
Darel dan sahabat-sahabatnya sudah berada di dalam kamarnya. Saat ini mereka duduk bersama di lantai beralaskan karpet bulu dan dilengkapi dengan berbagai jenis makanan dan minuman yang telah diantar oleh dua pelayan beberapa menit yang lalu. Tak lupa susu pisang yang dibawa oleh Kenzo untuknya.
"Bagaimana persiapan untuk besok, Rel?" tanya Brian
"Udah beres semua, kak. Semuannya udah lengkap," jawab Darel dengan senyuman manisnya.
"Ach, syukurlah. Kakak senang mendengarnya," sahut Brian.
"Kalau kalian sendiri, bagaimana?" tanya Darel balik.
"Sama sepertimu. Kami juga sudah mempersiapkan semuanya," jawab Damian mewakili yang lainnya.
"Hm." yang lainnya hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Aku sudah tidak sabaran menunggu hari besok," sela Gavin.
"Sama. Kakak juga," sahut Farrel.
"Apa lagi aku." Darel menjawabnya dengan begitu semangat.
"Gak nyangka, ya. Kita udah gede aja. Kemarin kita masih bocah-bocah ingusan yang belum tahu apa-apa," tutur Evano.
"Kita dipertemukan saat kita duduk dibangku kelas 1 SD. Saat itu aku lihat kalian semua pada lucu-lucu," kata Kenzo.
"Ya. Kau benar, Zo. Aku masih ingat bagaimana sifat-sifat kita dan juga kelakuan kita saat itu. Gavin yang nangis nggak mau ditinggalin ama orang tuanya. Damian yang nggak mau masuk ke dalam kelas karena ketakutan. Brian yang galak saat ada seseorang yang berusaha dekatin dia. Dan........." ucapan Azri terhenti dengan menatap jahil pada Darel.
Darel yang merasa ditatap oleh Azri mentautkan kedua alisnya. "Kenapa menatapku seperti itu? Jangan mikir macem-macem ya."
Azri memperlihatkan senyuman manis di bibirnya.
"Dan ada seorang bocah manis yang pemalu," ucap Azri kemudian.
Mereka yang mengerti arti dari ucapan Azri pun ikut tersenyum.
"Bocah manis yang pemalu itu adalah si kelinci nakal kita ini!" seru Gavin dan Kenzo bersamaan.
"Saat itu Darel benar-benar pemalu habis. Semua orang udah kehabisan akal untuk membuat Darel bicara, kata Farrel.
"Tapi hanya ada satu orang yang berhasil membuat Darel mau berbicara. Dan orang itu adalah kakak Brian. Kakak Brian lah orang pertama yang menjadi sahabatnya Darel. Lalu setelah itu, barulah kita berusaha mendekati Darel. Karena saat itu Darel susah sekali didekati," pungkas Evano.
"Aish. Kenapa kalian malah membahas masalah itu, sih!" Darel berucap kesal.
"Hei.. Jangan marah gitu, dong. Kita kan hanya sekedar mengingat kembali momen-momen dimana persahabatan kita dimulai," ucap Kenzo sembari merangkul bahu Darel.
Darel pun kembali tersenyum. Dirinya juga mengingat masa-masanya saat di sekolah dasar.
"Aku juga tidak menyangka jika persahabatan kita berlanjut sampai kejenjang selanjutnya yaitu SMP dan SMA. Bahkan kita juga satu kelas. Dan kita tidak pernah berjauhan," ucap Darel.
"Iya, Rel. Kau benar. Kita satu sekolah dan juga satu kelas. Dan sekarang kita semua sudah lulus dari SMA. Dan kita semua akan melanjutkan kejenjang berikutnya yaitu Bangku Perkuliahan. Dan lagi-lagi kita.........." Damian sengaja menghentikan perkataannya. Lalu melirik ketujuh sahabatnya
"Dan lagi-lagi kita bersama di Kampus yang sama," ucap mereka kompak dan nyaring.
"Hahahaha." Mereka semua tertawa bahagia.
Dan suara tawa mereka terdengar sampai di lantai bawah. Anggota keluarganya yang mendengar Darel yang tertawa bersama sahabat-sahabatnya merasakan kebahagiaan di hati mereka masing-masing. Mereka semua turut merasakan kebahagiaan saat mendengar si kelinci kesayangan mereka tertawa bahagia bersama sahabat-sahabatnya.
"Rel," panggil Gavin.
"Iya, Vin!" Darel menjawab panggilan dari Gavin.
__ADS_1
"Besok kan kita sudah mulai kuliah nih. Kau akan pergi kuliah sendiri atau para kakak-kakakmu masih tetap seperti dulu. Tidak membiarkanmu pergi sendiri?" tanya Gavin.
Darel langsung memasang wajah sedihnya. Kemudian Darel menundukkan kepalanya. Melihat perubahan dari Darel membuat Gavin merasa bersalah telah menanyakan masalah itu.
"Kenapa kau malah bertanya seperti itu?" esal Kenzo kepada Gavin.
"Rel, maaf. Aku tidak bermak....."
"Tidak apa, Vin. Aku mengerti. Kau tidak perlu merasa bersalah padaku," jawab Darel.
Darel mendongakkan kepalanya dan menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya itu.
"Aku tidak masalah jika kakak-kakakku antar jemput aku ke Kampus. Itu tandanya mereka peduli dan sayang padaku. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu padaku. Lagian kan aku juga bisa pergi dengan kak Evan dan kak Raffa. Kitakan satu Kampus dengan mereka," ucap Darel tersenyum.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin dan Kenzo yang melihat senyuman Darel tersebut mengartikan bahwa itu hanyalah senyuman palsu. Mereka tahu bahwa Darel sangat menginginkan untuk bisa seperti mereka. Darel juga ingin merasakan pergi kemana pun sendirian, termasuk ke Kampus.
PUK
PUK
Brian dan Azri menepuk pelan kedua bahu Darel.
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Kami berjanji padamu akan membicarakan masalah ini pada kakak-kakakmu. Kami akan membujuk mereka untuk memberikan kebebasan untukmu, terutama saat kau pergi ke Kampus." Brian berucap sembari memberikan semangat kepada Darel.
"Benarkah?" tanya Darel.
"Iya. Kami akan bicarakan masalah ini pada kakak-kakakmu. Kami semua akan membujuk mereka untuk memberikanmu izin membawa mobil atau motor sendiri ke Kampus," ucap Azri.
"Terima kasih," lirih Darel dan tanpa diminta air matanya mengalir begitu saja.
"Hei, kenapa nangis??" Kenzo menghapus air mata Darel.
Mereka tersenyum gemas mendengar penuturan dari Darel.
"Apapun akan kami lakukan untukmu, Rel!" seru mereka bersamaan
"Untuk hari pertama kuliah, kita akan pergi bersama-sama ke Kampus. Kami akan menjemputmu. Kita akan membawa dua mobil," sahut Damian.
"Baiklah. Aku tidak akan membuat kalian menunggu lama," ucap Darel semangat.
"Santai saja. Tidak perlu buru-buru. Sekali pun kau berdandannya lama. Kami akan tetap menunggumu," goda Gavin.
"Aish! Kau pikir aku ini perempuan," kesal Darel dengan memanyunkan bibirnya.
"Aku tidak menyebutmu perempuan. Kau saja yang terlalu sensitif," ledek Gavin.
"Kau benar-benar menyebalkan, Vin!" ucap Darel.
"Hehehe." Gavin hanya memperlihatkan cengiran khasnya.
"Kau lucu sekali, Rel!" Kenzo dan Damian bersamaan
"Lucu dari Hongkong," jawab Darel yang masih dalam suasana kesal.
"Aku masih meragukan identitasmu, Rel!" seru Azri.
"Maksud kak Azri apa?" Darel melotot menatap Azri.
"Wajahmu itu sangat cantik, manis dan imut, Rel! Apa kau yakin, jika kau itu seorang laki-laki? Apa jangan-jangan kau itu seorang wanita yang sedang menyamar menjadi seorang laki-laki?" jawab Azri dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
"Yak, kakak Azri!" teriak Darel.
"Hahahahaha." Mereka semua tertawa melihat wajah kesal Darel
Flashback Off
Darel tersenyum saat mengingat saat dirinya bersama dengan sahabat-sahabatnya.
"Hiks.. kakak Azri. Aku merindukan kejahilanmu. Dan aku juga merindukan kalian semua."
"Kenzo, Gavin! Aku berharap kalian baik-baik saja diluar sana. Cepatlah kembali. Aku butuh kalian."
Saat Darel sedang merindukan ketujuh sahabatnya, tiba-tiba Darel teringat akan kalung yang ditemukan oleh salah satu Dokter yang menangani sahabat-sahabatnya saat di rumah sakit.
Flashback On
Dokter Fayyadh berjongkok di depan Darel. "Darel. Salah satu Dokter itu menemukan kalung di tangan salah satu sahabat-sahabatmu. Ini kalungnya." ucap Dokter Fayyadh, lalu meletakkan kalung itu di tangan Darel.
Darel mengalihkan pandangannya menatap kalung yang ada ditangannya. Lalu detik kemudian, ekspresi wajahnya berubah menyeramkan. Matanya yang memerah dan tajam saat menatap kalung tersebut.
Semua yang ada disana memperhatikan Darel, termasuk anggota keluarganya. Mereka dapat mengartikan dari tatapan mata Darel. Mereka meyakini bahwa Darel sangat mengenal pemilik kalung tersebut.
Darel menatap ke depan dengan sorot mata yang penuh amarah. "Ternyata kalian kembali lagi ke Jerman," gumam Darel
Flashback Off
"Kalian sudah mulai bertindak ya. Justru tindakan kalian sekarang ini sudah keluar dari jalur. Oke!! Tunggu saja kejutan dariku. Terutama kau Lian Jevera.
Darel meraih ponselnya yang ada di atas meja. Setelah itu, Darel berdiri dan melangkah menuju kearah balkon. Darel ingin menghubungi Zayan kaki tangannya. Saat Darel ingin menekan nama kontak Zayan. Tiba-tiba Darel tak sengaja melihat ke bawah dimana Darel melihat seorang pemuda yang terlihat lebih muda darinya yang sedang mengais sisa makanan di tempat sampah di depan Markasnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Darel pun keluar dari Markasnya untuk menghampiri pemuda itu.
***
[KEDIAMAN UTAMA WILSON]
Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00. Dan saat ini seluruh anggota keluarga Wilson berada di ruang tengah. Untuk kali ini ada Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Mereka baru datang lima menit yang lalu.
"Kak Vano. Jangan lupa jemput Darel. Ini sudah pukul 10!" seru Evan.
"Memangnya Darel dimana? tanya Kevin.
"Darel ada di Markasnya," jawab Raffa.
"Markas," ucap Rayyan dan adik-adiknya bersamaan.
"Maksudnya itu tempat nongkrongnya Darel. Tempat dimana Darel dan sahabat-sahabatnya sering berkumpul," sahut Daffa.
"Oh begitu," ucap Rayyan.
"Memangnya dari jam berapa Darel perginya?" tanya Caleb.
"Sebelum sarapan pagi. Sekitar jam 7," jawab Alvaro.
"Biarkan aku, kak Daffa, Alvaro, Evan dan Raffa bersama kak Vano pergi menjemput Darel, kak Davian!" Axel memberikan usul kepada Davian.
"Baiklah. Kalau begitu kalian jemput Darel sekarang," sahut Davian.
"Baik, kak!" jawab mereka kompak.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu. Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa langsung pergi untuk menjemput si kelinci nakal kesayangan mereka.