
Sesuai yang sudah direncanakan oleh Darel. Kini Noah bersama ketiga rekannya dan para anggota masing-masing sedang bersiap-siap untuk melakukan tugasnya yaitu menyerang dan membunuh semua para anak buah dari keluarga Nazik dan Malachi yang berada di beberapa lokasi.
Jadi, ada empat lokasi yang akan mereka tuju hari ini. Empat lokasi itu tempat Markas utama dan markas cadangan milik keluarga Nazik dan keluarga Malachi.
"Kalian semua sudah siap?" tanya Sonny.
"Sudah, Bos!"
"Ingat! Jangan ada satu pun yang lolos. Bunuh semuanya!" seru Niko.
"Siap, Bos!"
"Berhati-hatilah. Jangan ada yang terluka," ucap Noah.
"Pergi dalam keadaan baik-baik. Kembali ke markas ini juga dalam keadaan baik-baik pula!" ucap Zola.
"Kami mengerti, Bos!"
Sonny, Niko, Noah dan Zola saling memberikan tatapan masing-masing. Mereka saling memberikan semangat dan doa satu sama lainnya.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan markas SNOW BLACK untuk menuju markas dimana para anggota dan anak buah keluarga Nazik dan Malachi.
***
Davian bersama dengan Arjuna di aula. Disana sudah berkumpul semua para anggotanya. Jumlah anggota Davian sekitar 2000 orang. Ditambah 40 tangan kanan yang akan menjadi penanggung jawab setiap ada tugas.
Dan anggota-anggotanya itu terbagi menjadi empat kelompok dan masing-masing berjumlah 500 anggota. Dan 10 tangan kanannya sebagai pimpinan.
Saat ini Davian dan Arjuna tengah merencanakan penyerangan keluarga Nazik.
"Kalian persiapkan semua senjata untuk menyerang keluarga Nazik," ucap Davian.
"Baik, Bos!"
"Bos, kapan kita akan menyerang keluarga Nazik?"
"Nanti malam sekitar pukul 9 malam," jawab Davian.
"Kenapa pukul 9 malam, Bos?"
"Aku hanya ingin memberikan kejutan kepada keluarga itu disaat mereka sedang berkumpul bersama anggota keluarganya. Kalau kita menyerang keluarga itu ketika semuanya sudah tertidur kan tidak menarik."
Mendengar jawaban sekaligus alasan sang Bos ingin menyerang kediaman Nazik pukul 9 malam menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dan mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Bosnya itu.
"Baik, Bos!"
Davian menatap kearah Arjuna. "Jun, aku mau kau menyiapkan sekitar 25 peluru yang mana peluru itu bisa membuat seseorang langsung lumpuh."
"Dengan senang hati. Dengan begitu kita tidak perlu buang-buang energi ketika tiba disana," sahut Arjuna.
__ADS_1
"Itulah tujuanku. Kita hanya membuang sedikit tenaga kita untuk membunuh para penjaga di kediaman Nazik," ucap Davian.
"Iya, kau benar!"
Davian menatap semua anggota-anggotanya secara bergantian.
"Persiapkan diri kalian untuk nanti malam. Ketika penyerangan tersebut, berhati-hatilah. Jangan lengah. Kita tidak tahu apa yang sudah mereka persiapkan dan mereka rencanakan," ucap Davian.
"Kami mengerti, Bos!"
***
Di waktu yang sama dan di lokasi yang berbeda Noah, Sonny, Niko dan Zola sudah berada di depan markas milik keluarga Nazik dan keluarga Malachi. Baik markas utama maupun markas cadangan. Keluarga Nazik dan keluarga Malachi memilliki satu markas cadangan.
Noah bersama dengan 300 anggotanya menyerang Markas utama keluarga Nazik. Sonny dengan 300 anggotanya menyerang Markas utama keluarga Malachi. Niko dengan membawa 300 anggotanya menyerang Markas cadangan milik keluarga Nazik. Dan Zola membawa 300 anggotanya menyerang Markas cadangan keluarga Malachi.
Sonny, Niko, Noah dan Zola serta anggotanya masing-masing langsung menyerang markas milik keluarga Nazik dan keluarga Malachi. Mereka membunuh secara membabi-buta semua orang-orang yang ada di luar dan di dalam markas tersebut.
Dor.. Dor..
Dor..
Peluru-peluru tersebut tepat sasaran mengenai kepala, perut dan dada kiri para anggota atau anak buahnya keluarga Nazik dan keluarga Malachi.
Bagh.. Bugh..
Duagh..
Jleb.. Ctas..
Sonny, Niko, Noah dan Zola dan para anggotanya menyerang para anggota atau para anak buah dari keluarga Nazik dan keluarga Malachi dengan cara memukul, menendang, memelintir kepalanya/tangannya dan melukai leher dengan cara menggerakkannya dengan pisau sehingga membuat semua anak buahnya keluarga Nazik dan keluarga Malachi tumbang. Semuanya tewas dengan keadaan tubuh mengenaskan.
***
Darel berada di kampus saat ini. Darel pergi ke kampus bersama kedua kakaknya yaitu Evan dan Raffa.
Sesampainya mereka di kampus. Evan dan Raffa langsung ke kelas setelah memberikan wejangan kepada adik kesayangannya itu.
Sementara Darel melangkahkan kakinya menuju ruang Komputer. Semua sahabat-sahabatnya berada disana.
Cklek..
Pintu ruang Komputer dibuka oleh Darel. Setelah itu, Darel melangkah memasuki ruangan tersebut.
Melihat kedatangan Darel. Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung menghentikan kegiatannya.
Mereka kemudian menghampiri Darel yang saat ini sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruang komputer itu. Setelah berada di dekat Darel, mereka semua pun langsung menduduki pantatnya di sofa.
"Sekarang katakan apa rencana kamu untuk membalas keluarga Malachi?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Kapan kamu akan memulainya?" tanya Azri.
Yah! Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon sudah mengetahui tentang apa yang telah dilakukan oleh keluarga Nazik dan keluarga Malachi terhadap Darel. Mereka mengetahui dari Darel langsung ketika Darel menghubungi mereka melalui video call.
Ketika mereka mendengar cerita dari Darel tentang apa yang telah dilakukan oleh keluarga Nazik dan keluarga Malachi membuat mereka semua marah.
"Lusa," jawab Darel.
"Siapa saja yang akan mendatangi keluarga Malachi sialan itu?" tanya Gavin.
"Aku, kak Arzan dan beberapa anggota Black Shark."
"Terus kita ngapain?" tanya Charlie.
"Aku mau kakak Brian, kakak Azri, kakak Damian, kakak Evano dan kakak Farrel bermain-main dengan Zamy, Arman, Raihan dan Atta serta keluarganya. Buat mereka ketakutan sehingga berhenti mengganggu kita."
Mendengar perkataan sekaligus permintaan dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel tersenyum di sudut bibirnya bersamaan dengan satu alisnya terangkat.
"Dengan senang hati!" seru mereka bersamaan.
"Jika kalian ingin melakukan pekerjaan tersebut, mintalah bantuan dengan Mikko, Kenzi atau Leo! Kalian ada nyimpan nomor mereka kan?"
"Ada, Rel!" jawab Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Hanya nomor ponsel milik Kenzi dan Leo saja yang kami punya," sahut Juan.
"Kami mendapatkan nomor mereka ketika mereka datang ke rumah sakit membawa penawar racun untuk kamu," sahut Razig.
"Kenzo yang meminta nomor ponsel mereka," sela Zelig.
"Kalau nomor Mikko, kami nggak punya!"
"Tidak masalah. Yang penting sekarang ini kalian sudah menyimpan dua nomor ponsel tangan kananku. Jika kalian dalam masalah, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi mereka. Mereka akan membantu kalian."
"Baiklah, Rel!"
"Untuk hari ini apa kau tidak ingin melakukan sesuatu?" tanya Evano.
Mendengar pertanyaan dari Evano membuat Darel langsung menatap wajah Evano dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Aku saat ini sedang merencanakan sesuatu untuk mencari keributan dengan Luan Malachi!"
"Apa rencana kamu?" tanya Farrel.
"Aku akan membolos hari ini. Dengan kata lain, aku nggak akan masuk untuk mengikuti kelasnya. Setelah kelasnya bubar. Barulah aku akan menampakkan diri di hadapannya."
Mendengar perkataan sekaligus ide dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tersenyum. Mereka sangat menyukai ide dari Darel tersebut.
"Dan untuk kalian!" seru Darel dengan menatap wajah sahabat-sahabatnya satu persatu. "Pancing si Luan marah sehingga dia memanggil anak buahnya yang selalu ikut bersamanya ke kampus. Ada sekitar 40 anak buahnya yang sedang berjaga-jaga di sekitar kampus. Terserah! Bagaimana cara kalian membuatnya marah."
__ADS_1
Mendengar perkataan Darel membuat mereka semua langsung menganggukkan kepalanya. Mereka tersenyum sembari memikirkan rencana jahat mereka untuk memancing amarah seorang Luan Malachi.