Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Keinginan Aldan Terhadap Pelaku


__ADS_3

"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Rayyan tiba-tiba.


Mendengar seruan dari Rayyan membuat Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan terkejut. Mereka bersamaan melihat wajah Rayyan.


"Ada apa, kak?" tanya Kevin.


"Siapa yang sakit?" tanya Caleb.


"Kakak," panggil Dzaky dan Aldan.


Rayyan menatap lekat wajah adik bungsunya. Alasan ketakutan dan kegelisahan adik bungsunya terjawab sudah. Telah terjadi sesuatu terhadap ibunya sehingga membuat Ibunya dilarikan ke rumah sakit.


"Kakak... Hiks. Katakan padaku. Ada apa?" tanya Aldan yang sudah terisak.


"Ketakutan dan kegelisahan kamu terjawab. Mama dalam keadaan tak baik-baik saja. Mama saat ini dilarikan ke rumah sakit," ucap Rayyan dengan suara bergetarnya.


"Apa?!" teriak Kevin, Caleb dan Dzaky bersamaan.


"Hiks... Mama!" isak Aldan.


"Kak, ayo buruan. Kita ke rumah sakit sekarang!"


Setelah itu, mereka semua pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


***


Anggota keluarga Wilson sudah berada di rumah sakit. Disana juga ada Andrean dan Alisha. Begitu juga dengan Mathew.


"Tuhan, aku mohon selamatkan istriku. Jangan ambil dia. Aku dan istriku belum puas menatap wajah putra-putraku," batin Mathew.


Grep..


Arvind memberikan pelukan kepada Mathew. Dirinya tahu apa yang dirasakan oleh Mathew.


Mendapatkan pelukan dari Arvind membuat tangis Mathew pecah di pelukan Arvind.


"Hiks... Hiks," isak Mathew.


"Kamu tenang, oke! Semoga Agatha baik-baik saja," hibur Arvind.


Ketika semua sedang bersedih, tiba-tiba mereka mendengar derap langkah kaki yang buru-buru. Dengan kompak semuanya melihat kearah suara itu. Dan dapat mereka lihat Rayyan dan keempat adiknya yang berjalan buru-buru menuju arah mereka semua.


"Papa, Paman Sandy! Bagaimana Mama? Mama baik-baik saja kan?" tanya Rayyan yang sudah menangis.


"Papa, Mama tidak apa-apa kan?" tanya Aldan kepada William.

__ADS_1


Grep..


William langsung memeluk tubuh putranya itu dan tangan mengusap-usap punggungnya.


"Mama kamu masih berada di ruang operasi. Kita berdoa saja semoga Mama kamu baik-baik saja," hibur William.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mama sampai dilarikan ke rumah sakit?" tanya Kevin.


Ketika Sandy hendak menjawab pertanyaan dari Kevin, tiba-tiba terdengar suara pintu ruang operasi dibuka oleh seorang dokter.


Cklek..


Semuanya langsung melihat kearah pintu ruang operasi tersebut dengan tatapan penuh harap, terutama Rayyan dan keempat adiknya.


"Bagaimana Fayyadh?" tanya Arvind yang saat ini merangkul bahu Mathew.


"Terpaksa aku mengatakan hal buruk. Kondisi Agatha tak baik-baik saja. Terdapat benturan keras di kepalanya akibat dorongan kuat. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan operasi untuk menghindari pembekuan darah, namun kondisi Agatha tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Agatha dinyatakan koma."


Deg..


Seketika tubuh Mathew terhuyung ke belakang. Begitu juga dengan Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Untungnya Arvind dengan sigap menahannya. Begitu juga dengan Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan yang dipapah oleh Davian, Dirga, Daffa dan Marcel. Sementara untuk Aldan langsung dipeluk oleh William.


Darel yang mendengar penuturan dari Fayyadh seketika mengepal kuat tangannya. Dirinya benar-benar marah saat ini ketika mendengar kondisi ibu dari kelima kakak sepupunya.


"Ini semua salah mereka!" seru Darel tiba-tiba.


"Sayang." Adelina mengusap lembut kepala belakang putra bungsunya.


"Aku mendapatkan laporan dari orang-orang yang aku tugaskan untuk mengawasi Paman Mathew dan Bibi Agatha. Orang-orangku bilang bahwa ada sekitar tujuh tahahan yang satu sel dengan Bibi Agatha yang selalu membully Bibi Agatha. Jadi, aku minta sama pihak kepolisian untuk menindaklanjuti kejadian tersebut."


"Baik, tuan! Masalah itu kami akan urus. Tuan tidak perlu khawatir," sahut salah polisi tersebut.


"Bibi saya saat ini dinyatakan koma. Dan kita tidak tahu kapan Bibi Agatha akan bangun. Jika Bibi saya dinyatakan meninggal, saya ingin mereka mendapatkan hukuman mati." Darel berucap dengan wajah dinginnya.


Sementara orang-orang yang ada di sekitarnya yang mendengar perkataan serta wajah tak mengenakkan dari Darel seketika merasakan ketakutan.


"Jika kalian pihak kepolisian tidak bisa melakukannya. Biar aku dan kelompokku yang membunuh mereka semua."


"Baik, tuan! Kami akan menyelidiki masalah ini. Dan kami janji mereka akan mendapatkan hukuman berat."


"Baiklah."


Cklek..


Terdengar suara pintu dibuka. Dan keluarlah empat perawat dengan mendorong brankar yang diatasnya terlihat seorang wanita paruh baya terbaring dengan alat-alat medis terpasang di wajah, tangan dan jari telunjuk.

__ADS_1


"Mama!"


"Agatha!"


***


"Aku harus lebih berhati-hati lagi dalam memegang uang. Dikarenakan aku sudah mendapatkan uang banyak dari aku menjadi bendara di dalam anggota Organisasi Kampus. Untuk beberapa hari ini aku berhenti dulu untuk mencurinya. Jika terlalu sering, bisa-bisa ketahuan."


"Besok lusa kampus akan mengunjungi dua panti asuhan. Apa dana tersebut sudah terkumpul oleh Devon dan yang lainnya. Aku akan mengambil uang itu jika dana tersebut terkumpul. Setelah ini, aku berhenti dulu."


Pemuda yang tak lain adalah anggota dari tim Devon saat ini tengah merencanakan untuk mencuri uang untuk dua panti asuhan tersebut. Setelah mendapatkan uang itu, pemuda itu berhenti dan tidak akan berlaku curang lagi. Itu pun hanya sementara sampai semua keadaan aman.


***


Kini semuanya sudah berada di ruang rawat Agatha. Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan seketika menangis melihat kondisi ibunya. Begitu juga dengan Alisha.


"Mama... Hiks," isak mereka bersamaan.


"Agatha." Mathew dan Andrean menangis ketika melihat kondisi Agatha saat ini.


Bukan hanya Rayyan dan keempat adiknya, Alisha, Mathew dan Andrean saja yang menangis. Arvind, Adelina serta yang lainnya juga ikut menangis ketika melihat kondisi Agatha.


"Aku ingin keadilan untuk Mama! Selama Mama dalam penjara. Mama sudah banyak berubah. Sudah sepantasnya Mama hidup bahagia walau hanya dalam penjara. Tapi ini apa!" teriak Aldan.


"Aldan!"


Grep..


Dirga langsung memeluk tubuh adiknya dengan erat. Hatinya merasakan sakit ketika mendengar ucapan dari Aldan. Begitu juga dengan Marcel.


"Kakak, aku ingin mereka mendapatkan hukuman berat atas apa yang mereka lakukan terhadap Mama. Aku tidak rela jika mereka hanya dihukum beberapa bulan, walau mereka masih ada beberapa tahun lagi di dalam penjara. Aku tidak peduli. Aku ingin mereka mendapatkan hukuman seumur hidup dalam penjara atau hukuman mati." Aldan menumpahkan semua kesedihannya kepada Dirga. Hatinya sesak dan sakit melihat kondisi ibunya.


Sementara Dirga seketika menangis ketika mendengar keluhan dan aduan dari Aldan kepadanya. Walau Aldan dan keempat saudaranya yang lain bukan saudara kandung, namun Dirga masih tetap menganggap Aldan dan keempat kakaknya sebagai adik kandungnya. Bagaimana pun mereka besar bersama dengan orang tua yang sama yaitu William dan Agatha.


"Kita berdoa saja, oke! Semoga Mama kamu baik-baik saja. Dan segera bangun dari tidurnya. Asal kamu terus memberikan doa dan selalu ajak Mama kamu bicara," ucap Dirga.


"Pasti kak! Aku akan selalu memberikan doa terbaik untuk Mama. Dan aku akan selalu ajak Mama bicara," jawab Aldan.


"Ini baru namanya adiknya kakak. Apapun kondisinya, dalam suasana apapun. Kamu dan kakak-kakak kamu harus tetap kuat dan semangat."


"Baik, kak!"


"Untuk kalian juga," ucap Marcel kepada Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky.


"Baik, kak!" jawab Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky bersamaan.

__ADS_1


Melihat interaksi antara Dirga dan Marcel dengan Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan membuat hati Mathew menghangat. Hatinya benar-benar bahagia melihat besarnya kasih sayang dan kepedulian Dirga dan Marcel terhadap kelima putra-putranya.


__ADS_2