Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kerinduan Darel Terhadap Ketujuh Sahabatnya


__ADS_3

SCHOOL OF PERFORMING


ARTS SEOUL


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, akhirnya mereka sampai disekolah.


"Turun."


Pemuda yang lebih muda itu pun membuka pintu mobil dan langsung keluar.


"Belajar yang benar. Jangan berkelahi."


"Aish. Aku tidak pernah berkelahi, kak! Sekali pun pernah, itu pun aku hanya membela diri."


"Tidak usah protes. Sana masuk."


"Baiklah."


Dikarenakan pemuda itu tidak ingin membuat kakaknya marah, pemuda itu pun melangkah memasuki gerbang sekolah.


Melihat sang adik telah memasuki gerbang sekolah. Pemuda itu pun langsung pergi meninggalkan sekolah untuk menuju Kampus nya.


***


KAMPUS


Darel sudah berada di Kampus. Saat ini Darel berdiri di halaman Kampus. Matanya menatap takjub bangunan Kampus tersebut.


"Kampus yang begitu besar, mewah dan luas!" batin Darel. Terukir senyuman manis di bibirnya.


Tanpa disadari oleh Darel, para kakaknya memperhatikannya. Mereka adalah Melvin, Rendra, Dylan, Aldan dan kedua kakak kesayangannya Evan dan Raffa. Mereka berdiri tak jauh dari dirinya berdiri saat ini.


Darel mengedarkan pandangannya melihat sekitarnya. Terlihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang memenuhi halaman Kampus. Ada yang berdiri ditengah-tengah halaman Kampus, ada yang duduk disebuah kursi, ada yang duduk selonjoran disalah satu anak tangga.


Disaat Darel tengah asyik melihat sekitarnya, matanya tak sengaja melihat ke sebuah pemandangan yang begitu indah. Darel melihat sekelompok remaja laki-laki yang tengah bersenda gurau, bercanda dan saling melempar lelucon satu sama lainnya. Dan hal itu membuat Darel teringat akan ketujuh sahabatnya. Apa yang dilihat olehnya sama persis saat dirinya bersama sahabat-sahabatnya dulu.


Flashback On


Darel dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di lobi depan sekolahnya. Mereka tengah duduk santai disana sembari bersenda gurau. Mereka selalu menghabiskan waktu disana saat jam istirahat. Mereka tidak ke kantin, karena mereka membawa bekal ke sekolah.


Awalnya mereka tidak ingin membawa bekal. Dikarenakan Darel yang awal mulanya membawa bekal karena paksaan dari Ibunya, makanya para sahabatnya pun juga ikutan membawa bekal. Alasan mereka membawa bekal karena mereka tidak ingin membuat Darel malu dan dianggap anak TK.


"Aku beruntung sekali memiliki kalian," ucap Darel


"Ya. Kami juga sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu," sahut Azri dan diangguki oleh yang lainnya.


"Jangan pernah meninggalkanku. Tetaplah bersamaku," kata Darel.


"Kita selamanya akan selalu bersama. Baik kita di dunia maupun nanti di akhirat," ujar Evano.


"Iya. Persahabatan kita akan terjalin dunia akhirat!" seru mereka kompak.


"Kita bersahabat sejak sama-sama masuk sekolah dasar hingga sekarang duduk dikelas 1 SMA. Semoga saat kita lulus nanti. Kita akan memilih Kampus yang sama," ujar Damian.


"Kalau perlu kita akan memilih jurusan yang sama juga agar bisa sekelas lagi," usul Brian.


"Ya, setuju!" Darel, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo dan Gavin menjawab bersamaan.

__ADS_1


"Sudah 7 tahun persahabatan kita. Selama 7 tahun itu mengenal dan saling mengetahui sifat kita masing-masing," kata Kenzo.


"Dan kita pun selalu berhasil mengatasi setiap ada pertengkaran diantara kita," sela Gavin.


Darel, Farrel, Brian, Azri, Evano dan Damian mengangguk membenarkan perkataan Kenzo dan Gavin.


"Bukan sifat saja yang telah kita ketahui.


Bahkan kegilaan masing-masing dari kita juga sudah kita ketahui," sela Farrel.


"Hahaha.. Iya.. Iya." Brian dan Damian menjawab bersamaan.


"Yang paling gila disini Evano," ledek Farrel.


"Yak, kenapa aku?" protes Evano.


"Iya, benar. Evano yang paling gila diantara kita," sahut Azri menambahkan.


"Gila makan," ejek Brian.


"Hahahahaha." Mereka semua tertawa.


"Sialan kalian," kesal Evano.


"Kak Evano kalau makan gak tanggung-tanggung. Sekali makan mau habis tiga porsi makanan. Belum lagi beberapa jenis minuman," sahut Darel dengan lantangnya.


"Yak, Rel! Tidak usah disebutin juga kali jumlah porsinya. Aish!" Evano berucap kesal.


"Hahahaha. Kau lucu sekali kak Evano!" Darel tertawa melihat wajah kesal Evano.


"Aakkkhhh!" Darel merengut saat mendapatkan lemparan 1 bungkus snack dari Evano tepat mengenai wajahnya.


Mereka yang melihat wajah merengut Darel tersenyum gemas.


"Wajahmu cantik dan manis, Rel!" goda Azri.


"Yak, kak Azri! Bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku ini cantik dan manis. Aku ini laki-laki, tahu." Darel berbicara dengan matanya menatap horor Azri. Jangan lupa bibir yang bergerak-gerak mengumpati Azri.


"Kau memang laki-laki, Rel! Tapi wajahmu tidak menunjukkan bahwa kau adalah laki-laki." Brian juga ikut menggoda Darel.


"Kalian benar-benar menyebalkan." Darel mendengus kesal.


"Hahahaha." Mereka pun tertawa melihat wajah kesal Darel


Flashback Off


Setelah mengingat momen-Momen kebersamaan dirinya dengan ketujuh sahabatnya. Tanpa diminta, air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. Darel menangis saat mengingat momen-momen saat kebersamaan dirinya dengan ketujuh sahabatnya itu.


"Hiks... kak Brian... kak Azri... hiks... kak Damian... kak Evano... kak Farrel... Kenzo... Gavin... hiks."


Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan yang sedari memperhatikan Darel menjadi tidak tega. Dan pada akhirnya mereka semua pun menghampiri Darel.


Setelah sampai disana, Raffa mengelus lembut kepala belakang Darel dan Evan mengusap lembut punggung Darel. Dan hal itu sukses membuat Darel terkejut.


"Ka-kakak," lirih Darel.


"Ada apa, hum?" tanya Evan sembari menghapus air mata adik bungsunya itu.

__ADS_1


Darel menggelengkan kepalanya. Evan tersenyum melihat adiknya yang berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Kamu pasti merindukan mereka?" tanya Raffa yang menatap manik coklat sang adik.


Mendengar penuturan dari Raffa. Darel langsung menundukkan kepalanya. Melihat Darel yang menundukkan kepalanya membuat hati Raffa semakin sakit. Raffa paling tidak bisa dan tidak suka jika melihat adik manisnya menangis karena itu adalah kelemahannya.


GREP


Raffa menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya dan mengusap lembut punggung adiknya itu.


"Menangislah jika kamu ingin menangis, jangan ditahan. Jika kamu menahannya itu akan membuat kamu semakin sedih dan ujung-ujung kamu akan jatuh sakit," ucap Raffa lembut.


Dan seketika tangis Darel pun pecah. "Hiks.. hiks.. kakak Raffa... hiks." Raffa makin mengeratkan pelukannya.


Setelah adik mulai tenang, Raffa pun melepaskan pelukannya tersebut, lalu menatap wajah tampannya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kamu tidak sendirian. Ada kakak disini," ucap Evan sembari menggenggam tangan adiknya, lalu menciumnya.


"Kalau kamu ada apa-apa, bilang sama kakak!" kata Rendra.


"Sama kakak juga. Kakak siap menemani kamu jika kamu membutuhkan sesuatu," ujar Melvin.


"Hm atau sama kakak!" ucap Dylan menambahkan.


"Atau kakak," sela Aldan.


Seketika Darel tersenyum saat mendengar ucapan para kakaknya. Mereka yang melihat senyuman itu menjadi bahagia.


"Sudah nangisnya kan? Sudah gak sedih lagi kan?" tanya Raffa sembari menggoda adiknya.


"Apaan sih kak," kesal Darel. Mereka tersenyum.


"Ya, sudah! Sekarang kakak akan antar kamu menemui Dekan biar kamu bisa langsung diantar ke kelas," sahut Evan.


"Baiklah," jawab Darel.


"Raf. Kau dan yang lainnya langsung saja ke kelas. Biar aku saja yang antar Darel untuk menemui Dekan," kata Evan.


"Baiklah," jawab Raffa.


Sebelum pergi ke kelas, Raffa menatap adiknya. "Belajar yang rajin. Jangan malas. Dan........" Raffa sengaja menghentikan ucapannya.


"Dan apa?" tanya Darel penasaran.


Raffa tersenyum evil. Lalu Raffa mendekatkan wajahnya ke telinga Darel, lalu membisikkan sesuatu disana.


"Dan jangan membanggakan ketampanan kamu saat di kelas," ledek Raffa.


Setelah mengatakan hal itu, Raffa langsung kabur dan disusul oleh Aldan, Rendra, Melvin dan Dylan. Sementara Darel yang mendengar ucapan dari kakak aliennya itu sontak membelalakkan matanya.


"Kakaaakkk!" teriak Darel.


"Hahahaha." Raffa tertawa walau posisinya sudah jauh. Evan tersenyum gemas saat melihat wajah kesal adik bungsunya.


"Sudah. Nanti saja marahnya. Sekarang kita temui Dekan," sahut Evan.


Setelah mengatakan hal itu, Evan dan Darel pun pergi meninggalkan halaman Kampus untuk menuju ruangan Dekan.

__ADS_1


__ADS_2