
Darel sudah berada di depan gerbang sekolahnya.
"Hei. Kenapa wajahnya ditekuk begitu sih?" tanya Arga sambil mengacak-acak rambut adiknya. "Ada apa, hum?" tanya Arga lagi ketika adiknya tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku kesal sama Kak Vano. Seenaknya saja membekap mulutku," adu Darel dengan bibir yang dimanyunkan.
Arga tersenyum gemas melihat bibir manyun adiknya itu. "Sudahlah. Kakak pucatmu itu cuma bercanda. Ya, sudah! Masuk sana. Nanti gerbangnya ditutup dan kamu gak bisa masuk." Arga berbicara lembut sembari memberikan kecupan di kening adiknya.
"Hm!" Darel melangkah memasuki gerbang sekolahnya.
Darel melangkah menuju kelasnya. Saat sudah berada di depan pintu kelasnya, Darel melihat sahabat-sahabatnya sudah duduk anteng di kursi masing-masing.
"Tumben sudah pada datang. Kompak lagi!" seru Darel sambil melangkah masuk ke dalam kelas.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin dan Kenzo yang mendengar penuturan dari Darel mendengus kesal. Dan menatap horor pada Darel.
Sedangkan Darel tidak peduli akan kekesalan sahabatnya dan dirinya langsung duduk di kursi miliknya di samping Kenzo.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku tahu wajahku ini tampan," ucap Darel yang melihat sahabat-sahabatnya masih menatapnya.
"Kau itu terlalu pede, Rel." Brian berucap.
"Kalau dilihat-lihat wajahmu biasa saja. Tidak jelek dan tidak juga tampan," Ledek Evano.
"Bilang aja kalau kalian itu iri padaku. Iyakan? Wajahku ini tampan. Sedangkan wajah-wajah kalian itu mirip simpanse yang lagi ketawa," ejek Darel.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin dan Kenzo yang mendengar penuturan dari Darel membelalakkan matanya dan mereka menatap tajam Darel. Lalu detik kemudian...
BAKK!
BUKK!
JDAKK!
JDUKK!
TAKK!
PLETAAKK!
Darel mendapatkan serangan bertubi-tubi dari sahabat-sahabatnya.
"Yak. Hentikan! Apa kalian berniat ingin membunuhku, hah?!" teriak Darel.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin dan Kenzo pun menghentikan aksi mereka. Dapat mereka lihat keadaan Darel yang sudah kacau. Terutama rambutnya yang sudah acak-acakan. Dan bibir yang mengerucut kesal.
"Hahahahaha." mereka semua tertawa melihat wajah Darel yang kusut dan juga imut. Begitu juga murid-murid yang lainnya.
"Sudah puas?" tanya Darel sembari merapikan penampilan dan rambutnya.
"Puas sekali," jawab Brian dan Azri.
"Sangat puas," jawab Damian, Evano, Farrel, Gavin dan Kenzo
"Dasar sinting, gila." Darel mengumpat.
Saat Kenzo ingin membalas ucapan Darel, terdengar suara seseorang yang memasuki kelas.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi, Bu!" jawab mereka semua.
"Pagi ini ibu akan memberikan ulangan dadakan. Sekarang simpan semua peralatan tulis kalian, kecuali pena dan kertas kosong di atas meja. Sekarang!"
__ADS_1
"Siap, Bu."
"Aish! Galak sekali, sih jadi guru. Ntar aku kirim ke planet Pluto baru tahu rasa," gumam Darel.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin dan Kenzo yang mendengar gumaman Darel tersenyum gemas.
***
Anggota keluarga Wilson berkumpul kembali di ruang tengah setelah selesai sarapan pagi bersama. Mereka semua tampak bahagia, walau terlihat gurat kekhawatiran di wajah mereka dikarenakan mereka tidak tahu apa yang akan direncanakan oleh Mathew. Tapi mereka harus kuat, semangat dan kompak untuk menghadapi kejahatan Mathew.
"Dylan bahagia bisa berkumpul lagi dengan Papa!" seru Dylan yang kini sedang berpelukan dengan Ayahnya.
"Papa juga bahagia bisa bertemu dengan kalian lagi sayang. Ini semua berkat adik kalian, Darel. Kalau bukan berkat kerja kerasnya adik kalian itu mungkin Papa tidak akan pernah bisa bertemu kalian. Dan Papa pasti akan terus ditipu oleh perempuan mirahan itu."
Mereka semua pun turut bahagia. Akhirnya keluarga mereka lengkap. Walaupun orang yang mereka sayangi telah pergi untuk selamanya.
"Kalau seandainya Papa ada disini. Papalah orang yang pertama yang akan merasakan kebahagiaan saat melihat kelima cucu-cucunya kembali," sela Evita dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Sayang." Daksa mengelus lembut punggung istrinya.
"Papa," lirih Arvind, William dan Sandy. Mereka juga menangis.
Arvind yang paling sedih disini. Dirinya sudah bersusah payah menyuruh Ayahnya dan putranya untuk melompat dari dalam mobil agar mereka selamat, tapi takdir berkata lain. Ayahnya meninggal dalam keadaan yang sangat kejam.
"Mathew. Tunggu pembalasanku. Aku akan membalas kematian Ayahku," batin Arvind dan tangannya mengepal kuat. Hal itu dapat dilihat oleh para putra-putranya dan istrinya Adelina.
Saat mereka tengah berperang dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba Zayan datang.
"Maaf Tuan, Nyonya, Tuan muda. Diluar tuan Mathew datang bersama beberapa anak buahnya."
"Biarkan bajingan itu masuk," sahut Arvind.
"Baik, tuan." Zayan langsung pergi meninggalkan ruang tengah menuju pintu utama.
"Kita lihat. Rencana apa lagi yang akan diperlihatkannya pada kita," ucap Sandy.
"Hallo, semuanya. Aku datang!" seru Mathew yang melangkah dengan santai menuju ruang tengah.
Mereka semua menatap tajam kearah Mathew. Tatapan penuh dendam. Mereka dapat melihat Mathew datang dengan dua puluh orang anak buahnya, lengkap dengan senjata di tangan masing-masing.
"Rencana apa lagi sekarang, Mathew?" tanya Arvind.
Arvind berdiri dari duduknya, dan diikuti oleh anggota keluarga lainnya. Mereka semua menatap penuh amarah kearah Mathew.
"Hei, Arvind. Ternyata kau selamat dalam kecelakaan itu. Aku pikir kau juga ikut mati bersama si tua bangka itu." Mathew berbicara dengan sangat kejamnya.
"Brengsek! Jaga ucapanmu itu, Mathew!" bentak Sandy. Sandy ingin menghampiri Mathew, tapi ditahan oleh Arvind.
"Jangan dulu. Biarkan bajingan itu bermain-main dengan rencananya terlebih dahulu," bisik Arvind pada Sandy.
Mathew melangkah menuju sofa dan dengan santai Mathew menduduki pantatnya di sofa tersebut.
"Aku tidak melihat istriku dan kelima putra-putraku. Dimana mereka?" tanya Mathew angkuh.
Baik Arvind maupun anggota keluarga lainnya tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari bajingan Mathew.
Mathew merasa kesal karena pertanyaannya tidak dijawab. Lalu Mathew memberikan kode pada anak buahnya untuk menyakiti salah satu anggota keluarga Wilson. Dan anak buahnya pun mengerti dengan kode tersebut, kemudian anak buahnya itu menodongkan senjatanya tepat di kepala Raffa, putra bungsu kedua Arvind.
"Raffa!" teriak mereka.
"Katakan padaku. Dimana Agatha dan putra-putraku atau aku tidak akan segan-segan untuk membunuh putramu itu, Arvind!" teriak Mathew.
Arvind menggeram. "Brengsek kau, Mathew!" bentak Arvind.
__ADS_1
SREEKK!
Bunyi pelatuk yang ditarik oleh anak buahnya Mathew dan bersiap menembak kepala Raffa.
"Istrimu ada di kamar pembantu dan putra-putramu berada di gudang," jawab Arvind.
"Brengsek kau Arvind!" teriak Mathew. Mathew mengarah senjatanya tepat di paha kiri Raffa.
DOR!
BRUUKK!
"Aakkhhh!" teriak Raffa saat kakinya ditembak oleh Mathew. Raffa jatuh terduduk di lantai dengan kaki yang terluka.
"Raffa!" teriak Arvind, Adelina dan para kakaknya serta anggota keluarga lainnya. Davian dan yang lainnya menghampiri Raffa.
"Papa, Kakak.. hiks.. sa-sakit." Raffa terisak sembari menahan sakit.
Nevan menekan luka di paha Raffa lalu membalut luka itu agar tidak mengeluarkan banyak darah. Sedangkan Daffa memeluk tubuh Raffa yang bergetar.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan, Mathew? Kau berani menyakiti putraku. Aku dan keluargaku saja tidak ada yang menyakiti putra-putramu, walau kami berniat ingin menyakiti mereka. Tapi kami berpikir kalau mereka tidak salah apapun. Yang salah itu adalah kalian para orang tuanya!" teriak Arvind.
Mathew menodongkan senjatanya kearah Arvind, dan hal itu sukses membuat semuanya berteriak.
"Suruh salah satu dari mereka membawa putra-putraku dan Agatha kemari!" perinta Mathew.
"Sandy," ucap Arvind dengan menatap tajam Mathew.
Sandy yang mengerti pun langsung menyuruh kedua putranya untuk membebaskan kelima putranya Mathew.
"Steven, Dario. Bawa mereka kemari," pinta Sandy.
"Baik, Pa." Steven dan Dario langsung menuju gudang.
"Dirga. Kau juga bawa perempuan sialan itu kemari." William juga menyuruh putra sulungnya untuk membawa Agatha ke ruang tengah.
"Baik, Pa." Dirga pun pergi menuju dapur.
Tak butuh lama Dirga, Steven dan Dario datang membawa Agatha dan kelima putranya ke ruang tengah.
Disisi lain, Zayan sedari tadi berusaha menghubungi Darel. Namun, hasilnya tetap sama. Ponsel Darel tidak aktif.
"Ach, sial. Kenapa ponselnya Bos susah sekali dihubungi? Apa Bos masih di kelasnya?" gerutu Zayan.
Sembari menunggu Bosnya yang menelpon balik. Zayan menghubungi Arzan dan memberikan kabar tentang keadaan keluarga Wilson.
"Hallo, Zayan. Ada apa?"
"Hallo, Arzan. Gawat! bajingan itu sudah bertindak."
"Mathew?"
"Iya. Dan sekarang Mathew berada di rumah keluarga besar tuan besar Antony. Mathew tidak datang sendiri. Dia datang dengan dua puluh anak buahnya. Bahkan Mathew sudah berani melukai salah satu putra tuan Arvind yaitu tuan muda Raffa."
"Brengsek! Kita kecolongan, Zayan. Sekarang apa rencanamu?"
"Aku belum tahu. Aku belum dapat perintah dari Bos. Bos masih di sekolahnya. Aku sudah berulang kali menghubunginya. Tapi ponselnya tak aktif. Oh, iya! Ibu dan adik perempuan dari si brengsek itu masih amankan?"
"Masih. Mereka masih dalam pengawasanku dan anak buahku. Sesuai perintah dari Bos. Kalau mereka melawan, aku dan anak buahku tidak akan segan-segan menyakiti mereka."
"Bagus. Sekarang aktifkan earphonemu dan aku juga akan aktifkan earphone milikku. Hubungkan ponselmu dengan GPS milikku. Aku sudah memasang alat pelacak dan perekam suara di dalam ruang tengah keluarga Wilson."
"Baik."
__ADS_1
"Ya, sudah. Kalau begitu aku tutup dulu. Aku akan mencoba untuk menghubungi Bos kembali."
PIP!