. Dan ini sudah pukul 4 sore. Kenapa Dylan dan Darel belum pulang juga?!" tanya Salma.


Mereka melihat kearah jam, dan benar saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.


"Aish! Dasar kelinci nakal," kesal Davian.


Davian langsung mengambil ponselnya dan menekan nama adik bungsunya itu. Begitu juga dengan Dirga. Dirga juga menghubungi adik bungsunya.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, terdengar nada kesal dari Davian dan Dirga.


"Ach, sial! Ponsel Darel tidak aktif lagi."


"Ponselnya Dylan juga."


"Pada kompak tuh dua bocah," sahut Vano dan Marcel.


Mereka semua langsung panik dan khawatir disaat dua diantara mereka tidak bisa menghubungi dua bungsu kesayangan.


Disaat pikiran mereka sedang memikirkan kedua bungsu kesayangannya, tiba-tiba terdengar suara klason mobil.


TIN... TIN..


"Nah, itu mereka pulang!" seru Evita dan Salma bersamaan.


Davian dan saudara-saudaranya langsung berdiri, mereka melangkah ke ruang tamu dan menuju kearah jendela. Kemudian mereka semua mengintip dari jendela tersebut.


"Bibi itu siapa?" tanya Raffa.


"Lalu kenapa Dylan pulang bersama seorang ibu-ibu dan juga seorang anak laki-laki. Lalu Darel mana? Kenapa tidak bersama Dylan?" tanya Davian.


"Mereka semua siapa sih? Kenapa mereka semua pada menunduk hormat pada Dylan?" tanya Melvin.


Mereka semua masih terus memperhatikan Dylan yang berada diluar. Sementara Nevan berusaha untuk mengingat Ibu dan anak laki-laki itu.


Kini mereka semua sudah berada di dalam rumah Mirza. Rumah yang sangat kecil dan sempit. Darel langsung menangis saat melihat kehidupan Mirza. Nevan yang melihat adiknya yang menangis langsung memeluknya.


"Dokter. Bagaimana keadaan Ibuku? Ibuku baik-baik saja kan?" tanya Mirza saat melihat keadaan ibunya yang sedang diperiksa oleh Dokter Fayyadh.


Flashback Off


Setelah Nevan mengingat siapa Bibi dan anak laki-laki itu, Nevan pun bersuara.


"Itu Mirza bersama ibunya!"


Mereka semua melihat kearah Nevan, lalu kembali melihat kearah jendela.


"Bagaimana kakak Nevan bisa tahu?" tanya Raffa.


"Kan kakak yang mengantar Darel ke rumah Mirza, teman barunya itu!" jawab Nevan.


"Oh, iya! Aku lupa," jawab Raffa.


"Kau itu bukan lupa, tapi bodoh!" sahut Vano dengan kejamnya.


Setelah mengatakan kata yang sangat kejam untuk adiknya, Vano langsung pergi menuju ruang tengah. Mereka yang mendengar kata yang sangat kejam dari Vano sebisa mungkin untuk tidak tertawa, walau di dalam hati mereka ingin tertawa.


Sementara Raffa sudah merengut kesal mendengar penuturan dari kakak es nya itu.

__ADS_1


"Dasar kakak sialan," umpat Raffa.


Ghali merangkul pundak Raffa sembari melangkah menuju ruang tengah.


"Sudah. Jangan dipikirkan ucapan kakak esmu itu. Kakakmu itu tidak serius dalam ucapannya."


^^^


Dylan bersama Pingkan dan Mirza melangkah memasuki ruang tengah dan tak lupa dengan teriakannya.


"Kakak-kakakku yang tampan! Dylan, adikmu yang paling tampan sudah pulang!"


Mendengar teriakan Dylan membuat anggota keluarganya hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala. Setiap hari mereka akan selalu mendengar suara teriakan. Kalau tidak dari Darel pasti dari Dylan.


Ketika Dylan, Pingkan dan Mirza sampai di ruang tengah, para orang tua terkejut.


"Pingkan!" Adelina yang pertama kali berseru saat melihat sosok Pingkan.


Seketika Adelina berdiri. Begitu juga dengan Arvind, Sandy, Daksa, Evita, Salma, dan William.


Melihat para orang tua mereka berdiri, Davian dan saudara-saudaranya yang lain juga ikut berdiri. Mereka menatap bingung orang tua mereka.


Adelina menghampiri Pingkan. Begitu juga dengan Salma dan Evita.


"Pingkan. Ini kau Pingkan?!" tanya Adelina.


Pingkan tersenyum. "Iya, kak. Ini aku, Pingkan."


"Ya, Tuhan. Pingkan."


GREP..


Adelina langsung memeluk Pingkan erat. Pingkan yang mendapatkan pelukan dari Adelina pun membalas pelukan tersebut.


"Kakak merindukanmu, Pingkan!"


"Aku juga merindukanmu, kak!"


Setelah puas memeluk Pingkan. Adelina pun kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu disusul oleh Evita dan Salma. Mereka berdua langsung memeluk Pingkan.


"Pingkan/Kak!" ucap Salma dan Evita bersamaan.


Mereka semua tampak bahagia ketika kembali bertemu dengan Pingkan. Begitu juga dengan Pingkan yang bertemu kembali dengan keluarga Wilson


Pingkan menatap satu persatu anggota keluarga Wilson sembari tersenyum penuh kebahagiaan. Dirinya tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengan keluarga suami dari adik sepupunya.


Yang membuat Pingkan bahagia adalah semua anggota keluarga Wilson menganggap dirinya bagian dari mereka semua. Padahal dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Wilson. Beda dengan adik perempuannya yaitu Kayana yang mana Kayana adalah istri dari William Wilson dan adik ipar dari Arvind Wilson, Sandy Wilson. serta kakak ipar dari Evita Wilson.


Sekali lagi, Pingkan benar-benar bahagia saat ini. Dirinya saat ini berada di kediaman utama keluarga Wilson. Itu semua tak lepas dari kebaikan seorang pemuda tampan bernama Darel Wilson yang tak lain adalah putra bungsu dari Arvind Wilson dan Adelina Wilson.

__ADS_1


__ADS_2