Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Mulai Beraksi


__ADS_3

Semua anggota keluarga telah berada di ruang makan lengkap dengan kesayangan mereka yaitu Darel.


Vano menatap wajah Darel lalu berkata, "Darel, kamu demam!"


Mendengar pertanyaan dari Vano membuat mereka semua melihat kearah Darel. Dan benar saja, wajah Darel terlihat pucat.


"Sayang. Apa kamu benar demam, Nak? Itu wajahnya pucat loh." Adelina menatap cemas putra bungsunya.


"Mama, kakak. Aku baik-baik saja. Aku gak kenapa-kenapa kok." Darel berusaha meyakinkan kedua orang tuanya dan juga kakak-kakaknya.


Vano kemudian langsung berdiri dan kemudian menghampiri adik bungsunya yang keras kepala itu.


Setelah berada di dekat adiknya. Vano menyentuh kening adiknya. Dan benar dugaannya. Adiknya benar-benar demam.


"Tuh kan benar. Kamu benar-benar demam," ucap Vano berucap kesal.


Mereka semua menatap kesal kearah Darel sehingga membuat Darel seketika langsung ciut dan menundukkan kepalanya.


Beberapa detik kemudian Darel berdiri dari duduknya, lalu mendorong kursinya ke belakang. Setelah itu, kakinya melangkah ingin meninggalkan meja makan.


"Mau kemana?" tanya Andre.


"Mau ke kamar. Tidur," jawab Darel dengan nada merajuk.


"Tuh sarapannya masih banyak. Dan belum sama sekali disentuh," sahut Nevan.


"Bodo. Jika aku tetap disini. Bisa-bisa aku dimakan hidup-hidup oleh kalian semua. Aku masih ingin hidup," jawab Darel.


"Tapi kamu harus sarapan sayang. Setelah itu kamu harus minum vitaminnya." Adelina berusaha membujuk putranya.


"Nggak mau."


Setelah itu, Darel pun pergi meninggalkan meja makan. Dirinya tidak peduli panggilan dari kakak-kakaknya. Sementara mereka semua hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala melihatnya


Baru beberapa langkah meninggalkan meja makan, tiba-tiba terdengar ponsel Darel berdering sehingga membuat dirinya berhenti. Semua anggota keluarganya melihat kearahnya.


Darel yang mendengar ponsel yang berdering langsung merogoh ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya berada di tangannya. Darel melihat nama 'Zayan' di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama lagi Darel pun langsung menjawabnya.


"Hallo, Zayan."


"Hallo, Bos. Ini gawat!"


"Ga-gawat kenapa? Apa yang terjadi? Kenzo dan Gavin baik-baik saja kan?"


Mendengar perkataan Zayan membuat Darel langsung panik. Dirinya benar-benar khawatir akan kedua sahabatnya.


Arvind, Adelina, para kakak-kakaknya dan anggota keluarga lainnya juga ikut panik ketika mendengar perkataan Darel.


"Begini Bos. Kelompok itu sudah mulai bertindak untuk menyerang kota Hamburg. Mereka membagi tugas menjadi beberapa kelompok. Dan untuk tuan Kenzo dan tuan Gavin..." Zayan menghentikan ucapannya.

__ADS_1


"Dan untuk apa Zayan? Kenzo dan Gavin kenapa?" tanya Darel.


Anggota keluarga benar-benar khawatir ketika mendengar perkataan Darel. Dan mereka juga khawatir akan kesehatan Darel.


"Tuan Kenzo dan tuan Gavin ditugaskan untuk menyerang Kampus. Kampus dimana Bos kuliah. Ketua dari kelompok tersebut memerintahkan tuan Kenzo dan tuan Gavin untuk menyerang semua mahasiswa dan mahasiswi, kemudian memaksa mereka untuk bergabung dengan kelompok LOS ZETAS. Jika ada yang menolak, maka nyawa mereka akan hilang."


Seketika tubuh Darel terhuyung ke belakang ketika mendengar perkataan dari Zayan. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika kejadian ini akan terjadi juga. Darel menangis.


Davian langsung beranjak dari duduknya begitu juga anggota keluarga lainnya. Mereka semua mendekati Darel. Mereka benar-benar khawatir akan dirinya.


Adelina membelai kepala belakang putranya dengan lembut. Dirinya benar-benar khawatir akan kesehatan putra bungsunya ini.


"Kapan mereka akan melakukannya Zayan?"


"Hari ini Bos. Mereka akan melakukannya ketika semua mahasiswa dan mahasiswi sedang berada di jam istirahat."


"Baiklah. Untuk masalah Kenzo dan Gavin biar aku yang mengurusnya. Kau urus saja kelompok sialan itu. Hubungi kak Arzan, Mikko dan yang lainnya."


"Baik, Bos."


"Ingat! Kau dan yang lainnya harus hati-hati dan jangan sampai terluka."


"Siap, Bos."


Setelah selesai berbicara dengan Zayan. Darel pun mematikan teleponnya. Dan seketika air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


Melihat Darel menangis membuat mereka semua makin khawatir. Berlahan Davian menarik tubuh adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya. Davian dapat merasakan tubuh adiknya bergetar. Nevan yang berdiri dekat dengan adiknya mengusap-ngusap punggung adiknya.


Ketika Darel ingin berbicara, tiba-tiba ponsel milik Davian berbunyi. Davian yang mendengar ponsel miliknya berbunyi seketika melepaskan pelukan dari adiknya. Adelina mengusap lembut air mata putra bungsunya, lalu mengecup keningnya.


Davian mengambil ponselnya dan melihat nama 'Juna' di layar ponselnya. Davian langsung menjawab panggilan dari Juna.


"Hallo, Juna. Kenapa?"


"Kelompok LOS ZETAS sudah mulai beraksi, Davian!"


Mendengar ucapan dari Juna yang tak lain adalah sahabatnya menjadi geram. Tangannya mengepal kuat.


"Apa yang dilakukan oleh kelompok sialan itu?"


"Kelompok itu akan menyerang kota Hamburg besar-besaran. Mereka membagi beberapa kelompok untuk memudahkan pekerjaannya. Dan yang lebih parahnya adalah ini mengenai adik bungsumu dan kedua sahabatnya itu."


"Kenapa? Katakan Juna!"


"Ketua dari LOS ZETAS yang bernama Donny memerintahkan Kenzo dan Gavin untuk menyerang Kampus dimana adik bungsumu kuliah. Mereka akan menyakiti para mahasiswa dan mahasiswi ketika sedang dalam jam istirahat. Mereka juga akan memaksa para mahasiswa dan mahasiswi untuk bergabung dengan kelompok LOS ZETAS. Jika ada yang menolak, maka kematian yang akan mereka dapatkan."


"Brengsek!" Davian benar-benar marah ketika mendapatkan laporan dari Juna.


"Baiklah, Juna! Sepertinya kelompok sialan itu ingin bermain-main dengan kita. Apa kau tahu di lokasi mana saja mereka akan melakukan penyerangan?"

__ADS_1


"Tahu Davian. Aku sudah melacaknya dan menandai mereka."


"Bagus Juna. Aku suka dengan pekerjaanmu. Tidak salah aku memilihmu untuk mengurus markas."


"Aish. Kau ini terlalu memuji."


"Hehehehe. Baiklah! Sekarang kau kerahkan anggota kita ke lokasi tempat yang akan menjadi target mereka. Pastikan anggota kita lebih banyak dari pada anggota mereka. Jika mereka mengirim sekitar tiga puluh anggota untuk satu lokasi. Maka kita akan mengirim enam puluh anggota ke lokasi itu."


"Aku sudah memikirkan rencana itu tuan Davian," ledek Arjuna.


"Oke... Oke! Untuk yang disini. Aku yang akan mengurusnya. Kirim sekitar seratus anggota ke Kampus adikku. Suruh mereka untuk berjaga-jaga dan mengawasi setiap pergerakan dari anggota kelompok LOS ZETAS."


"Baiklah."


Setelah selesai berbicara dengan Arjuna. Baik Arjuna maupun Davian sama-sama mematikan teleponnya.


Davian menatap wajah tampan adiknya. Tangannya mengusap lembut kepalanya, lalu tak lupa memberikan kecupan di kening sang adik.


"Tenang, oke! Semuanya akan baik-baik saja. Kakak janji Gavin dan Kenzo akan kembali padamu."


"Mau bantu kakak?" tanya Davian.


"Bantu apa?"


"Kamu harus melakukan satu hal. Bawa Kenzo dan Gavin kembali. Masalah mereka yang akan menyerang Kampus. Kamu tidak perlu khawatir. Kakak dan sahabat kakak serta kelompok kakak sudah menyiapkan segalanya untuk menghancurkan dan juga menggagalkan rencana mereka. Bisa?"


"Benarkah? Kakak tidak bohong?"


"Kakak tidak bohong. Apa pernah kakak bohong selama ini denganmu?"


Darel langsung menggelengkan kepalanya cepat. Melihat tingkah Darel, anggota keluarganya tersenyum. Menurut mereka semua wajah Darel saat ini benar-benar lucu, imut dan menggemaskan layak anak kecil.


"Bagaimana dengan Zayan, kak Arzan, Mikko dan yang lainnya? Aku sudah memberikan perintah kepada mereka untuk menyerang kelompok LOS ZETAS!"


Davian tersenyum dan mengacak-acak rambut adiknya merasa gemas melihat wajah manyun adiknya.


"Kamu tidak perlu khawatir. Mereka semua akan baik-baik saja. Nanti kakak akan menyuruh mereka semua langsung ke Kampus kamu."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika mendengar perkataan dari kakaknya. Dirinya benar-benar bangga memiliki Kakak seperti Davian. Darel juga bangga dengan semua kakak-kakaknya.


"Kakak."


"Ada apa, hum?"


"Izinkan aku kuliah hari ini. Kenzo dan Gavin akan mendatangi Kampus. Mereka akan melakukannya hari ini!"


"Baiklah. Kakak izinkan kamu kuliah hari ini, walau kakak tidak rela kamu kuliah dalam keadaan demam. Tapi kamu harus janji sama kakak. Kamu nggak boleh terluka. Kamu harus baik-baik saja. Dan untuk pergi kuliah kamu perginya bersama Evan dan Raffa. Bagaimana?"


"Baik, kak!" Darel tersenyum hangat menatap wajah tampan kakaknya.

__ADS_1


Baik Davian dan anggota keluarganya tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban dari Darel. Darel langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Dan Darel juga tidak keberatan untuk pergi kuliah bersama Evan dan Raffa. Mereka semua benar-benar bangga akan Darel yang memiliki sifat patuh, walau sesekali memiliki sifat yang menyebalkan.


__ADS_2