
Darel sudah di baringkan di tempat tidur. Dan wajahnya terlihat pucat. Mereka semua menangis melihat kondisi Darel yang saat ini terutama Adelina, Arvind dan putra-putranya.
Davian dan adik-adiknya tersadar setelah apa yang telah terjadi sehingga berakhir adik bungsunya nekad untuk melukai dirinya sendiri. Baik Davian maupun adik-adinya merutuki kebodohannya karena sudah terpancing saat melihat sikap keras kepala Darel.
"Hiks... Hiks... Maafkan aku. Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak melakukan itu kepada Darel." Raffa menangis terisak.
Dirga yang duduk di samping Raffa langsung menariknya ke dalam pelukannya. "Jangan terlalu dipikirkan, oke! Semuanya akan baik-baik saja. Kita semuanya salah disini."
"Iya, sayang. Kakak sepupumu benar," ucap Adelina.
Adelina saat ini duduk di samping ranjang putra bungsunya dan tangannya mengusap-ngusap lembut rambutnya.
"Sayangnya, Mama!" Adelina berucap lirih sembari menatap wajah pucat putra bungsunya.
"Davian," panggil Arvind.
"Iya, Pa!" Davian melihat kearah ayahnya.
"Kalau Papa boleh tahu. Apa alasan kamu sampai kelepasan menampar adikmu?" tanya Arvind.
Seketika Davian menundukkan kepalanya. Mereka semua melihat kearah Davian. Mereka sangat tahu Davian tidak pernah bersikap kasar atau pun main tangan kepada adik-adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Maafkan aku, Pa! Aku benar-benar tidak sengaja. Aku kelepasan."
"Apa yang terjadi, Nak?" tanya Adelina.
"Aku dan Darel saling adu mulut. Aku membujuknya untuk pulang. Sementara Darel sama sekali tidak mau pulang. Bahkan Darel memutuskan untuk tinggal sendiri. Darel tidak ingin tinggal bersama kita lagi." Davian menangis kala mengingat pertengkarannya dengan adik bungsunya.
Sementara yang lainnya terkejut saat mendengar cerita dari Davian. Mereka tidak menyangka jika Darel berniat untuk tinggal sendirian. Mereka semua melihat kearah Darel yang saat ini masih setia memejamkan matanya.
"Aku terus membujuk Darek agar mau ikut pulang bersamaku, Nevan dan Ghali. Tapi tetap saja, Darel tidak mau ikut pulang. Bahkan Darel mengucapkan kata-kata yang begitu menyayat hatiku."
"Apa, Nak? Darel bilang apa?" tanya Arvind.
FLASHBACK ON
Darel langsung menarik kasar tangannya sembari berucap, "Pergi!"
Davian, Nevan dan Ghali terkejut mendengar ucapan dari adiknya yang menyuruh mereka untuk pergi.
"Darel," lirih Davian, Nevan dan Ghali.
Darel bangkit dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi. "Lebih baik kalian pulang. Aku akan tetap disini. Aku tidak akan pernah pulang lagi," ucap Darel yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
BLAM!
Pintu kamar mandi di tutup secara kasar oleh Darel sehingga membuat ketiga kakaknya terkejut.
"Darel, kamu cuma bercanda kan?" tanya Ghali.
__ADS_1
"Kamu gak seriuskan, Rel?"tanya Nevan.
"Aku serius. Aku tidak akan pernah pulang ke rumah itu lagi. Aku sudah memutuskan mau tinggal sendiri. Aku nggak mau tinggal sama orang-orang pembohong seperti kalian!" teriak Darel dari dalam kamar mandi.
"Darel. Dengar du..." perkataan Davian terpotong.
"Aku tidak sudi dan tidak akan mau mendengarkan apapun alasan kalian. Palingan alasan kalian itu sama seperti alasan-alasan kalian sebelumnya. Alasan-alasan kalian itu tak lain adalah aku. Kalian setiap hari beralasan tidak ingin melihatku sakit, tidak ingin melihatku terluka. Kalian semua seakan-akan menganggapku anak dan adik yang lemah. Kalian membuatku tidak bisa melakukan apapun yang aku mau dan membuatku selalu bergantung pada kalian semua. Mau sampai kapan kalian memperlakukanku seperti ini? Tidak selamanya kalian akan seperti ini terus kepadaku. Suatu saat kalian pasti akan memiliki seorang kekasih dan aku tidak ingin menjadi perusak dalam hubungan asmara kalian dikarenakan kalian terlalu memanjakanku dan overprotektif padaku!" teriak Darel dari dalam kamar mandi.
Hening..
"Dan aku tidak ingin menjadi beban untuk kalian!" teriak Darel lagi.
"Darel!" teriak Davian, Nevan dan Ghali.
Davian, Nevan dan Ghali tidak suka ketika mendengar ucapan dari adiknya itu. Mereka tidak suka jika adiknya menganggap dirinya sendiri sebagai beban untuk mereka maupun anggota keluarga.
CKLEK!
Pintu kamar mandi dibuka. Darel keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang cerah. "Aku sudah mantap dengan keputusanku. Aku mau tinggal sendiri. Aku gak mau pulang."
Davian menggeram marah ketika mendengar ucapan dari adiknya itu. Davian beranjak dari duduknya dan menghampiri adiknya.
Davian menyentak tubuh adiknya agar menghadap padanya. Setelah itu, Davian menatap lekat matanya. "Sampai kapan pun kakak tidak akan pernah mengizinkan niatmu untuk tinggal sendiri. Kamu harus pulang dan tinggal bersama kami." Davian berucap dengan penuh penekanan.
Darel melepaskan kedua tangan kakaknya dari bahunya dengan kuat sehingga tangan kakaknya itu terlepas. "Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa dan usiaku sudah sudah 21 tahun," jawab Darel.
"Iya. Usia kamu memang sudah 21 tahun. Tapi bagi kami semua kau tetaplah adik kecil kami. Dan kami akan selalu dan terus menjaga dan mengawasimu." Davian menatap tajam adiknya.
"Tapi kakak peduli. Kita pulang sekarang!"
Davian menarik kasar tangan adiknya dan membawanya keluar dari kamar Hotel. Sementara Nevan dan Ghali menatap khawatir Darel.
"Lepas." Darel menarik kasar tangannya. "Apa kakak tidak dengar. Aku tidak mau pulang. Jika kakak mau pulang. Pulang sana bersama kak Nevan dan kak Ghali. Tapi aku tetap disini."
"Kamu benar-benar keras kepala, Darel!"
"Keras kepalaku karena kesalahan kalian. Kalian semua jahat. Kalian semua pembohong. Kalian membohongiku tentang kelima sahabat-sahabatku. Mereka semua masih hidup, tapi dengan tega kalian menyembunyikannya dariku!" teriak Darel.
Darel menatap tajam kakak tertuanya itu. "Aku menyesal telah memilih untuk bertahan. Jika aku tahu orang-orang yang aku sayangi semuanya pada kompak membohongiku. Lebih baik aku tidak kembali kepada kalian. Lebih baik saat itu aku memilih untuk ikut bersama kakek!"
Mendengar ucapan dari Darel yang menurut Davian, Nevan dan Ghali sangat kejam dan menyakitkan hati. Mereka menatap marah Darel. Tidak seharusnya adiknya berbicara seperti itu.
"Jaga bicaramu, Darel Wilson! Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu," sahut Davian.
"Kenapa? Kakak tidak terima aku berbicara seperti itu? Tapi kenyataannya aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Semangat hidupku telah hilang. Semangat hidupku adalah kalian semua. Tapi kalian telah merusaknya dengan cara membohongiku."
"Kalian jahat. Kalian semua jahat padaku. Aku benci kalian! Aku benci kalian! Lebih baik aku pergi saja dari dunia ini agar aku tidak selalu menjadi beban untuk kalian!"
PLAAKK!
__ADS_1
"Kak Davian!" teriak Nevan dan Ghali ketika melihat untuk pertama kalinya kakaknya itu menampar adik bungsunya.
Setetes liquit bening jatuh membasahi wajah tampannya ketika merasakan sakit di pipinya akibat tamparan dari kakak kesayangannya.
Sementara Davian menatap dengan air mata telapak tangannya yang sudah menampar adiknya barusan. Tangan Davian bergetar.
Davian menatap wajah merah adiknya. Tangannya terangkat ingin mengusapnya. Namun Darel langsung memundurkan langkahnya.
"Rel... Hiks. Maafkan kakak. Kakak tidak sengaja." Davian berucap lirih.
FLASHBACK OFF
Mendengar cerita dari Davian. Mereka semua benar-benar terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka efek dari mereka yang menyembunyikan fakta tentang kelima sahabat Darel.
Ketika mereka semua menatap wajah Darel, tiba-tiba terdengar lenguhan dari bibirnya. Dan berlahan Darel membuka matanya.
"Sayang," ucap Adelina dengan mengecup keningnya.
"Keluar," ucap Darel.
"Sayang," lirih Arvind dan Adelina.
"Aku bilang keluar!" teriak Darel lagi.
"Baiklah, sayang! Papa dan Mama akan keluar." Arvind dan Adelina memilih untuk mengalah.
Kini tinggal Darel dan para kakak-kakaknya di dalam kamarnya. Darel yang menyadari bahwa kakak-kakaknya masih berada di kamarnya kembali bersuara.
"Kenapa kalian masih ada disini. Bukannya aku menyuruh kalian keluar," ucap Darel tanpa melihat wajah kakak-kakaknya.
"Kami tidak mau. Dan kami ingin di sini," jawab Axel.
"Tapi aku tidak mau melihat kalian apalagi bicara dengan kalian," balas Darel ketus.
"Buktinya barusan kamu bicara dengan kami," ejek Alvaro.
Mendengar jawaban dari Alvaro. Darel mendengus kesal, lalu Darel merubah posisi tidurnya menghadap ke kanan dan membelakangi kakak-kakaknya. Mereka yang melihat sikap Darel hanya tersenyum gemas.
Baik Davian maupun adik-adiknya tahu jika Darel hanya kesal dan kecewa saja dengan mereka semua. Makanya saat ini mereka ingin membuat rasa kesal dan rasa kecewa Darel hilang. Setelah itu, barulah mereka menjelaskan yang sebenarnya.
"Darel," panggil Andre sembari membelai kepala belakangnya.
Sementara Darel hanya diam dan tidak berniat untuk menjawab panggilan dari kakak kelimanya itu.
Andre yang tidak mendapatkan reaksi dari adiknya hanya bisa berusaha tersenyum, walau hatinya merasakan sakit karena diacuhkan oleh adik manisnya.
"Darel, kakak...." perkataan Raffa terpotong.
"Aku tidak mau dengar apapun dari kalian. Lebih baik kalian keluar dari kamarku. Jika kalian masih ingin di kamarku, maka jangan ada yang bersuara." Darel berbicara dengan nada ketus dengan posisi membelakangi semua kakaknya.
__ADS_1
Mendengar perkataan dari adik bungsunya membuat hati mereka benar-benar sakit dan terluka. Adik kesayangannya sama sekali tidak ingin melihat dan berbicara.