
"Bagaimana? Kalian semua siap?!" tanya Lana kepada dua rekan dan anak buahnya.
"Kami sudah siap dari tadi," jawab Dikson dan Suresh bersamaan.
"Kami siap Bos!" seru para anak buahnya, baik anak buah dari Lana, anak buahnya Suresh maupun anak buahnya Dikson.
"Baiklah. Ini sudah pukul 9 lewat. Hanyan beberapa menit lagi akan menunjukan pukul 10. Lebih baik kita berangkat sekarang?!"
"Hm." Suresh dan Dikson menganggukkan kepalanya.
"Baik!" jawab para anak buah ketiganya.
Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan lokasi tempat mereka berkumpul untuk pergi menuju rumah sakit tempat Daffa, Dario dan Aditya dirawat.
***
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam. Kini Lana, Dikson, Suresh dan beberapa anggotanya sudah sampai di depan rumah sakit.
Mereka melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya. Penampilan mereka sudah berubah. Mereka menggunakan pakaian kedokteran serta masker penutup wajah. Dan jangan lupa name tag di samping baju mereka agar orang-orang di rumah sakit tidak mencurigai mereka.
"Ini ruangannya!" seru tangan kanannya Suresh.
"Kok cuma satu?" tanya Lana.
"Memang satu ruang rawatnya. Kabar yang saya dengar bahwa ketiga mantan calon rekan kerjanya Bos Lana, Bos Suresh dan Bos Dikson adalah kakak beradik sepupu. Jadi mereka dirawat dalam satu ruangan agar memudahkan anggota keluarganya menjaganya."
Mendengar penjelasan dari tangan kanannya Suresh membuat mereka paham.
"Ternyata mereka bersaudara," batin Lana.
"Tidak menyangka ternyata mereka saudara sepupu," batin Suresh.
"Saudara sepupu? Pantas saja kompak tidak datang pada pertemuan itu," batin Dikson.
Setelah berpikir beberapa menit, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam dan menjalankan niat mereka.
Cklek..
Salah satu tangan kanannya membuka pintu ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya. Kemudian Lana, Suresh dan Dikson masuk ke dalam ruang tersebut bersama para tangan kanannya. Sementara para anggotanya menunggu di luar.
Lana, Suresh dan Dikson melangkah menuju ranjang Daffa, Dario dan Aditya. Mereka tersenyum penuh kemenangan karena berada di rumah sakit saat ini dan bisa langsung melihat seperti apa kondisi mantap calon rekan kerjanya itu.
"Hallo, Daffa!" sapa Dikson.
"Hei, Aditya!" sapa Suresh.
"Akhirnya kita bertemu, walau kau dalam keadaan seperti ini Dario." Lana berucap sembari tersenyum di sudut bibirnya.
Baik Lana, Suresh maupun Dikson menatap penuh amarah kearah Daffa, Dario dan Aditya. Mereka marah karena merasa dipermainkan dan dibohongi.
"Kau tahu Dario kenapa aku melakukan hal ini padamu? Kau telah menipuku dan mempermainkanku," ucap Lana.
__ADS_1
"Kau sudah berani menipuku, Aditya! Dan seenaknya saja kau tidak datang dalam pertemuan itu," ucap Suresh.
"Memangnya kau pikir kau itu siapa, hah?! Dasar pecundang dan hanya pecundang yang tidak menepati janjinya," ucap Dikson kepada Daffa.
Lana, Dikson dan Suresh saling memberikan lirikan satu sama lain. Setelah itu, ketiganya mulai beraksi.
Ketika Lana, Suresh dan Dikson hendak mencabut alat-alat medis dari tubuh Daffa, Dario dan Aditya, seketika terdengar bunyi senjata api.
Sreekkk..
Sreekkk..
Mendengar suara senjata api membuat Lana, Suresh dan Dikson langsung melihat keasal suara. Dan mereka terkejut ketika melihat beberapa senjata mengarah kepadanya. Mereka meyakini ada sekitar 15 orang yang mengarahkan senjatanya kepadanya.
Dan beberapa detik kemudian, keluarlah Arvind, Sandy, Daksa bersama anak sulungnya yaitu Davian Steven dan Naufal.
Melihat hal itu membuat Lana, Suresh dan Dikson seketika syok. Mereka tidak menyangka bahwa rencana mereka berakhir gagal.
"Tidak semudah itu kalian ingin menyakiti adik-adikku," ucap Davian dengan tatapan amarahnya menatap Lana, Suresh dan Dikson bergantian.
"Kalian sudah salah mencari lawan dengan mengusik keluarga Wilson," sahut Steven.
"Dan kalian tidak tahu siapa keluarga Wilson dan keluarga Fidelyo.
"Hahahaha!" Seketika Lana tertawa.
Mendengar tawa Lana yang begitu keras membuat Arvind, Sandy, Daksa dan anak-anaknya mengepal kuat tangannya dan menatap tajam kearah Lana.
Suresh dan Dikson ikut tertawa ketika mendengar ucapan sekaligus ejekan dari Lana. Keduanya menatap nyalang kearah Arvind, Sandy, Daksa dan ketiga anak sulungnya.
Braakkk..
Pintu dibuka secara paksa oleh seseorang dan masuklah beberapa orang ke dalam ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya.
"Tentu kami bisa mengalahkan kalian yang hanya berjumlah 6 orang!" seru Darel yang datang bersamaan dengan Mikko dan 15 anggotanya.
Lana, Dikson dan Suresh seketika terkejut ketika melihat sekitar 17 orang yang masuk ke dalam ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya. Begitu juga dengan tangan kanannya masing-masing.
"Kenapa? Terkejut?" tanya Darel dengan tatapan mengejeknya. "Oh iy! Aku ingin memberitahu kalian bertiga. Untuk anggota yang kalian bawa sudah Game Over alias mati. Sekarang tersisa kalian saja," ucap Darel dengan menatap tajam kearah Lana, Suresh dan Dikson bergantian.
Davian, Steven dan Naufal melangkah menghampiri Lana, Suresh dan Dikson. Dan jangan lupa tatapan mata mereka yang tajam dan penuh amarah.
Duagh.. Duagh..
Duagh..
Davian, Steven dan Naufal secara bersamaan memberikan tendangan keras di perut orang yang sudah melukai adiknya sehingga membuat ketiga tersungkur di lantai.
"Kau bilang adikku telah menipumu. Apa kau yakin jika adikku yang telah menipuku? Apa tidak terbalik, hah?!" bentak Davian.
"Seharusnya pertanyaan itu kami yang berikan kepada kalian bertiga!" bentak Steven.
__ADS_1
"Kalianlah yang sudah menipu adik-adikku!" bentak Naufal.
Ketika Naufal hendak memberikan tendangan untuk yang kedua kalinya, Darel seketika menghentikannya.
"Kakak Naufal, cukup!"
"Kenapa, Rel?" tanya Naufal tak terima.
"Ini rumah sakit dan di ruang rawat kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya. Kasihan mereka terganggu dengan suara ribut kita," ucap Darel menjelaskan.
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Darel membuat Naufal langsung mengerti dan meminta maaf kepada Darel.
"Maafkan kakak."
Darel melihat kearah Mikko. Sedangkan Mikko langsung paham arti tatapan dari Bos nya itu. Kemudian Mikko menganggukkan kepalanya.
"Kalian! Bawa mereka ke markas White Eagle. Setelah itu, masukkan mereka ke penjara bawah tanah yang gelap?"
"Baik, Bos!"
Setelah itu, beberapa anggotanya Mikko langsung menarik kasar tubuh Lana, Suresh dan Dikson beserta tangan kanannya masing-masing.
Sementara Lana, Suresh dan Dikson seketika terkejut ketika mendengar nama kelompok White Eagle. Mereka tahu seperti apa kelompok itu diluar sana.
Setelah kepergian anggota Mikko membawa Lana, Suresh dan Dikson beserta tangan kanannya. Arvind, Sandy, Daksa, Davian, Steven, Naufal dan Darel melangkah mendekati ranjang Daffa, Dario dan Aditya.
"Cepat bangun sayang!" Arvind, Sandy dan Daksa berbicara dengan tangannya mengusap-usap lembut kepala putranya itu.
"Kakak Daffa," lirih Darel.
Mendengar lirihan dari Darel membuat Arvind dan Davian langsung melihat kearah Darel. Mereka menatap sedih Darel yang saat ini tengah menatap kakaknya.
Grep..
Arvind memeluk tubuh putra bungsunya dengan erat. Dirinya tahu bahwa putra bungsunya ini begitu merindukan kakak ketujuhnya itu.
"Papa, kakak Daffa kapan bangunnya. Aku benar-benar merindukan kakak Daffa."
"Yang sabar ya. Kita berdoa saja semoga hari ini atau besok kakak Daffa nya kamu sudah bangun," jawab Arvind yang berusaha menghibur putra bungsunya.
"Aku berharap hal itu terjadi, Pa!"
"Apalagi Papa, sayang."
"Kakak juga berharap hal itu juga," sela Davian sembari tangannya mengusap lembut kepala adiknya.
"Aku juga berharap hal yang sama untuk kakak Dario dan kakak Aditya!" Darel berucap sambil tatapan matanya menatap kearah Dario dan Aditya.
"Kita berdoa saja ya sayang," ucap Daksa.
"Semoga keinginan kamu dan kita semua terkabul," ucap Sandy.
__ADS_1