Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Rasa Takut Darel


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Dan waktunya anggota keluarga untuk melakukan rituinitas mereka yaitu makan malam.


"Nyonya, Tuan. Makan malamnya sudah siap!" seru salah satu pelayan yang datang menghampiri mereka di ruang tengah.


"Baiklah, bi." Adelina menjawabnya sebagai perwakilan anggota keluarga lainnya.


"Aku akan panggilkan Darel!" seru Arga


Setelah itu, Arga pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar adik bungsunya. Sementara anggota keluarga lainnya pergi menuju meja makan.


Kini mereka semua telah berada di meja makan. Dan telah duduk di kursi masing-masing.


Beberapa menit kemudian, Arga datang. Namun, kedatangannya tidak bersama si bungsu. Dan hal itu menarik perhatian anggota keluarganya, terutama kedua orang tuanya dan para saudara-saudaranya.


"Arga. Mana Darel? Bukankah kau dari kamarnya Darel?" tanya Davian.


"Darel tidak ada di kamarnya, kak Davian." Arga menjawab pertanyaan dari kakaknya.


Mendengar jawaban dari Arga membuat mereka semua terkejut.


"Apa?!" teriak mereka, terutama Adelina dan putra-putranya yang lainnya.


Mereka semua panik dan juga khawatir. Bagaimana tidak? Kesayangan mereka tidak ada di rumah. Ditambah lagi, tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaannya dan tidak ada satu pun dari mereka yang melihat kesayangannya itu keluar rumah.


"Pa, Ma. Bagaimana ini?" tanya Raffa khawatir.


Ghali mengambil ponselnya yang ada di saku celananya, lalu menekan nama kontak 'Bunny kakak'.


Beberapa menit kemudian, terdengar nada dering di seberang telepon.


"Aish. Darel tidak menjawab panggilan dariku," ucap Ghali.


"Darel. Kau dimana, sayang." Adelina benar-benar mengkhawatirkan putra bungsunya.


"Aku akan pergi mencarinya!" seru Davian, lalu pergi meninggalkan meja makan.


"Aku ikut denganmu, kak Davian!" seru Nevan.


Setelah itu, Davian dan Nevan pun bersiap-siap untuk pergi mencari adik bungsunya.


Sementara anggota keluarga lainnya kembali ke ruang tengah. Mereka saat ini benar-benar mengkhawatirkan Darel. Mereka membatalkan makan malam karena rasa khawatir mereka terhadap Darel. Bagaimana mereka akan makan malam dengan tenang, sementara kesayangan mereka tidak bersama mereka.


Davian dan Nevan sudah siap dan akan pergi untuk mencari Darel. Namun, ketika Davian dan Nevan ingin melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara klason motor.


TIT!


TIT!


Mendengar suara klason motor diluar. Daffa dan kelima adik-adiknya berlari menuju ruang tamu, lalu mengintip di balik jendela.


Mereka bisa melihat adik bungsunya sedang membuka helm yang menutupi kepalanya dengan posisi masih duduk di atas motor. Mereka semua tersenyum bahagia dan juga sedikit bernafas lega karena tidak terjadi sesuatu kepada kesayangannya.


Setelah puas mengintip di balik jendela. Daffa dan kelima adik-adiknya kembali menuju ruang tengah.


"Siapa, Daffa?" tanya Adelina.


"Darek, Ma." Daffa menjawab pertanyaan ibunya.


"Hah." mereka semua menghela nafas lega karena kesayangannya dalam keadaan baik-baik saja.


Darel memasuki rumahnya dengan menenteng beberapa paper bag di tangannya.


Ketika Darel sudah berada di ruang tengah, tiba-tiba langkahnya terhenti. Darel dapat melihat seluruh anggota keluarganya menatap dirinya. Lebih tepatnya menatap khawatir kepadanya.


Adelina berdiri dari duduknya, lalu melangkah menghampiri putra bungsunya yang berdiri tak jauh darinya dan anggota keluarga lainnya.


Saat ini Adelina telah berada di hadapan putra bungsunya. Tangannya mengelus kedua pipi putranya dengan lembut, lalu memberikan ciuman di kedua pipinya dan juga di keningnya.


"Darel dari mana, hum? Kenapa perginya gak bilang sama Mama atau kakak-kakak kamu?" tanya Adelina lembut.


"Mama dan yang lainnya khawatir loh." Adelina berbicara begitu lembut pada putra bungsunya.


"Maafkan aku, Ma. Tadi aku perginya buru-buru. Jadi, aku lupa ngasih tahu Mama, Papa dan kakak." Darel menjawab pertanyaan dari ibunya sembari memperlihatkan wajah menyesalnya.


Mendengar jawaban dari Darel, mereka semua paham. Mereka juga tidak berniat untuk memarahi atau bertanya terlalu banyak. Bagaimana pun mereka tidak ingin membuat Darel tertekan dan merasa bersalah karena telah pergi tanpa kabar sama sekali.


"Tidak apa, sayang. Mama tidak marah. Mama hanya khawatir saja. Mama takut terjadi sesuatu dengan putra Mama yang tampan ini. Kalau misalnya kamu diculik sama perempuan cantik diluar sana. Terus perempuan itu minta dinikahkan sama kamu, bagaimana? Mama tidak rela jika ada perempuan lain mengambil putra Mama ini." Adelina berbicara sembari menggoda putranya.


"Iih, Mama. Mama ini ngaco, dech. Mana ada penculik seperti itu. Yang ada itu, penculiknya bakal nyiksa tahanannya dan minta uang tebusan." Darel menjawab perkataan ibunya dengan bibir dimanyunkan.

__ADS_1


Mereka tersenyum gemas mendengar perkataan Darel dan juga melihat wajah manyunnya.


Adelina menggandeng tangan putra bungsunya, lalu membawanya ke sofa untuk duduk disana.


"Memang putra Papa ini dari mana, hum?" tanya Arvind.


"Aku pergi ke Mall, Pa! Aku pergi kesana ingin membeli buku untuk materi kuliahku lusa." Darel menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Loh, kenapa harus beli? Bukannya semua buku paket untuk materi kuliah sudah lengkap di perpustakaan yang ada di Kampus. Pihak Kampus sudah menyediakan semuanya." Evan berbicara sembari menatap wajah adiknya.


Mendengar perkataan Evan. Darel hanya diam. Dirinya tidak tahu harus berkata apa pada anggota keluarganya kenapa dirinya lebih memilih untuk membeli buku. Sementara di Kampusnya sudah tersedia banyak buku paket untuk semua materi kuliah.


Melihat Darel yang hanya diam sembari menunduk, mereka semua kembali panik.


PUK!


Davian menepuk pelan bahu adiknya itu, lalu mengusap-usapnya lembut.


"Ada apa, hum? Mau cerita?" tanya Davian lembut.


"Aku.. aku tidak mau menginjakkan kakiku di perpustakaan selama di Kampus, kak." Darel berbicara dengan suara lirihnya.


Davian yang mendengar suara lirih adiknya menjadi tidak tega. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kenapa? Memangnya apa alasan kamu tidak mau menginjakkan kakinya ke perpustakaan di Kampus?" tanya Ghali.


"Aku tidak mau bertemu dengan mereka," jawab Darel.


"Mereka?" anggota keluarganya berucap secara bersamaan.


"Mereka siapa, Rel? Apa ada yang mengganggu kamu selama di Kampus?" tanya Vano.


"Apa kelompok sialan itu masih mengganggumu?" tanya Evan.


Mendengar perkataan Evan. Davian dan yang lainnya melihat kearahnya. Mereka menatap Evan dan juga Raffa meminta penjelasan.


"Mati saja kau bantet." Raffa mengumpati Evan yang keceplosan.


"Evan, Raffa. Katakan pada kakak. Apa yang terjadi di Kampus?" tanya Davian dengan penuh penekanan.


"Dan apa maksud dari kelompok itu?" tanya Nevan.


"Mereka adalah kelompok Block B, kak! Mereka selalu mengganggu, membully dan menyakiti mahasiswa serta mahasiswi di Kampus. Mereka selalu semena-mena di Kampus, apalagi dengan mahasiswa dan mahasiswi junior." Raffa yang menjawab.


"Darel. Katakan kepada kakak. Siapa mereka? Apa benar yang dikatakan Evan jika kelompok Block B yang mengganggumu." Davian berucap.


"Ayolah, Rel! Jangan diam saja," ujar Andre.


"Siapa mereka? Apa benar kelompok Block B?" ucap Arga.


"Dar....." ucapan Elvan terhenti.


"Ka-kakak," lirih Darel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Mereka yang melihatnya menjadi tidak tega dan merutuki kebodohannya karena telah menyerang adiknya dengan banyak pertanyaan.


"Maafkan, kakak."


Davian menarik tubuh adiknya ke dalam dekapannya. Dan memeluk tubuh adiknya erat serta memberikan kecupan di kepalanya.


"Hiks.. aku tidak mau melihat mereka, kakak! Aku tidak mau berdekatan dengan mereka. Aku tidak mau kenalan dengan mereka.. hiks." Darel berbicara sambil terisak.


"Siapa mereka? Katakan pada kakak." Davian berharap adiknya mau bercerita.


"Mereka adalah teman sekelasku. Mereka ada lima orang. Mereka selalu datang menggangguku. Aku sudah menyuruh mereka pergi, tapi mereka selalu saja datang menggangguku."


"Apa mereka menyakiti kamu?" tanya Alvaro.


"Tidak. Mereka tidak pernah menyakitiku. Mereka justru berbicara baik kepadaku," jawab Darel.


Mendengar perkataan dari Darel membuat Raffa berusaha mengingat selama dirinya, Evan dan adiknya berada di Kampus.


FLASHBACK ON


Darel saat ini berada di Kantin. Darel duduk sendiri di sebuah bangku paling pojokan. Darel di temani dengan segelas jus pokat kesukaannya dan ponsel di tangannya.


Ketika Darel sedang fokus dengan ponselnya, tiba-tiba datang lima pemuda tampan menghampirinya.


"Hai, Rel. Boleh kami duduk disini?" ucap dan tanya Zelig.

__ADS_1


Darel hanya diam dan tetap fokus menatap layar ponselnya.


Melihat sikap acuh dan diam Darel membuat Zelig, Juan, Razig, Lucas dan Samuel hanya bisa pasrah. Mereka tidak marah dan tidak akan pernah marah akan sikap acuh dan diam Darel. Mereka paham dan mengerti akan sikap Darel terhadap mereka.


"Rel. Kita sudah lama tidak bermain game CHINESE GHOST STORY bersama. Kapan-kapan kita main, yuk!" seru Lucas.


"Kami kangen bermain lagi denganmu, Rel!" Razig berbicara sambil menatap wajah dingin Darel.


"Oke, jika kau tidak ingin menjalin hubungan persahabatan dengan kami di dunia nyata. Setidaknya, jangan memusuhi kami juga ketika di dunia Game." Samuel berucap dengan nada lirihnya.


"Iya, Rel. Anggap kita tidak kenal dan tidak pernah bertemu. Tetaplah jadi teman kami ketika di dunia Game," sahut Juan.


"Kami mohon, Rel!" Zelig memohon kepada Darel.


Disisi lain dimana Evan, Raffa, para sepupunya dan para sahabatnya yang berada tidak jauh dari Darel duduk dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh teman-teman Darel.


Evan, Raffa dan sepupunya menjadi sedih dan iba melihat kelima teman-teman adiknya yang begitu tulus ingin menjalin hubungan persahabatan dengannya, tapi sang adik menolak.


FLASHBACK OFF


Setelah Raffa mengingatnya. Raffa langsung berbicara.


"Mau sampai kapan kamu akan menutup hati kamu untuk mereka? Mereka benar-benar tulus berteman denganmu, Rel! Setidaknya, lihatlah perjuangan mereka untuk mendekati kamu."


"Raf," tegur Evan.


"Hiks.. hiks.." sektika tangis Darel pecah. Dan hal itu sukses membuat mereka semua kelabakan.


Davian makin mengeratkan pelukannya. Dan mengusap-usap lembut punggung adiknya.


Beberapa detik kemudian, Darel melepaskan pelukannya. Setelah pelukannya terlepas, Darel berdiri dan menatap tajam wajah Raffa.


"Aku tidak mau. Aku tidak mau. Jika mereka menjadi temanku. Jika mereka dekat denganku. Mereka semua akan mati. Mereka akan mati seperti kelima sahabat-sahabatku. Aku tidak mau menjadi penyebab kematian mereka. Sudah cukup aku menjadi penyebab kematian kelima sahabat-sahabatku. Dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Sudah cukup aku kehilangan sahabat-sahabatku. Dan aku tidak mau kehilangan lagi. Aku rela untuk hidup sendiri tanpa ada seorang teman atau pun sahabat. Aku rela tidak memiliki teman atau sahabat lagi, asal semuanya baik-baik saja!"


Darel berbicara dengan air mata yang mengalir membasahi wajah tampannya.


Melihat Darel yang menangis membuat mereka benar-benar tidak tega. Apalagi ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel. Hati mereka benar-benar sakit. Mereka tidak menyangka jika Darel akan berbicara seperti itu.


"Kakak tahu tidak alasanku kenapa aku menolak mereka?" tanya Darel dengan menatap wajah Raffa.


Raffa tidak sanggup melihat wajah sedih adiknya. Raffa benar-benar bodoh telah melontarkan kalimat itu.


"Mereka adalah adik sepupu dari kelima sahabat-sahabatku," ucap Darel dengan air matanya yang makin deras mengalir membasahi wajah tampan nya.


Mendengar ucapan Darel membuat mereka semua terkejut.


"Mereka ingin menjadi sahabatku untuk menggantikan kakak-kakak mereka. Mereka ingin menjagaku, melindungiku, membuatku nyaman dan juga tersenyum kembali seperti dulu. Mereka akan melakukan apa yang dilakukan oleh kakak-kakak mereka kepadaku dulu. Sekarang katakan padaku, kak! Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau ada yang pergi lagi. Aku tidak mau ada yang tersakiti lagi. Apalagi penyebabnya adalah aku!"


Setelah mengatakan itu, Darel berlari menuju kamarnya di lantai dua sembil terus menangis. Sementara anggota keluarganya menatap sedih punggung Darel yang menjauh di lantai atas.


"Maafkan aku Ma, Pa, kak." Raffa berbicara dengan nada lirihnya.


GREP!


Vano memeluk tubuh adiknya. Dan tangannya mengusap lembut punggung Raffa.


"Tidak apa, sayang. Kamu tidak salah. Maksud kamu itu tadi baik. Hanya saja adikmu itu sedikit sensitif jika membahas masalah persahabatan. Kamu tahu sendiri bagaimana kedekatan adikmu dengan ketujuh sahabat-sahabatnya. 12 tahun, loh hubungan mereka. Dan mereka harus dipisahkan dengan kematian dan dua sudah kembali, tapi dalam keadaan tidak baik-baik saja. Jadi, wajar Darel menolak orang baru untuk menjadi sahabatnya." Adelina berbicara sembari menghibur putra bungsu keduanya.


"Iya, Raf. Mama benar. Kamu tidak salah. Kondisi Darel tidak baik saat ini. Jadi, jangan dimasukkan ke hati apa yang diucapkan adikmu barusan. Apalagi mendengar nada bicaranya." Elvan juga berusaha menghibur adiknya.


"Iya, kak. Aku mengerti," jawab Raffa.


"Ya, sudah. Lebih baik kita lanjutkan kembali makan malam kita yang sempat tertunda. Kasihan para pelayan sudah lelah menyiapkan makan malam untuk kita semua." Sandy berbicara untuk mencairkan suasana.


Mendengar ucapan dari Sandy, mereka semua mengangguk dan beranjak dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"Mama akan menyiapkan makan malam untuk Darel dan membawanya ke kamar!" seru Adelina.


Setelah itu, Adelina langsung menyiapkan makan malam untuk putra bungsunya lengkap dengan susu segelas.


Ketika Adelina ingin melangkah untuk menuju kamar putra bungsunya di lantai dua, tiba-tiba Raffa bersuara.


"Ma. Biarkan aku yang membawanya ke kamar Darel. Sekalian aku mau minta maaf."


Adelina tersenyum. "Baiklah, sayang. Kamu antar makan malam ini untuk adikmu ya."


"Bicaralah baik-baik dengan adikmu, hum!" Arvind tersenyum menatap putra bungsu keduanya.


"Baik, Pa." Raffa menjawab perkataan ayahnya.

__ADS_1


"Semangat!" seru para kakak-kakaknya.


Raffa tersenyum. Setelah itu, Raffa pun mengambil makan malam untuk adiknya yang telah disiapkan oleh ibunya dan membawanya ke kamar adiknya.


__ADS_2