Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Meminta Maaf


__ADS_3

Setelah selesai sarapan pagi seluruh anggota keluarga Wilson memilih bersantai di ruang tengah. William dan Agatha berada di kamarnya, sedangkan Darel memilih masuk ke dalam kamarnya.


Saat ini Dirga sedang melangkahkan kakinya menuju dapur yang ada di lantai bawah karena dirinya sedang haus. Tetapi langkahnya terhenti di depan kamar Darel ketika Dirga mendengar Darel yang sedang menangis. Dirga pun memberanikan diri mengintip kamar Darel.


Darel duduk di sofa sembari memegang bingkai foto Ayah dan Kakeknya. Posisi letak sofa membelakangi pintu kamarnya.


"Hiks.. Papa.. Kakek. Aku merindukan kalian. Kenapa kalian pergi meninggalkanku?" Isak Darel dan tangannya mengelus bingkai foto tersebut.


"Kakek. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus membongkar semua rahasia ini kepada mereka semua, terutama pada Paman William, Kak Dirga dan Kak Marcel?"


"Apa? Rahasia? Aku? Papa? Marcel?" ucap Dirga pelan.


"Kakek. Aku tidak bisa berpura-pura bertengkar atau berpura-pura membenci Kak Dirga dan Kak Marcel. Bagaimana pun mereka adalah cucu kandungmu dan putra kandung Paman William? Tapi kalau dengan Kak Rayyan, Kak Kevin, Kak Dzaky, Kak Caleb dan Kak Aldan aku masih bisa melawan mereka semua karena mereka bukan cucu kandungmu dan bukan putra kandung Paman William.


"Apaa? Ja-jadi kelima adik-adikku itu bukan adik-adik kandungku. Hanya Marcel adik kandungku." Dirga benar-benar terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Darel.


"Kakek.. hiks.. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuk membuat wanita sialan itu keluar dari rumah ini serta membawa kelima putra-putranya itu. Mereka sudah terlalu lama berbuat seenaknya di rumah ini. Perempuan itu sudah terlalu lama menyakiti Paman William dengan kebohongannya. Aku kasihan dengan Kak Dirga dan Kak Marcel karena mereka menjadi korban keserakahan ibu tiri mereka. Mereka berdua tidak tahu kalau ibu tiri mereka itu hanya memanfaatkan mereka saja untuk mendapatkan Perusahaan CJ GRUP. Setelah ibu tiri mereka berhasil mengambil alih CJ GRUP, mereka berdua akan dibuang begitu saja. Kakek.. hiks.. hiks."


Seketika Dirga teringat kejadian dimana Evan beradu mulut dengan ibu dan saudara-saudaranya.


Dirga sedang berada di dalam kamar. Lalu dirinya mendengar suara keributan diluar, kemudian Dirga pun keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.


Saat tiba luar, tepatnya Dirga berdiri dibatas sembari melihat kebawa, ibunya dan kelima adik-adiknya sedang berperang mulut dengan Evan.


Dirga bisa mendengar dengan jelas ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh ibunya, adik-adiknya dan juga Evan.  Bahkan Dirga bisa melihat Evan yang menatap marah kearah ibunya.


Setelah mengingat kejadian adu mulut ibunya, adik-adiknya dengan Evan membuat Dirga menyadari sesuatu.


"Sekarang aku mengerti. Kenapa Kakek menyerahkan semua kekayaannya pada Darel? Jadi ini alasan Kakek melakukan hal ini. Brengsek! Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Mulai hari ini secara diam-diam, aku akan membantu adikku untuk menghancurkan perempuan iblis itu dan kelima putranya. Dimulai dari aku akan mencari bukti tentang kecelakaan yang menimpa Paman Arvind, Kakek dan Darel. Aku yakin perempuan itu ada hubungannya." Dirga berbicara dengan penuh keyakinan dan mantap.


Dirga melihat kearah Darel yang masih menangis dengan bingkai foto di tangannya. "Maafkan Kakak, Rel! Maafkan Kakak. Kakak berjanji akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Kau tidak sendirian ada Kakak dan yang lainnya. Termasuk Evan. Kakak kesayanganmu itu juga sudah mengetahui semuanya." Dirga berucap pelan.


Setelah mengatakan hal itu, Dirga kembali ke kamarnya berusaha bersikap seperti biasanya agar rencananya berjalan lancar.


***


Darel masih berada di rumahnya. Dirinya belum diizinkan untuk masuk sekolah oleh para Kakaknya. Sudah empat hari Darel tidak masuk sekolah dan pihak sekolah juga sudah mengetahui perihal Darel yang tidak bisa masuk sekolah. Bahkan pihak sekolah juga tahu Darel adalah salah satu anggota keluarga dari Donatur terbesar sekolahnya itu. Siapa lagi kalau bukan Kakeknya dan Ayahnya yaitu Antony Wilson dan Arvind Wilson. Keduanya juga Donatur di tempat Alvaro dan Axel kuliah serta Evan dan Raffa sekolah.


Saat ini yang berada di rumah adalah Alvaro dan Axel. Mereka sengaja cuti dua hari untuk menjaga Darel di rumah. Adelina sudah kembali ke Butik miliknya, walau dirinya juga enggan untuk meninggalkan putra bungsunya yang saat ini masih dalam keadaan belum bisa dikatakan baik-baik saja. Putra bungsunya itu masih memikirkan tentang kecelakaan yang menimpanya, Ayah dan Kakeknya.

__ADS_1


Darel sedang duduk santai di ruang tengah ditemani beberapa cemilan dan susu kesukaannya yang sudah tertata rapi di atas meja. Lengkap dengan televisi yang menyala. Ada tontonan yang menarik baginya, yaitu Iron Man.


Awalnya, Darel tidak ingin keluar dari kamarnya dan ingin tetap berada dalam kamarnya, tapi karena berkat bujukan dan rayuan dari Alvaro dan juga Axel, akhirnya Darel berakhir di ruang tengah.


Alvaro dan Axel berada di kamar mereka masing-masing. Mereka sedang mengambil beberapa tugas mereka, lalu mereka akan mengerjakannya di ruang tengah sembari menjaga dan mengawasi adik bungsu mereka. 


Alvaro dan Axel melakukan hal itu hanya semata-mata untuk menghibur adik bungsu mereka. Mereka tidak ingin adik bungsu mereka terus-menerus menangis. Di depan mereka semua adik bungsu mereka terlihat kuat. Tapi disaat dibelakang mereka, sang adik menangis sejadi-jadinya.


Alvaro, Axel dan anggota keluarga lainnya sangat tahu betul akan kondisi Darel yang sebenarnya. Darel memilih menyendiri di kamar agar bisa menangis sepuas-puasnya. Darel menangis sembari memegang bingkai foto Ayah dan Kakeknya. Setiap melihat wajah Ayah dan Kakeknya itu, bayangan kecelakaan itu selalu muncul di pikirannya. Dan itu sukses membuat Darel selalu menyalahkan dirinya.


Ketika Darel sedang asyik dengan dunianya sendiri. Tiba-tiba Dirga datang menghampirinya.


"Hei, Rel!" Dirga menyapa Darel.


Darel yang merasa dipanggil hanya sedikit melirik kearah Dirga, lalu matanya kembali fokus pada televisi.


Dirga yang melihat respon dari Darel hanya tersenyum gemas melihatnya. Dirinya tak marah pada Darel. Bahkan dirinya sadar akan sikap Darel padanya. Dan detik kemudian, Dirga memberanikan diri untuk duduk di samping Darel.


Tidak ada yang bersuara. Keduanya hanya diam. Hanya terdengar suara kriuk-kriuk dari mulut Darel. Setelah sepuluh menit dalam keadaan hening. Darel mulai jengah dan akhirnya mengalah.


"Mau apa Kakak kesini?" tanya Darel to the poin.


"Eeemmm... ituu.. anuuuu." Dirga sedikit grogi untuk mengucapkan kata maaf pada Darel.


"Bukan.. Bukan. Kakak kesini mau minta maaf padamu," Jawab Dirga tulus.


Darel membelalakkan kedua matanya dan seketika menghentikan kunyahannya saat mendengar penuturan dari Dirga yang notabenenya adalah musuh bebuyutannya. Dan kemudian Darel menolehkan wajahnya untuk melihat kearah Dirga yang duduk di sampingnya. Darel menatap Dirga lekat, dari mulai atas sampai bawah dengan memicingkan matanya.


"Setan mana yang sudah merasuki dirimu, Dirga Wilson?" batin Darel.


"Apa?" tanya Darel.


"Kakak ingin meminta maaf padamu, Rel! Maafkan kelakuan buruk Kakak selama ini," sahut Dirga tulus.


Tatapan Dirga fokus ke depan. Ya, lebih tepatnya menatap televisi. Dirga tidak berani menatap wajah Darel. Bukan karena takut, tapi dikarenakan rasa bersalahnya dan penyesalannya terhadap Darel.


Darel kembali menatap televisi dan melanjutkan memakan cemilannya.


"Apa alasan Kakak meminta maaf padaku? Kakak tidak lagi merencanakan hal-hal buruk padaku kan?"

__ADS_1


"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, Darel?" tanya Darel balik.


Darel mengangkat kedua bahunya acuh. "Tidak tahu. Bagiku aneh saja. Tiba-tiba Kakak datang menemuiku, kemudian duduk di sampingku, lalu Kakak meminta maaf." Darel berbicara sambil matanya menatap televisi.


Dirga terdiam mendengar ucapan Darel. Dirga membenarkan apa yang diucapkan oleh Darel. Dirinya memang aneh, itu menurut Darel. Tapi bagi Dirga, dirinya tidak aneh sama sekali. Justru dirinya benar-benar bersungguh-sungguh meminta maaf pada Darel.


"Karena aku sudah tahu yang sebenarnya, Rel! Selama ini tanpa aku ketahui aku telah terhasut oleh perempuan iblis itu. Aku ingin memperbaiki semua. Dan aku juga ingin mencari dimana keberadaan kelima adik kandungku," batin Dirga.


Tanpa Darel dan Dirga ketahui. Alvaro dan Axel datang menghampiri mereka.


"Mau apa lagi kau, Kak Dirga!" bentak Axel.


Darel dan Dirga melihat kearah Alvaro dan Axel. Darel dapat melihat aura kemarahan di wajah kedua kakaknya itu. Darel langsung berdiri menghampiri Alvaro dan Axel.


"Tenangkan dirimu Kak Axel. Kak Dirga tidak melakukan hal apapun padaku," ucap Darel yang berusaha menenangkan Axel.


"Kau sedang tidak berbohong pada kamikan, Rel?" tanya Alvaro.


"Kami tahu sifatmu itu, Rel. Kau rela berbohong pada kami hanya untuk menghindari pertengkaran," Kata Axel.


"Tidak Kak Alvaro, Kak Axel. Kali ini aku mengatakan hal yang benar. Kak Dirga tidak melakukan apapun padaku. Kak Dirga hanya ingin meminta maaf padaku. Itu saja Kak." Darel masih berusaha untuk meyakinkan kedua kakaknya.


Alvaro dan Axel menatap manik mata adik bungsu mereka. Terlihat dari tatapan mata adiknya itu, tatapan kejujuran.


"Baiklah. Kami percaya padamu," jawab Alvaro dan Axel bersamaan. Darel mendengar itu tersenyum bahagia.


"Ya, Sudah. Aku akan kembali ke kamarku. Maaf telah mengganggumu, Rel!" Dirga berucap.


Setelah itu, Dirga langsung pergi meninggalkan ketiganya untuk menuju kamarnya.


Alvaro dan Axel masih menatap tajam kearah Dirga. Darel kembali menatap kedua Kakaknya.


"Kakak," panggil Darel.


Sedangkan Alvaro dan Axel tak menjawabnya. Mereka masih memperhatikan Dirga.


Darel merasa jengah melihat kedua kakaknya itu. Dan akhirnya Darel pun beraksi.


"Kak Alvaro.. Kak Axel. Ada kecoak di kaki kalian!" teriak Darel.

__ADS_1


Mendengar teriakan Darel, hal itu sukses membuat Alvaro dan Axel melompat-lompat sambil berpelukan dan tidak lupa dengan teriakan mereka yang melengking di ruang tengah.


Sedangkan Darel sudah duduk anteng di sofa sambil melanjutkan makan cemilannya.


__ADS_2