Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kunjungan Arvind Dan Sandy Ke Kantor Polisi


__ADS_3

Darel bersama kesembilan sahabatnya berada di lobi depan kampus. Mereka menghabiskan waktu istirahat disana setelah tiga jam mengikuti materi kuliah ekonomi sembari membahas jadwal kegiatan Organisasi Kampus satu minggu lagi.


"Rel," panggil Gavin.


"Hm!" Darel menjawab panggilan dari Gavin dengan deheman.


"Apa keluarga lo tahu kalau lo nerima jabatan sebagai ketua Senat?" tanya Gavin.


Mendengar pertanyaan dari Gavin, seketika Darel langsung menatap kearah Gavin yang mana Gavin juga tengah menatap dirinya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua menatap wajah Darel.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika mendengar pertanyaan dari Gavin.


"Keluargaku sudah memberikan hak sepenuhnya padaku untuk aku melakukan apapun ketika diluar rumah," sahut Darel.


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Darel membuat Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terkejut. Yang lebih terkejut disini adalah Kenzo dan Gavin.


"Rel," ucap Kenzo.


"Iya, Nzo! Papa dan semua kakak-kakakku terutama keenam kakak-kakak tertuaku sudah memberikan izin padaku untuk aku melakukan apa yang aku inginkan selama diluar rumah. Tidak ada larangan apapun lagi dari mereka."


Kenzo dan Gavin seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Darel. Mereka benar-benar bahagia ketika mendengar kabar tersebut.


"Benarkah itu Rel? Kamu lagi nggak bohongin kita kan?" tanya Gavin.


"Apakah wajah dan tatapan mataku terlihat sedang berbohong?" Darel balik memberikan pertanyaan kepada Gavin.


Gavin langsung menatap lekat manik coklat Darel. Begitu juga dengan Kenzo, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon. Dapat mereka lihat tidak ada kebohongan disana. Yang ada sebuah kejujuran.


"Selama apa yang aku lakukan itu positif dan tidak merugikan orang lain. Selama itu pula Papa, Mama dan semua kakak-kakakku mendukungku.  Hanya satu yang mereka inginkan dariku."


"Apa?" tanya Kenzo dan Gavin bersamaan.


"Aku nggak boleh kelelahan dan nggak boleh telat makan," jawab Darel.


"Selama ada kami. Maka kamu tidak akan membiarkan kamu kelelahan," sahut Juan.


"Kita satu tim. Maka semua tugas-tugas Organisasi Kampus adalah tugas bersama," sahut Zelig.


"Ditambah lagi lo adalah ketua Senat. Dengan kata lain lo yang mengatur semua. Lo tinggal ngasih perintah sama semua anggota lo. Jadi lo nggak akan banyak membuang tenaga lo. Cukup otak cerdas lo yang lo andalkan," ucap Samuel.


"Hm!" seru Kenzo, Gavin, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie, dan Devon bersamaan.


"Dan bukan itu saja. Kita memiliki ketua BEM, bukan? Dan ketuanya itu adalah Kenzo. Dan wakilnya adalah Zelig," sahut Razig.


"Jadi lo nggak akan kelelahan dan nggak ada istilah lo sampai telat makan," pungkas Juan.


Mendengar ucapan demi ucapan dari sahabat-sahabatnya membuat Darel seketika tersenyum. Dirinya membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabat-sahabatnya itu.


Ketika mereka tengah membahas jadwal kegiatan Organisasi Kampusnya sembari membahas tentang Darel, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara gebrakan buku di atas meja dengan sangat keras.

__ADS_1


Brak..


"Hari yang melelahkan!"


Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika tersentak akibat buku-buku tebal mendarat dengan keras di atas meja.


Sementara pelaku yang meletakkan buku-buku tebal itu hanya bersikap acuh tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Iya! Kau benar sekali Evano. Hari ini hari yang begitu melelahkan," sahut Damian sembari melirik sekilas kearah Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon yang tengah menatap tajam kearah dirinya dan keempat sahabatnya itu.


Yah! Yang meletakkan buku-buku tebal itu di atas meja dengan cara membantingnya dengan keras adalah Evano. Dia sengaja melakukan hal itu untuk membuat sahabat-sahabatnya dan adiknya terkejut.


Brak..


Brian memukul meja itu dengan keras sembari menduduki pantatnya di kursi sehingga membuat Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon kembali terkejut.


"Dasar para orang tua sialan," batin mereka bersamaan dengan tatapan matanya yang menatap tajam kearah lima sahabatnya/kakak sepupunya itu.


"Wajah kalian benar-benar lucu sekali," batin Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.


Ketika Azri hendak melakukan hal yang serupa. Darel, Kenzo dan Gavin sudah terlebih dulu bertindak.


"Guys! Kantin yuk!" teriak keras Darel, Kenzo dan Gavin secara bersamaan dengan langsung berdiri dari duduknya.


Mendengar suara teriakan yang begitu keras dan memekakkan telinga membuat Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika menutup telinganya masing-masing. Begitu juga dengan Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika memberikan tatapan mautnya kepada Darel, Kenzo dan Gavin. Dan dibalas tak kalah tajamnya oleh Darel, Kenzo dan Gavin.


Seketika nyali mereka menciut ketika melihat Darel, Kenzo dan Gavin menantang mereka dengan mengarahkan dua tinjuannya masing-masing di hadapannya dengan maksud untuk mengajak bertarung.


"Bertarung yuk!" seru ketiganya.


"Kebetulan tangan gue udah gatel buat mukul wajah tampan kakak itu," ucap Kenzo.


"Udah bosan hidup ya," ucap Gavin menatap kesal kelima sahabatnya itu.


"Gue buat koma lagi, mau?" ucap dan tanya Darel dengan menatap wajah kelima sahabatnya itu dengan bibir yang mengeluarkan sumpah serapahnya.


Mendengar ucapan demi ucapan dari ketiga sahabatnya. Apalagi ketika melihat wajah kesal ketiganya membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika tersenyum manis.


Melihat kelima sahabatnya tersenyum manis di hadapannya, namun menurut Darel, Kenzo dan Gavin senyuman itu adalah senyuman menyebalkan hingga membuat mereka mendengus kesal.


Darel, Kenzo dan Gavin kembali menduduki pantatnya di kursi. Sedangkan untuk Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tersenyum melihat wajah kesal Darel, Kenzo dan Gavin.


***


Di kantor polisi terlihat dua orang pria paruh baya sedang melangkahkan kakinya menuju ruang tunggu tahanan. Kedua pria itu adalah Arvind dan Sandy.


Arvind dan Sandy memutuskan untuk mengunjungi Mathew dan Agatha di kantor polisi. Sejak keduanya tahu bahwa Mathew dan Agatha dijatuhi hukuman seumur hidup di dalam penjara dari Daksa membuat Arvind dan Sandy berniat untuk mengunjungi keduanya.

__ADS_1


Kini mereka telah tiba di ruang tunggu tahanan. Mereka kini duduk di sebuah kursi panjang sembari menunggu polisi membawa Mathew dan Agatha.


Tak butuh lama terlihat dua polisi membawa Mathew dan Agatha menuju kearah mereka berdua.


Melihat kedatangan Mathew dan Agatha membuat Arvind dan Sandy langsung berdiri dari duduknya.


"Kak Arvind, Sandy!" sapa Mathew.


Mathew dan Agatha menduduki pantatnya di kursi. Begitu juga dengan Arvind dan Sandy. Mereka duduk sembari berhadapan satu sama lainnya.


"Bagaimana keadaan kalian disini?" tanya Arvind dengan menatap Mathew dan Agatha bergantian.


"Seperti yang kak Arvind lihat. Seperti inilah keadaanku dan Agatha," jawab Mathew.


"Maafkan aku karena aku baru tahu masalah ini. Aku dan keluarga Wilson yang lain tidak mengetahui masalah hukumanmu dan Agatha telah berubah," ucap Arvind.


"Kita tahu dari Daksa. Sementara Daksa tahunya dari Radika sahabatnya yang berstatus sebagai kepala polisi," sahut Sandy.


"Ketika kami mengetahui hal ini, maka kami memutuskan untuk mengunjungimu dan istrimu," ucap Arvind.


"Terima kasih kak Arvind telah sudi mengunjungiku dan istriku," ucap Mathew.


"Kak Arvind, aku mohon pada kakak! Jangan benci putra-putraku. Mereka tidak salah," ucap Mathew sembari memohon kepada Arvind.


"Iya, kak Arvind! Jangan membenci putra-putra kami. Jangan jauhi mereka hanya karena kami yang menerima perubahan hukuman menjadi hukuman seumur hidup di dalam penjara," ucap Agatha.


Mendengar ucapan sekaligus permohonan dari Mathew dan Agatha membuat Arvind tersenyum. Begitu juga dengan Sandy. Di dalam hati mereka masing-masing berkata, 'bagaimana bisa Mathew dan Agatha punya pikiran seperti itu'. Bahkan Arvind dan Sandy dapat melihat ketakutan di tatapan mata Mathew dan Agatha akan putra-putranya.


"Apa kalian pikir aku ini laki-laki yang jahat? Apa kalian pikir aku laki-laki yang tidak memiliki hati, hum? Bagaimana bisa kalian berdua memiliki pemikiran seperti itu?" tanya Arvind.


"Maafkan aku kak Arvind. Aku hanya takut saja," ucap Mathew.


Arvind tersenyum mendengar perkataan dari Mathew. Begitu juga dengan Sandy.


"Dengarkan aku Mathew. Bukan tipeku yang membenci seorang anak hanya karena kesalahan dan kejahatan orang tuanya. Apalagi anak-anak itu adalah keponakanku sendiri. Mereka adalah keponakan-keponakanku. Dan mereka juga cucu-cucunya Papa." Arvind berucap dengan tulus sembari menenangkan Mathew akan pikiran-pikiran negatifnya dan juga ketakutannya.


"Aku beruntung memiliki kakak sepertimu kak Arvind. Dan aku benar-benar menyesal telah menyakiti Paman, Bibi dan Darel. Serta anggota keluarga lainnya. Aku masih berada di dunia ini itu semua berkat putra bungsumu," ucap Mathew yang benar-benar menyesal akan perbuatannya dulu.


Arvind menyentuh bahkan menggenggam tangan Mathew. Setelah itu, Arvind mengusap lembut pipi Mathew, adik sepupunya itu.


Tes..


Seketika air mata Mathew jatuh membasahi wajahnya ketika mendapatkan belaian di pipinya. Terasa hangat di hati Mathew ketika merasakan sentuhan itu.


"Kakak bahagia melihatmu yang sekarang. Jika kau benar-benar menyesal akan kesalahanmu di masa lalu, lakukanlah hal-hal positif selama kau berada di penjara ini. Semoga siapa tahu kelak kau mendapatkan hadiah yang tak terduga dari Tuhan yang sebuah sebuah kebebasan untukmu dan juga istrimu."


Mendengar perkataan sekaligus doa tulus dari Arvind membuat hati Mathew dan Agatha tersentuh. Mereka benar-benar bahagia mendengarnya.


"Semoga saja kak. Dan jika itu benar-benar terjadi, maka aku akan berusaha menjadi laki-laki yang baik, menjadi ayah dan Paman penuh cinta dan penuh kasih sayang untuk putra-putranya dan juga untuk semua keponakannya."

__ADS_1


Arvind dan Sandy tersenyum ketika mendengar ucapan serta harapan dari Mathew. Mereka dapat melihat dari tatapan mata Mathew ada kesungguhan disana.


"Aamiin.


__ADS_2