Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Dendam Mirza


__ADS_3

Mirza bersama dengan ibunya telah selesai dengan urusannya di sebuah mall. Sepuluh menit yang lalu Mirza dan ibunya habis berbelanja kebutuhan sehari-hari dan keperluan yang lainnya.


Kini Mirza dan ibunya sedang memasukkan barang-barang belanjaannya ke bagasi mobil.


Setelah selesai menyusun barang-barang belanjaannya, Mirza dan ibunya memutuskan untuk pulang ke rumah.


Brak..


Terdengar mobil bertabrakan di jalan raya. Semua orang-orang disana melihat kejadian tersebut. Dan dapat mereka lihat seorang wanita dengan keadaan luka di bagian kepala. Dan satu anak laki-lakinya yang dalam keadaan luka parah, walau masih dalam keadaan sadar.


Mirza dan ibunya ikut melihat kejadian tersebut. Dan betapa syoknya ketika melihat bahwa yang mengalami kecelakaan itu adalah tetangga tempat tinggalnya dulu.


"Nak Mirza!


"Mirza!"


Mirza menatap dengan penuh kebencian terhadap kedua manusia itu.


Pingkan seketika melangkah maju untuk menolong ibu dan anak itu, namun tiba-tiba Mirza berteriak dan meminta ibunya untuk mundur.


"Mama, menjauhlah dari mereka. Lebih baik kita pulang sekarang!"


Mendengar perkataan serta teriakan dari putranya membuat Pingkan terkejut. Begitu juga dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Sayang," ucap Pingkan yang sudah berada di samping putranya.


"Kita pulang sekarang. Aku lelah."

__ADS_1


"Kita tolong mereka dulu ya. Kita bawa mereka ke rumah sakit," bujuk Pingkan.


"Mama tidak perlu repot-repot menolong mereka. Lagian mereka bukan keluarga kita. Jadi untuk apa kita menolong mereka," jawab Mirza.


Mendengar perkataan dari Mirza membuat Pingkan terkejut. Dia tidak menyangka jika putranya akan berkata seperti itu.


Sama halnya dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka juga tidak habis pikir dengan perkataan dari Mirza.


"Pokoknya Mama akan menolong mereka dulu. Bagaimana pun mereka pernah menjadi tetangga kita."


"Kalau Mama tetap nekat menolong mereka, maka aku akan pergi jauh. Bahkan dari dunia ini sekalian!"


Deg..


Pingkan seketika langsung membalikkan badannya untuk menatap wajah putra satu-satunya. Dia tidak menyangka kenapa putranya bisa berbicara seperti itu. Dan Pingkan juga tidak mengerti kenapa putranya enggan untuk menolong tetangganya itu.


Mirza langsung melihat kearah wanita tersebut. Dia tidak suka jika wanita itu seenaknya menasehati dirinya, padahal dia tidak tahu permasalahan yang sebenarnya.


"Apa Bibi bilang? Sesama manusia itu harus saling tolong menolong?"


"Iya, Nak!"


"Lalu Bibi mengatakan bahwa jika aku tidak mau memberikan pertolongan kepada orang lain, maka kelak jika aku dan ibuku mengalami musibah. Tidak akan ada orang yang mau memberikan pertolongan kepadaku dan ibuku, begitu?"


"Ya, seperti itulah. Kita hidup di dunia ini ada timbal baliknya," jawab wanita itu.


"Aku beritahu anda, Bi! Dan kalian semua!" teriak Mirza. "Tidak perlu menunggu besok... Besok dan besoknya aku dan ibuku mengalami musibah. Karena aku dan ibuku sudah mengalaminya!" teriak Mirza.

__ADS_1


"Kalian mau tahu apa yang terjadi pada ibuku ketika aku dan ibuku tinggal di rumah kontrakan. Dan perempuan itu!" teriak Mirza sembari menunjuk kearah ibu dan anak yang saat ini mengalami luka-luka.


Orang-orang yang ada di sekitarnya langsung melihat kearah tunjuk Mirza.


"Mereka adalah tetanggaku. Bibi mau tahu apa yang dilakukan oleh perempuan itu?! Saat itu ibuku jatuh di kamar mandi. Ibuku tidak sadarkan diri. Banyak darah yang keluar dari kepala ibuku. Aku takut dan nangis. Kemudian aku berlari keluar rumah untuk meminta pertolongan kepada para tetangga. Lima belas menit aku berteriak. Tidak ada satu pun yang mendengarnya. Lalu beberapa detik kemudian, salah satu rumah tetangga terbuka. Rumah itu adalah rumah perempuan itu!" teriak Mirza yang lagi-lagi menunjuk kearah mantan tetangganya.


"Aku berlari menghampiri wanita itu dan memohon kepada wanita itu untuk bersedia menolong ibuku. Kebetulan perempuan itu punya mobil. Aku memohon padanya agar perempuan itu mau membantuku untuk membawa ibuku ke rumah sakit. Bahkan aku bersimpuh di hadapannya. Tapi usahaku tidak membuahkan hasil. Perempuan itu dengan kejamnya menendangku. Bahkan meludahiku. Melihat perlakuan buruk darinya aku memutuskan untuk pulang. Aku berharap saat itu ibuku baik-baik saja."


Mendengar cerita dari Mirza ditambah lagi ketika melihat Mirza yang menangis membuat wanita itu menjadi tidak tega dan merasa bersalah. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Anak laki-lakinya itu adalah dulunya temanku. Kami berteman baik. Aku bahkan banyak membantunya, salah satunya adalah ketika dia dikeroyok oleh anak-anak komplek. Jika tidak ada aku saat itu. Mungkin sampai detik ini perempuan itu sudah tidak memiliki anak lagi alias mati. Tapi apa yang aku dapatkan. Sejak kejadian itu, anaknya memusuhiku dan tidak ingin lagi berteman denganku. Dan lebih parahnya, anaknya itu justru berteman dengan orang-orang yang sudah mengeroyoknya. Bahkan ibunya menuduhku yang telah menyakiti anaknya!"


Semuanya kembali dibuat terkejut oleh Mirza ketika mendengar cerita tentang anak laki-laki dari perempuan itu.


Mirza menatap semua orang-orang yang ada di sekitarnya dan setelah itu, Mirza kembali menatap wanita yang memberikan pertanyaan kepadanya.


"Sekarang katakan padaku. Apa mereka masih pantas diberikan pertolongan dariku dan ibuku? Ibuku hampir mati gara-gara perempuan itu. Seperti yang Bibi katakan kita hidup di dunia ini ada timbal baliknya. Dan anggap saja ini adalah timbal balik dari perempuan itu dan anaknya. Mereka berbuat jahat padaku dan ibuku. Sekarang aku berbuat jahat kepada mereka dengan tidak memberikan pertolongan kepada mereka. Impas bukan?"


"Oh iya, satu lagi! Dulu aku dan ibuku tidak memiliki apa-apa sehingga semua mantan-mantan tetangga ibuku dulu menatapku dan ibuku dengan tatapan jijik. Mereka meminta pertolongan kepadaku dan ibuku karena mereka sudah tahu siapa aku dan ibuku yang sebenarnya. Bahkan mereka semua terkejut ketika mereka mengetahui bahwa aku dan ibuku berasal dari keluarga kaya raya."


Setelah mengatakan itu, Mirza langsung menarik tangan ibunya untuk pergi meninggalkan semua orang. Dirinya tidak ingin berlama-lama berada disana.


Sementara Pingkan tidak mengeluarkan satu kata pun ketika dirinya mengetahui alasan putra yang tidak ingin memberikan bantuan kepada tetangganya dulu. Hati Pingkan sakit ketika mengetahui kebenaran tersebut. Dan Pingkan tahu siapa yang dihubungi oleh putranya ketika tidak ada satu tetangga pun memberikan bantuan. Orang itu adalah Darel keponakannya.


"Maafkan Mama, sayang!" batin Pingkan menangis.


Pingkan menatap wajah sedih putranya. Hatinya benar-benar sakit ketika melihat putranya saat ini. Dirinya merasa bersalah karena sudah membuat putranya itu kembali mengingat kejadian menyedihkan itu.

__ADS_1


__ADS_2