Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Wajah Pasrah Evan Dan Raffa


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang dimana semua mahasiswa dan mahasiswi berhamburan diluar Kelas, termasuk para senior.


Darel saat ini berada di lobi depan Kampus lengkap dengan beberapa berkas formulir kegiatan yang ada di kampusnya. Darel berniat untuk ikut semua jenis kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia di kampus seperti Klub Basket, Karate, Taekwondo, Aikido, Renang, Klub Bahasa, Klub Komputer dan Pecinta Alam (kemping).


Disaat Darel tengah asyik mengisi semua formulir itu. Tanpa Darel sadari keenam kakaknya sedang menuju kearahnya.


Setelah mereka semua sampai didekat sang adik, mereka pun langsung duduk.


"Darel," panggil mereka.


Darel yang dipanggil pun langsung menolehkan wajahnya untuk melihat kearah kakak-kakaknya. Namun kemudian Darel kembali pada kertas yang ada di hadapannya.


"Aish, nih bocah. Nggak di rumah, nggak di kampus. Sikapnya sama saja. Menyebalkan!" ucap Rendra pelan.


Melvin yang mendengar ucapan dari Rendra langsung berbisik.


"Kalau sampai Darel dengar. Bisa habis kamu Rendra. Kejadian di kantin saja, Darel masih ngambek. Apalagi kalau sampai Darel dengar ucapan kamu tadi."


"Oopss!" Rendra menutup mulutnya dan melihat kearah Darel. "Ach. Untung saja si kelinci gembul itu tidak dengar," batin Rendra.


"Darel, kamu sedang apa?" tanya Dylan.


Darel hanya acuh tanpa mempedulikan kehadiran para kakaknya. Sementara mereka harus bisa menahan kesabarannya untuk tidak menyerang adiknya yang imut, manis dan juga menyebalkan.


Mereka melihat ada beberapa kertas di atas meja. Baik Raffa, Evan maupun yang lainnya mengambil kertas itu dan membacanya.


Seketika mata Raffa dan Evan membelalak saat melihat sang adik mengikuti 8 jenis kegiatan ekstrakurikuler di Kampus. Yang mereka tahu, semua jenis kegiatan tersebut menguras tenaga, energi dan juga fisik. Hanya Klub Bahasa dan Klub Komputer saja yang tidak terlalu berat.


"Darek. Apa kamu akan mengikuti semuanya?" tanya Evan.


"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Darel.


"Kakak tidak setuju. Kalau kamu ingin ikut, kamu hanya boleh ikut 3 jenis kegiatan saja," jawab Raffa.


"Dan tidak boleh lebih," ucap Evan menambahkan.


"Yang boleh kamu ikuti adalah Klub Komputer, Klub Bahasa dan Seni," ucap Evan lagi.


"Karena kamu tidak memilih Seni. Maka kakak akan tambahkan Seni," sela Raffa.


Darel menatap wajah kedua kakaknya itu dengan wajah sedih dan bibir yang sudah melengkung ke bawah.

__ADS_1


Baik Raffa, Evan, Rendra maupun Melvin, Dylan dan Aldan menjadi tidak tega. Mereka mulai kelabakan, karena mereka yakin sebentar lagi si manis akan menangis.


"Kakak Raffa, kakak Evan tega padaku. Kan semua kegiatan itu hobi aku. Mana bisa aku harus memilih dan mana bisa aku harus ikut tiga jenis kegiatan saja. Yang benar saja. Ayolah, kak! Biarkan aku ikut semuanya ya," ucap Darel sambil memohon pada Raffa dan Evan dan jangan lupa tampang menyedihkan Darel bak anak kecil.


"Aish. Darel pake nangis lagi. Kalau begini kan aku jadi gak tega," batin Evan.


"Ach, sial! Kenapa juga kamu berubah menjadi sosok yang menggemaskan begini? Darel menunjukkan wajah sedihnya, Kan aku jadi nggak tega ngeliatnya," batin Raffa.


"Tapi, Rek. Para kakak-kakak kita udah wanti-wanti untuk kamu hanya boleh ikut 3 jenis kegiatan saja. Nggak boleh lebih," sahut Evan lembut.


"Iya, Rel! Sebenarnya sih kakak nggak ngelarang kalau kamu ikut semua. Asal kamu bahagia, kakak juga ikut bahagia. Tapi kakak sudah diingatkan oleh kakak-kakak kita. Kamu dibolehkan ikut 3 kegiatan saja." Raffa berucap lembut sembari menasehati dan meyakinkan adiknya.


"Ya, sudah. Kalau gitu aku nggak ikut semuanya. Dan kalau perlu aku berhenti kuliah sekalian," jawab Darel.


Sontak membuat mereka semua terkejut saat mendengar penuturan dari Darel.


"Ya, mana bisa begitu," ujar Dylan.


"Bisa. Buktinya sekarang aku ngelakuinnya. Apa yang nggak bisa oleh seorang Darel?" jawab sekaligus jawaban dari Darel dengan santai.


"Ya, udah! Gini aja. Kakak tambah satu deh. Jadi totalnya empat. Kamu akan ikut 4 jenis kegiatan ekstrakurikuler. Bagaimana?" ucap dan tanya Evan.


Evan dan Raffa mengusap wajah frustasinya. Begitu juga dengan yang lainnya.


Raffa menggenggam tangan Darel dan memperlihatkan wajah memohonnya.


"Kalau kamu mau dengerin kata kakak. Kakak janji akan mengabulkan semua keinginan kamu," ucap Raffa.


Darel menatap tepat di manik kakak aliennya itu. Dapat Darel lihat ada ketulusan dan kesungguhan disana. Sementara Evan, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan berharap Darel akan luluh dengan ucapan dari Raffa.


Darel menarik tangannya dari genggaman tangan Raffa.


"Nggak. Aku tetap ikut semuanya," jawab Darel dengan tetap pada keputusannya.


"Ayolah, adik manis. Kakak juga akan mengabulkan apapun yang ingin kamu minta." Evan juga ikut membujuk adiknya.


Darel memikirkan apa yang dikatakan oleh Raffa dan Evan tentang mereka yang berjanji akan menuruti semua keinginannya.


Disaat Darel sedang berpikir. Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan pun ikut bersuara.


"Kakak juga akan membelikan apapun yang kamu minta," ujar Melvin.

__ADS_1


"Iya. Kakak juga. Apapun itu," ujar Dylan.


"Kami juga. Kamu mau minta apa saja kami akan belikan," ucap Rendra.


"Hm." Aldan mengangguk.


Darel menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya. Sesekali memicingkan kedua matanya seakan-akan mencurigai para kakaknya itu.


"Mencurigakan," batin Darel.


"Kenapa kalian rela melakukan semua itu untukku? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Darel dengan tatapan curiganya.


DEG..


Mendengar ucapan dari Darel membuat mereka semua ketakutan dan juga kelabakan. Tapi mereka berusaha bersikap normal. Mereka tidak ingin Darel tambah curiga.


"Memangnya salah jika seorang kakak ingin memanjakan adiknya?" tanya Melvin.


"Kamu itukan adik kesayangan kami. Jadi wajar dong kalau kami semua memanjakan kamu, menyayangi kamu dan mengabulkan semua keinginan kamu!" seru Rendra.


Darel menatap wajah Raffa dan Evan. Seketika kedua kakaknya itu pun mengangguk.


Darel kembali menatap kertas-kertas yang ada di tangannya. Kemudian mengumpulkan semua kertas itu menjadi satu. Setelah semuanya rapi, Darel pun berdiri.


Darel kembali menatap kedua kakaknya itu.


"Jika kakak Raffa dan kakak Evan sayang sama aku. Maka biarkan aku ikut semua jenis kegiatan ekstrakurikuler di Kampus. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengurangi kesedihanku. Tapi jika kalian melarangnya, maka aku tidak akan mau bicara lagi dengan kalian berdua. Aku akan mogok bicara selama 6 bulan," sahut Darel.


Raffa dan Evan langsung membelalakkan kedua matanya saat mendengar penuturan dari Darel. Yang benar saja. Sehari saja mereka diacuhkan oleh adik bungsu mereka, hidup mereka sudah seperti di neraka. Menangis dan tersiksa. Ini justru 6 bulan adik bungsu mereka mogok bicara.


Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung pergi meninggalkan semua kakaknya. Dirinya tidak peduli wajah syok dan sedih kedua kakaknya itu. Baginya, dengan cara seperti itulah keinginannya terkabul.


"Darel," panggil Evan. Darel tidak menghiraukan panggilan dari Evan.


"Dasar keras kepala," kesal Raffa.


"Bagaimana ini, Raf?" tanya Evan.


"Mana aku tahu. Aku aja pusing," jawab Raffa.


"Aish! Habislah kita sama kakak-kakak kita!" seru Evan.

__ADS_1


__ADS_2