
Darel sudah sampai di rumahnya. Sesampainya di rumahnya, Darel langsung melepaskan helm yang menutupi kepalanya. Setelah itu, Darel pun langsung turun dari motornya.
Ketika Darel hendak melangkahkan kakinya menuju pintu rumah, tatapan matanya tak sengaja melihat sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Dan beberapa detik kemudian, keluarlah seorang gadis dari dalam mobil tersebut.
"Siapa gadis itu?" tanya Darel yang masih menatap kearah gadis tersebut.
^^^
"Hei, kau!" panggil gadis itu kepada seorang security yang berjaga.
Sementara security yang berjaga tersebut langsung melihat keasal suara. Dan dapat dilihat oleh security itu seorang gadis berdiri di depan pintu gerbang.
"Kemari kau," panggil gadis itu dengan kasar.
Security itu pun dengan terpaksa menghampiri gerbang tersebut. Laki-laki itu benar-benar tidak menyukai gadis kasar tersebut.
"Lebih baik nona pergi dari sini. Jangan buat keributan disini."
Mendengar ucapan sekaligus pengusiran dari security tersebut membuat gadis itu marah. Dia tidak terima ada yang berani melawan padanya.
"Apa begini cara kau menerima tamu, hah?!" bentak gadis itu.
"Tidak usah berlagak seperti gadis baik-baik nona. Nona sendiri datang ke rumah orang juga tidak menunjukkan sikap ramah. Jadi saya punya hak untuk mengusir nona dari sini. Bagaimana pun keamanan semua anggota keluarga yang ada disini menjadi tanggung jawab saya."
Gadis itu mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari security tersebut. Tatapan matanya menatap marah security tersebut.
Silahkan pergi dari sini."
Setelah mengatakan itu, security tersebut pergi menjauh dari gerbang tersebut. Laki-laki itu tidak ingin beradu mulut dengan gadis yang tak memiliki etika.
Melihat kepergian security tersebut membuat gadis itu marah.
"Sialan," umpat gadis itu.
Darel yang masih melihat kearah gadis itu menatap curiga. Kecurigaan Darel mengarah bahwa gadis itu adalah salah satu gadis yang akan mendekati ketiga kakaknya.
Setelah beberapa detik menunggu untuk dibukakan pintu pagar akibat security tersebut tidak bersedia membukakan pintu pagar untuknya membuat gadis itu memutuskan untuk pergi.
Darel yang melihat kepergian gadis itu bersamaan tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
Ketika ponselnya sudah di tangannya, Darel menekan nomor tangan kanannya yang bernama Noah. Darel ingin meminta sesuatu dengan tangan kanannya itu.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Bos!"
"Apa kau mendapatkan foto ketika gadis yang akan mendekati ketiga kakakku?"
"Sudah, Bos!"
"Kirimkan kepadaku. Jangan lupa beritahu aku nama dari foto yang akan kau kirim itu."
"Baik, Bos."
Pip..
Darel mematikan panggilannya secara sepihak setelah mendapatkan jawaban dari Noah. Setelah it, Darel kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
^^^
Cklek..
Pintu dibuka oleh Darel. Setelah itu, Darel melangkahkan kakinya memasuki rumah kediaman utama keluarga Wilson.
Darel melangkah menuju ruang tengah dengan tatapan matanya menatap kearah ruang tengah. Disana Darel dapat melihat beberapa anggota keluarganya sudah pulang.
Alvaro yang melihat sosok adik bungsunya langsung menyapa adik bungsunya itu.
"Rel, kamu sudah pulang?!"
Mendengar pertanyaan dari Alvaro, semua yang ada di ruang tengah itu langsung melihat kearah Darel yang mana Darel melangkahkan kakinya sembari tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, Noah mengirimkan apa yang diminta oleh Darel.
Kini Darel sudah bergabung dengan anggota keluarganya. Hanya para kakak-kakaknya saja. Sementara kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya masih berada di luar rumah. Kemungkinan beberapa menit lagi mereka akan pulang.
"Ketika aku pulang tadi. Ada seorang gadis datang," sahut Darel dengan tatapan matanya menatap satu persatu kakak-kakaknya.
"Seorang gadis?" tanya Davian.
"Iya."
"Siapa dia?" tanya Marcel.
"Tidak tahu karena security tidak membukakan pintu gerbang untuk gadis itu."
"Memangnya kenapa? Terus kenapa gadis itu datang kesini?" tanya Steven.
"Gadis itu datang dengan tidak sopan. Dia berbicara kasar kepada security itu. Bahkan dia memaksa security itu untuk membukakan pintu gerbang untuknya."
"Apa yang dilakukan oleh security itu sudah benar. Dia melakukan itu hanya demi melindungi kita majikannya," sahut Elvan.
Nevan menatap wajah adik bungsunya itu. Dapat Nevan lihat bahwa wajah adiknya itu sedikit pucat.
"Darel," panggil Nevan.
"Iya, kak!"
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Nevan.
Mendengar pertanyaan dari Nevan membuat Davian dan semua adik-adiknya termasuk para sepupunya langsung melihat kearah Darel dan Nevan secara bergantian yang mana saat ini Darel tengah menatap kearah Nevan.
"Iya. Aku baik-baik saja," jawab Darel.
"Tapi wajah kamu sedikit pucat. Apa ada yang kamu rasakan?"
"Aku benaran baik-baik saja kakak Nevan."
"Rel, kamu sedang tidak berbohong kan?" tanya Ghali.
"Ih, apaan sih! Aku benar-benar baik-baik saja. Jika misalkan kakak Nevan bilang wajahku sedikit pucat. Itu mungkin aku kelelahan karena banyak kegiatan di kampus. Tapi benaran. Aku nggak apa-apa. Jadi, jangan tatapan aku seperti itu."
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Darel membuat mereka memutuskan untuk berhenti bertanya dan bersikap biasa, walau di hati mereka masing-masing masih mengkhawatirkan Darel. Mereka seperti itu karena tidak ingin membuat Darel terbebani.
"Aku mendapatkan kiriman foto dari Noah yang mana foto itu adalah foto tiga gadis yang akan mendekati kakak Nevan, kakak Steven dan kakak Marcel!"
Darel memperlihatkan wajah dari tiga gadis tersebut dengan memberikan ponselnya kepada semua kakak-kakaknya.
__ADS_1
"Ini lihatlah."
Davian yang mengambil ponsel Darel karena dia berada tak jauh dari adik bungsunya itu.
Tatapan matanya Davian melihat ke layar ponsel milik Darel yang mana terlihat tiga gadis yang sudah ada nama masing-masing.
Setelah melihat foto tiga gadis itu, Davian memberikannya kepada Nevan. Steven dan Marcel berpindah duduk di samping kiri dan kanan Nevan agar mereka bisa melihatnya.
"Jadi mereka yang akan mendekatiku." Nevan, Steven dan Marcel berucap bersamaan.
"Gadis yang bernama Mika Bailey sudah mulai bertindak!" seru Darel.
Mendengar seruan dari Darel membuat Steven, Nevan dan Marcel langsung melihat kearah Darel. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Apa gadis yang bertamu itu...?" pertanyaan Steven terpotong karena Darel langsung menjawabnya.
"Iya. Gadis yang datang beberapa menit yang lalu adalah Mika Bailey. Tujuannya adalah untuk menemui kakak Steven," pungkas Darel.
"Kemungkinan dia akan datang lagi. Ketika dia datang, kakak harus sudah mempersiapkan pertunjukan pertama kakak."
"Siap. Kakak mengerti!" Steven langsung menjawab perkataan dari adik sepupunya itu dengan anggukkan kepalanya.
"Dan untuk kakak Nevan dan kakak Marcel. Kalian berdua juga sudah harus persiapkan pertunjukan kalian. Bisa saja dua gadis itu datang tiba-tiba," tutur Darel.
"Baik. Kami akan mempersiapkannya," jawab Nevan dan Marcel bersamaan.
"Biar menarik, aku akan masuk ke dalam permainan kalian. Aku akan berakting sebagai adik yang jahat."
"Dipersilahkan!" seru para kakak-kakaknya.
"Ingat! Hanya aku yang boleh berakting jahat dengan kalian semua di hadapan tiga perempuan busuk itu. Sementara kalian nggak boleh. Awas aja kalau kalian sampai membully aku di depan pacar palsu kalian itu. Aku bakal mogok makan berhari-hari dan mogok bicara sama kalian semua selama satu tahun."
Mendengar ucapan demi ucapan serta ancaman dari Darel membuat Davian dan adik-adiknya terkejut serta syok. Begitu juga dengan kakak-kakak sepupunya.
"Rel!"
"Aku serius!"
"Baiklah!"
"Kamu bebas melakukan apa pun terhadap kami ketika bersama tiga gadis itu," ucap Marcel.
"Termasuk ketika kakak bersama Paula. Sepertinya Paula sudah mulai mengeluarkan taringnya," ucap Ghali.
Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika mendengar jawaban persetujuan dari dua kakaknya.
"Deal!'
"Deal!"
"Oke!"
Darel berdiri dari duduknya. "Kalau begitu aku mau ke kamar bersih-bersih. Setelah itu, aku mau istirahat sebentar."
"Baiklah!"
"Kamu istirahatlah. Nanti sekitar pukul 5 sore, kakak akan bangunkan kamu!" Daffa berucap sembari menatap wajah sedikit lelah adik bungsunya itu.
__ADS_1
"Baik."
Setelah mengatakan itu, Darel pun pergi meninggalkan semua kakak-kakaknya di ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.