Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Penyesalan Terbesar Rayyan dan Keempat Adiknya


__ADS_3

Darel pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang tengah. Saat baru lima langkah. Darel tiba-tiba berhenti dikarenakan ponsel miliknya berbunyi menandakan ada pesan masuk dari Kenzo.


Darel yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Melihatnya dan kemudian membacanya.


Anggota keluarganya yang memperhatikan dirinya menjadi bingung. Kenapa kelinci nakal kesayangannya itu berhenti? Tapi mereka tidak berniat untuk memanggil atau pun mengganggu. Mereka hanya memperhatikannya saja.


From : Kenzo


Rel. Kau sudah pulang ya?


To : Kenzo


Iya. Aku sudah pulang.


Kenapa, Kenzo?


From : Kenzo


Aku dan yang lainnya mau ke rumahmu ntar sore. Boleehhh?


To : Kenzo


Tentu. Aku bahkan sangat senang


kalian datang. Nanti aku akan


meminta Mama memasak


makanan yang enak untuk kalian.


From : Kenzo


Baiklah. Oh iya. Kau mau dibawakan apa?


To : Kenzo


Gak usah.


From : Kenzo


Tidak ada penolakan.


Katakan. Kau dibawakan apa?


To : Kenzo


Baiklah kalau kau memaksa.


Aku mau kau membelikan aku pizza dan susu pisang.


From : Kenzo


Itu saja?


Tidak ada yang lainnya?


To : Kenzo


Gak. Itu aja.


From : Kenzo


Baiklah. Sampai ketemu nanti sore.


To : Kenzo


Oke!


Darel sangat bahagia memiliki sahabat seperti Kenzo, Gavin, Brian, Azri, Farrel, Evano dan Damian. Mereka selalu jadi penyemangat saat berada di luar rumah.

__ADS_1


Darel memang sangat beruntung. Di rumah dirinya punya kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Sedangkan di luar dirinya memiliki tujuh sahabat yang penuh perhatian dan kepedulian.


Darel membalikkan badannya, lalu kembali menuju ruang tengah. Langkah kakinya menuju sang ibu. Darel duduk di samping ibunya lalu kemudian memeluknya. Adelina yang mendapatkan pelukan dari putra bungsunya itu menjadi senang.


"Eemm. Pasti putra mama ini ada maunya," goda Adelina.


"Hm," jawab Darel.


"Apa? Darel mau minta apa sama Mama, hum?"


Darel melepaskan pelukannya dari ibunya, lalu menatap wajah cantik sang Ibu.


"Kenzo dan sahabat aku yang lainnya akan datang kemari pukul lima sore. Mau tidak Mama buatkan makanan yang enak untuk mereka?" Darel memperlihatkan wajah manisnya di hadapan ibunya. Siapa tahu ibunya akan luluh.


Adelina membelai pipi mulus putra bungsunya itu dan kemudian mengecup secara bertubi-tubi ke dua pipi putranya itu.


"Tanpa kamu memohon seperti ini. Mama dengan senang hati akan membuatkannya. Asal kamu bahagia apapun akan Mama lakukan."


GREP!


Darel kembali memeluk tubuh ibunya. "Terima kasih, Ma! Mama yang terbaik."


Setelah puas memeluk ibunya. Darel pun melepaskan pelukannya. Dan tak lupa memberikan dua kecupan di wajah cantik ibunya.


"Aku menyayangi, Mama."


Setelah itu, Darel pun pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya di lantai dua. Mereka yang melihatnya sangat-sangat bahagia dan bersyukur.


***


Kini Andrean dan Alisha sedang duduk di sofa ruang tengah. Andrean saat ini tengah berusaha menenangkan putri cantiknya.


"Sudahlah, sayang. Jangan menangis lagi ya."


"Mama. Alisha rindu Mama. Alisha ingin ketemu Mama, Pa."


"Iya, ya. Kita akan bertemu Mama."


"Benarkah, Pa? Kita akan bertemu Mama."


"Demi putri Papa."


"Terima kasih, Pa." Alisha kembali memeluk sang Ayah.


"Tapi Papa minta satu hal dari Alisha."


"Apa, Pa?"


"Apapun yang terjadi nanti. Saat Alisha bertemu dengan Mama. Papa minta Alisha harus menerima semuanya dengan iklas. Seperti yang sudah Alisha lihat di tv. Kalau Mama dan Paman Mathew ditangkap polisi. Kita tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan."


"Baik, Pa. Alisha mengerti. Alisha hanya ingin bertemu dengan Mama dan juga dengan kelima kakak-kakaknya Alisha. Tidak ada yang lain."


Andrean tersenyum bahagia mendengar penuturan dari putri kesayangannya. Lalu Andrean mengecup pucuk kepala putrinya.


"Pa."


"Iya, sayang."


"Kalau misalnya Alisha ingin ajak kelima kakak-kakaknya Alisha tinggal bersama kita, bagaimana? Apa Papa keberatan?"


Andrean tersenyum melihat wajah cantik Alisha, putrinya. "Tidak, sayang. Papa tidak keberatan sama sekali. Itu semua tergantung kelima kakak-kakaknya Alisha. Kalau mereka mau tinggal dengan kita, rumah ini terbuka untuk mereka. Tapi kalau mereka tidak mau. Kita tidak bisa memaksanya."


"Baik, Pa. Alisha mengerti."


"Anak pintar." Andrean mengacak-acak rambut putrinya.


***


Rayyan dan keempat adik-adik saat ini tengah duduk di ruang tengah. Seharian kemarin Rayyan dan Kevin mencari pekerjaan, namun hasil nihil. Mereka sama sekali belum mendapatkan pekerjaan.

__ADS_1


Mereka sudah bertekad untuk hidup mandiri bersama. Mereka tidak ingin mengganggu atau menyusahkan hidup orang lain lagi. Apalagi mengganggu kebahagiaan orang yang telah merawat dan menjaga mereka selama ini.


Sebenarnya mereka bisa bekerja atau meneruskan Perusahaan milik Ayah kandung mereka sendiri. Tapi mereka lebih memilih mencari pekerjaan lain.


Mathew memilih satu Perusahaan besar. Walau Perusahaannya tidak sebesar Perusahaan CJ GRUP, perusahaan utama keluarga Wilson dan Perusahaan masing anggota keluarga Wilson dan Jecolyn. Tapi Perusahaan yang dipimpin oleh Mathew adalah hasil usahanya sendiri. Kelak kelima putra-putranya yang akan meneruskannya.


Mathew berbuat jahat kepada keluarga Wilson yang tak lain adalah masih keluarganya sendiri karena ingin membalaskan kematian Ayahnya Ziggy Wilson. Dirinya diberitahu oleh Neneknya bahwa Ayahnya meninggal karena perbuatan dari Antony Wilson. Maka dari itulah, Mathew bertekad untuk menghancurkan Antony Wilson dengan cara merebut semua kekayaannya dan juga membunuhnya.


Saat Rayyan dan keempat adiknya sedang memikirkan bagaimana cara mencari pekerjaan. Mereka dikejutkan dengan suara bell rumah.


TING!


TONG!


Seorang pelayan berlari membukakan pintu. Dan beberapa detik kemudian, pelayan itu datang menghampiri mereka semua.


"Maaf, Tuan muda."


"Ada apa?"


"Ada tamu di depan. Katanya ingin bertemu dengan tuan muda semuanya."


Rayyan dan keempat adiknya saling lirik dan mereka juga saling mengangkat bahu bertanda kalau mereka tidak tahu. Lalu detik kemudian, mereka pun memutuskan untuk menemui tamu tersebut.


Kini mereka sudah berada di ruang tamu bersama dengan dua orang pria yang tidak mereka kenal.


"Maafkan kami karena telah mengganggu istirahat tuan. Perkenalkan saya Sean dan di samping saya ini Lean. Kami berdua adalah karyawan Tuan Mathew. Saya sekretaris Tuan Mathew dan Lean menjabat sebagai GM."


"Lalu apa urusan kalian kemari?" tanya Rayyan ketus


"Maaf, Tuan. Kami datang kemari untuk memberikan berkas-berkas ini pada Tuan dan adik-adik Tuan. Tuan Mathew menyuruh kami untuk datang menemui tuan-tuan semua," jawab Sean.


Rayyan menerima berkas yang diberikan oleh Sean. Berlahan Rayyan membuka berkas itu. Woohyun maupun adik-adiknya terkejut saat membaca isinya. Berkas itu berisi tentang Rayyan yang akan menjadi pemimpin di perusahaan MTW CORP. Dan Kevin sebagai wakilnya.


"Ini kartu nama saya. Jika tuan Rayyan dan tuan Kevin sudah siap. Hubungi saya. Nanti salah satu dari kami akan menjemput tuan berdua," tutur Sean.


"Kalau begitu kami permisi dulu, tuan." Sean dan Lean pergi meninggalkan kediaman Rayyan.


"Apakah aku harus memenuhi keinginan pria itu untuk memimpin perusahaan itu? Kalau aku menolak. Bagaimana dengan adik-adikku?" batin Rayyan sambil menatap wajah adik-adiknya.


"Kakak, terima saja. Kalian berdua sudah tiga hari ini mencari pekerjaan, tapi gak berhasil. Aku kasihan dengan kalian," kata Caleb.


"Iya, Kak. Terima saja. Lagiankan perusahaan itu milik Ayah kandung kita. Dan dia sendiri yang memberikannya pada kita untuk kita kelola. Dan kita tidak mencurinya ataupun mengambilnya," ucap Dzaky.


"Kita tidak punya siapa-siapa lagi, Kak. Kedua orang tua kandung kita sudah jelas akan diberi hukuman yang sangat berat oleh pihak pengadilan. Paman Arvind, Papa William dan yang lainnya tidak akan mau memaafkan kesalahan kedua orang tua kita. Jadi, saat ini hanya kita berlima saja yang tersisa. Kalau bukan kita yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Siapa lagi?" tutur Aldan adik bungsu mereka.


Mereka semua menatap Aldan. Mereka tersenyum hangat pada adik mereka itu.


"Baiklah. Kami akan menerimanya. Mulai besok kami akan bekerja di perusahaan itu," jawab Rayyan dan Kevin bersamaan.


"Itu kabar yang menggembirakan!" seru adik-adiknya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Seluruh anggota keluarga Wilson tengah bersantai di ruang tengah. Termasuk Darel. Saat ini Darel sedang bermanja dengan ibunya.


"Apa Mama sudah masak yang enakkan untuk teman-temanku?" tanya Darel.


"Sudah, sayang. Semuanya sudah Mama siapkan. Tinggal dihidangkan saat teman-teman Darel datang." Adelina menjawabnya sambil tangannya bermain-main di rambut putranya.


"Mama yang terbaik," sahut Darel dengan memberikan kecupan sayang di pipi ibunya tanpa melepaskan pelukannya.


"Oh, iya. Bagaimana kabar Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan? Semenjak Mathew dan Agatha dibawa ke kantor polisi. Kita tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang!" seru Daksa.


"Terakhir saat di rumah sakit. Zayan dan Arzan bilang kalau Rayyan dan keempat adiknya tinggal di rumah Mathew, Ayah kandung mereka." William menjawabnya.


"Dan kemungkinan juga mereka yang akan meneruskan perusahaan milik Mathew," ujar Sandy.


"Baguslah kalau begitu," ucap Marcel dingin.

__ADS_1


"Setidaknya mereka tidak hidup gembel di luar. Dan tidak menyusahkan hidup kita seperti kedua orang tua mereka," ucap Dirga ketus.


__ADS_2