
Darel sudah duduk di salah satu tempat duduk yang terbuat dari semen. Tatapan matanya menatap kearah lima sahabatnya yang sedang bermain basket. Sesekali Darel tersenyum ketika melihat kelima sahabatnya itu bermain basket.
Brian yang ingin memasukkan bola ke dalam keranjang yang ada di atas kepalanya seketika melihat sosok sahabat kelincinya tengah tersenyum menatap dirinya dan yang lainnya bermain basket.
Brian memasukkan bola basket itu dan berhasil sehingga terdengar riuh tepuk tangan dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang menyaksikan.
Setelah melakukan tugasnya, Brian pun berjalan menghampiri Darel yang duduk sendirian.
Melihat Brian yang tiba-tiba pergi meninggalkan lapangan membuat Azri, Damian, Evano dan Farrel langsung melihat kearah langkah kaki Brian.
Dan detik kemudian, mereka tersenyum ketika sudah mengetahui kemana langkah kaki Brian tertuju.
Kini Brian sudah duduk di samping Darel lalu kemudian disusul oleh Azri, Damian, Evano dan Farrel yang duduk di samping Darel bahkan berselonjoran di lapangan.
"Kenapa sendirian? Mana para babu kamu?" tanya Brian sembari mengejek adiknya/sahabatnya yang lain.
Mendengar pertanyaan dari Brian sembari mengejek sahabatnya yang lain membuat Darel seketika tersenyum.
"Nggak tahu," jawab Darel.
Mendapatkan jawaban dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika terkejut. Mereka kemudian saling memberikan tatapan bingung masing-masing.
Setelah itu, mereka kembali menatap wajah Darel yang tampak kusut.
"Ada apa?" tanya Damian.
"Nggak ada apa-apa," jawab Darel.
"Berantem?" tanya Farrel.
"Nggak," jawab Darel.
"Terus?" tanya Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.
"Nggak ada terusannya. Udah selesai," jawab Darel.
Mendengar jawaban dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika membelalakkan matanya.
"Dasar kelinci buluk," ucap Brian dan Azri bersamaan.
"Cengeng," ucap Damian, Evano dan Farrel bersamaan.
Darel seketika mendengus ketika mendengar ejekan dari kelima sahabatnya sekaligus kakak baginya.
Ketika Darel hendak membuka mulutnya untuk membalas ejekan dari kelima sahabatnya itu, tiba-tiba sahabat-sahabatnya yang lain datang sembari berteriak.
"Hallo para sahabat-sahabatku yang paling jelek, kucel, kume, dekil. Kami datang!"
"Hallo para orang tua!"
"Hallo para jomblo!"
Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon berteriak bersamaan.
Darel, Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika mendengus ketika mendengar sapaan kejam dari adiknya/sahabatnya itu.
__ADS_1
Juan dan Samuel melihat kearah Darel yang saat ini masih kesal. Terlihat dari wajahnya yang kusut ketika melihat dirinya dan sahabatnya yang lain datang.
"Woi, anak kelinci! Lo ngapain duduk dekat-dekat kakak gue?!" teriak Samuel yang memang berniat untuk menjahili sahabatnya itu.
"Iya nih! Ngapain lo duduk dekat-dekat kakak gue," sela Juan yang ikut menjahili Darel.
Mendengar pertanyaan dari Samuel dan Juan seketika membuat Darel makin memperlihatkan wajah kusutnya. Dan kali ini disertai dengan bibir yang digerak-gerakin ke kiri dan ke kanan.
Sementara Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin,Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon tersenyum gemas ketika melihat kekesalan dari Darel terhadap Samuel dan Juan. Menurut mereka wajah Darel seperti anak kecil berusia 4 tahun.
Darel seketika berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap super kesal kearah Samuel dan Juan. Begitu juga dengan Kenzo, Gavin, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon. Darel juga masih kesal terhadap mereka.
"Kalian benar-benar ya! Hari ini full kalian buat aku kesal. Jadi, jangan harapkan aku akan bicara lagi dengan kalian selama dua bulan lebih!"
Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari Darel seketika membuat Kenzo, Samuel, Juan, Gavin, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terkejut dan syok ketika mendengar ucapan dan ancaman dari Darel. Mereka semua menatap wajah Darel dengan tatapan tak percaya.
Darel melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan semua sahabat-sahabatnya. Kekesalannya saat ini sudah diubun-ubun.
"Rel!" panggil Kenzo, Samuel, Juan, Gavin, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.
"Apa?" Darel menjawab dengan nada ketus.
"Lo ma....!" perkataan Gavin terpotong karena Darel sudah terlebih dulu menyela.
"Kalau mau protes tuh sama para orang tua," sahut Darel.
Setelah mengatakan itu, Darel pun pergi meninggalkan semua sahabat-sahabatnya dengan wajah melongo tak percaya terutama Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.
"Yang ngejek para kurcaci busuk! Yang kena malah kita!" seru Damian.
"Apes banget hidup kita," sahut Farrel.
"Pada nggak waras semua!" seru Brian.
Ketika Azri hendak mengeluarkan kata-kata indahnya. Kenzo, Samuel, Juan, Gavin, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung bersuara.
"Kami para anak muda masih waras!"
Kenzo, Samuel, Juan, Gavin, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon saling memberikan tatapan mata masing-masing. Kemudian mereka tersenyum evil.
Dan detik kemudian...
"Berbeda dengan para kaum orang tua!"
"Gila!"
"Hahahahaha."
Kenzo, Samuel, Juan, Gavin, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung berlari sekencang mungkin untuk menghindari amukan dari kelima kakaknya/sahabatnya.
Sementara Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika berteriak kencang sambil mengeluarkan kata-kata indahnya dari mulutnya.
"Kenzo, Gavin, Razig, Zelig, Lucas, Charlie, Devon!"
"Dasar tiang listrik, hitam, kurus kering, bibir disengat tawon, sialan, monyet, keturunan jangkrik, kampret!"
__ADS_1
"Mati saja kalian!"
"Hahahahaha?"
Terdengar suara tawa dari Kenzo, Samuel, Juan, Gavin, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon walau mereka sudah jauh.
^^^
Darel saat ini melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Dirinya hendak ngadem sejenak disana.
Ketika Darel fokus melangkah, tatapan matanya menatap dua sosok kakak kesayangannya yang sejak tadi tidak menampakkan diri di kampus.
Dan detik kemudian, Darel memutuskan untuk menghampiri kedua kakaknya itu.
"Kakak Evan! Kakak Raffa!" Darel berteriak memanggil kedua kakaknya itu.
Sementara disisi lain, Evan dan Raffa yang sedang berjalan menuju kelasnya terkejut ketika mendengar suara adik kesayangannya memanggil namanya.
Evan dan Raffa langsung melihat keasal suara. Dan dapat dilihat oleh keduanya, adiknya tengah berlari menuju dirinya.
"Kakak,"ucap Darel sedikit ngos-ngosan karena berlari.
"Kenapa harus berlari?" tanya Evan sembari mengusap keringat adiknya itu.
"Kan jalan bisa? Lagian kakak dan kak Evan nggak akan pergi setelah mendengar suara kamu," ucap Raffa yang juga ikut menghapus keringat adiknya itu.
"Pengen aja," jawab Darel.
Sementara Evan dan Raffa tersenyum ketika mendengar jawaban dari adiknya itu.
"Kakak kemana aja dulu? Kenapa baru datang? Perasaan kita barengan ketika berangkat ke kampus!" tanya Darel menatap wajah Evan dan Raffa bergantian.
Seketika Darel melihat ada luka lebam di pipi kiri bagian atas Raffa. Seketika Darel membelalakkan matanya.
"Kakak Raffa! Kakak kenapa? Itu... Itu... Pipi kakak kenapa ada luka lebamnya?" tanya Darel dan tanpa diminta air mata Darel jatuh membasahi wajahnya.
Mendengar pertanyaan serta nada khawatir adiknya membuat Evan langsung melihat kearah tunjuk adiknya itu. Dan benar, ada luka lebam di pipi kiri Raffa.
"Raf," ucap Evan pelan.
"Hiks... Kakak Raffa kenapa?" tanya Darel disela isakannya.
Mendengar pertanyaan dan juga isakan dari adiknya membuat Evan dan Raffa khawatir. Keduanya pun berusaha untuk menenangkan adiknya itu.
"Hei, kenapa nangis? Kakak baik-baik saja sayang. Ini hanya luka kecil dan nggak parah kok. Kamu nggak perlu khawatir, oke!"
"Kakak Raffa yakin? Kakak lagi nggak bohongin aku kan? Aku nggak mau dibohongi lagi kak!"
"Iya, sayang! Kakak mengerti. Tapi beneran. Kakak nggak apa-apa. Kakak baik-baik saja," sahut Raffa dengan tangannya mengusap lembut kepala adiknya itu.
"Kakak Evan," lirih Darel.
"Iya, sayang! Apa yang dikatakan oleh kakak Raffa benar. Kakak Raffa nggak kenapa-kenapa."
Evan berusaha untuk menyakinkan adiknya bahwa Raffa benar-benar baik-baik saja. Luka lebam yang didapat oleh Raffa itu karena pukulan yang diberikan oleh salah satu laki-laki pengendara motor itu ketik Raffa lengah.
__ADS_1
"Baiklah aku percaya."
Evan dan Raffa tersenyum bahagia karena telah berhasil meyakinkan adik kesayangannya.