Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Rasa Sayang Yang Besar


__ADS_3

[Ruang Rawat Darel]


Darel terpaksa dirawat di rumah sakit, dikarenakan kondisi kesehatannya menurun. Sakit di kepalanya kambuh akibat geger otak ringan yang dialaminya.


Para kakak kandungnya dan para kakak-kakak sepupunya yang menemaninya saat ini. Sedangkan para orang tua sedang ada urusan.


Mereka semua menatap wajah pucat Darel. Mereka menangis melihat keadaan kesayangan mereka. Lagi-lagi kesayangan mereka harus masuk ke rumah sakit.


Davian tak henti-hentinya menciumi seluruh wajah tampan adiknya itu. Begitu juga yang lainnya. Mereka secara bergantian memberikan kecupan dan ciuman sayang di seluruh wajah Darel.


"Darel," lirih mereka semua.


"Eeuugghh."


Terdengar suara lenguhan dari bibir Darel. Mereka yang mendengar lenguhan itu sangat bahagia. Dan detik kemudian, mata bulat itu terbuka.


"Darel," panggil mereka semua.


Darel memperhatikan satu persatu wajah para kakaknya.


"Kakak,"irih Darel.


"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Davian sembari mengelus lembut rambut adiknya.


"Ti-dak. Aku ada dimana, kak??"


"Kamu sedang dirawat sekarang," jawab Nevan.


"Di-dirawat? Memangnya aku kenapa?"


"Kamu pingsan. Dan kamu pingsan lama sekali," kata Raff.


"Memangnya berapa lama aku pingsan?"


"3 jam," jawab Arga.


"Apa?!" teriak Darel. "Aaakkhh." Darel memegang kepalanya.


"Darel!" teriak mereka khawatir.


"Aku tidak apa-apa," jawab Darel cepat.


Darel diam sejenak. Dirinya mengingat sesuatu. Seketika Darel membelalakkan matanya saat dirinya sudah ingat akan sesuatu.


"Kakak. Bukannya hari ini adalah pemakaman kelima sahabatku. Biarkan aku pergi, kak!"" ucap Darel.


Disaat Darel hendak bangun, Davian dan Nevan langsung menahannya.


"Percuma kamu kesana. Pemakaman sudah selesai sejam yang lalu," ucap Nevan.


"Apa?!" Darel terkejut mendengar ucapan dari Nevan.


"Kakak bohong kan? Bagaimana bisa mereka melakukan itu tanpa menungguku?" tanya Darel dengan disertai air matanya yang mengalir membasahi wajah tampannya.


"Darel, bukan mereka tidak mau menunggu. kamu tidak sadarkan diri selama 3 jam. Sedangkan kelima sahabat kamu itu harus segera dimakamkan. Makanya mereka memakamkan kelima sahabat kamu tanpa menunggumu," sahut Davian.


"Dasar tidak berguna. Saat Kakek pergi, aku tidak ikut mengantarnya. Sekarang giliran kelima sahabatku yang pergi. Lagi-lagi aku juga tidak ikut mengantar mereka. Arrgghhh!" teriak Darel.


"Darel." Mereka semua panik saat melihat Darel yang berteriak.


"Darel, tenangkan dirimu." Davian berusaha menenangkan adiknya.


"Kau tidak berguna, Darel!! Kau tidak berguna!" teriak Darel sambil memukul-mukul dada kirinya dengan kuat.


"Darel, hentikan!" ucap Davian.


"Darel, hiks." Raffa terisak melihat kondisi adik kesayangannya itu.


Nevan dan Ghali memegang tangan kanannya agar tidak memukul dada kirinya. Sedangkan Elvan dan Andre memegang tangan kiri Darel. Mereka menangis melihat kondisi adik mereka saat ini.


CKLEK!!


Pintu dibuka dan masuklah para orang tua beserta Dokter Fayyadh. Mereka terkejut saat melihat keadaan di dalam.


"Astaga, Darel." Adelina langsung menghampiri ranjang putra bungsunya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa Darel seperti ini?" tanya Arvind.


"Darel marah dan kecewa karena tidak bisa ikut mengantar kelima sahabatnya saat dimakamkan," jawab Daffa.


"Darel menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah menimpa sahabat-sahabatnya. Bahkan Darel sampai teringat saat Kakek meninggal," ucap Evan menambahkan.


"Sayang." Adelina mencium kening putra bungsunya itu.


"Darel, sayang. Dengarkan Papa, nak! Ini bukan salah kamu. Keadaan kamu yang tidak memungkinkan untuk ikut mengantar kelima sahabat kamu. Dan kita juga tidak bisa menunggu kamu. Kalau kami tetap menunggu kamu. Berarti kita semua tidak sayang dengan sahabat-sahabatnya kamu itu. Mereka pasti akan tersiksa. Maka dari itu kita langsung melakukan proses pemakaman tanpa kamu." Arvind berusaha memberikan keyakinan kepada putra bungsunya itu.


Darel menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di ruangan itu. Tatapan matanya mengisyaratkan kekecewaan. Mereka semua yang melihat tatapan tersebut sangat amat mengerti.


"Kalian jahat... kalian semua jahat. Aku benci kalian... aku benci kalian.. aku benci kalian!" teriak Darel.


Flashback Off


"Hiks.. Hiks.. Hiks."


"A-ku me-rindukan ka-lian. Aku merindukan kalian. Kenapa kalian pergi? Kalian jahat padaku."


"Yang jahat itu adalah kau Darel. Kau laki-laki yang paling egois. Kau yang telah membunuh mereka. Kau telah membunuh kakekmu sendiri. Dan sekarang kau membunuh sahabat-sahabatmu. Kau pembunuh, Darel! Kau pembunuh!"


"Tidak! Tidak!! Aku tidak membunuh mereka. Aku menyayangi mereka!" teriak Darel.


"Kau pembunuh Darel! Kau pembunuh! Bahkan kau tidak ikut serta dalam mengantar mereka ketempat peristirahatan terakhir mereka. Sahabat macam apa kau itu, hah!! Saat kakekmu meninggal, kau juga begitu."


"Cukup.. hentikan!" teriak Darel.


"Kau itu pembunuh, Darel! Lebih baik kau menjauh dari keluargamu agar tidak ada yang terluka lagi. Kau hanya beban bagi mereka semua."


^^^


Saat ini Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya sedang berada di ruang tengah. Mereka saat ini benar-benar mengkhawatirkan kondisi Darel. Sudah tiga hari ini, Darel tidak mau disentuh oleh siapapun. Darel juga tidak keluar kamar. Setiap kali mereka berusaha menyentuhnya, Darel langsung berteriak histeris.


"Pa. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Raffa.


"Ya, Pa! Kita tidak bisa berdiam diri seperti ini. Kalau keadaan Darel makin parah, bagaimana?" ucap dan tanya Evan.


"Kita harus bisa membujuk Darel, Pa! Kita harus mengajaknya bicara," ucap Axel.


"Hentikan! Aku bilang hentikan!" teriak Darel.


"Pa, Ma!"


Mereka semua pun berlari menuju kamar Darel di lantai dua.


^^^


Darel saat ini sedang berperang dengan sisi iblisnya.


"Tidak. Hiks.... Aku tidak membunuh mereka. Tidak.. hik...."


"Kau pembunuh, Darel!"


"Tidaaakkk!" teriak Darel sembari menutup kedua telinga serta menggeleng-gelengkan kepalanya.


BRAAKK!!


Pintu kamar dibuka paksa oleh Arvind. Saat pintu dibuka. Mereka semua terkejut saat melihat Darel yang berteriak sembari menutup kedua telinga dengan posisi terduduk di lantai. Dan jangan lupakan mata yang sudah sembab dan hidung yang memerah.


"Tidak.. Tidak.. Hiks!!"


"Darel!" Mereka semua menghampiri Darel. Mereka semua sudah menangis melihat kondisi Darel yang saat ini


"Darel. Hei, ini Papa sayang. Ini Papa, nak!" ucap Arvind yang berusaha meraih tubuh putranya.


"Tidak.. Tidak. Aku bukan pembunuh.. aku bukan pembunuh."


"Darel, sadarlah sayang. Ini Papa," lirih Arvind.


GREP!!


Dikarenakan tidak mendapatkan reaksi apapun dari putra bungsunya itu, Arvind langsung menarik tubuh putranya itu ke dalam pelukannya. Arvind menangis melihat kondisi putranya saat ini. Begitu juga dengan yang lainnya. Baru kali ini mereka melihat Darel seperti ini. Darel tidak pernah seperti ini sebelumnya.


"Sayang. Ini Papa, nak! Apa kamu mendengar Papa?"

__ADS_1


Berlahan Darel menjauhkan tangannya dari telinganya. Darel dapat merasakan aroma tubuh Ayahnya. Lalu detik kemudian, kedua tangannya melingkar ke pinggang Ayahnya. Darel memeluk erat tubuh Ayahnya itu dan menangis disana.


Arvind yang mendapatkan pelukan dari putra bungsunya itu, tersenyum bahagia. Dirinya pun membalas dengan memeluk erat tubuh putranya itu.


"Hiks.. Hiks.. Papa.. Hiks.. aku tidak membunuh mereka.. Hiks.. aku tidak membunuh mereka."


Mereka yang mendengar penuturan Darel dan juga isakannya menjadi paham. Darel menyalahkan atas kejadian yang menimpa ketujuh sahabatnya.


"Kamu bukan pembunuh sayang. Kamu anak yang baik. Putra Papa adalah putra yang paling baik."


Arvind melepaskan pelukannya. Lalu menatap wajah putra bungsunya itu. "Sekarang lihat, Papa!"


Darel pun langsung melihat wajah Ayahnya. Saat Arvind melihat wajah putranya itu, tangannya mengelus lembut wajah putranya itu dan menghapus air matanya. Serta Arvind tidak lupa mencium keningnya.


"Ini semua takdir sayang. Sudah kehendak Tuhan," ucap Arvind.


"Hiks.. tapi aku yang sudah membunuh mereka, Pa! Hiks... Kalau mereka tidak datang mengunjungiku dan tetap di rumah. Pasti saat ini mereka semua baik-baik saja. Kenzo dan Gavin juga tidak akan hilang," ucap Darel.


"Tidak sayang. Kamu jangan bicara seperti itu," sahut Adelina yang ikut menghibur putra bungsunya.


Adelina duduk di samping putra bungsunya. Tangannya mengelus lembut rambut putranya itu.


"Oke! Anggap saja apa yang kamu katakan itu benar. Kalau mereka tidak datang mengunjungi kamu. Mereka semua pasti akan baik-baik saja. Tapi bagaimana jika mereka tetap keluar rumah. Mereka pergi ketempat yang lain. Lalu kecelakaan itu terjadi. Apa kamu akan tetap menyalahkan diri kamu sendiri, hum?" ucap dan tanya Arvind.


Darel menatap wajah tampan ayahnya. Lalu pandangan tertuju ke depan. Darel memikirkan perkataan ayahnya itu.


Melihat keterdiaman putra bungsunya itu, Arvind tersenyum. Arvind menatap manik coklat putra bungsunya itu. Dirinya dapat mengartikan bahwa putra bungsunya itu sudah mengerti apa yang barusan dirinya sampaikan padanya.


"Darel," panggil Adelina. Adelina menggenggam tangannya, lalu menciumi tapak tangan putranya itu.


Darel langsung melihat kearah Ibunya. "Mama."


GREP!!


Darel langsung memeluk tubuh Ibunya. Adelina yang mendapatkan pelukan dari putra manisnya pun membalas pelukannya itu. Dan tak lupa mencium pucuk kepalanya


"Maafkan aku. Maafkan aku," lirih Darel di pelukan Ibunya.


"Tidak. Darel tidak salah, sayang. Semuanya akan baik-baik, oke!" ucap Adelina lembut.


"Mulai sekarang, Mama minta sama kamu. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Semua yang telah terjadi itu adalah takdir. Takdir adalah suatu ketetapan Tuhan kepada segala ciptaannya, termasuk manusia. Tidak ada suatu kejadian pun di dunia ini melainkan telah ditetapkan oleh Tuhan. Takdir itu ada dua, sayang. Pertama takdir yang bisa kita ubah. Kedua takdir yang tidak bisa diubah.


"Takdir yang bisa kita ubah adalah takdir yang masih bersifat kondisional sehingga bisa diubah dengan doa manusia. Misalnya takdir miskin dapat diubah dengan doa dan kerja keras, takdir sakit dapat diubah dengan doa dan berobat dan sebagainya, yang melibatkan ruang usaha bagi manusia. Kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki takdir tersebut dengan berdoa. Sedangkan takdir yang tidak bisa kita ubah adalah takdir yang sudah paten dan tidak dapat diubah dengan cara apa pun. Misalnya kematian, jodoh, kelahiran, musibah, dan sebagainya yang sama sekali tidak ada opsi bagi manusia untuk memilih. Misalnya kita tidak bisa menentukan hari kematian kita, siapa jodoh kita, lahir dari rahim siapa dan sebagainya. Kita hanya menjalankan skenario yang telah ditetapkan oleh Tuhan."


"Apa kamu mengerti, sayang?" tanya Adelina.


"Maafkan aku, Ma! Aku janji tidak akan menyalahkan diri aku lagi. Aku janji tidak akan membuat kalian semua khawatir. Maafkan aku.. maafkan aku." Darel berucap sembari mengeratkan pelukannya pada Ibunya.


Baik Adelina, Arvind, para kakak-kakak kandungnya, para kakak-kakak sepupunya, Paman dan Bibinya tersenyum bahagia saat mendengar ucapan dan janji dari Darel. Mereka akhirnya bisa bernafas lega.


Arvind mengelus lembut rambut putra bungsunya itu "Kamu tidak sendirian, sayang. Ada Papa, Mama, kakak-kakakmu dan yang lainnya. Kita semua menyayangi kamu."


"Iya, sayang. Kamu tidak sendirian. Ada Bibi Salma disini. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu minta saja sama Bibi."


"Ada Paman juga sayang," kata Sandy.


"Kita semua disini untuk kamu," ucap William.


"Kita semua menyayangi kamu," sahut Evita.


"Kalau kamu dijahati dan diganggu oleh kakak-kakak kamu yang menyebalkan ini. Katakan pada Paman. Biar Paman kerangkeng mereka di dalam kandang," ucap Daksa sembari melirik kelima putranya.


"Aish, Papa! Sempat-sempatnya ngebully putra-putranya sendiri," kesal Melvin.


Daksa hanya tersenyum mendengarnya. Begitu juga yang lainnya.


Darel melepaskan pelukannya dari Ibunya. Lalu Darel menatap satu persatu wajah orang-orang yang saat ini memandangi wajahnya. Lalu detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya. Dan hal itu sukses membuat mereka semua tersenyum penuh kebahagiaan dan juga kelegaan.


"Maafkan aku," ucap Darel lagi.


Davian mendekat pada adiknya. "Kamu tidak salah. Seperti yang dikatakan oleh Mama. Ini adalah takdir." Davian mencium kening sang adik.


"Terima kasih, kak Davian. Aku menyayangimu," ucap Darel. Lalu Darel melihat ke yang lainnya. "Aku juga menyayangi kalian." Mereka semua tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Darel.


"Kami semua juga menyayangi kamu!" seru mereka bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2