
Mereka terus saling melemparkan ejekan satu sama lainnya sehingga membuat anggota keluarga geleng-geleng kepala. Lalu Davian dan Dirga langsung membekap mulut adiknya masing-masing.
"Mmmpppttt!"
Raffa dan Dylan membelalakkan matanya menatap kakaknya. Sedangkan Dirga dan Davian justru memperlihatkan cengiran khas mereka di hadapan adiknya itu.
"Diam, dilepaskan. Kalau tidak, kakak akan lakban mulut kalian berdua" seru Dirga.
"Bagaimana?" tanya Davian.
Raffa dan Dylan langsung mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum gemas melihat tingkah Raffa dan Dylan.
Davian dan dan Dirga langsung melepaskan mulut adik mereka. Seketika Raffa dan Dylan menghembuskan nafas mereka.
"Huufff!"
"Ya, sudah. Lebih baik Pingkan dan Mirza istirahat. Kalian berdua pasti lelah. Ditambah lagi, Pingkan kan baru keluar dari rumah sakit!" seru Sandy.
"Salma, Evita. Bawa mereka ke kamar tamu," perintah Adelina.
"Baik, kak!"
Salma dan Evita langsung berdiri dan membawa Pingkan dan Mirza ke kamar.
"Aku akan menghubungi Darel!" seru Andre.
Andre langsung mengambil ponselnya, lalu menekan nama adik bungsunya itu. Namun beberapa detik kemudian terdengar suara operator.
Mendengar suara tersebut, Andre langsung mematikannya.
"Aish!" Andre berucap kesal.
"Kenapa, sayang?" tanya Arvind.
"Ponsel Darel tidak aktif," jawab Andre.
"Sudah.. sudah. Kalian jangan terlalu khawatir. Kita berdoa saja, semoga Darel baik-baik saja. Darel kan tidak sendirian diluar sana. Ada Arzan, tangan kanannya. Pasti Arzan akan melindungi Darel!" seru Daksa.
Mereka semua mengangguk. Mereka menginginkan kesayangan mereka baik-baik saja diluar sana.
"Darel. Semoga kamu baik-baik saja, sayang!" batin Adelina, Arvind dan para kakak kandungnya.
***
DI PERJALANAN
Darel saat ini dalam perjalanan pulang ke rumah. Darel diantar oleh Arzan.
Niat awalnya, Darel ingin pulang sendiri. Darel ingin merasakan hari-hari sendiri saat berada diluar rumah tanpa ada satu pun yang menjaganya.
Namun bukan Arzan namanya jika dirinya tidak bisa membuat Bos nya itu mau untuk diantar pulang.
Ketika di dalam perjalanan, Baik Darel maupun Arzan melihat ada perkelahian dimana perkelahian tersebut tidak seimbang.
"Kak Arzan. Kita harus menolong mereka. Coba lihat kelima pemuda itu dikeroyok oleh beberapa kelompok. Bahkan bisa dibilang sekitar 20 orang."
"Baik, tuan muda."
"Kakak. Bisa tidak panggil nama saja? Aku benar-benar risih mendengar kata tuan muda itu."
"Maaf, tuan muda.. ini su...."
"Jika kakak masih memanggilku dengan sebutan Tuan muda atau Bos, maka aku akan memecat kakak."
Mendengar ucapan dan ancaman dari Darel membuat Arzan membelalakkan matanya. Sementara Darel pandangannya menatap ke depan.
"Hah! Baiklah. Kakak akan memanggilmu dengan sebutan nama. Sudah bahagia sekarang?"
Darel mengalihkan pandangannya melihat kearah Arzan, lalu terukir senyuman manis di bibirnya. "Itu yang aku inginkan."
Arzan hanya bisa pasrah akan permintaan dari majikannya. Jika tidak dituruti, maka dirinya benar-benar akan dipecat. Dan jika hal itu benar-benar terjadi, maka dirinya akan sangat berdosa pada mendiang Bos besarnya dulu karena baik dirinya maupun rekan-rekannya sudah berjanji dan bersumpah akan selalu menjaga dan melindungi keluarga Wilson. Sekali pun mereka sudah menikah dan memiliki keluarga.
__ADS_1
"Ya, sudah. Ayo, kak!"
Darel dan Arzan pun keluar dari mobil untuk membantu kelima pemuda tersebut. Tapi Darel dan Arzan tidak langsung membantu mereka. Justru Darel dan Arzan mengawasi kelimanya terlebih dahulu. Jika sudah terdesak, barulah Darel dan Arzan membantu.
^^^
BUGH... BUGH...
DUAGH...
GEDEBUM..
SREETTT..
SREEKK..
Lima dari kelompok tersebut tersungkur.
"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian mencegat dan menyerang kami tiba-tiba?" tanya salah satu pemuda itu dengan sedikit berteriak.
"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kami kesini untuk membuat kalian menjadi pengikut kami," ucap dari salah satu kelompok tersebut.
"Cuih! Kami tidak sudi menjadi pengikut kalian!" bentak pemuda kedua.
"Memangnya kalian siapa. Seenaknya saja ingin membuat kami menjadi pengikut kalian!" teriak pemuda ketiga.
"Tampang kalian saja gak ada bagus-bagusnya. Kunyel, kupel, dekil dan bau lagi. Jika kami bergabung dan menjadi pengikut kalian, bisa-bisa kami semua akan sama seperti kalian yaitu ikutan kunyel, kupel, dekil dan bau!" seru Pemuda ketiga itu lagi.
"Hahahahaha." mereka berlima tertawa.
^^^
Disisi lain, Darel dan Arzan yang masih mengawasi perdebatan kelima pemuda dengan beberapa kelompok tersebut ikut tertawa mendengar penuturan dari pemuda ketiga itu.
"Ngomongin orang jelek, padahal dirinya sendiri tak jauh beda. Sama-sama jelek," sahut Darel sembari menatap dingin wajah pemuda ketiga itu. Arzan yang mendengar ucapan dari Darel tersenyum gemas.
"Rel."
Darel menjawab panggilan dari Arzan, namun pandangannya masih fokus melihat lima pemuda tersebut.
"Kau mengenal mereka?"
"Tidak."
"Yakin?"
"1000% yakin."
"Hah!" Arzan hanya bisa menghela nafas saat mendengar jawaban dari Darel. "Katanya tidak kenal. Tapi cara menatapnya gitu amat," batin Arzan.
^^^
Para kelompok itu marah saat mendengar ucapan dari salah satu kelima pemuda tersebut.
"Brengsek! Berani sekali kau menghina kami!" teriak pemimpin itu.
"Habisi mereka sekarang!"
Dan akhirnya perkelahian kembali berlanjut. Para kelompok itu langsung secara bersamaan menyerang lima pemuda tersebut.
Para kelompok itu menyerang lima pemuda itu secara membabi buta sehingga membuat kelimanya kewalahan dan bahkan berulang kali mendapatkan pukulan dan tendangan.
BUGH... BUGH...
DUAGH..
"Aakkhhh!" Dua pemuda itu jatuh tersungkur.
"Ach, sial!" keduanya mengumpat kesal.
"Bagaimana bisa menang. Mereka saja jumlahnya 20 orang," batin pemuda yang tersungkur itu.
__ADS_1
"Beraninya main keroyokan. Dasar bencong!" batin pemuda yang satunya.
"Hei! Kalian tidak apa-apa?!" teriak salah satu pemuda yang masih dalam keadaan berdiri, walau terlihat kelelahan.
Keduanya mengangkat tangan memberikan isyarat bahwa mereka baik-baik saja.
Perkelahian masih berlanjut. Meski mereka berlima, mereka masih mampu untuk melawan 20 kelompok tersebut. Ditambah lagi beberapa dari kelompok itu juga sama-sama lelah dan merasakan sakit di bagian tubuhnya akibat tendangan tak main-main dari kelima pemuda itu.
Disaat perkelahian sedang berlangsung dimana dua pemuda yang tersungkur tadi hendak bangun. Tanpa mereka sadari, ada dua anggota dari kelompok tersebut ingin menghajar keduanya dari arah belakang.
Namun usaha mereka gagal karena ada yang menendang mereka dari arah belakang dengan kuatnya.
DUUAAGGHH.. DUUAAGGHH..
Keduanya langsung tersungkur dan tak sadarkan diri seketika.
Kedua pemuda itu melihat kearah kedua pemuda yang tiba-tiba datang membantu mereka. Begitu juga dengan ketiga pemuda lainnya dan para kelompok tersebut.
Seketika perkelahian terhenti. Ketiga pemuda itu membantu dua temannya yang tersungkur tersebut.
"Kalian yakin tidak apa-apa?" tanya pemuda itu.
"Kami baik-baik saja. Tidak perlu khawatir," jawab keduanya bersamaan.
"Siapa kalian?" tanya pemimpin kelompok itu.
"Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya sekedar lewat saja tadi. Saat melihat kalian yang sedang asyik bermain-main pukul-pukulan. Aku dan kakakku ini jadi ingin ikut dalam permainan kalian," jawab Darel seenaknya.
Mendengar jawaban dari Darel membuat mereka semua membelalakkan matanya, terutama kelima pemuda tersebut. Seketika kelimanya mendengus kesal.
"Apa katanya? Bermain-main? Sialan ini bocah," batin kelima pemuda tersebut.
"Lebih baik kalian pergi dari sini dan jangan mengganggu mereka lagi," ucap Arzan tegas dan penuh penekanan.
"Memangnya kau siapa seenaknya memberikan perintah pada kami!" bentak pemimpin kelompok itu.
"Aku dan adikku berasal dari kelompok BLACK SHARK," jawab Arzan.
DEG..
Kelompok tersebut langsung terkejut dengan membelalakkan matanya mereka masing-masing. Mereka sangat mengenal kelompok BLACK SHARK itu.
Melihat keterdiaman kelompok itu, Darel dan Arzan tersenyum puas.
"Kenapa? Kalian takut? Apa kalian tidak percaya, jika kakakku ini berasal dari kelompok BLACK SHARK? Apa kalian perlu bukti dengan kakakku ini memanggil para pasukannya untuk datang kesini." Darel berucap dengan menatap tajam para kelompok itu.
Mendengar penuturan dari Darel, seketika pemimpin kelompok itu tersadar. Lalu detik kemudian...
"Ayo, pergi!"
Para kelompok itu pun pergi meninggalkan lima pemuda itu, Darel dan Arzan.
Setelah selesai mengatasi para kelompok itu, Darel dan Arzan mengalihkan pandangannya melihat kearah lima pemuda tersebut.
Dan detik kemudian............
"Kau......" tunjuk Darel dan kedua pemuda itu saat mereka bertemu muka
Sementara Arzan dan ketiga pemuda lainnya menatap bingung. Namun satu diantaranya mengenali wajah Darel.
"Hei, bukankah kau si DL yang Nickname dalam Game A CHINESE GHOST STORY. DL itu singkatan dari namamu yaitu Darel. Iya kan?!" seru pemuda itu.
Mendengar penuturan dari temannya, keempat pemuda itu menatap wajah Darel. Sementara Darel hanya menatap pemuda itu tanpa ekspresi sama sekali.
"Kau masih ingat denganku kan? Aku yang saat itu menunjukkan dimana letak perpustakaan saat kau sedang kesusahan mencari letak perpustakaan tersebut. Bahkan kita sempat bermain Game bersama di perpustakaan," ucap pemuda itu lagi.
"Kau salah orang."
Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung pergi meninggalkan kelima pemuda tersebut dan disusul Arzan di belakang.
Kelima pemuda itu menatap kepergian Darel dan Arzan. Satu diantaranya sedari tadi memperhatikan manik coklat Darel. Pemuda itu bisa melihat ada kesedihan, kerinduan dan juga dendam yang terpancar dimatanya.
__ADS_1
"Siapa dia? Apakah dia?" batin pemuda itu.